<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678</id><updated>2011-08-03T03:51:37.681+07:00</updated><category term='friendship'/><category term='santai'/><category term='persahabatan...'/><category term='beauty of nature'/><category term='senang- senang'/><category term='semangat'/><category term='worshipping friendship'/><category term='togetherness'/><category term='untittled'/><category term='worshipping the friendship'/><category term='anger'/><category term='tentang hati...'/><category term='memory'/><category term='love'/><category term='worshipping working'/><category term='sahabat'/><category term='Cinta'/><category term='love and life'/><category term='sadness'/><category term='remang malam'/><category term='life'/><title type='text'>Aishiteru</title><subtitle type='html'>Hatiku sedang nyaman nikmati lipatan masa lalu oleh waktu...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>76</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6787412648709061805</id><published>2009-12-02T23:33:00.000+07:00</published><updated>2009-12-02T23:36:36.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Si Hebat...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Masih) di Mojokerto&lt;br /&gt;(Kali ini) tertanggal 2 Desember 2009&lt;br /&gt;Sebuah Rabu&lt;br /&gt;Dengan perasaan begitu hampa tanpa tahu harus berbuat apa…&lt;br /&gt;18:45&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan Isya’ terdengar membumbung di hatiku yang Islami. Sejenak aku seakan merasa bagai malam bulan Ramadhan yang tahun ini telah terlalui. Rasanya sedikit mendamaikan nadi. Aura religi masih melambai hasta undang para raga tunaikan kewajiban insani. Tapi sayangnya kali ini aku masih belum suci. Jadi tak mungkin aku membelai air wudlu lalu tunaikan sholat malam ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku masih saja menatap waktu di depan tivi. Masih juga dengan rasa bosan yang terasa begitu berarti. Namun aku tak punya pilihan untuk menghindari. Karena aku hanya sendiri. Dan hatikupun sedang merasa tak punya rencana, apalagi mimpi. Benarnya hanya satu yang kuingini. Tak ada yang lain lagi. Yaitu segera lepas dari keterpurukan menuju masa yang lebih damai. Masa yang sajikan keramaian hati. Masa yang tak lagi menyiksaku dengan kesepian hati dan kesendirian nadi. Aku mau ditemani. Aku mau tak sendiri. Dan aku mau selalu bahagia dalam berbagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam masih saja berdetak. Lahirkan masa yang hanya bisa merangkak menuju kotak-kotak kehidupanku yang sejak beberapa lama lalu sudah meretak. Meski nyatanya jantungku masih normal berdetak. Meski nyatanya jiwaku terus berteriak. Berteriak agar bisa lepas dari masa yang kali ini hanya berupa bosan dan riak-riak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong lepaskan aku dari semua beban. Biarkan aku melesatkan nyawa bersama indahnya kenyataan. Biarkan aku terbang sambil bergenggaman tangan bersama keindahan. Biarkan aku menjemputnya untuk bersama-sama rasakan senyuman kehidupan. Tolong hadiahkan sebuah kesempatan untuk merasakan. Jangan biarkan aku terperangkap dalam hampa dan tak berasa karena bosan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mauku tak mengeluh. Mauku berhenti berkeluh. Mauku terima apa yang tersuguh. Mauku terus tersenyum meski sambil menahan perih. Mauku terus nyaman meski dalam lautan peluh. Mauku tak pernah berairmata sedih. Dan aku sudah berusaha keras untuk itu semua, namun sayangnya mataku tak lagi sanggup menahan pedih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmataku begitu bening hingga benar tak terlihat. Hanya aku yang bisa merasakannya terserap pori-pori kulit. Sedangkan nyawa-nyawa lain tetap menganggapku manusia kuat. Semua masih saja menilaiku hebat. Mereka tak pernah tahu apa yang sedang benar-benar terjadi karena warna hati memang tak pernah bisa pasti terlihat. Maka biarkan aku menahan semua dan menganggapnya nikmat. Agar semua masih akan tetap memanggilku Si Hebat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa karena aku kurang bersyukur?&lt;br /&gt;Apa karena aku lupa mengukur bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarnya aku lelah mengeluh…&lt;br /&gt;Airmata jiwakupun telah begitu lelah meleleh…&lt;br /&gt;Hatiku sungguh ingin mencerah…&lt;br /&gt;Aku mau segera berlari menuju sebuah entah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah…&lt;br /&gt;Maafkan hambaMu yang sedang lupa ini…&lt;br /&gt;Aku akan selalu kembali padamu lewat sujud ibadah…&lt;br /&gt;Lingkupi jiwaku dengan kabut imani…&lt;br /&gt;Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Telah banyak yang terluap tapi hati masih saja tak melega…&lt;br /&gt;Apalagi yang masih salah?&lt;br /&gt;19:14&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6787412648709061805?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6787412648709061805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6787412648709061805&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6787412648709061805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6787412648709061805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/12/si-hebat.html' title='Si Hebat...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6615917742295652628</id><published>2009-11-30T13:34:00.001+07:00</published><updated>2009-11-30T13:36:08.393+07:00</updated><title type='text'>Jodoh dadakan...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;29 November 2009&lt;br /&gt;Di sebuah Minggu dengan nada-nada gerimis…&lt;br /&gt;16:36&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu adalah bahwa dia sudah dilamar. Entah kapan. Dan dia bilang sekarang dia dan keluarganya sedang melakukan acara lamaran balasan yang begitu dadakan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jodoh memang benar tak pernah bisa diterka. Bahkan direncanakanpun juga tak bisa. Jalannya tak bisa dipetakan. Kadang begitu rumit, panjang dan tak teratur lalu diakhiri dengan tangisan perpisahan. Ada juga yang diawali dengan ketidak sengajaan yang berlanjut jadi rajutan rasa yang makin lama makin dalam dan tak bisa dimengerti lalu diakhiri dengan ucapan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Selamat menempuh hidup baru”.&lt;/span&gt; Pun ada juga yang begitu estafet seperti apa yang dialami wanita paruh baya itu. Aku memanggilnya “dia”…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang kini sedang mendadak bahagia…&lt;br /&gt;Dia yang sekarang sedang menyeka tawa bersama pasangannya…&lt;br /&gt;Pasangan yang bahkan bayangannya saja tak pernah tertangkap mata…&lt;br /&gt;Pasangan yang semoga seorang kesejatian baginya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka bertemu secara estafet…&lt;br /&gt;Semua pernah begitu ruwet…&lt;br /&gt;Tapi tulisan takdir tetap kuat megikat…&lt;br /&gt;Semoga mereka benar bahagia hingga bumi melarut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hanya perlu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“pertama kali”&lt;/span&gt;…&lt;br /&gt;Untuk putuskan saling menikahi…&lt;br /&gt;Seperti yang mereka maui…&lt;br /&gt;Menyatu nyawa diusia yang tak lagi dini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi bukti misteri jodoh. Dia dan pasangannya. Dulu maya lalu kini mendadak nyata sebagai calon pengantin. Sekali lagi begitu sulit dipercaya. Agak susah dimengerti. Betapa kehidupan selamanya hanya ditentukan dari pertemuan pertama saja. Huuufff. Apa bisa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bagiku…&lt;br /&gt;Kalau aku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku perlu ribuan pertemuan untuk memastikan hati. Dulu aku perlu ribuan petuah orang tua sebelum bertanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Will you marry me?”&lt;/span&gt;. Dulu aku perlu ribuan tatapan mata untuk rasakan keteguhan cintanya padaku. Dulu aku butuh ribuan masalah untuk pahami jalan pikirannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia dan pasangannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hanya butuh sekali untuk selamanya. Sekali pertemuan untuk memastikan hati. Sekali tatapan mata untuk saling berkata “Mari kita menikah”. Sekali jabatan tangan untuk rasakan detak hati. Hanya sekali saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak habis pikir. Apa semua itu karena usia? Karena mereka tak lagi remaja? Karena mereka sudah terlalu dewasa?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhhhmmmmm…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua nyawa memang terlahir dengan membawa jodohnya sendiri. Meski butuh waktu untuk menemukan kembali pasangan jiwa itu, tapi akhirnya masih akan tetap telah tertulis rapi secara pasti. Hanya saja nyawa biasa kitalah yang tak pernah bisa membaca tulisan Sang Maha itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku perlu waktu dua puluh empat tahun untuk menemukan belahan nyawaku. Dan aku masih butuh dua setengah tahun untuk belajar membaca tulisan Sang Maha tentang wanitaku kala itu. Siapa tahu dia hanya rambu jalan menuju wanita sejatiku. Aku yakinkan hati untuk coba meraba huruf lalu mengeja kata hingga sedikit membaca kalimat jodoh itu. Dan akhirnya aku yakin dia yang dulu kubawa saat lahir….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Desember 2007…&lt;br /&gt;Pada sebuah Kamis…&lt;br /&gt;Ba’da Isya…&lt;br /&gt;Kami resmi menata nyawa bersama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan mereka menyusul kami?&lt;br /&gt;Sepertinya akan lebih segera dari sekedar segera…&lt;br /&gt;Semoga karena ketetapan hati…&lt;br /&gt;Bukan hanya karena sadar usia…&lt;br /&gt;Amin untuk doa mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;17:08&lt;br /&gt;Masih dengan begitu banyak tanya…&lt;br /&gt;Masih dengan begitu banyak mengapa untuk mereka…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6615917742295652628?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6615917742295652628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6615917742295652628&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6615917742295652628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6615917742295652628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/11/jodoh-dadakan.html' title='Jodoh dadakan...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6630102882112942051</id><published>2009-11-30T13:22:00.000+07:00</published><updated>2009-11-30T13:25:44.152+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Jawaban doa...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto yang sedang dirundung mendung…&lt;br /&gt;Tertanggal 28 November 2009 yang selipkan debur kecewa dihati…&lt;br /&gt;16:01 yang sedang mensugesti tentang kuncup indah yang sedang sedikit mengembang…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Cuma 2 orang ya? Maaf, Ai. Kamu juga ga lolos.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat, mengecewakan sekaligus memberi kesan “aku tak sendiri”. Sudah kuduga akan begitu akhirnya. Namun setengah jiwaku berharap penuh akan keajaiban yang datang melalui jawaban doa-doaku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nyatanya aku (kembali) kecewa. Kecewa ini begitu berbeda. Aku merasa bagian doaku telah terjawab. Karena aku selalu mendoa agar diberikan kelapangan hati dan ketenangan jiwa atas apapun yang menimpaku. Kecewa itu tak begitu terasa. Meski bisa aku pastikan keberadaannya begitu nyata. Hatiku sedikit menangis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku kecewa karena kalah oleh properti…..bukan ability! Suck!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu tiba-tiba mewakili segala yang kurasa. Secara otomatis tertulis di layar chat Yahoo Messager-ku dengan Ratri siang tadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Teman Enci yang kerja di Di*na* pemk** Pro******** bilang kalau nama-nama yang lulus sudah ada sejak lama. Harganya tujuh puluh juta.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak ada rasa saat kubaca pernyataan itu. Karena aku memang sudah menduga. Dugaanku sejak lama. Sudah melewati pengamatan terhadap segala aspek yang perlu dipertimbangkan. Dan aku tak menyesali apapun. Tak ada pengandaian apapun dihati….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wewww….aku menstruasi…tiba-tiba saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah aku lanjutkan lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku orang lain bisa jadi aku banyak berandai…&lt;br /&gt;Seandainya aku punya jumlah itu…&lt;br /&gt;Seandainya tak ada hukum haram jika menyuap…&lt;br /&gt;Tak ada pengandaian seperti itu…&lt;br /&gt;Tak ada pengandaian ini itu, sama sekali…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya penguatku hanya satu. Yaitu keyakinan bahwa aku kalah oleh properti. Dan bagiku kemenangan oleh properti bukan hal yang patut diingini. Tak perlu di-dengki-i...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin hidup adalah sebuah misteri yang besar….&lt;br /&gt;Pasti ada yang sedang menungguku disisi waktu yang lain…&lt;br /&gt;Apapun itu…&lt;br /&gt;Semoga aku masih punya kekuatan untuk bersabar…&lt;br /&gt;Apapun itu…&lt;br /&gt;Semoga aku masih punya tangan untuk selalu kugenggam…&lt;br /&gt;Apapun itu…&lt;br /&gt;Semoga aku masih bisa bangkit untuk perbaiki yang masih tak baik…&lt;br /&gt;Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan rasa kecewa yang gamang…&lt;br /&gt;Tak tahu harus merasa apa…&lt;br /&gt;Terimakasih atas kekuatan ini…&lt;br /&gt;Aku begitu merasakan kekuatan doa-doa…&lt;br /&gt;Mungkin Allah SWT mengabulkan doaku dalam bentuk ketenangan hati ini…&lt;br /&gt;Alhamdulillah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;16:27&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6630102882112942051?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6630102882112942051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6630102882112942051&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6630102882112942051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6630102882112942051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/11/jawaban-doa.html' title='Jawaban doa...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5317480671492573107</id><published>2009-11-16T22:29:00.003+07:00</published><updated>2009-11-30T13:32:41.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='love and life'/><title type='text'>Dua lelaki patah hati...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;16 November 2009&lt;br /&gt;(Masih) di sebuah Senin petang…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh tak pernah benar mengerti apa yang telah terjadi. Sejak dulu kami tak pernah saling memahami. Yang kami tahu adalah bahwa hati kami sedang saling terpaut. Namun demikian kami tak pernah tahu pasti kapan maut hati akan menjemput. Karena hidup begitu penuh dengan kejutan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya doa yang mungkin bisa memberi sedikit angin segar. Hanya sedikit saja. Karena kami tak pernah tahu kapan doa itu akan didengar lalu dikabulkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa salah jika kami saling mencinta? &lt;br /&gt;Apa tak boleh kami selalu saling bersama?&lt;br /&gt;Apa harusnya kami terima semua kenyataan? &lt;br /&gt;Apa benar harus selalu mengikuti jalan alam? &lt;br /&gt;Iya? &lt;br /&gt;Benarkah harus selalu seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati kami terus menangis darah. Meski tak satupun suara isak ini terdengar yang lain. Bahkan gemanyapun tetap membisu. Tapi buktinya adalah bahwa kami benar menangis karena terlalu sakit. Kami menangis bersama di tempat berlainan dengan alasan yang sama. Adalah bahwa karena raga kami tak mungkin bersatu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang salah jika kami saling menyuka?&lt;br /&gt;Apa yang haram jika kami saling mencinta?&lt;br /&gt;Apa yang tak layak jika kami ingin berbagi nyawa?&lt;br /&gt;Katakan padaku…&lt;br /&gt;Hanya padaku saja…&lt;br /&gt;Lalu akan kukatakan semua padanya. Jika jawaban kalian terlalu menyakitkan maka akan selamanya kusimpan dihati. Tak perlu dia tahu. Karena dia sudah terlalu kelu hati menyandang sakit ini. Sakit yang begitu tanpa ampun. Sakit yang begitu tanpa alasan logis. Sakit yang begitu abadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami berusaha mencari tahu sendiri apa yang salah. Apa yang tak benar.Apa yang dianggap haram. Kami lalu berusaha menerka-nerka. Apa karena kami sama? Apa karena namaku Rando Titah Sembrani dan namanya Ahmad Frezaldi? Apa karena itu? Hanya karena itu? Bisa jadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuputuskan untuk mengubah diri menjadi seseorang bernama Rosa Titah Sembrani. Empat tahun lagi akan kulakukan keputusanku ini. Saat aku lulus SMA. Dan biarlah dia tetap menjadi Ahmad Frezaldi. Agar kami bisa halal bersama. Agar tak ada lagi yang dianggap salah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kami adalah dua lelaki patah hati…&lt;br /&gt;18:52&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5317480671492573107?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5317480671492573107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5317480671492573107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/11/dua-lelaki-patah-hati_16.html' title='Dua lelaki patah hati...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-1935161024269347611</id><published>2009-11-16T22:20:00.000+07:00</published><updated>2009-11-16T22:26:26.400+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beauty of nature'/><title type='text'>Gerimis tadi siang...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;Tertanggal 16 November 2009&lt;br /&gt;Pada sebuah Senin yang basah…&lt;br /&gt;5:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi siang hujan datang bertandang. Mengguyur tanah yang sekian masa telah kerontang. Kotaku kini tak lagi mengering. Penantian memang akan selalu lahirkan senyum yang terkembang. Pun sama dengan tanahku yang kini menguncup senyum oleh hadirnya sang hujan siang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis romantis mengiris…&lt;br /&gt;Angin-angin ikut berlalu lalang…&lt;br /&gt;Sedang udara mulai meringis…&lt;br /&gt;Biarkan peluh melesat terbang lalu sebentar menghilang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara yang tadi begitu beringas, kini perlahan terkikis hujan siang ini. Hujan yang turun untuk pertama kalinya sejak awal musim ini. Hujan yang kuyakin banyak dinanti. Hujan yang kupastikan banyak dirindui. Dirindui para raga manusiawi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh…&lt;br /&gt;Ragaku masih saja kegerahan. Namun hatiku terasa begitu nyaman menatap lelehan air hujan itu di kaca jendela depan. Mengucur tanpa irama namun indah untuk pandangan. Terasa begitu damai dan mendamaikan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan….&lt;br /&gt;Begitu indah siang ini. Meski, seperti biasa, aku harus merasainya sendiri. Begitu damai hujan ini. Langit menangis begitu manis. Teteskan air-air, rintik-rintik, leleh-leleh, gerimis-gerimis. Lalu aku iseng bertanya tanpa mengharap balas. Apa langit sedang merintih karena miris? Mengapa ia menangis? Begitu deras hingga logikanya ia sedang begitu teriris. Ataukah ia sengaja bersedih agar bisa menangis gerimis hanya untuk melihat kami tersenyum damai manis? Iyakah? Maka terimakasih, langit…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi aku tak sempat mencuri lihat pada sang langit. Karena aku terlalu memaku oleh gerimis yang kuharap tak terjadi singkat. Aku masih begitu merindu para gerimis yang dulu-dulu sempat membuat hatiku terpikat. Dan sampai sekarangpun aku masih terpikat. Hingga bagiku semua gerimis selalu manis dan semua hujan selalu patut dirasa nikmat. Maafkan aku, langit…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak butuh lagi pelangi. Tetes-tetes itu sudah begitu rapi menghias rohani. Gerimis tadi benar indah dirasa hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih sangat mencinta hujan…&lt;br /&gt;Aku masih akan selalu mendamba gerimis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis telah undur hati…&lt;br /&gt;Hujan juga sudah menguapkan diri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;5:31&lt;br /&gt;Hatiku damai…&lt;br /&gt;Nyawaku bersenandung ramai…&lt;br /&gt;Karena gerimis siang tadi…&lt;br /&gt;Karena tetes-tetes air tadi…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-1935161024269347611?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/1935161024269347611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=1935161024269347611&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1935161024269347611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1935161024269347611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/11/gerimis-tadi-siang.html' title='Gerimis tadi siang...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3505817628225095936</id><published>2009-11-11T17:53:00.005+07:00</published><updated>2009-11-12T12:18:11.389+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='love'/><title type='text'>Puisi hati...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svqix1xbGrI/AAAAAAAAAOI/rENWGbXl3G0/s1600-h/surat.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svqix1xbGrI/AAAAAAAAAOI/rENWGbXl3G0/s320/surat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402809680115997362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;11 November 2009&lt;br /&gt;12:49&lt;br /&gt;Pada sebuah Rabu…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kau merasa terkhianati oleh hati?&lt;br /&gt;Adalah disaat kau merasa begitu yakin olehnya…&lt;br /&gt;Lalu dia ternyata mengubah arah haluan…&lt;br /&gt;Hingga kau merasa harusnya tak memutuskan untuk mengabdi hidup pada sebuah nyawa…&lt;br /&gt;Tapi kau terlanjur memutuskannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kau menyalahkan waktu?&lt;br /&gt;Adalah disaat kau menyesali keterlambatan pertemuanmu dengan sebuah hati…&lt;br /&gt;Lalu ternyata kau telah terlanjur mengabdi hati pada yang lain…&lt;br /&gt;Hingga lalu kau hanya bisa berkata “seandainya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kau mengutuk alur kehidupan?&lt;br /&gt;Adalah disaat kau menyadari rute hidup lainnyalah yang sebenarnya lebih membahagiakan…&lt;br /&gt;Tapi, sayang kau tak melangkah kearah itu…&lt;br /&gt;Hingga akhirnya kau melewatkan sebuah hati yang seharusnya adalah takdirmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah lalu kau menerima semua kesalahan itu dengan terpaksa?&lt;br /&gt;Hanya karena kau tak pernah punya daya untuk mengubah apapun…&lt;br /&gt;Lalu kau memaksa diri nikmati yang telah kau punya…&lt;br /&gt;Sambil menjadikan apa yang tak pernah sempat kau gapai sebagai mimpi yang tak untuk diwujudkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku pernah…&lt;br /&gt;Aku pernah merasa terkhianati oleh hati…&lt;br /&gt;Pun aku pernah menyalahkan waktu yang salah menempatkan aku dengan dirinya…&lt;br /&gt;Dan akhirnya, dengan terpaksa, kuterima semua kesalahan itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini aku tahu betul fungsi kata “menyesal”…&lt;br /&gt;Lalu aku berjanji untuk hati-hati memilih alur cerita kehidupan…&lt;br /&gt;Karena siapa tahu jika dulu aku memilih belok kanan maka rute akan semakin panjang hingga aku punya daya untuk mengulur lebih banyak waktu guna bertemu denganmu…&lt;br /&gt;Tapi nyatanya, kala itu aku memilih jalan lurus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlambat bertemu dengan hatinya…&lt;br /&gt;Dan aku sempat menyesal…&lt;br /&gt;Lalu kini dia merapatkan hati dengan yang lain…&lt;br /&gt;Apa dia sempat menyesali keterlambatan ini? &lt;br /&gt;Semoga yang terbaiklah yang akan terjadi selanjutnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lega…&lt;br /&gt;13:06&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3505817628225095936?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3505817628225095936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3505817628225095936&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3505817628225095936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3505817628225095936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/11/puisi-hati.html' title='Puisi hati...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svqix1xbGrI/AAAAAAAAAOI/rENWGbXl3G0/s72-c/surat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6090431245410213329</id><published>2009-11-10T17:13:00.000+07:00</published><updated>2009-11-10T17:14:02.080+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Catatan pagi ini</title><content type='html'>Mojokerto&lt;br /&gt;Pada sebuah Senin&lt;br /&gt;Tertanggal 9 November 2009&lt;br /&gt;Mimpi tadi sedikit menggelisahkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kumulai sejak dini. Meski lalu aku kembali mengatup mata, menjemput lelap yang sedari tadi masih menyelinap di kelopak. Dan aku kembali terlelap. Tak sendiri. karena hari ini masih umum dikata Minggu. Kembali menjemput lelap tanpa pelukan. Hanya bersama saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga lelap lalu menggelitik hati pejamku.  Tetap memaksa untuk ikut memberi kesan meski hidup belum sepenuhnya kuhirup. Kubiarkan dia. Bukan karena hatiku terlalu baik untuk menolak. Tapi karena alam sadarku sedang tak sadar hingga tak ada pikiran untuk katakan “tidak”. Lalu cerita-cerita tanpa logika total mulai tertera. Membawaku kembali ke masa lalu. Dengan setting yang sama dengan dulu. Saat aku masih mengabdi diri pada ILP Kediri….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi tadi sedikit menggelikan meski tak sepenuhnya beralur tak masuk akal. Ada beberapa bagian yang benar. Pun ada beberapa yang kunilai aneh setelah kesadaranku pulih. Menggelikan. Menyebalkan. Lucu juga. Tapi biarlah, karena itu hanya bunga lelap…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 9:48…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu masih enggan melepas pelukannya terhadap lelap. “Masih mengantuk”, katanya. Maka kubiarkan dia bereratan dengan lelapnya. Dan aku merangkai ingatan berbentuk kata disini. Karena aku harus mengalihkan perhatian. Jika tidak, akupun aku turut larut dalam lelap bersamanya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua menit kemudian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua masih tetap sama persis. Tak ada beda meski sedikit. Huuuhhhhhhhfffffffff…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua menit (lagi) kemudian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hidup belakangan ini tak terlalu berwarna. Tak ada yang benar-benar pasti. Kebanyakan hanya berupa siluet tak jelas yang pada saat tertentu akan dengan sendirinya memperjelas diri. Semoga semua sama seperti apa yang kudoa. Semoga semua tak lagi kecewa oleh situasi. Dan semoga semua bisa menerima kemungkinan terburuk dengan hati terlapang. Semoga semua menuai sukses. Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir jam sepuluh pagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup aku berbincang (tak jelas) pagi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian…&lt;br /&gt;Winamp ini terus terdengar meski tak sepenuhnya untuk dinikmati…&lt;br /&gt;Sekedar agar tak sepi saja…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6090431245410213329?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6090431245410213329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6090431245410213329&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6090431245410213329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6090431245410213329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/11/catatan-pagi-ini.html' title='Catatan pagi ini'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-8934720796662596872</id><published>2009-10-28T23:38:00.006+07:00</published><updated>2009-10-29T00:30:19.065+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memory'/><title type='text'>Lelaki yang ingin menangis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Suh4eYGXxRI/AAAAAAAAAOA/wxSbNvDLuIw/s1600-h/cryman.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Suh4eYGXxRI/AAAAAAAAAOA/wxSbNvDLuIw/s320/cryman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397696616664122642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;28 Oktober 2009&lt;br /&gt;Dengan jiwa Sumpah Pemuda yang lama senyap…&lt;br /&gt;14:19&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata lelaki itu merasa ingin menangis. Hatinya tidak sedang terluka. Pun raganya sedikitpun tak tergores apa. Tapi perasaannya sedang merindu romansa yang selalu bisa bawa tawa dan airmata secara bersama. Dia begitu ingin meneteskan airmata haru…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bukan penganut faham “Lelaki pantang teteskan airmata”. Baginya menangis adalah romantis. Dan sekarang hatinya sedang merindu romantisme yang kini sedang menjamahi jiwa-jiwa lain. Bukan jiwanya yang jelas-jelas telah memilih hidup dengan wanita yang dua tahun dinikahinya itu. Wanita yang sampai sekarang masih memegang kendali atas rasa cinta dan sukanya. Hingga dia tak pernah sedikitpun merasa perlu membuka mata apalagi jiwa buat hawa lain. Lelaki itu takkan sekejappun biarkan hatinya melayari samudra hati wanita lain. Dia setia tanpa rencana…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang dia ingin kembali rasai romantis. Siang ini juga dia merasa ingin menggenggam tangan wanitanya. Dengan rasa yang sama persis dengan empat tahun lalu. Saat dengan malu-malu tangannya meraih tangan wanita itu. Di sebuah gang kecil. Di siang terik dengan sedikit angin meniup. Sama seperti sekarang. Pun dengan beragam motif pikiran dalam otaknya. Tentang apakah wanita itu akan berontak membuang jauh genggamannya? Tentang apa wanita itu akan menganggapnya kurang sopan santun? Tentang apa wanita itu akan berfikir dia begitu berpengalaman dalam hal menarik tangan wanita? Tentang tatapan seperti apa yang akan didapatinya di mata wanita itu? Dan tentang semua yang wajar dirasa untuk sebuah pengalaman pertama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama bergenggaman tangan dengan wanita itu…&lt;br /&gt;Genggaman pertama itu sudah bertahun-tahun yang lalu…&lt;br /&gt;Sudah begitu berlalu dari masa sekarang…&lt;br /&gt;Dan kini dia mau merasai kembali pengalaman pertama itu…&lt;br /&gt;Tidak dengan wanita lain…&lt;br /&gt;Tidak dengan pasangan baru…&lt;br /&gt;Harus tetap dengan wanita dulu…&lt;br /&gt;Wanita yang kini telah bersanding sebagai belahan jiwanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu berhasil menangis. Menangis sendiri. Tapi tak sedikitpun karena kesepian. Tangisan yang begitu nikmat. Tangisan romantis oleh kenangan masa lalu dengan iringan nada Winter Sonata. Dia melelehkan airmata perlahan tanpa wanita itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bayangan tentang hutan MIPA mampir sebentar di kesenduan siangnya…&lt;br /&gt;Diikuti dengan penjelajahan malam menyusuri kampus bersama wanita itu juga Asunaronya…&lt;br /&gt;Kemudian berfoto kotak di Matos. Dia berkemeja coklat dengan celana warna senada sedang wanitanya berjaket biru langit bercelana jeans hitam lalu penutup kepala acak warna. Jaketnya tepat badan. Lalu berpose kaku dan jauh dari kesan romantis. Tapi jika sekarang diingat, terkesan begitu malu-malu…&lt;br /&gt;Lalu beli oleh-oleh di pasar Dinoyo. Apel Malang…&lt;br /&gt;Dan kembali terpisah genggam dengan wanitanya…&lt;br /&gt;Untuk waktu yang lumayan lama…&lt;br /&gt;Tapi mereka sudah sama-sama terbiasa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winter Sonata habis dia putar berkali-kali. Kini untuk beberapa masa, dia membiarkan nada itu terputus dan beristirahat. Berganti dengan Adzan Ashar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hatinya telah kembali normal. Tak lagi rindui sendu. Tak lagi ingin menangis. Semua telah kembali seperti biasa. Bahkan kini dia menulis dengan tanpa airmata…&lt;br /&gt;Hatinya telah terpuaskan dengan airmata indah tadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;14:42&lt;br /&gt;Dan aku merasa sama rasa dengan lelaki itu…&lt;br /&gt;Persis sama dengan dia…&lt;br /&gt;Juga sempat ingin menangis romantis bersama Winter Sonata dan ingatan masa dulu…&lt;br /&gt;Kuputar kembali Winter Sonata…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-8934720796662596872?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/8934720796662596872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=8934720796662596872&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8934720796662596872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8934720796662596872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/10/lelaki-yang-ingin-menangis.html' title='Lelaki yang ingin menangis'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Suh4eYGXxRI/AAAAAAAAAOA/wxSbNvDLuIw/s72-c/cryman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-1105769092062866830</id><published>2009-10-23T00:00:00.000+07:00</published><updated>2009-10-23T00:03:15.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Hampa...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto, 22 Oktober 2009&lt;br /&gt;Di sebuah Kamis tanpa desis gerimis…&lt;br /&gt;Hanya miris yang terus mengiris…&lt;br /&gt;18:10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini begitu membosankan. Rasa hati yang tak berbentuk membuatku merasa tak ada yang bisa dilakukan. Memandang layar televisipun sama sekali tak membantu. Hiburan-hiburan itu hanya ternilai sebagai gerak tanpa arti. Sama sekali tak beri guna. Tapi karena tak ada pilihan lain, maka kupaksa mata terus menatap layar. Hati masih tetap hampa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku merasa mendapat cara lewatkan hari. Betapa waktu terasa begitu perlahan berlalu. Betapa jarum jam terasa begitu lambat merambat. Meski hati sadar kalau hari ini takkan terulang lagi tapi aku sungguh rela segera bertemu sapa dengan esok. Lalu aku terlelap. Begitu lama hingga raga terasa begitu tak ada daya pun guna. Berganti dari tempat satu ke tempat lain. Hanya demi sebuah kenyamanan dalam lelap. Karena aku bahagia kala terlelap. Karena aku tak mau terjerat dalam lambatnya rambatan waktu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali aku telusuri hati demi dapati apa yang sebenarnya hati ini maui. Tapi tak juga kudapati sebuah jawaban pasti. Yang aku tahu hanyalah bahwa hatiku menangis halus. Meratapi kehidupan yang baginya semakin tak menentu. Menyesali jalan yang dulu telah terlalui. Hingga akhirnya aku terdampar pada sisi kehidupan yang ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tak banyak membantu. Sahabat sedang berada pada kebahagiaan hingga tangis bisuku tak mungkin terasa olehnya. Teman-teman juga sedang berhamburan menjemput mimpi. Dan aku hanya disini bersama harap agar waktu segera berlalu. Meski aku sendiri tak pernah tahu apa yang sedang kuingini. Terlalu lelah mengharap, bermimpi lalu kecewa oleh kenyataan. Aku tak mau lagi kecewa. Tapi hidup tanpa ingin seperti ini juga tak begitu menyamankan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu banyak yang menyita hati. Bahkan rinai lembut gerimis mampu membangkitkan romantisme. Lelehan air hujan di kaca jendela adalah pemandangan menentramkan. Bising suara angkot adalah musik pertanda kehidupan. Begitu menghibur meski kadang datang tanpa bisa terhentikan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang sekarang sedang salah. Akukah yang sedang kehilangan rasa dan kepekaan akan indahnya dunia? Ataukah waktu memang sedang menguji ketahanan jiwaku? Apa aku sedang merasa berlebihan dan tak sedikitpun bisa bersyukur? Kemana semua sahabat? Kemana semua teman? Kemana semua pewarna kehidupan? Kemana mereka semua? Apa yang salah denganku hingga akhirnya aku merasa ditelantarkan sendiri bersama sepi seperti ini? Katakan apa yang salah. Dan mungkin aku akan memperbaiki semuanya. Hanya agar semua kembali kepadaku. Hanya agar aku bisa lebih menikmati detakan jarum jam. Hanya agar aku tak menghamba pada kebosanan. Dan hanya agar aku merasa sebagai manusia yang juga bisa tersenyum dan tersentuh bahagia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku hanya sedang kelelahan. Butuh istirahat. Butuh sedikit waktu hanya bersama diri, bukan bersama bosan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata ini semakin tanpa arti. Semakin tak mengarah kemanapun. Hampir sama dengan hidupku kala ini. Karena aku juga merasa tanpa arah. Tanpa tujuan. Hingga lalu merasa tak punya rambu untuk dipatuhi. Juga mimpi untuk ditepati. Dan aku benar tersiksa oleh rasa ini. Berharap bisa segera beranjak dari hidup yang hanya hitam putih ini. Mencari kembali pewarna lalu susuri hidup sambil tersenyum dan sesekali tertawa lepas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hanya seorang diri di kamar ini…&lt;br /&gt;Terasa begitu membosankan…&lt;br /&gt;18:55&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-1105769092062866830?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/1105769092062866830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=1105769092062866830&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1105769092062866830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1105769092062866830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/10/hampa.html' title='Hampa...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-294029842873447344</id><published>2009-10-08T13:44:00.005+07:00</published><updated>2009-11-13T03:08:23.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Selamat tinggal dunia maya...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto, 8 Oktober 2009&lt;br /&gt;(Tetap di ) Sebuah Kamis yang kusangka Jum’at…&lt;br /&gt;Selamat tinggal dunia maya…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih tetap wanita yang dulu. Masih dengan balutan raga yang tak berbeda meski kini dia telah memutuskan sesuatu. Dia memutuskan untuk melepaskan kesempurnaan dunia maya yang selama ini jadi dewa penolong bagi kekecewaannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? &lt;br /&gt;Karena dia sudah puas dengan dunia nyatanya. &lt;br /&gt;Karena kini dia bisa sepenuhnya tersenyum dan berpuas hati dengan apa yang telah secara nyata termiliki. &lt;br /&gt;Juga karena dia kecewa atas dunia mayanya. Karena ternyata dia tak lagi mampu mengendalikan dunia maya itu. Hingga akhirnya dia terkhianati…lalu menangisi dunia mayanya itu. Tangisannya begitu nyata karena hatinya terluka. Oleh seorang yang secara maya dicintainya. Oleh sebuah nama, Radithya Javas Nararya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radithya Javas Nararya telah menyadarkannya dengan cara yang tak dia sangka. Perubahan rasa Radith dia anggap sebagai sebuah pengkhiatan tak terduga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku hanya manusia biasa yang tak pernah tahu kapan rasa itu pergi dan beralih ke siapa”&lt;/span&gt;, begitu kata Radith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia tertegun dengan pernyataan itu. Hatinya lalu meradang dan emosinya sedikit meluap lewati batas normal. Sebenarnya sudah sejak agak lama dia menyadari permainan Radith dengan wanita barunya. Tapi dia diam saja. Karena baginya ini hanya sebuah permainan yang tak terlalu perlu dipusingkan. Karena dia bukanlah yang selama ini dia katakan pada Radith. Karena dia memang mencintai Radith pada saat yang tak tepat. Karena dia sadar sudah “terlambat bertemu” Radith. Dan karena dia tak punya alasan tepat memaksa Radith tetap menautkan hati padanya. Ada begitu banyak karena yang tak mudah dimengerti selain olehnya sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terlanjur menautkan hati pada sebuah legalitas sakral dengan lelakinya. Dua tahun yang lalu. Dan delapan bulan yang lalu dia menggagumi Radith. Lalu tak lama setelah itu, dia merasa “sangat terlambat bertemu Radith". Dia bingung harus merasa apa. Jika dia memutuskan untuk menyesali keterlambatannya bertemu, tak mungkin. Karena dia akan sangat merasa bersalah pada lelakinya. Dia tak pernah tega menyakiti hati lelaki yang begitu menjaga hati untuknya itu. Lelaki yang dua tahun yang lalu mengikrarkan diri sebagai pendampingnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dia mendoa untuk kebahagiaan Radith dengan wanita lain itu. Karena dia akan berusaha untuk terus bahagia dengan lelakinya sendiri. Dan melupakan teori “terlambat bertemu”nya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia takkan meminta maaf…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berbahagia, Radith…&lt;br /&gt;Selamat tinggak dunia maya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13:42&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-294029842873447344?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/294029842873447344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=294029842873447344&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/294029842873447344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/294029842873447344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/10/selamat-tinggal-dunia-maya.html' title='Selamat tinggal dunia maya...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3783566304677264808</id><published>2009-10-08T13:06:00.008+07:00</published><updated>2009-10-08T14:37:37.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='togetherness'/><title type='text'>Idul Fitri 1430 H</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto, 8 Oktober 2009&lt;br /&gt;Kamis ini kusangka Jum’at…&lt;br /&gt;Maka maafkan aku…&lt;br /&gt;12:23&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Ss2OQ2uFzfI/AAAAAAAAALo/OIv1wIhhr_8/s1600-h/DSCN2216.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Ss2OQ2uFzfI/AAAAAAAAALo/OIv1wIhhr_8/s400/DSCN2216.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390120749250235890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian lama tak bersua dengan kata-kata. Tak ada rindu. Tak ada punya rasa ingin yang begitu menggebu untuk kembali hadir bersama kata. Dunia nyata telah begitu menenggelamkan. Dunia nyata telah begitu memabukkan hingga aku hilang kesadaran untuk kembali bersapa kata dengan kanvas ini. Banyak yang ingin kubagi namun hatiku tak terkiblat pada kanvas kata ini. Maka kubiarkan ingatan saja yang menyimpan semua cerita ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya siang ini aku kembali. Menuliskan segala yang telah terlalui. Segalanya terasa begitu indah. Kebersamaan dengan saudara dan pertemuanku yang tak sebentar dengan lelakiku. Begitu membahagiakan juga mengharukan. Sebuah kesempatan yang datang tak selalu. Semua bersuka ria sambil membagi cerita bertema senyum meski kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya dihati masing-masing. Dan kami semua memutuskan untuk merayakan Lebaran 1430 H ini dengan rintik senyum dan hangatnya pertalian darah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anak berkumpul mengucap salam bagi orang tua yang kini tinggal tunggal. Sang menantu menata gerak guna ikut serta dampingi pasangan. Sedangkan puluhan cucu bersorak gembira oleh senyuman para orang dewasa. Semua serba hangat. Semua serba tertawa. Semua serba berbahagia. Semua serba ceria. Kata maaf sedang berhamburan lari dari hati dan lisan. Idul Fitri penuh haru…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kami dipertemukan kembali dengan masa seperti ini….&lt;br /&gt;Semoga kami masih punya waktu rasai kenyamanan seperti ini…&lt;br /&gt;Amin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1:12&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3783566304677264808?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3783566304677264808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3783566304677264808&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3783566304677264808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3783566304677264808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/10/idul-fitri-1430-h.html' title='Idul Fitri 1430 H'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Ss2OQ2uFzfI/AAAAAAAAALo/OIv1wIhhr_8/s72-c/DSCN2216.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-9103245724536680485</id><published>2009-08-26T22:44:00.003+07:00</published><updated>2009-08-26T23:00:00.841+07:00</updated><title type='text'>Vaska dan Radith</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SpVbhv79C9I/AAAAAAAAAKI/d7fH3O2n6WU/s1600-h/lilin.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SpVbhv79C9I/AAAAAAAAAKI/d7fH3O2n6WU/s200/lilin.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374302365698296786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;br /&gt;Dengan nyala hati yang sedikit temaram oleh waktu…&lt;br /&gt;Rabu malam…&lt;br /&gt;9:59&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini saatnya semua berakhir. Permainan hati ini sudah hampir menyentuh garis Finish. Sedangkan gemuruh tepukan semakin mengencang hingga aku sadar kalau sudah saatnya penentuan akhir. Penentuan mengenai siapa yang akhirnya keluar sebagai pemenang dalam permainan penjajalan hati ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Radithya Javas Nararya…&lt;br /&gt;Vaska Alteria dan lelaki itu…&lt;br /&gt;Vaska Alteria dan Radithya Javas Nararya…&lt;br /&gt;Va dan Radith…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan sudah berlangsung beberapa lama. Terlalu banyak bahkan jika harus dihitung dengan satuan hari. Pun masih belum cukup sedikit jika dinyatakan dengan hitungan minggu. Bolehlah jika disebut beberapa bulan. Tak sampai menginjak satuan tahun. Tak terlalu lama memang, tapi intensitas sudah begitu meninggi hingga jika terus dilanjutkan akan menyebabkan kecanduan akut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaska takut kecanduan…&lt;br /&gt;Vaska tak mau kecanduan lelaki itu…&lt;br /&gt;Vaska tak mau terlalu mengkiblat pada Radith…&lt;br /&gt;Maka dia mendoa di bulan ini…&lt;br /&gt;Benar memohon agar hatinya segera dijauhkan dari suara lelaki itu…&lt;br /&gt;Dan tampaknya doa itu terkabul…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib. Karena tiba-tiba Radith merubah diri menjadi hampir tak dikenali Vaska. Tak dikenali juga tak disukai. Radith yang kini seakan menguapkan sisi kekaguman Vaska terhadapnya. Secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan apapun, Radith berubah seperti para lelaki biasa. Lalu Vaska kecewa. Dan perlahan sakit hati. Lalu dengan sukarela memutuskan untuk kehilangan dia selamanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua memang akan temui sebuah akhir…&lt;br /&gt;Dan kini adalah kesegeraan akhir bagi mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaska sedikit heran dengan semua yang ada. Dia merasa ada sesuatu yang dengan sengaja memisahkan dia dari kekaguman akan seorang Radith. Tapi dia tak tahu apa pastinya. Mungkin inilah keajaiban doa. Tak perlu ada logika. Tak perlu ada jalan visual. Jika Tuhan menjawab, maka tak ada yang tak mungkin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Vaska merasa lega….&lt;br /&gt;Lega dengan keikhlasannya melepaskan diri dari Radith…&lt;br /&gt;Lelaki yang dulu dikiranya “Terlambat Bertemu” dirinya…&lt;br /&gt;Tapi ternyata dia sadar bahwa “Seharusnya Tak Bertemu”….&lt;br /&gt;Yang ada hanya Vaska…&lt;br /&gt;Tak ada lagi Radith…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;10:24&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-9103245724536680485?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/9103245724536680485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=9103245724536680485&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/9103245724536680485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/9103245724536680485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/08/vaska-dan-radith.html' title='Vaska dan Radith'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SpVbhv79C9I/AAAAAAAAAKI/d7fH3O2n6WU/s72-c/lilin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-7852872291541667862</id><published>2009-08-25T11:29:00.008+07:00</published><updated>2009-08-25T22:00:31.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='love'/><title type='text'>Terlambat bertemu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SpNuGDZ2vkI/AAAAAAAAAKA/ZcFCB2gdRgc/s1600-h/thorny-rose.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SpNuGDZ2vkI/AAAAAAAAAKA/ZcFCB2gdRgc/s200/thorny-rose.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373759830655155778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;25 Agustus 2009&lt;br /&gt;Pada sebuah Selasa di bulan Ramadhan &lt;br /&gt;10:50&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kalian terlambat bertemu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Loh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Jika kalian bertemu 3 atau 4 tahun yang lalu. Would it be the same? Would you be with him as you said he’s got 95 from you? Dan sekarang sudah sangat sulit, meski masih ada sedikit sekali kemungkinan karena jodoh hanya sebuah rahasia yang seringkali melewati jalan berbatu dan berbelok. Dan sekarang, dengan apa yang sudah kamu punya, apa yang kau rasa tentangnya? Tak ada rasa sedikitpun? Atau kamu berusaha melebur rasa yang ada?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah siang yang begitu terik, Lila mengetik barisan kata-kata itu. Melalui Yahoo Messenger. Tak terlalu kaget aku membacanya karena kenyataanya aku duluan yang menyadarinya. Beberapa entah yang lalu, aku menyadari kemungkinan itu. Kemungkinan bahwa bisa jadi aku dan Radithya terlambat bertemu. Bahkan aku pernah juga mengandaikan aku tak berada di posisi ‘pasti tak bisa memilih lagi’ seperti ini. Dan aku membayangkan apa yang akan kulakukan. Apa aku akan segera menahannya agar selamanya bersamaku? Sepertinya iya. Tapi sayang hal itu hanya sebuah pengandaian yang begitu lintas waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunamai ‘dia’ Radithya Javas Nararya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jangan mikir aneh-aneh…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku heran saja pada kalian berdua. Kenapa begitu sama. Jangan-jangan dialah sebenarnya jodohmu dan kamulah sebenarnya jodohnya. Tapi karena kamu sudah bersama dengan yang lain, dia masih menunggu jodoh yang lain hingga sekarang. Dengan usia yang terlalu matang. Dan suatu kala dia bilang kalau mencari pendamping hidup yang sevisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jodoh itu saling melengkapi makanya tak pernah sama. Kamu bilang bahwa aku dan dia sevisi, berarti kita bukan jodoh karena itu artinya kami tak bisa saling melengkapi. Karena kami sama.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Lila berhenti mengetik sejenak. Karenanya aku lanjutkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bisa jadi demikian. Bahwa aku dan dia memang terlambat bertemu. Mungkin jika waktu tak masalah dan aku masih ‘bisa memilih’ maka aku pasti akan memilih bersamanya yang jelas-jelas telah dapati 95% kriteria dariku. Tapi aku tak yakin dan tak mau memastikan menghentikan rasa hanya padanya. Karena pada dasarnya aku tak begitu percaya yang dinama cinta dan pengabdian hati. Bagiku perasaan hanya bersifat sementara karenanya akan selalu terbarui dengan berbagai hal. Bisa jadi akan tertindas rasa-rasa baru untuk dia-dia yang lain. Well, yang jelas aku sudah pernah merasa ‘aku dan dia terlambat bertemu’ dan ‘he’s just to good to be true’ jadi yang kubisa hanya melanjutkan semua yang sudah berjalan selama ini. Melanjutkannya dengan rasa yang sama dan tanpa banyak berpengharapan.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku dan Lila berlanjut dengan baris-baris kata yang lain. Beberapa masih tentang aku dan Radithya Javas Nararya. Beberapa tentang rencana masa depannya. Lalu tiba-tiba kubilang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Be with him…He’s a good man. Make him yours.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahahaha….Aneh-aneh saja. Males banget karena dia kan ‘sisa’ darimu.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sisa tapi kalau masih qualified, kenapa tidak? Lagipula dia sudah lolos tes. Dan hasilnya menakjubkan, hampir tak bercelah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, masalahnya dia seorang SE…..”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kusimpulkan bahwa Lila sebenarnya suka pada Radithya. Setidaknya dia memperhitungkan Radithya juga meski ada tapi yang terbaca begitu tak berlogika karena hanya masalah SE...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;11:13&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-7852872291541667862?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/7852872291541667862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=7852872291541667862&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7852872291541667862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7852872291541667862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/08/terlambat-bertemu.html' title='Terlambat bertemu...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SpNuGDZ2vkI/AAAAAAAAAKA/ZcFCB2gdRgc/s72-c/thorny-rose.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5605849468203548523</id><published>2009-07-31T12:59:00.002+07:00</published><updated>2009-07-31T13:39:43.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Jika aku mati...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SnKRcWCUNiI/AAAAAAAAAJg/zvdGKkKTOKI/s1600-h/kamboja.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 260px; height: 195px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SnKRcWCUNiI/AAAAAAAAAJg/zvdGKkKTOKI/s320/kamboja.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364510022289339938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;31 Juli 2009&lt;br /&gt;Jum’at terakhir bulan ini….&lt;br /&gt;12:33&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badanku sedang tak mau kompromi hingga kemudian flu dan demam datang bertandang. Akibat kecapekan, mungkin. Lalu terbersit tentang kematian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan hanya persinggahan sementara. Kata orang, kehidupan adalah sebuah wahana penentuan akan berada dimana kita nantinya. Untuk memutuskan tempat sejati bagi kita. Akankan surga yang kenikmatannya takkan mampu terbayang oleh kita? Ataukah neraka yang bahkan bayangannyapun enggan kita bayangkan? Itulah sedikit hakekat kehidupan yang sanggup kudefinisi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku membayangkan bagaimana jika aku mati. Bukan surga dan neraka yang kubayangkan. Karena itu diluar jangkauanku. Bukan pula cara dan kapan aku mati. Karena itu akan membuatku malah tak nyaman jalani hidup. Aku membayangkan tentang reaksi orang- orang disekitar. Apa meraka akan menangis? Tangisan apa itu? Tangisan sedih, tangisan bahagia atau tangisan kelegaan karena akhirnya aku tak lama- lama menderita di dunia ini? Yang mana? Apa mereka akan merasa kehilangan? Sebesar apa kehilangan itu? Apa yang tak lagi mereka temui jika aku mati? Lalu berapa lama waktu yang meraka perlukan untuk kembali ke kehidupan normal mereka? Kehidupan yang tanpa ingatan bahwa aku sudah mati. Kehidupan yang telah tanpa aku. Aku benar ingin tahu semuanya. Tapi tak mungkin sekarang. Meski demikian, aku pun tak yakin akan ada kesempatan buat mengetahui semua jawaban itu. Karena aku harus mati dulu agar semua tanya itu bertemu muka dengan jawab. Lalu disaat aku mati, aku tak yakin masih punya bentuk pikiran seperti itu. Kemungkinan aku sudah sibuk dengan para malaikat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kamu akan bersedih jika aku mati?&lt;br /&gt;Berapa lama sedihmu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;12:44&lt;br /&gt;Semoga aku segera sembuh…&lt;br /&gt;Amin…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5605849468203548523?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/5605849468203548523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=5605849468203548523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5605849468203548523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5605849468203548523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/jika-aku-mati.html' title='Jika aku mati...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SnKRcWCUNiI/AAAAAAAAAJg/zvdGKkKTOKI/s72-c/kamboja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6600774534271097587</id><published>2009-07-27T14:02:00.003+07:00</published><updated>2009-07-27T14:14:55.580+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untittled'/><title type='text'>Ketika rindu itu hadir...</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nOvfTzg2UBM/Sm1S8IPGZ0I/AAAAAAAAAA4/8K6saEiwIxc/s1600-h/just+wanna+hold.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 140px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nOvfTzg2UBM/Sm1S8IPGZ0I/AAAAAAAAAA4/8K6saEiwIxc/s320/just+wanna+hold.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363033924224575298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;@ Malang, 27 Juli 2009&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Malang mulai dirundung hujan&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Meskipun hari ini langit begitu cerah dengan sedikit semburat mendung&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Hatiku juga secerah hari ini&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dengan sedikit rasa kantuk yang melanda&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti yang sudah-sudah&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Begitupun hari ini&lt;br /&gt;Aku hanya merindukan satu orang&lt;br /&gt;Yang mungkin tak percaya aku sangat merindukan dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu dengan segala macam bentuk kerinduan&lt;br /&gt;Apapun yang bisa dikategorikan rindu&lt;br /&gt;Aku merindukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah lelah kuungkap betapa aku menginginkan dia ada disini&lt;br /&gt;Sekedar berbincang&lt;br /&gt;Sambil memeluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku begitu jahat&lt;br /&gt;Seandainya aku begitu egois&lt;br /&gt;Tak akan pernah kulepas dia untuk pergi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Seandainya sanggup tangan ini menahannya untuk tidak pergi&lt;br /&gt;Seandainya mampu aku merapatkan pelukan&lt;br /&gt;Ingin kukatakan…’jangan pergi’&lt;br /&gt;Tapi yang terucap….’kapan engkau kembali?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disini aku menunggu&lt;br /&gt;Hanya sekedar agar aku bisa kembali memelukmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6600774534271097587?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6600774534271097587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6600774534271097587&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6600774534271097587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6600774534271097587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/ketika-rindu-itu-hadir.html' title='Ketika rindu itu hadir...'/><author><name>qhiemholl</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11959451227680777561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nOvfTzg2UBM/Sqmx5Wqe6LI/AAAAAAAAABI/5eRdO2eEitE/S220/IMG_0115.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nOvfTzg2UBM/Sm1S8IPGZ0I/AAAAAAAAAA4/8K6saEiwIxc/s72-c/just+wanna+hold.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5035208798555181280</id><published>2009-07-23T13:19:00.001+07:00</published><updated>2009-07-23T13:23:50.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untittled'/><title type='text'>Kita Memang Sayang Papa, tapi......</title><content type='html'>&lt;em&gt;“Kita memang sayang sama papa&lt;br /&gt;Tapi Allah lebih sayang sama papa&lt;br /&gt;Karena papa ga dibiarkan terlalu lama menderita dengan sakitnya”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang diucapkan seseorang pada suatu malam lewat sms kepadaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tau…&lt;br /&gt;ucapannya benar&lt;br /&gt;tapi rasanya…&lt;br /&gt;entahlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memang ikhlas papaku pergi menghadap Sang Khalik&lt;br /&gt;tapi dalam hati kecil, ada sebuah pernyataan&lt;br /&gt;benarkah?&lt;br /&gt;benarkan papaku sudah tak akan kembali lagi&lt;br /&gt;kenapa aku masih juga mengharap papaku pulang&lt;br /&gt;seolah papa sedang pergi tak jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertanyaan itu selalu hinggap di hatiku&lt;br /&gt;entahlah&lt;br /&gt;ada rasa tak percaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kenapa orang yang baik selalu dipanggil duluan?”&lt;br /&gt;komentar beberapa orang saat papaku meninggal&lt;br /&gt;papaku memang orang baik…&lt;br /&gt;sangat baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teriring do’aku untuk papa…&lt;br /&gt;aku hanya ingin bilang aku merindukan papaku&lt;br /&gt;sangat…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5035208798555181280?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/5035208798555181280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=5035208798555181280&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5035208798555181280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5035208798555181280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/kita-memang-sayang-papa-tapi.html' title='Kita Memang Sayang Papa, tapi......'/><author><name>qhiemholl</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11959451227680777561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nOvfTzg2UBM/Sqmx5Wqe6LI/AAAAAAAAABI/5eRdO2eEitE/S220/IMG_0115.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-2423443218307772197</id><published>2009-07-23T12:58:00.003+07:00</published><updated>2009-07-23T13:09:08.042+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='friendship'/><title type='text'>Jangan pergi, Ratri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Smf-UraLSoI/AAAAAAAAAI4/StavCDnK3YU/s1600-h/DSCN1978.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Smf-UraLSoI/AAAAAAAAAI4/StavCDnK3YU/s200/DSCN1978.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361533512611220098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Masih) Mojokerto&lt;br /&gt;Tertanggal 23 Juli 2009&lt;br /&gt;Di hari Kamis&lt;br /&gt;12:20&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jangan pergi, Ratri…….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu akhirnya terlontar juga. Terpaksa keluar dari hatiku karena desakan rasa takut kehilangan. Meski aku tahu pasti tak ada guna mengatakannya. Karena lelakinya mengharapkan dia dan dia mencintai lelakinya dengan porsi sangat berlebih. Dia pasti akan berangkat. Dia pasti akan pergi. Dia pasti akan berpamitan padaku. Dan kita tak pernah tahu sampai kapan akan kembali terpisah terlalu jauh. Bahkan lelakinya itupun tak bisa beri jaminan sampai kapan akan membawa Ratri pergi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku berkata tanpa rasa iri atau tertinggal darinya. Kali ini aku berkata dengan ketulusan. Dengan hati yang nyaman oleh kehadirannya. Sayang sekali rasanya jika akhirnya aku harus jauh darinya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak entah kapan aku mengganggap diriku adalah sahabat baginya. Aku menganggap kami adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;soulmate&lt;/span&gt; kembar sebagaimana lambang zodiak kami yang adalah Gemini. Aku merasa hati kamu begitu saling mengikat. Bisa jadi karena kami lahir di hari yang berurutan jadi punya ikatan batin yang cenderung cocok. Aku lahir ditanggal 26 Mei. Sedang dia lahir sehari setelahku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan hidup yang semakin berliku di usia yang semakin mendewasa membuatnya merasa sedikit kehilangan arah. Dia limbung seketika. Dia kehilangan keceriaan yang sudah lama mendarah dalam nafasnya. Dia kemudian berubah menjadi sedikit pemikir dan pendiam. Wajahnya berubah muram oleh keluh. Tangisnya kembali ada meski selalu tertahan di dadanya. Yang pasti Ratri sempat tak jadi Ratri yang delapan tahun lalu kukenal…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba- tiba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukan Ratri yang dulu. Ratri yang selalu menasehatiku "Jangan boros!". Ratri yang begitu mudah tertawa lepas. Ratri yang begitu gampang dibuat senang. Ratri yang begitu menikmati dirinya sendiri. Ratri yang berputar- putar dengan daster lebar yang dipinjamnya dariku. Ratri yang sedang lupa beban serta kelokan- kelokan hidupnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmati dirinya kala jadi seperti dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelakinya sedang mengingininya. Lelakinya sedang mengharapkannya dekat. Dan diapun demikian. Meski dia sempat ragu untuk mendekat. Tapi nalurinya sebagai istri memperkuat keputusannya untuk lakukan yang lelakinya ingini….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratri akan segera tinggalkan Kediri…&lt;br /&gt;Lalu berpeluh di ibukota…&lt;br /&gt;Entah sampai kapan…&lt;br /&gt;Maka tak lupa kuberkata…&lt;br /&gt;Jangan pergi, Ratri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Untuk sahabat yang semoga hatinya segera cerah kembali…&lt;br /&gt;Cheers!!!&lt;br /&gt;12:49&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-2423443218307772197?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/2423443218307772197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=2423443218307772197&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/2423443218307772197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/2423443218307772197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/jangan-pergi-ratri.html' title='Jangan pergi, Ratri'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Smf-UraLSoI/AAAAAAAAAI4/StavCDnK3YU/s72-c/DSCN1978.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-8281418865514964294</id><published>2009-07-23T10:31:00.000+07:00</published><updated>2009-07-23T10:32:59.897+07:00</updated><title type='text'>Thank You</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;p&gt;sudah lama ingin ku katakan, namun kau belum juga kutemukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;sudah sering kurenungkan, akan kulakukan, seandainya waktu mengijinkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;kutempel gambar-tiada mu di seluruh dinding kamarku. untuk menepis resah jika terjaga tiap tengah malam. untuk menyungging senyumku jika hari terlalu tak bersahabat. dan yang jelas, untuk menemani hari-hari tak bertemanku. aku tahu, katamu, tidak akan ada yang abadi. termasuk betapa idealnya konsep hubungan absurd ini. biar saja, kataku, selama kita sama menikmatinya dalam batas ketiadaan masing-masing. tidak ada kamu-yang sebenarnya di sampingku. juga tidak ada sekepingpun aku di sisi fisikmu. namun tetaplah yakin, ada kita berdua di tiap detik-detik melelahkan hari-hari mu dan ku. di udara, di air yang mengguyur, di tiap hawa sendiri pagi, sore dan malam hari. kau, inspirasi maha dahsyatku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;aku tak kan keberatan pulang cepat untuk merasa ada kamu yang menungguku duduk ngobrol dan minum teh. aku tak kan keberatan bangun pagi untuk memenangkan taruhan siapa yang kan lebih dulu memberi ciuman selamat pagi. aku tak kan keberatan bercerita tanpa rahasia denganmu, dengan segenap kesadaranku akan tiadamu yang selalu. akan kulakukan semua yang dilakukan pasangan pemenang penghargaan “CInta seJati”. betapapun aku dan kau tahu, itu hanya segumpal lelucon yang akan selalu mencair dalam tawa-tawa kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;jangan merasa lelah untuk menemukanku. aku tahu jalan itu berliku, kadang berpintu mati, berdinding-dinding putus asa, bergambar ilusi-ilusi yang tampak jelas tak masuk akal. dengarlah, intuisi bukan hal rasional. jangan pedulikan kata logikamu. teruslah ikuti hatimu, menujuku, suatu saat nanti. pelukku, selalu menunggu haribaanmu. dan menunggumu, adalah proses kreatif yang menyalurkan banyak energi ganjil yang meletup-letup hikmat dalam tiap atom lokus otak. menjadi tawa lucu, menjadi merah tersipu, menjadi derai-derai air mata kelelahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;seandainya kau tahu, semua petuahmu tlah tersampaikan oleh udara. semua pesan “bertahanlah”mu kepadaku telah selalu terngiang jika aku kembali menatap nanar pada ketiadaan tak berujung ini. pada ketiadaan kita yang selalu akrab, yang belum usang. adakah jika waktu telah menggeliat dan menampakkan diri kita masing-masing, aku akan merasa ini justru asing? seperti kita tak pernah saling kenal dalam kejauhan dan ketiadaan. lucu juga, mengapa aku harus menafsirkan adamu jauh dariku, sedangkan aku belum juga tahu dimana kau sesungguhnya. mungkin saja engkau terlalu dekat untuk diucap, hanya saja sedang tersekat tabir ‘belum waktunya’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;well, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. untuk waktu yang terlewat dan tersisa dalam mencarimu. mencari senyummu yang aku yakin pasti ku kenal pada temu kita. kau yang perkasa, karena tak jera pada waktu. kau yang tak terkalahkan berbagai dilema. kau yang digdaya jika selalu percaya pada adaku, ilusi terbesar dalam hidupmu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;bagiku, kau abadi. karena tersimpan rapat dalam harapan. terkunci mati dalam pikiran. kau tercipta dari doa orang-orang sepertiku, yang merasa tak punya pilihan selain menjalani hari dan berharap Tuhan masih menyisakan belas kasihan untuk mencipta seorang malaikat berdarah dan berdaging, yang akan mendampingi riang keluh kesahmu. selalu.&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-8281418865514964294?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/8281418865514964294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=8281418865514964294&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8281418865514964294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8281418865514964294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/thank-you.html' title='Thank You'/><author><name>liva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08467019625996245433</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-9163823903776694691</id><published>2009-07-22T10:22:00.002+07:00</published><updated>2009-07-22T10:32:40.491+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sadness'/><title type='text'>LeLakI iTu PerGi..</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;4 Januari 2009 pukul 13.20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Keluarga bapak Bambang Sih”&lt;br /&gt;Terdengar panggilan dari ruang 26 hanya berselang beberapa saat &lt;br /&gt;dari wanita yang menjadi ibuku keluar ruangan.&lt;br /&gt;Deg. Aku tersentak, jantungku berhenti sesaat.&lt;br /&gt;Wanita yang menjadi ibuku bergegas masuk kembali ke ruang 26.&lt;br /&gt;Aku mengekor dibelakangnya, masuk kedalam ruangan steril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahku terhenti saat melihat pemandangan didepanku.&lt;br /&gt;Sosok yang selama ini kukenal sebagai ayahku sedang ditekan dadanya oleh seorang lelaki berbaju putih.&lt;br /&gt;Aku berlari menghampiri. Menyusul mama yang sudah ada didekat papa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakai baju hijau”, kata mama menyebut baju steril yang menjadi pakaian wajib untuk masuk ruang isolasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari lagi ke arah pintu masuk mencari baju hijau yang biasanya tergantung di depan. Aku minta pada seorang lelaki, tapi dia menggelang sambil bilang tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah mbak…ga papa ga pake baju hijau”, kata seorang tetangga yang ternyata ikut masuk. Ruang isolasi yang biasanya hanya boleh masuk satu per satu, siang itu menjadi penuh sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari lagi ketempat papaku.&lt;br /&gt;Masih sama dengan kondisi saat aku masuk. Diberi bantuan oleh beberapa orang.&lt;br /&gt;Seorang wanita yang kusebut nenek menangis didekat mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku mengalir saat melihat alat yang ditelakkan di samping tempat tidur papaku.&lt;br /&gt;Alat pengukur detak jantung itu terpampang angka 0.&lt;br /&gt;Mereka terus berusaha mencari tanda kehidupan dari lelaki yang kukenal sangat bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.&lt;br /&gt;Aku menangis dipelukan mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga….&lt;br /&gt;“Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi tolong diikhlaskan, bapak telah meninggal dunia”, seorang wanita mengatakan itu pada kami. Seolah dialah sang pencabut nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Hancur…&lt;br /&gt;Remuk…&lt;br /&gt;Redam…&lt;br /&gt;Aku terluka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sanggup lagi menopang tubuhku…&lt;br /&gt;Aku tak sadarkan diri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak jangan begini…harus ikhlas…dokter juga sudah berusaha keras. Tapi memang Allah menghendaki ini terjadi”, ucapnya lagi diantara kesadaranku yang menghilang.&lt;br /&gt;Berkali-kali mereka katakan itu sambil menepuk pipiku, mencoba mengembalikan kesadaranku.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosong….&lt;br /&gt;Hampa….&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang terenggut begitu saja&lt;br /&gt;Sesak rasa dada ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sanggup kusebut nama papa&lt;br /&gt;Aku hanya menangis&lt;br /&gt;Dan berkali-kali tak sadarkan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku marah..&lt;br /&gt;Kecewa..&lt;br /&gt;Menyesal..&lt;br /&gt;Pada diriku sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu pergi…&lt;br /&gt;Tanpa pesan&lt;br /&gt;Tanpa amanat&lt;br /&gt;Hanya pergi&lt;br /&gt;Berpulang ke Rahmatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 bulan yang lalu..&lt;br /&gt;Saat papaku keluar dari ruang 26&lt;br /&gt;Papa dalam kondisi sadar&lt;br /&gt;Dan tersenyum saat aku mengenalkan seseorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini…&lt;br /&gt;2 bulan kemudian..&lt;br /&gt;Papaku keluar dengan mata tertutup&lt;br /&gt;Tak akan pernah tersenyum lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa apa?&lt;br /&gt;Hatiku seperti tercabik&lt;br /&gt;Terkejut&lt;br /&gt;Terpana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahkan belum bisa membahagiakan papa&lt;br /&gt;Aku bahkan belum meminta maaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki paling baik didunia&lt;br /&gt;Lelaki paling sabar yang kukenal&lt;br /&gt;Lelaki yang tak pernah mengeluh akan sakitnya&lt;br /&gt;Lelaki yang tak pernah pandang bulu mengenal orang&lt;br /&gt;Lelaki yang tak pernah marah padaku&lt;br /&gt;Papaku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya waktu bisa diputar kembali&lt;br /&gt;Seandinya ada mesin waktu&lt;br /&gt;Ingin aku kembali saat papaku masih hidup&lt;br /&gt;Akan kubahagiakan papaku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini jalanku&lt;br /&gt;Aku harus bisa bertahan&lt;br /&gt;Agar papa bisa tenang&lt;br /&gt;Agar papa bisa tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang kupanggil papa…&lt;br /&gt;Aku minta maaf belum bisa bahagiakan papa&lt;br /&gt;Aku minta maaf selalu kecewakan papa&lt;br /&gt;Aku minta maaf karena merasa jengkel pada saat terakhir papa&lt;br /&gt;Aku minta maaf….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasihku…&lt;br /&gt;Telah menjadi orang yang sangat mencintaiku&lt;br /&gt;Telah menjadi ayah bagi kami&lt;br /&gt;Telah menjadi orang yang paling bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga&lt;br /&gt;Telah menjadi panutan kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan merindukan papa&lt;br /&gt;Rindu saat papa memanggilku ‘Qhiemholl’&lt;br /&gt;Nama yang aku tak tau kenapa selalu papa pakai untuk memanggilku&lt;br /&gt;Rindu saat papa membuka pintu kamarku dan melongokkan kepala&lt;br /&gt;Rindu saat aku mencium tangannya ketika akan pergi&lt;br /&gt;Rindu dengan segala macam kebiasaannya&lt;br /&gt;Aku rindu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doaku…&lt;br /&gt;Semoga semua kesalahan papa dimaafkan&lt;br /&gt;Semoga semua amal ibadah papa diterima Allah&lt;br /&gt;Semoga papa bisa tenang di dunia yang abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sayang papa&lt;br /&gt;Dan akan selalu begitu&lt;br /&gt;Tanpa pernah bisa terganti oleh apapun&lt;br /&gt;Oleh siapapun… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat kehilangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miss you and love you much…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan…&lt;br /&gt;Papa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-9163823903776694691?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/9163823903776694691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=9163823903776694691&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/9163823903776694691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/9163823903776694691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/lelaki-itu-pergi.html' title='LeLakI iTu PerGi..'/><author><name>qhiemholl</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11959451227680777561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nOvfTzg2UBM/Sqmx5Wqe6LI/AAAAAAAAABI/5eRdO2eEitE/S220/IMG_0115.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3650239889886674967</id><published>2009-07-22T09:49:00.002+07:00</published><updated>2009-07-22T09:54:17.404+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='love'/><title type='text'>Main Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmZ-4HwT7jI/AAAAAAAAAII/WFG93lhnuK0/s1600-h/heart.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 142px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmZ-4HwT7jI/AAAAAAAAAII/WFG93lhnuK0/s200/heart.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361111909050609202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;22 Juli 2009&lt;br /&gt;Di sebuah Rabu pagi dengan udara dingin yang sesekali menyelinap ari…&lt;br /&gt;7:29&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan memang membawa efek “senang”. Apapun jenis permainannya, pasti akan meninggalkan jejak langkah sang senang di hati. Bahkan tak jarang para pemain hebat akan membuat lawan mainnya terperangkap dalam sebuah candu. Terperangkap dan tak mau lepas meski logikanya jelas- jelas mengatakan bahwa permainan itu berbahaya dan hanyalah sebuah kebohongan belaka. Tapi, toh, kenikmatan yang dirasai berhasil mengaburkan suara logika. Alhasil, para pemain akan menikmati setiap jentik waktu dan tak lagi mengharapkan sebuah kebenaran. Karena semua yang ada sudah terlanjur membahagiakan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingatkah anda dengan nama Belva Purnama? Perempuan berusia seperempat abad yang selalu mengganggap bahwa logikanya seberbahaya air hujan yang mampu mengkorosi besi. Yang hatinya sekuat liat dan mampu berubah bentuk pun warna dengan cepat. Perempuan dewasa yang oleh karenanya selalu menjajal hati dengan para lelaki. Dia tak pernah berjanji akan setia pada satu lelaki. Dia juga tak pernah mengganggap dirinya berselingkuh karena motifnya hanya pada penjajalan hati. Dia tak pernah memasukkan satu lelakipun di hatinya. Karena dia tak mau berhenti menjajal hati. Karena hatinya hanya gumpalan perasaan liat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali- kali dia bermain hati. Berkali- kali pula dia menang setelah puas bersenang- senang meski tetap berada di zona tenang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan hatinya dengan Omar masih berlanjut hingga sekarang meski mereka berdua sudah saling mengakui segala kebohongan. Meski dia telah secara perkasa mengakui bahwa dirinya tak lagi sendiri. Lalu Omar menjadi tak habis pikir. Meski Omar tahu kalau banyak sekali kebohongan diantara mereka, tapi dia tak pernah menyangka Belva berbohong sejauh itu. Belva pun tahu benar bahwa Omar tak selalu berkata jujur. Namun mereka berdua saling menikmati kebohongan itu. Mereka berdua sama- sama saling menikmati permainan hati ini. Tanpa arah pasti. Namun menjanjikan kejutan atas kebohongan selanjutnya. Dan itulah sisi candunya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjanji untuk berteman di dunia nyata. Tanpa kebohongan yang artinya tanpa candu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mereka sedang merangkai pola permainan hati lainnya. Omar dengan perempuan lain. Dan Belva dengan lelaki lain. Saling mencari candu meski masih saling terhubung dalam sebuah janji. Janji untuk berteman di dunia nyata…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh..betapa permainan membawa candu…&lt;br /&gt;Betapa kebohongan hanya laksana sebuah keharusan…&lt;br /&gt;Betapa logika sempurna terselimuti saat hati mendominasi…&lt;br /&gt;Dan, Belva akan terus menjajal hati…&lt;br /&gt;Tak pernah berhenti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;Terimakasih&lt;br /&gt;8:10&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3650239889886674967?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3650239889886674967/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3650239889886674967&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3650239889886674967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3650239889886674967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/main-hati.html' title='Main Hati'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmZ-4HwT7jI/AAAAAAAAAII/WFG93lhnuK0/s72-c/heart.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6238117562809518934</id><published>2009-07-19T21:34:00.002+07:00</published><updated>2009-07-22T10:08:45.442+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Happy go lucky</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmaChx4xv7I/AAAAAAAAAIw/xlskE5yRt4U/s1600-h/smile.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 176px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmaChx4xv7I/AAAAAAAAAIw/xlskE5yRt4U/s200/smile.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361115923269926834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;19 Juli 2009&lt;br /&gt;Sebuah Minggu siang…&lt;br /&gt;12:49&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu akhirnya melabuhkan nyawanya pada ketenangan. Sejenak menaruh kesadaran. Beristirahat dalam katupan mata. Begitu tentram dalam lelap. Pulas dan senyap tanpa senada dengkurpun. Tubuhnya terlihat begitu nyaman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak demikian dengan jiwanya. Hatinya sedang sedikit teriris oleh sakit. Oleh kegagalannya menikmati hati bersama wanitanya. Oleh tuduhan wanitanya yang begitu semena- mena. Yang kemudian berhasil disanggahnya dengan bukti tak terbantahkan. Namun, wanita itu begitu kerasa hati. Tak mau sedikitpun perduli pada pembuktian apapun. Wanita itu sudah terlanjur mengerak dalam rasa jengkel. Dan memutuskan untuk tidak memenuhi ajakan lelaki itu untuk melayari hari bersama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan sekali lelaki itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengambil sebulat Oskadon yang hanya tinggal satu- satunya di meja balkon kamar si wanita. Obat itu juga adalah sisa dari si wanita. Dia tak perduli. Mungkin aliran kemarahan yang tersumbat membuat isi kepalanya kontraksi. Dia pasti merasa begitu tak nyaman. Diminumnya Oskadon satu- satunya itu. Lalu dia melangkah menuju tempat tidur berbalut sprei hijau itu. Yang juga properti si wanita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang wanitanya sedang berusaha keras menguapkan rasa bersalahnya pada lelaki pula situ. Sebenarnya dia tak tega menyakiti. Tapi egonya terlanjur luka. Dan dia tak lagi mau perduli perasaan siapapun. Tapi wanita itu sebenar- benarnya begitu tersiksa. Tersiksa oleh egonya sendiri. Tersiksa oleh ketidakperduliannya sendiri. Tersiksa oleh ketegaanya sendiri. Tapi dia diam saja. Dia membiarkan egonya berkuasa. Dan dia biarkan lelaki itu meringkuk pulas. Sedangkan dia disini. Sedang merangkai kata demi melucuti rasa bersalahnya pada lelaki itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu memutuskan untuk memperbaiki keadaan. Memperbaiki perasaannya, juga perasaan lelaki itu. Dia memutuskan untuk tidak menyia- nyiakan hari Minggunya dengan bersenggama bersama rasa bersalah. Dia mau selalu menikmati hidup. Dia mau jadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Happy Go Lucky!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;13:09&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6238117562809518934?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6238117562809518934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6238117562809518934&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6238117562809518934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6238117562809518934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/happy-go-lucky.html' title='Happy go lucky'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmaChx4xv7I/AAAAAAAAAIw/xlskE5yRt4U/s72-c/smile.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-7372372447806471632</id><published>2009-07-17T13:35:00.005+07:00</published><updated>2009-07-17T14:05:35.211+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Message in the bottle</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmAhLrn4sjI/AAAAAAAAAIA/5kB9wsMrvZ8/s1600-h/DSCN2094.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmAhLrn4sjI/AAAAAAAAAIA/5kB9wsMrvZ8/s200/DSCN2094.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359320041143185970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manusia oh manusia. Begitu kompleks dengan semua keunikannya. Mimpi- mimpi yang kemudian berbenturan dengan realita membuat mereka kemudian mengutuki kehidupannya dan membuat beberapa daftar tindakan yang disesali lengkap dengan beberapa tindakan yang tidak sempat dilakukannya hingga kini muntahkan penyesalan. Lalu keserakahan membuatnya merasa terus harus mendongak keatas dan merasa tertinggal dari lainnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baris pertama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga siang ini, dia sudah menerima dua pesan singkat via handphone dari dua kawan karibnya. Keduanya mengusung pertanyaan yang sama, “Ada apa denganmu? Kenapa begitu marah? Kenapa kamu merasa gundah lagi?”….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa deret pertanyaan tekstual yang begitu susah dicari jawaban tepatnya. Pertama, karena dia merasa jawaban yang nanti diberikannya akan terasa begitu “seperti biasa”. Kedua, karena dia merasa tak ada siapapun yang mampu membuatnya merasa tenang dan lebih mensyukuri hidupnya. Ketiga, karena dia tak mau ditentramkan hatinya. Baginya semua memang harus berlaku seperti itu. Bahwa dia memang harus berada pada silangan hidupnya sekarang. Selanjutnya, karena dia tak tega membagi derita dengan kedua karibnya yang mungkin berada pada tingkat syukur lebih tinggi darinya. Dia tak mau diceramahi tentang bagaimana caranya mensyukuri kehidupannya. Karena dia merasa sudah cukup bersyukur meski seringkali tak mampu hadang luapan kegelisahan hidup…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia memutuskan untuk membalas pesan pendek itu dengan cara singkat pula. Bahkan sama sekali tak menjawab pertanyaan- pertanyaan karibnya itu…&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Well, perasaan memang begitu rapuh hingga mudah berubah rasa. I’m just fine here…”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hhhuuuhhh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dia hanya merasa enggan beranjak dari masa nyamannya. Dia enggan kembali menjalani rutinitasnya yang sedikit mengganggu bathinnya. Dengan kesehariannya yang begitu sendiri….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya dia takut tak lagi mampu bersenang- senang dengan caranya sendiri. Dia khawatir kehabisan ide untuk membahagiakan dirinya sendiri. Dia cemas kalau- kalau suatu saat nanti dia memerlukan orang lain untuk dapati kebahagiaan. Dia hanya mau bahagia dengan caranya sendiri dan dengan dirinya sendiri. Karena dia yakin bahwa hanya dengan diri sendirilah manusia akan menghabiskan waktu terbanyakknya. Maka, tentu saja, dia tak mau mengandalkan kehadiran orang lain untuk bahagia. Karena jika benar demikian maka dia akan lebih sering bersedih. Karena dia yakin dia akan lebih sering sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya telah mengatup pada semua bentuk kebersamaan. Jika agamanya mengijinkan manusia terus sendiri maka bisa dipastikan dia akan terus sendiri. Takkan sekalipun menikah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tanda tangan)&lt;br /&gt;26 Mei 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Gulung kembali kertas ini lalu biarkan ombak membawanya pada para pembaca berikutnya. Terimakasih telah membaca jiwaku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan hati- hati kugulung kertas putih tulang itu. Kumasukkan kembali dalam botol minuman plastik. Kulempar sejauh tenaga. Agar buih laut membawanya menuju pembacanya yang lain….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa merasa sedih untukknya. Dan lega untukku sendiri. Karena bukan hanya aku yang merasainya. Dia juga merasakan yang sama. Bisa jadi aku adalah reinkarnasinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih bersama lelakiku disini. Berdiri di pinggiran pantai sambil nikmati senggamaan ombak kecil. Damai begitu mendominasi meski siang terlanjur begitu keparat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhirup udara pantai ini dalam- dalam. Segar meski panas tak mau mengalah oleh angin yang begitu setia temani buih. Kugenggam tangan kirinya lalu kembali kukayuh kaki bersama lelakiku. Di pinggiran pantai siang ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;17 Juli 2009&lt;br /&gt;Di sebuah Jum'at&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;13:21&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-7372372447806471632?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/7372372447806471632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=7372372447806471632&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7372372447806471632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7372372447806471632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/message-in-bottle.html' title='Message in the bottle'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SmAhLrn4sjI/AAAAAAAAAIA/5kB9wsMrvZ8/s72-c/DSCN2094.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-7977249838413115195</id><published>2009-07-17T00:04:00.001+07:00</published><updated>2009-07-17T10:22:08.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anger'/><title type='text'>Janji Omar!!!</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;16 Juli 2009&lt;br /&gt;Di hampir pergantian nama hari…&lt;br /&gt;Namun sekarang masih bersebutan Kamis&lt;br /&gt;23:46&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku harus merasa kecewa oleh sebuah janji. Janji yang terluncur entah secara sengaja atau tak sengaja dari mulut sebuah nama. Janji yang kupercaya sebagai sebuah deretan kata tanpa harus dipercaya. Janji yang selalu kuyakini takkan pernah ditepati. Namun aku terlanjur masuk dalam jeruji kata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“janji”&lt;/span&gt; yang bagiku adalah sebuah entah yang perlu dijaga. Sebuah entah yang harus selalu diusahakan kehadirannya,. Sebuah entah yang harusnya tidak meleset. Sebuah entah yang jika tidak dipenuhi akan berakibat perubahan hati seseorang. Sebuah entah yang akan dengan mudahnya mengekalkan rasa kecewa dalam jiwa terdalam seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam ini aku merasa kembali tertipu. Terbodohi oleh seorang mainanku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang telah dengan rela menantinya untuk penuhi janji. Aku yang dengan sabar meyakini bahwa kali ini dia akan menjadi lelaki sejati yang akan selalu tepati janji. Aku yang masih enggan beranjak meski waktu yang telah dijanjikan telah jauh meleset. Aku masih ada dengan serumpun harapan. Lalu kini aku kecewa. Karena ternyata kata- kata yang kunamakan janji itu baginya hanya sederet kata yang bisa diingkari dengan mudahnya. Hanya sederet kata yang jika meleset dilakukan akan teratasi dengan “maaf” atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“I’m sorry”&lt;/span&gt;….&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Shit!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar kecewa kembali. Meski jika ditanya lebih dalam mengapa aku kecewa, aku hanya bisa menjawab : ”Karena dia tak penuhi janjinya”. Lalu saat pertanyaan dilanjutkan: “Apa yang kamu harapkan dari penepatan janjinya?” Maka aku hanya bisa menjawab: “Tak ada. Tak ada yang kuharapkan”. Hanya saja aku merasa masih berminat menjadikannya sebagai permainan hati. Aku mau dia juga sakit hati sama sepertiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Omar, belajarlah menghargai janji…&lt;br /&gt;Jangan main- main denganku karena kamulah sebenarnya permainanku!!!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-7977249838413115195?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/7977249838413115195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=7977249838413115195&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7977249838413115195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7977249838413115195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/janji-omar.html' title='Janji Omar!!!'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6172831320384844920</id><published>2009-07-06T03:38:00.002+07:00</published><updated>2009-11-13T03:20:41.492+07:00</updated><title type='text'>Mari kita berteman di dunia nyata...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kediri&lt;br /&gt;Pada sebuah pagi yang masih begitu dini&lt;br /&gt;Tertanggal 6 Juli 2009&lt;br /&gt;02:44&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan konvensi hari ini sudah berhak dipanggil Senin. Meski masih berbentuk jabang bayi. Hampir semua nyawa nyata telah terlelap dalam keping- keping mimpi. Lalu yang tertinggal hanya keheningan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi wanita muda itu masih terjaga. Nyawanya masih begitu utuh. Dan rasanya masih benar peka. Lalu kembali dia dapati pecahan masa lalu yang sempat menolak untuk dia temukan. Bongkahan maya yang kemudian muncul sebagai suara. Kembali seperti semula karena benarnya dia dan lelaki maya itu tak pernah sekalipun bersentuhan nyata. Hanya terbentuk dari deretan rapi kalimat klise yang sulit diterka maknanya hingga wanita itu tak pernah benar paham sisi  benar lelaki mayanya itu. Setelah sekian masa dia menguap tanpa berpamit, malam ini lelaki itu menggores kembali bayangan suaranya. Kembali menjadi setengah nyata namun tetap maya… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu adalah Omar Randu…&lt;br /&gt;Wanita muda itu adalah Belva Purnama…&lt;br /&gt;Namun tak jarang dia mengubah diri menjadi Vaska Alteria…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omar Randu dulu ada sebagai maya…&lt;br /&gt;Lalu dia menguap bagai asap tertelan pekat…&lt;br /&gt;Tanpa pamit juga lambaian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belva merasa mempunyai beberapa ikat rasa kehilangan atas kepergiaan Omar…&lt;br /&gt;Entah karena apa…&lt;br /&gt;Bisa jadi karena kenyamanan yang dulu sempat menyubur dihatinya…&lt;br /&gt;Kenyamanan yang tak pernah jelas ada karena apa…&lt;br /&gt;Yang jelas kenyamanan itulah yang lalu memaksanya mengalih diri menjadi nyawa lain…&lt;br /&gt;Menjadi bentuk hidup lain…&lt;br /&gt;Menjadi Vaska…&lt;br /&gt;Belva Purnama menjadi Vaska Alteria…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena…&lt;br /&gt;Satu, tak ingin melepaskan kenyamanan oleh adanya seorang Omar…&lt;br /&gt;Dua, tak mau merasa bersalah karena mengingkari kebenarannya…&lt;br /&gt;Singkatnya, Belva mau tetap menjadi setia lalu beralih menjadi Vaska untuk nikmati kenyaman bersama Omar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Omar yang dulu sengaja lebih menyamarkan diri tiba- tiba kembali dan menemukannya, dia gamang. Danau harapannya atas Omar telah banyak yang merembes terserap tanah. Hilang meski masih sedikit tersisa. Namun tak seberkah dulu. Karena Belva merasa tak mungkin kembali bersapa maya dengan Omarnya. Dan perlahan, dia melepaskan diri dari Vaska. Saat Omar lalu menyentuh dengarkan suara mayanya, wanita itu tak tahu pasti akan berperan sebagai apa dia malam tadi. Tetap sebagai Vaska kah? Atau Belva? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belva dan Vaska muncul secara bersamaan. Mereka merasa sedikit bahagia. Sedikit biasa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belva dan Vaska berbincang dengan Omar. Perbincangan itu terasa begitu memotong masa. Pengakuan demi pengakuan lalu lancar terurai. Tak lagi layaknya benang teruntai. Pengakuan- pengakuan yang terasa begitu seharusnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belva kemudian memutuskan untuk meleburkan Vaska. Dia memutuskan untuk tetap menjadi Belva. Karena dia lelah terus beralih. Dia juga sudah begitu jengah dengan lelehan rasa bersalah. Bersalah kepada Omar Randu. Bersalah pada seseorang yang telah begitu baik menyamankannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omar kini bersentuhan dengan Belva. Bukan dengan Vaska. Lalu berjanji: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mari kita berteman di dunia nyata…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka…&lt;br /&gt;Wanita itu pamit setelah menuangkan semua yang enggan begitu saja dia lupaka&lt;span style="font-style:italic;"&gt;n…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03:33&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6172831320384844920?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6172831320384844920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6172831320384844920&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6172831320384844920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6172831320384844920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/mari-kita-berteman-di-dunia-nyata.html' title='Mari kita berteman di dunia nyata...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-4091977525371060323</id><published>2009-07-03T20:12:00.000+07:00</published><updated>2009-07-03T20:20:19.797+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sadness'/><title type='text'>Hatiku menangis begitu deras…</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;3 Juli 2009&lt;br /&gt;Jum’at yang terasa bagai Kamis&lt;br /&gt;15:02&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerah kembali mengepungku dalam lelehan peluh. Sendiri menghibur diri. Menganggap semua yang sedang ada diluar sana memang tak benar- benar pantas untuk kunikmati. Sejatinya aku sedang menyekap diri dalam bilik hidup yang sendiri ini. Sedikit enggan ikut serta berteriak di hiruk pikuk alam. Karena khawatir akan kembali teserat oleh angin rasa bersalah dan debu ketertinggalan. Aku hanya sedang berusaha meredam semua rasa yang sebenarnya ada sebagai nyata. Karena aku masih saja tak mampu berbuat banyak untuk mengubah apapun. Maka aku hanya mencari pembenaran sambil minggir dari lalu lalang kolega agar tak tertabrak lalu sakit dan miris lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita bahagia itu benar- benar membuatku semakin jatuh dalam kemirisan. Sekali lagi aku tertinggal oleh lainnya. Sedih lalu begitu mendominasi. Maaf, kawan. Maaf  karena aku tak bisa secara ikhlas berbahagia atas bahagiamu. Maaf karena bagaimanapun akulah yang tertinggal. Perjuangan dan doamu yang tanpa henti telah mengangkatmu kembali pada posisi yang benar. Aku tahu ini hanya akan menunggu waktu. Aku tahu meski berusaha terus menutupi ketahuannku ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, Adri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus tetap kuat. Berjalan lagi. Meski kini sambil cecerkan beberapa air mata iri. Karena akulah yang ditinggalkan. Lalu aku harus apa? Perjuanganku tak pernah keras. Doaku juga seringkali terputus. Lalu apa yang bisa kuharapkan? Tak ada…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya hidup bisa diulang kembali maka aku akan kembali menata hidup. Menata arah. Memperbaiki sekatan hati. Memperkuat niat dan jiwa juang. Lalu aku akan mendapati yang jauh lebih berharga dari hanya ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf jika aku kembali menangis sedih atas bahagia orang lain. Maaf karena aku terlalu lemah dan hanya bisa berperan sebagai penunggu saja. Aku tak pernah punya keberanian untuk memperjuangakan bahagiaku sendiri. Aku terlalu pengecut untuk bisa hidup bahagia. Dan aku terlalu jahat karena mengharap semua akan merasa sama sepertiku. Aku terlalu manja untuk takut berada di sekat hidup ini sendirian…karena nyatanya aku mau selalu ditemani…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah…pertanda apalagi ini? Apa ini pengingat untukku? Apa ini yang Kau harapkan menjadi penguatku dalam berjuang? Apa ini adalah pertanda dariMu kalau aku seringkali menolak mendekatiMu? Masya Allah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga hatiku akan segera merasa nyaman kembali. Nyaman pada titik yang memang menyamankan. Semoga aku segera dipertemukan dengan kesadaran tentang hakekat perjuangan hidup dan ditempatkan pada posisi terbaik untukku. Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hatiku menangis begitu deras…&lt;br /&gt;15:19&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-4091977525371060323?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/4091977525371060323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=4091977525371060323&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/4091977525371060323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/4091977525371060323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/07/hatiku-menangis-begitu-deras.html' title='Hatiku menangis begitu deras…'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6936626867223735869</id><published>2009-05-28T21:11:00.004+07:00</published><updated>2009-11-13T03:13:21.276+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='friendship'/><title type='text'>Senyum manis Asunaro...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;28 Mei 2009&lt;br /&gt;Kamis ini terasa begitu segar…&lt;br /&gt;18:09&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ai, aku baru saja ditrima di prsh exim go publik di Sidoarjo, staf QC. Outsource juga” NAEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan pendek itu baru saja terbaca saat waktu sudah begitu dekat dengan Maghrib. Dan aku menyempatkan beberapa detik waktuku untuk membaca lalu turut berbahagia atas berita gembira itu. Perjuangan memang tak akan pernah sia- sia. Pasti akan ada hasilnya meski tak banyak yang mampu merasakan hasil perjuangannya itu. Akhirnya secara perlahan senyum kembali terundang dalam rumah sederhana keluarga Asunaro ini. Rumah mungil penuh arti yang terbangun di bulan April 2005 di Malang. Rumah yang setahun belakangan ini terlihat muram karena kami sedang sama- sama tertunduk kelu oleh kecewa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Alhamdulillah. Selamat ya, Naen. Kapan mulai kerja? Semoga ini akan jadi jalan penerang bagi kita semua. Bagi para Asunaro yang lain. Amin Amin Amin. Semangat!!!!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu kutulis untuk segera kukirim kepada Naen yang mungkin sedang menunggu reaksi gembiraku. Aku benar mensyukuri waktu yang telah begitu baik berikan kami sempat untuk kembali tersenyum manis. Setelah beberapa masa kami menangis dalam hati. Setelah beberapa masa juga kami mengubur diri dari luasnya dunia luar. Setelah beberapa masa kami mendoa untuk segera datangnya masa bahagia ini. Kata “Amin” tak cukup hanya terucap dan tertulis sekali saja. Karena, sungguh, aku begitu mengamini. Aku sungguh bersyukur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku sudah menemui terangku sendiri dengan memutuskan untuk berkompromi dengan perubahan. Saat aku memutuskan untuk melebur kekerasan hati dan mengalir bersama semua kesempatan yang ditawarkan padaku. Dan aku memutuskan untuk menghindari kata “Tidak” atas semua penawaran. Lalu aku jalani semua dengan tanpa rasa. Hanya sebagai bagian dari kewajiban orang dewasa yang harus bekerja dan mendapati Rupiah. Itu saja. Lalu kurasakan kedamaian hati yang tak pernah kukira sebelumnya. Dan kini aku mulai merasakan keindahan dunia. Rasa dan bathinku sudah lepas dari pasungan rasa bersalah. Hatiku sudah kembali sejuk dan nyaman. Dan aku tak pernah berhenti mendoa agar Tuhan tak melepasku dari rasa ini. Aku memohon benar agar bisa selamanya bersahabat akrab dengan perubahan. Aku bermunajat padaNya karena hanya Dia yang bisa menjaga hati dan rasaku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore tadi berita itu terbaca melalui layar handphone. Naen sudah menemukan jalan terangnya. Dia sudah kembali menyangga tegak kepalanya dan hadapi gempita dunia luar. Tentu saja, dengan senyuman. Dan aku kembali bersyukur. Benar bersyukur secara verbal, pun dalam hati meng-amin-i…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Naen sedang merasakan sejuknya dunia….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin Ratri dan Adri juga sedang merasakan kesejukan yang secara bersama- sama aku dan Naen kirimkan sebagai angin. Tapi aku tak tahu pasti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Selamat Ulang Tahun ke 26. Semoga panjang umur dan mendapati semua yang terbaik. Semoga diberikan kesabaran dan kemudahan oleh Allah SWT. Dan amin atas semua doa- doamu…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan ulang tahun itu teruntuk Ratri yang dua puluh tujuh Mei kemarin tepat menapaki gerbang dua puluh enam tahunnya. Kukirimkan melalui &lt;span style="font-style:italic;"&gt;offline message Yahoo Messanger&lt;/span&gt; yang ternyata tak terbaca olehnya. Tapi aku yang tak pernah yakin benar dengan keakuratan teknologi telah menyiapakan kata- kata serupa yang kuketik menjelang pergantian hari dan kukirim saat hari masih begitu dini. Melalui bentuk teknologi lain,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; handphone&lt;/span&gt;. Untuk satu alasan yaitu aku tak mau menjadi yang pertama. Karena kini yang pertama haruslah Adri. Dan aku bisa memperkirakan betapa kecewanya Ratri jika akulah yang mendahui lelaki sepanjang masanya itu. Rasa kecewa yang tak bisa terdefinisi. Maka, baiklah, aku mengalah pada status. Dan aku mulai membayangkan kesejukan hati Ratri. Kesejukan hati seorang istri yang didampingi suami di saat- saat seperti ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semilir doa…&lt;br /&gt;Kecupan manis…&lt;br /&gt;Kejutan kecil nan romantis…&lt;br /&gt;Tatapan mata penuh cinta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Ratri yang dulu hanya menguncup kini pasti sedang bermekaran…&lt;br /&gt;Karena Adri yang tak pernah henti membagi semilir cinta untuknya…&lt;br /&gt;Ratri pasti sedang bernafas nyaman…&lt;br /&gt;Karena lelakinya itu lupa berhenti bersyukur atas adanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratri dan Adri pasti sedang terus memekarkan kuncup- kuncup senyum bahagia. Dimulai beberapa detik sebelum hari berganti nama dan tanggal berganti hitungan. Sederet doa dan ucapan semoga yang masih erat tertutup hati Adri sudah tak sabar ingin bertemu dengar dengan Ratri. Lalu datanglah masa yang dinanti. Saat Adri menjadi manusia pertama yang bersyukur atas kehadiran wanita sepanjang masanya itu. Saat dialah yang merasa paling beruntung atas adanya dua puluh tujuh Mei. Lalu kata- kata Adri pasti akan terdengar jauh lebih merdu dan syahdu dibanding apapun di dunia ini. Karena hatilah yang sedang berkata- kata. Karena cintalah yang sedang merapati hati. Kebersamaan yang betapa indah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku boleh menerka, Ratri pasti kemudian mendoa lirih dalam hati bahagianya. Mendoa agar waktu sedikit lambat merambat. Agar dia bisa lebih lama rasai semua yang tersaji indah oleh lelakinya itu. Agar dia bisa terus nikmati tatapan mata yang begitu penuh oleh rasa syukur itu. Rasa syukur oleh hadirnya.  Semua akan terasa dan dirasa jauh lebih indah. Karena hari itu tertanggal dua puluh tujuh Mei…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tujuh Mei pertama Ratri bersama Adri sebagai belahan jiwa sejati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asunaro memang sedang tersenyum manis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naen bahagia dengan keberhasilannya mendapati apa yang lama dia cari. Aku yang sudah lebih dulu bahagia oleh kompromiku dengan perubahan. Ratri yang begitu bahagia oleh luapan rasa syukur lelakinya. Dan Adri yang berlimpah bahagia sambil terus mendoa dan bersemoga untuk wanita tercintanya. Lalu, apalagi yang masih harus dicari kini? Sementara tak ada lagi. Karena kami sudah begitu sempurna dengan senyum kami masing- masing. Dan aku mendoa yang sama dengan Ratri. Mendoa agar waktu lambat merambat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berbahagia, Naen…&lt;br /&gt;Selamat tersenyum, Ratri…&lt;br /&gt;Selamat berbahagia, Adri…&lt;br /&gt;Dan selamat tersenyum untuk diriku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;19:16&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6936626867223735869?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6936626867223735869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6936626867223735869&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6936626867223735869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6936626867223735869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/senyum-manis-asunaro.html' title='Senyum manis Asunaro...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3956083682468055924</id><published>2009-05-25T21:22:00.003+07:00</published><updated>2009-11-13T03:13:55.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Tautan hati...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;25 Mei 2009&lt;br /&gt;Di sebuah Senin yang setia dan begitu mengabdi diri&lt;br /&gt;19:37&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Smart&lt;/span&gt; enggan tersambung dan menyatu fungsi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;laptop&lt;/span&gt;, hari ini terasa begitu setia. Rasa pengabdian begitu kuat mewarna hari. Apapun dilakukan untuk buktikan kecintaan. Bersama dengan tulus melayani. Tak ada beban terasa. Bahkan bahagia atas semua bentuk pengabdian itulah yang kemudian memperkuat ketegarannya hadapi semua yang tak mudah. Kali ini dia benar mengakui dirinya sebagai seorang istri yang seharusnya mengabdi pada suami. Dan menikmati pengabdian itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kanvas kata ini tak mudah terjamah rasa manusia lain, tapi aku tak mau berhenti begini saja. Hanya aku yang bisa penuh memahami rasa ini. Yang lain tak mungkin bisa mengerti. Tapi aku mau terus mengukir kata untuknya. Untuk wanita yang besok akan mengganti usia itu. Untuk dia yang telah dengan tulus mengabdi diri dan hati pada lelaki pendampingnya itu. Untuk semua kesabaran yang dengan lancarnya dia alirkan untuk pendampingnya itu. Terus terang aku kagum padanya. Bukan karena apa yang telah dan sedang dia lakukan. Melainkan untuk perubahan besar yang telah dia lahirkan. Dia yang dulu begitu superior. Kini rela terimami oleh seorang lelaki. Aku salut untuknya. Untuknya yang ikhlas mengganti rasa atas nama pernikahan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya hari begitu jauh dari lelah. Letihpun seakan enggan mendekatinya. Meski tenaganya terbuang lebih banyak dari biasa, namun hatinya merasa begitu sejuk. Sejuk oleh pengabdian diri yang ternyata terasa laksana embun pagi. Yang ternyata mampu memberi terang pada lintasan jalan hidupnya. Yang juga ternyata bisa rapi melapisi ingatannya dari sengatan beban hidup yang sejak awal tahun ini dia keluhkan. Dia yang dulu enggan berjalan karena merasa tak punya arah kini merasa tak perlu lagi berjalan karena telah sampai pada sebuah tujuan hidup. Lalu dia berbahagia. Bahagia dengan pengabdian tulusnya. Dia tak punya pengharapan apapun selain tetap merasa mantap untuk menjadi istri yang baik bagi lelaki itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok dia berganti usia. Tak ada yang dia ingini lagi. Karena hatinya telah dapati apa yang dinanti. Karena hatinya telah tersirami bahagia. Karena dia telah mendapati sebuah kado paling istimewa dari lelakinya, yaitu kesempatan untuk mengabdi diri pada suami. Ternyata pengabdian itulah yang selama ini hilang dari nyawanya hingga dia merasa terseok selama beberapa masa. Dan kini dia tak lagi merasa perlu beranjak dari apapun. Semua telah terdapati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelakinya itu telah begitu setiakan hati untuknya hingga kemudian dia merasa terpanggil untuk membalasnya dengan kebaikan jenis apapun. Dan kini dia melakukannya. Dan dia yakin bahwa lelakinya itu pasti begitu bersyukur akhirnya dapati seorang istri yang baik. Seorang istri yang seharusnya. Seorang istri yang adalah sebenar- benarnya istri. Bukan hanya seorang wanita yang hanya punya status menikah dengannya. Hati lelaki itu tersenyum manis nikmati semua yang ada. Lalu dia merasa begitu enggan tinggalkan wanita itu. Tapi bagaimanapun dia harus segera pergi. Tinggalkan wanita itu sendiri lagi. Mungkin kali ini hanya berteman dengan pengharapan untuk kembali mengabdikan diri untuknya. Lelaki itu benar harus segera menghapus hadirnya dari sisi wanita itu. Karena dia dan wanita itu hanya bisa bertaut hati. Tak mungkin bisa berharap lebih. Bukan karena tak mau. Melainkan karena pertautan hatilah yang paling hakiki. Hanya itulah yang terindah. Tak ada lain…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu mengharapnya tinggal lebih lama. Dengan alasan yang tak bisa terkata. Lalu dia hanya bisa mendoa agar lelakinya itu merasakan doanya. Agar mereka bisa bersama selamanya. Atau setidaknya sedikit lebih lama dari biasanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memberi mereka kesempatan untuk hanya memilih satu dari dua pilihan. Bertaut hati selamanya atau menyatu secara ragawi. Lelakinya memilih yang pertama. Sedang wanita itu masih mengalami kesulitan untuk memutuskan. Karena benarnya dia begitu mengingini kedua- duanya. Tapi putusan hanya ada satu saja. Tak boleh kedua- duanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka baiklah. Wanita itu kembali akan sendiri. Pun lelaki itu akan melayari hari sendiri juga. Tapi hati mereka saling mengikat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wanita itu berhenti melukis kata…&lt;br /&gt;20:19&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3956083682468055924?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3956083682468055924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3956083682468055924&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3956083682468055924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3956083682468055924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/tautan-hati.html' title='Tautan hati...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-1820398046552655537</id><published>2009-05-21T15:20:00.002+07:00</published><updated>2009-05-27T21:40:49.833+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='semangat'/><title type='text'>Terimakasih, Mario Teguh...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ShUVcwL7jEI/AAAAAAAAAFI/X08vkyVPAXo/s1600-h/mario+teguh.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 141px; height: 113px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ShUVcwL7jEI/AAAAAAAAAFI/X08vkyVPAXo/s320/mario+teguh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338196517033053250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;16 Mei 2009&lt;br /&gt;Di sebuah Sabtu yang sedikit menggigil…&lt;br /&gt;18:26&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan siang tadi baru terhenti oleh sore. Menyisakan dingin yang terbawa angin terbang hingga menyusup ari. Menyentuh lembut indra perasa hingga kemudian aku bisa bilang petang ini sedikit menggigil. Lantai bumi masih basah meski angin sudah sejak tadi menyekanya. Kuperhatikan lagi alam sekitar. Kudapati kabut yang masih juga masih tertinggal di udara yang begitu melaut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasaku kini sudah mulai melunak dan bersedia bersahabat dengan perubahan. Karena aku yakin selamanya takkan menang melawan kokohnya benteng mati perubahan. Lalu kuikhlaskan diri untuk kompromi. Hasilnya benar diluar dugaan. Aku merasa begitu lega. Hatiku tak lagi berjalan menyeret harapan yang bebannya terlampau berat untuknya. Dan sayup- sayup kudengar dia ucapkan terimakasih padaku. Samar- samar kucuri pandang dia yang sedang tersenyum tipis. Juga sembunyi- sembunyi kuprediksi, degupnya yang begitu tenang tanpa gelombang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan ternyata akan selalu bawa derita bagi orang. Juga bagiku. Lalu jika semua bisa kompromi terhadapnya, itu tandanya akupun harus melakukan hal yang sama persis. Lalu aku pasti akan merasa sama dengan mereka semua. Sama- sama lega melenggang tanpa menyeret beban…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku sempat berfikir beda. Kupikir hanya aku yang terganggu pada perubahan- perubahan. Kusangka hanya aku yang terus akan mengagumi nyamannya masa lalu. Kupikir hanya aku yang merana oleh semua yang tiba- tiba ada sebagai beda. Ternyata aku salah besar. Karena nyatanya semua merasa yang sama. Karena nyatanya semua juga tersiksa oleh perubahan- perubahan. Lalu mereka berkompromi. Sedangkan aku masih saja bersikeras memaksanya untuk berkompromi padaku. Lalu aku terus bertarung untuk menang. Lama sekali. Hingga aku mendapati sebuah pencerahan yang sebenarnya sudah kutahu tapi belum begitu kupahami. Lalu aku mendapati sebuah pengingat tentang hakekat perubahan. Dan kini aku selamat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa kuucap terimakasih pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Metro TV&lt;/span&gt;. Terutama pada acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Golden Ways&lt;/span&gt;. Dan pastinya kepada Mario Teguh yang adalah pengingatku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku bisa menghirup udara dengan jauh lebih nyaman karena ingat bahwa semua akan baik- baik saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;18:47&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-1820398046552655537?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://marioteguh.blogspot.com/' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/1820398046552655537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=1820398046552655537&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1820398046552655537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1820398046552655537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/terimakasih-mario-teguh.html' title='Terimakasih, Mario Teguh...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ShUVcwL7jEI/AAAAAAAAAFI/X08vkyVPAXo/s72-c/mario+teguh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5723350568711371551</id><published>2009-05-13T08:57:00.001+07:00</published><updated>2009-05-13T08:59:51.831+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='santai'/><title type='text'>Romansa malam...</title><content type='html'>&lt;em&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;12 Mei 2009&lt;br /&gt;Di hari yang sama dengan pagi tadi&lt;br /&gt;21:28&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara hari ini sedang murung. Sedari pagi mendung tak kunjung lepaskan senggamaannya dengan langit. Lalu udara mulai meleleh membentuk serpihan tipis kesejukan. Tak lama kemudian angin terbang sedikit kencang. Sambil membawa serta hujan yang mengguyur pagi. Kaca bening jendela menjabat embun. Air hujan beberapa kali menyeka kebeningan kaca jendela balkon depan kamarku itu. Pagi tadi terasa begitu dingin. Karena cuaca sedang berbela sungkawa, mungkin. Tapi hatiku biasa saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini berjalan tak seperti biasa. Akhirnya idealismeku melumer. Lalu diriku sudah bersedia mengalah pada situasi dan dengan lapang hati rela mengabdi diri sebagai penebar ilmu. Mungkin bedanya hanya pada &lt;em&gt;setting&lt;/em&gt; saja. Karena kali ini aku melumerkan ego di rumahku sendiri. Hasilnya bisa dikatakan &lt;em&gt;”lumayan”.&lt;/em&gt; Aku bisa sedikit menikmatinya. &lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; yang jelas aku tak merasa tersiksa dan terpaksa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu malam semakin menepi. Dan kabut masih saja nyaman baluti alam. Jarak pandang tak lagi panjang. Karena selaput tipis udara dingin itu ternyata begitu sabar tutupi pandangan mata. Kulit ari terasa semakin mengerut karena harus sedikit kompromi oleh sejuknya udara malam ini. Benar- benar tak seperti biasa. Kali ini adalah masa kekalahan sang gerah dan kealpaan sang peluh. Mereka terpaksa harus mengalah gilir pada kabut dan dingin yang hari ini tinggali hari…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telapak tangan terasa mengering. Sama sekali tak berair meski jantungku masih saja lemah. Orang bilang karena aku lahir prematur. Lalu kulit juga rasanya semakin lekat dengan keriput yang tiba- tiba ada akibat dehidrasi kecil- kecilan ini. Apa yang tak biasa memang kadang buat tak nyaman. Kota yang biasanya begitu erat bertautan dengan gerah dan bersaudara dengan peluh ini tiba- tiba berkhianat untuk kemudian bercinta sehari dengan dingin dan kesejukan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam terasa begitu syahdu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembulan terang tergantung kuat di langit timur. Bukan purnama tapi tetap benderang. Sedang langit bagian selatan terkena semburat lampu kota hingga terlihat sedikit memerah dari sini. Mungkin karena efek kabut juga. Sayangnya langit utara dan barat terlewat dari penglihatan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak henti aku menghirup puas udara luar. Biar sedikit tertampung oleh jantung. Lalu alirkan daya cinta pada hati dan otakku yang dulu kupikir sedang soak. Angin tipis mengecup kulitku yang sedang kerontang oleh kealpaan peluh. Mungkin dia ingin ungkapkan kerinduan yang dulu sempat dilupakan alam. Langitpun pasti sedang asyik merekam tawa bahagia bersama rembulan itu. Mereka terasa begitu mesra. Lalu mata para fana mulai tersihir oleh romansa malam ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;21:55&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5723350568711371551?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/5723350568711371551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=5723350568711371551&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5723350568711371551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5723350568711371551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/romansa-malam.html' title='Romansa malam...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-508236509920266004</id><published>2009-05-12T22:10:00.002+07:00</published><updated>2009-05-13T09:10:33.882+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='santai'/><title type='text'>Bangun pagi...</title><content type='html'>&lt;em&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;Pada setangkai Selasa&lt;br /&gt;Beraroma manisnya embun&lt;br /&gt;Tertanggal 12 Mei 2009&lt;br /&gt;07:06&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa ini aku bangun pagi. Menghirup udara segar saat kabut masih asyik menggeliat sedangkan burung- burung kecil menjaring angkasa. Jam digital hp memaparkan jam lima pagi. Lalu kupenuhi kebutuhan bathinku untuk bertegur doa dengan Sang Pencipta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata benarnya masih begitu memaksa untuk melanjutkan pelayaran menuju bumi mimpi. Beban hidup membuatku banyak bermimpi belakangan ini. &lt;em&gt;Freud &lt;/em&gt;bilang &lt;em&gt;“dreams are unfulfilled intentions”&lt;/em&gt;. Dan segera saja kubenarkan itu. Karena dari banyak mimpi yang kuingat, hampir semuanya berisi tentang keinginan- keinginan hati yang belum sempat menjadi nyata…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu mimpi yang tinggali hatiku semalam adalah pertemuan dengan seorang pria romantis yang merupakan perhidupan dari salah satu tokoh lelaki di drama seri Korea yang kunikmati begitu jenak sebelum mengatupkan mata. Bisa jadi itu adalah keinginan mendasarku untuk temukan pria romantis yang akan lakukan apapun demi aku dan yang terpenting bisa membuatku tergila- gila padanya. &lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; sampai sekarang aku belum sempat temukan tokoh seperti itu. Dan analisa kedua adalah, bisa jadi mimpi adalah hal terakhir yang kita pikirkan, lihat atau nikmati sebelum membuka gerbang mimpi. Lalu hal itu mengubah diri jadi mimpi. Dan bagiku, kedua analisa itulah yang terjadi secara bersamaan.&lt;em&gt; Unfulfilled intentions&lt;/em&gt; dan hal terakhir yang ditonton!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku mengeliat sebentar. Tapi tak dalam waktu yang sama dengan para kabut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ivan Arbani dan Jova&lt;/em&gt; masih mengumbar suara di udara. Lalu tertangkap telingaku. Lalu menambah tentramnya hatiku pagi ini. Terdengar begitu menghibur. Omong kosong yang begitu kunantikan setiap paginya. Setiap Senin hingga Jum’at. Tetap saja di &lt;em&gt;Hard Rock FM Surabaya…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak rela melepas pagi ini. Begitu sayang untuk tak ditimang. Meski mata kini mulai gencar membujuk hati untuk kembali mengatup kembali. Karena bangun pagi bukanlah sebuah rutin bagiku. Sejak awal dua ribu lima atau bahkan sejak pertengahan dua ribu empat, aku sudah membiasakan diri dengan rutinitas bangun siang. Karena tak ada rutinitas di pagi hari. Lalu untuk apa bangun pagi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Meity Piris&lt;/em&gt; absen pagi ini. Entah untuk alasan apa. Yang jelas, ketidak-hadirannya begitu terasa. &lt;em&gt;GMHR&lt;/em&gt; tak lagi rame seperti yang seharusnya. Meski suara &lt;em&gt;Ivan&lt;/em&gt; masih terdengar lantang tapi dia hanyalah lima puluh persen saja. Sedang selebihnya ada di &lt;em&gt;Meity.&lt;/em&gt; Jadi pagi ini kemudian kupanggil &lt;em&gt;“Pagi tak begitu sempurna”…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukuplah aku membuktikan bahwa aku bangun pagi hari ini. Sekarang aku mau kembali pada &lt;em&gt;Alice Greenfinger.&lt;/em&gt; Aku sedang mencandu permainan itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bel tanda berakhir jam pelajaran pertama di SMP 1 Mojokerto baru terdengar…&lt;br /&gt;07:29&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-508236509920266004?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/508236509920266004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=508236509920266004&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/508236509920266004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/508236509920266004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/bangun-pagi.html' title='Bangun pagi...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-7844000761897174688</id><published>2009-05-11T16:48:00.001+07:00</published><updated>2009-05-11T16:58:17.608+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Saca dan bapaknya...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;9 Mei 2009&lt;br /&gt;Sabtu dengan warna begitu kelabu&lt;br /&gt;18:07&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu sudah begitu hampir berumur dua puluh enam. Bagiku dia lebih pantas dipanggil sebagai seorang wanita. Dan aku lupa namanya. Yang masih sangat jelas kuingat adalah kerelaannya untuk selamanya tak berpanggilan “Mama”. Dia begitu yakin kalau ada yang salah, entah pada dirinya atau pada pendamping hidupnya. Tapi dia benar tak punya selembar tipis dayapun untuk memperjuangkan impiannya. Beberapa saat yang lalu dia melepaskan mimpinya itu dengan begitu rela meski diringi jerit kepedihan hatinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu dia tak pernah perduli tentang apapun. Dia juga tak pernah punya mimpi untuk mengikatkan nyawa dan nafasnya pada hanya satu lelaki saja. Dia pernah berfikir untuk melewatkan hidup tanpa lelaki. Karena dia yakin penyatuan nyawa itu takkan bisa buatnya bahagia. Sejak dulu wanita itu hanya yakin pada dirinya sendiri. Membahagiakan ibunya adalah satu- satunya mimpinya. Tak ada mimpi lain. Sayangnya, kebahagiaan ibunya adalah pernikahannya. Maka dia berada pada sebuah dilema…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya…aku ingat nama wanita itu. Namanya panjang. Panggil saja dia Saca…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saca begitu mencinta ibunya. Dan dia begitu membenci bapaknya. Bahkan dia selalu percaya bahwa bapaknya itulah yang paling bertanggung jawab atas pola pikirnya yang menyimpang. Pola pikirnya yang begitu menolak pernikahan. Dia tak mau menikah karena bapaknya. Dia tak mau dibuat menderita oleh lelaki manapun seperti ibunya yang sudah sejak awal pernikahan merasakan penyiksaan bathin. Ibunya yang sebenarnya masih punya bapaknya tapi serasa sendiri menghidupinya dan adiknya yang hanya satu- satunya. Ibunya yang selalu menanggalkan apapun demi kedua anaknya. Dan, tentu saja, dia begitu memuja ibunya. Dan dia begitu membenci siapapun yang menyakiti ibunya itu. Dan sudah sejak lama dia membenci bapaknya, lengkap dengan semua keluarga bapaknya. Karena mereka sudah begitu tak gentar menabuh genderang perang dengan ibunya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saca kecil pernah bercita- cita punya bapak yang membanggakan. Persis seperti bapak teman- temannya. Bapak yang selalu punya waktu untuk memperhatikannya, bapak yang selalu punya tali bathin untuk diikatkan padanya juga adiknya, bapak yang selalu melindungi keluarganya, bapak yang selalu mampu menenangkan hatinya yang mungkin sedang mengerut, bapak yang seharusnya jadi bapak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun dia tak pernah merasai apa yang pantasnya dia rasai hingga dia tak pernah merasa punya bapak. Dia merasa jauh tidak beruntung dari seorang anak yatim. Karena dia punya bapak yang tak pernah bisa jadi bapak. Hingga pada akhir masa kanak- kanaknya Saca bilang pada ibunya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku tidak apa- apa kalau tidak punya bapak, bu. Aku malah senang.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika bisa memilih, Saca akan memilih untuk menjadi yatim saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus mengalir tapi rasa benci pada bapaknya tak pernah bisa terhanyut. Dia memegang erat rasa benci itu. Dan selamanya dia akan membenci bapaknya. Rasa bencinya pada bapaknya setara dengan cintanya pada ibunya. Dan dia akan melakukan apapun untuk ibunya sembari juga tak akan melakukan apapun untuk bapaknya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sudah menyebut dirinya anak yatim!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak SMP Saca tak pernah sudi memanggil bapaknya dengan sebutan “Bapak”. Karena, sekali lagi, dia merasa dirinya anak yatim yang tak mungkin punya bapak. Jadi tak ada seorang lelakipun yang berhak dipanggilnya “Bapak”. Dia kemudian jadi begitu jarang berkata apapun pada lelaki yang sebenarnya adalah bapaknya itu. Wanita itu membangun benteng sendiri dan tak mengijinkan bapaknya masuk. Tak akan pernah!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kini Saca sudah bukan lagi bocah. Dia sudah mengikatkan nyawa dengan seorang lelaki. Karena cintanya pada ibunya. Dan kini dia, tentu saja, ingin segera berpanggilan “Mama”. Tapi ada yang salah dengan entah apa dan siapa. Dia belum juga hamil. Setelah begitu kian lama. Dan dia begitu terobsesi pada kehamilan. Dia ingin segera mempunyai buah hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lagi- lagi, dia harus merelakan impiannya pergi. Karena bapaknya! Dan kini dia rela untuk selama hidupnya tak akan pernah dipanggil “Mama”…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saca begitu melaknat bapaknya. Dalam doanya dia tak pernah sekalipun menyebut bapaknya itu. Dia tak pernah mendoa kebaikan untuk bapaknya. Pun masih punya nurani untuk tak mendoa keburukan untuk bapaknya itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saca jelas punya janji pada dirinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa sampai kapanpun dia takkan pernah memperdulikan bapaknya. Bahkan saat bapaknya itu sudah menua, dia takkan pernah bersedia merawatnya dengan baik. Dia hanya akan merawatnya seadanya. Sama ketika bapaknya dulu merawatnya dengan seadanya. Karena dia terlanjur begitu sakit hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Saca masih dengan berat hati menyesali ketidakberdayaannya…&lt;br /&gt;Tapi dia tak pernah menyesali kebenciannya pada bapaknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;18:49&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-7844000761897174688?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/7844000761897174688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=7844000761897174688&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7844000761897174688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7844000761897174688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/saca-dan-bapaknya.html' title='Saca dan bapaknya...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6490372864561849852</id><published>2009-05-08T15:47:00.002+07:00</published><updated>2009-05-11T17:18:47.834+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Dua puluh enam Mei...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sgf7fKEJ__I/AAAAAAAAAEg/5cgqikTDywA/s1600-h/birthday.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sgf7fKEJ__I/AAAAAAAAAEg/5cgqikTDywA/s200/birthday.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334508796339945458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;7 Mei 2009&lt;br /&gt;Pada suatu Kamis malam…&lt;br /&gt;21:33&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali merangkai kata dikamar ini. Dengan semburat sisa cahaya lampu teras. Aku sedang berada di pinggir keremangan malam dan balutan dinginnya rasa. Jemari tetap menari indah diatas huruf- huruf sedangkan rasa dan pikir bercakap lirih untuk hasilkan bentangan kata. Agar layar ini tak lagi kosong. Supaya lembar ini bisa terbaca oleh siapa saja di kemudian masa …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini rasaku mulai tenang. Karena malam telah datang bersama remang. Karena aku berhasil minggir sebentar dari permainan rasa yang sudah sejak lama asyik kumainkan. Karena hati mengalah pada ego manusiawiku. Karena aku menyublimkan rasa kecewaku. Karena aku tak gagal membujuk kekhawatiran untuk sekedar bertandang ke hati manusia lain. Karena aku sudah menerima kenyataan dengan kelapangan hati. Karena kini aku menyerahkan nyawa pada Sang Kuasa. Karena aku kini jauh lebih yakin pada-Nya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sedikit demi sedikit merambat kearah larut. Para raga akan segera membujur dan bertemu dengan ketidak- sadaran. Mengistirahatkan organ yang sudah seharian menjadi budak kepentingan dan hamba kebutuhan. Suara- suara juga sudah mulai menyayup. Beberapa cahaya lampu ditewaskan untuk kepentingan penghematan energi dan menekan keras pengeluaran rumah tangga. Maka dari empat &lt;em&gt;Philips&lt;/em&gt; disini, yang menyala hanya setengahnya. Itupun demi menjaga mata agar tetap nyaman menatap layar ini. Lalu kipas angin tua itu masih terus menggeleng keras. Namun tak begitu berjaya dalam mengubah gerah menjadi tidak gerah. Aku masih tetap berpeluh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang berada pada sebuah kehampiran yang tak begitu menyejukkan hati. Hampir melepaskan tangan pada usia dua puluh lima. Lalu akan saling bergenggaman hasta dengan dua puluh enam. Dan ini jadi masa termuram dalam sejarah hidup seorang aku. Masa paling mendung. Masa paling berat karena aku harus dengan sekuat hati mencegah jatuhnya tetesan hujan. Aku tak rela hatiku basah olehnya. Aku pasti akan terus mendoa agar bahkan gerimispun takkan menetes. Agar meski mendung, hatiku masih terus kering…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba- tiba ingatanku melesat pada dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu yang pernah sengaja dijejali oleh beberapa perayaan. Dulu yang juga sempat ditandai dengan ritual traktiran makan- makan. Dulu yang diakari oleh budaya guyur air, tumpah tepung, lempar telur sampai jabat tangan simbol turut berbahagia atas pertambahan usia. Dulu yang dimekari oleh hati sumringah, meski sedikit kuatir kalau kalau perlakuan mereka- mereka akan terlalu berlebihan. Tapi, tetap itulah bentuk sebuah perayaan pergantian usia. Sudah jadi sebuah budaya bagi jiwa para remaja. Tapi kini aku tak bisa lagi dipanggil remaja. Karena usia sudah begitu menua. Maka bisa dipastikan tak akan ada lagi ritual seperi dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tetap mau bertanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih akan adakah kejutan- kejutan seperti saat aku baru injakkan nyawa pada usia dua puluh?&lt;br /&gt;Masih akan adakah ucapan selamat ulang tahun dan doa- doa dari para karib dan manusia di sekeliling yang hanya butuh meng- amin- an?&lt;br /&gt;Masih akan adakah kado manis yang sengaja terbungkus untukku?&lt;br /&gt;Masih akan adakah todongan makan- makan dari para sahabat yang merasa dan mengaku dekat?&lt;br /&gt;Masih akan adakah tawa riang dan jeritan histeris oleh siksaan- siksaan manis seperti dulu?&lt;br /&gt;Masih akan adakah yang mengingat pergantian usia ini?&lt;br /&gt;Masih akan adakah semua- semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku begitu mendamba waktu cepat menggelinding agar segera bertemu sapa dengan setiap dua puluh enam Mei. Menanti siapapun yang berminat untuk jadi orang pertama dalam mengucap selamat ulang tahun. Tepat di jam dua belas malam, meski aku benar terlahir pada sebuah Kamis dua puluh enam Mei delapan tiga pada jam setengah enam pagi. Jadi sebenarnya tak begitu tepat mengucap selamat di jam dua belas. Tapi menjadi yang pertama bagai sebuah tropi kebanggaan pertanda sebuah kesetiaan dan perhatian. Lalu hal itu menjadi sebuah kenormalan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huhhhh…aku benar merindui semua perlakuan itu. Aku sungguh ingin mendapatkan sesuatu yang dinamai &lt;em&gt;“kado”. &lt;/em&gt;Aku begitu ingin mengucap &lt;em&gt;“Amin”&lt;/em&gt; atas semua doa yang terluncur dari mulut para sahabat. Aku begitu ingin merasai sejuknya air guyuran. Mau kembali merasa malu dengan tepung dan telur yang tumbuh bagai jamur pada tubuh basah. Aku mau kembali merasai semua bentuk perhatian itu. Aku mau kembali merasa konyol seperti kala itu. Meski aku tahu kadang mereka melakukannya bersama secuil pamrih. Demi sebuah traktiran makan- makan. Tapi, semua begitu indah. Semua begitu ingin kurasai. Persis sama seperti dulu. Aku tak mau yang berlebih. Harus sama persis…&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;TAK MUNGKIN BISA!!!!&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena semua sahabat sudah melayar pada pulau impiannya sendiri…&lt;br /&gt;Karena aku tak lagi remaja…&lt;br /&gt;Karena masa telah begitu jahat merebut paksa semua budaya itu…&lt;br /&gt;Karena memang tak mungkin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mau menangis tapi nyatanya airmata ini sudah begitu ramah menjamah udara. Mengalir halus. Menjadi bukti hati yang sedang bersedih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lagi- lagi merindui masa lalu. Dan lagi- lagi aku tersesak oleh fakta bahwa masa lalu ada hanya untuk dikenang. Bukan untuk dirasai kembali…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa arti dua puluh enam Mei dua ribu sembilan ini?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;22:15&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6490372864561849852?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6490372864561849852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6490372864561849852&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6490372864561849852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6490372864561849852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/dua-puluh-enam-mei.html' title='Dua puluh enam Mei...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sgf7fKEJ__I/AAAAAAAAAEg/5cgqikTDywA/s72-c/birthday.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6441651950031747873</id><published>2009-05-08T15:28:00.004+07:00</published><updated>2009-05-13T09:23:12.705+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat'/><title type='text'>dr. Dian Fatmawati...</title><content type='html'>&lt;em&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;Di sebuah Rabu tertanggal 7 Mei 2009&lt;br /&gt;Hatiku kembali meronta ingin berkata- kata…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali bersama &lt;em&gt;Palatino Linotype&lt;/em&gt; ukuran 12 di layar &lt;em&gt;notebook hp &lt;/em&gt;ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumulai kanvas kata ini dengan sedikit rasa kantuk. Pagi tadi aku baru lelapkan mata saat jarum jam menunjuk kurang lebih setengah empat. Lalu aku terbangun oleh rutinitas untuk menyapa dengar &lt;em&gt;Good Morning Hard Rock&lt;/em&gt; di jam enam pagi. &lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; aku tidak membuka kesadaran tepat di jam itu. Aku baru membuka telinga di hampir jam tujuh. Karena mataku masih begitu kuat bertarikan dengan rasa kantuk hingga mereka tak mampu membuka diri. Kemudian dengan seperenpat kesadaran, kunyalakan radio dari &lt;em&gt;SE 550i.&lt;/em&gt; Menggerak- gerakkan headset yang berperan jadi antena demi mendapati gelombang siar radio Surabaya itu. Lalu, berhasil!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali terlelap untuk entah berapa masa sampai kembali terbangun oleh bunyi dering &lt;em&gt;Flexi&lt;/em&gt;. Kubiarkan saja handphone hitam itu berdering karena aku sedang mau melanjutkan lelap…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya matahari pagi yang memaksa diri untuk menyelinap masuk rongga- rongga kecil jendela kamar mengembalikanku pada sebuah kesadaran bahwa hari sudah semakin menua. Lalu aku benar- benar terbangun di jam sembilan lebih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini berjalan biasa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kemudian….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuliskan beberapa helai kata sebagai sms…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Ro, obat Doxycycline  itu untuk apa yah? Suwun…”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kirimkan ke seorang sahabat begitu karib yang kini sudah menetap di Bandung…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama ada balasan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Itu anti biotik. Dosis tinggi. Jangan main- main dengan obat itu. Harus dengan resep dokter lho…”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu berakhir hanya sampai disitu. Lalu bagai sebuah narasi, aku membalas pesan itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemarin aku ke dokter…..”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesanku tak berhenti hanya sampai disitu. Isinya penuh satu sms. Tapi aku keberatan menceritakannya untuk semua. Jadi kuwakilkan saja dengan tiga tanda titik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu rasaku menjadi begitu aneh. Menjadi begitu terdominasi oleh kekhawatiran- kekhawatiran. Well, tentu saja aku mendapat balasan yang benar kuharapkan. Konsultasi jarak jauh itu berakhir dengan pernyataan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Oke deh. Semoga kunjunganku ke dr.Yusuf yang selanjutnya tidak dalam rangka konsultasi…….. tapi untuk periksa…”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku keberatan mengatakan yang selengkap- lengkapnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karib itu adalah seorang &lt;em&gt;dr. Dian Fatmawati&lt;/em&gt;. Dia memilih dipanggil Ro yang adalah kependekan nama &lt;em&gt;Ronan&lt;/em&gt;. Nama yang dulu begitu dia gilai. Sewaktu dia masih duduk di bangku SMP yang sama denganku. Bagiku, dia adalah seorang perempuan dengan kehidupan hampir sempurna. Masa depannya yang begitu cerah, suami yang kuharap bisa benar membahagiakan dia juga fakta bahwa sekitar tiga bulan lagi dia akan segera menjadi seorang ibu. Betapa hampir sempurna nyawanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin dia dulu terlahir dengan catatan masa depan yang begitu menyamankan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kehilangan sosok ibu di saat kue ulang tahunnya hanya ditumbuhi dua belas lilin kecil. Bisa jadi itu adalah kehilangannya yang terbesar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Allah SWT begitu Maha Adil. Dia kemudian hidup dengan kemandirian dan kekuatan hingga kini dia mendapati segenggam kebahagiaan yang begitu hampir sempurna…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu aku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah lepaskan keyakinanku bahwa aku masih punya Allah SWT yang akan selalu menjaga dan melimpahkan kebahagiaan padaku di waktu yang tepat. Dan kini aku berusaha bersabar menanti waktu yang tepat itu. Aku begitu yakin akan ada saatnya bagiku merasai kehampir sempurnaan seperti yang sedang dirasai karibku itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong Amin- i semua doaku…&lt;br /&gt;Terimakasih banyak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hari ini ternyata sebuah Kamis…&lt;br /&gt;Bukan Rabu sebagaimana yang aku sangka…&lt;br /&gt;14:28&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6441651950031747873?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6441651950031747873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6441651950031747873&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6441651950031747873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6441651950031747873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/dr-dian-fatmawati.html' title='dr. Dian Fatmawati...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3517435001005977349</id><published>2009-05-06T12:34:00.003+07:00</published><updated>2009-05-22T14:11:51.294+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><title type='text'>Pembicaraan singkat di handphone...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ShZQKXtTc9I/AAAAAAAAAF4/bhv0SaI15OA/s1600-h/hp2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 104px; height: 118px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ShZQKXtTc9I/AAAAAAAAAF4/bhv0SaI15OA/s320/hp2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338542547387249618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;4 Mei 2009&lt;br /&gt;Pada sebuah Senin…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sudah begitu menua. Beberapa waktu kemudian pagi datang sebagai jabang bayi yang begitu bersih dari dosa… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tuuutt…tuuutt…tuuut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai. Halo. Apa kabar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih ingat sama aku?”, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;suara lelaki itu terdengar begitu sinis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya iyalah.  Gimana  kabar kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya yang kenapa?&lt;br /&gt; Jangan sewot gitu dong. &lt;br /&gt;Ga capek apa marah dan sewot terus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben telfon aku? Masih inget?”, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sekali lagi dia menjawab dengan begitu sinis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Ya cuma mau nyapa aja. &lt;br /&gt;Hp kamu lama ga aktif. &lt;br /&gt;Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa memangnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa telfon?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengen tahu kabar kamu… &lt;br /&gt;Oh ya, sudah kerja ya? &lt;br /&gt;Dimana? &lt;br /&gt;Wah dah kaya nih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu masih perduli sama aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho? Aku kan cuma tanya saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah selesai tanyanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok gitu sih?&lt;br /&gt;Tuh kan sewot lagi. &lt;br /&gt;Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan dong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijawab gimana lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya dijawab dengan baik dan benar dong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah selesai tanyanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu yang duluan menekan tombol &lt;span style="font-style:italic;"&gt;End Call&lt;/span&gt; di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handphone&lt;/span&gt;- nya…&lt;br /&gt;Wanita itu kecewa meski sebelumnya sudah memperkirakan hal ini. Lelaki itu masih belum memaafkannya. Dan sepertinya selamanya takkan mendapat maaf yang tulus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omar terlalu kecewa oleh Vaska…&lt;br /&gt;Dan Vaska kecewa karena tak lagi dapati Omar yang dulu…&lt;br /&gt;Omar sekarang selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan…&lt;br /&gt;Vaska tetap menyimpan setitik suka untuk lelaki yang tak pernah ditemuinya itu…&lt;br /&gt;Karena perasaan begitu tak bisa diterka…&lt;br /&gt;Cinta tanpa tatapan mata…&lt;br /&gt;Itulah caranya mencinta Omar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dia menutup mata sambil sedikit berharap handphone itu masih akan aktif esok hari…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3517435001005977349?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3517435001005977349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3517435001005977349&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3517435001005977349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3517435001005977349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/05/pembicaraan-singkat-di-telepon.html' title='Pembicaraan singkat di handphone...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ShZQKXtTc9I/AAAAAAAAAF4/bhv0SaI15OA/s72-c/hp2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6057740534423402752</id><published>2009-04-29T21:18:00.001+07:00</published><updated>2009-04-29T21:22:49.139+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Kediri hari ini serasa Malang...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kediri&lt;br /&gt;April 2009&lt;br /&gt;Kala hari berpanggilan Rabu meski terasa seperti Kamis&lt;br /&gt;16:39&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan begitu basah oleh hujan manis yang datang bersama mendung siang. Udara sore ini kemudian mengendur dan lelehkan segar. Aroma tanah baru basah tercium, meski tak begitu jelas diindra. Para pengendara juga semakin mempercepat gerak roda. Mungkin mereka enggan rasai segarnya bumi sendirian. Mereka ingin mendekap sore bersama semua yang ada dihatinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediri sore ini begitu serupa dengan Malang. Udara ranumnya mempunyai rasa yang sama dengan Malangku kala itu. Gerimis manisnya juga sama. Kelenggangan jiwaku juga sama dengan dulu. Dimana aku sebenarnya sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis berhenti meringis. Langit kemudian lambat memutih. Menggiring mendung sedikit menjauh dari bumi Kediri. Mungkin agar aku bisa dengan pasti menjawab keberadaanku sekarang. Agar aku yakin benar bahwa aku sedang di Kediri. Bukan di Malang. Meski sore ini keduanya berasa sama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelita Indah baru saja melaju ringan di jalan depan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam nanti aku punya rencana. Bersama beberapa karib perjuangan disini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba- tiba aku menjadi begitu malas mengulas apapun. Aku mau berhenti saja. Meski gerimis tak lagi meringis tapi udara terasa sedikit lebih dingin sekarang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cuma mau bilang kalau nanti malam aku akan kembali bertegur mata dengan Café Minie. Bersama beberapa teman karib. Merayakan perpisahan teman dengan kota tahu ini. Temanku itu kini merasai apa yang dulu kurasai. Aku dulu juga sudah pernah mengucap salam berpisah pada Kediri. Karena aku mau melenggang pergi ke belahan tanah bumi lainnya. Kini dia yang merasainya. Dan temanku itu berpanggilan Iir…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Semoga aku bisa kembali nikmati pikuk malam…&lt;br /&gt;16:54&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6057740534423402752?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6057740534423402752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6057740534423402752&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6057740534423402752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6057740534423402752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/kediri-hari-ini-serasa-malang.html' title='Kediri hari ini serasa Malang...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-2735262497611989035</id><published>2009-04-29T21:14:00.000+07:00</published><updated>2009-04-29T21:15:41.007+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><title type='text'>Lupakan lelaki...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kediri&lt;br /&gt;April 2009&lt;br /&gt;Senin yang biasa&lt;br /&gt;10:16&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin petang aku menggunting beberapa helai rambutku. Aku batal menjaganya. Kebosanan sudah semakin mendominasi. Maafkan aku, helai- helai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini aku jadi semakin sering merangkai kata tentang lelaki. Tak hanya satu. Ada begitu banyak. Hingga aku akhirnya sadar dan menjadi begitu muak. Bagaimana mungkin aku mengukir kata lewat hati tentang para lelaki yang pernah begitu menyakiti rasaku. Bagaimana mungkin mereka datang kembali sebagai sumber inspirasiku? Kurasa ada yang tak beres dengan konstruksi otakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku sudah kembali tersadar. Tak mau lagi mengukir kata tentang mereka. Tutup buku dan ingatan buat kesakitan masa lalu. Sudah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sekarangpun aku masih tetap saja mengukir mereka. Menyesali dan menuangkan mereka dalam bentuk penyesalan kata. Sama artinya aku masih menjadikan mereka sebagai sumber kata- kata. Meski aku tak mau, tapi nyatanya tak bisa benar lepas. Tapi, kali ini aku mau benar lupakan semua yang pernah ada…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa sejak sekarang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah begitu lapar…&lt;br /&gt;10:25&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-2735262497611989035?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/2735262497611989035/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=2735262497611989035&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/2735262497611989035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/2735262497611989035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/lupakan-lelaki.html' title='Lupakan lelaki...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3376424704570398948</id><published>2009-04-29T21:09:00.004+07:00</published><updated>2009-11-13T04:42:58.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Lelaki Insomnia....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SvyBNWiozeI/AAAAAAAAAO4/OiiGtWIGT8M/s1600-h/DSC00030.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SvyBNWiozeI/AAAAAAAAAO4/OiiGtWIGT8M/s200/DSC00030.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403335719326895586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kediri&lt;br /&gt;April 2009&lt;br /&gt;Hampir tengah malam disini&lt;br /&gt;23:14&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin melarut. Semua sudah nyenyak tinggali alam bawah sadar. Terlena oleh suasana malam yang memang begitu lenggang. Bisa juga karena terlanjur rapatkan kelopak karena paksaan lelah yang kian menjajah raga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu berada disini dengan sebuah kesulitan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphone-nya berdering oleh panggilan kawan lama. Seorang Andrita yang adalah karib seperjuangannya di bangku Fakultas Ilmu Administrasi dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apa bedanya admired by dengan admired with?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lalu lelaki itu menjawab singkat&lt;/span&gt;; “Bukannya kamu dulu pernah menanyakan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu ulang lagi dong jawabannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Basically sih sama aja, cuma kalau yang lebih grammar ya Admired By karena itu pasif. Tapi dua duanya common dipakai kok. Jadi ya sama saja…”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Oh gitu. Ya sudah. Thanks ya…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraannya selesai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang lelaki itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu kini kembali tapaki nyawa di udara Kediri. Sebuah kota yang dulu pernah begitu erat menggenggam jemari hidupnya. Dia sempat berbagi senyum dan tangis dengan semua yang ada disini. Dia juga pernah melaju di indahnya cinta dengan wanitanya. Banyak sekali yang pernah dia alami disini. Sampai akhirnya dia merasa harus pergi. Lalu dia undur diri di awal Januari. Tepatnya di sebuah Jum’at malam dengan hujan nakal yang terus halangi kepergiannya. Saat kalender masih setia pada sembilan Januari dua ribu sembilan. Saat cuaca menahannya dengan begitu sangat. Namun dia tetap merasa harus pergi. Lalu dia dengan sabarnya membujuk hujan untuk berhenti merinai. Dia memohon agar kepergiannya direlakan. Karena wanitanya juga telah rela melepaskannya. Lalu lelaki itu mengucap Selamat Tinggal pada wanitanya. Hujanpun akhirnya menyerah. Sebuah perpisahan tanpa tangis dan haru. Biasa saja. Karena mereka tetap menautkan rasa. Meski jarak yang kemudian akan merajai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja tadi lelaki itu kembali. Membawa beberapa butir rindu untuk melepas penat yang selama ini nyaman tinggali jiwanya. Jiwanya yang sendiri. Jiwanya yang tanpa wanitanya. Dia datang hanya dengan satu pinta. Semoga bisa bersenang- senang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam lagi, hari akan berganti nama. Tanggal juga akan berganti angka. Tapi tahun masih setia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua raga sudah menutup mata. Karena itulah yang sewajarnya dilakukan. Tapi tidak dengan lelaki itu. Dia masih gagah dengan mata lebarnya yang seakan masih ingin terus awasi dunia. Dia gagal temui alam bawah sadarnya. Bisa jadi inilah yang disebut insomnia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Orang bilang lebih baik menghitung domba saja. Tapi mana mungkin bisa menghitung domba kalau seumur nyawanya di bumi ini dia tak pernah sekalipun melihat domba. Perasaannya tak begitu setuju dengan kata orang yang itu. Lalu orang yang lainnya mengatakan; lupakan semua yang kau pikirkan maka kamu akan segera terlelap. Tetap saja dia masih terjaga sambil merasa tak nyaman. Karena dia tak pernah tahu cara melupakan apa yang sedang dia pikirkan. Lalu sampai kinipun dia masih terjaga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhenti sejenak demi mencuri dengar tanda- tanda kehidupan. Yang ada hanya suara dengkur wanitanya yang sejak tadi sudah terlelap oleh lelah berlebih. Dengkuran itu ternyata punya nada. Dan indah jika didengar. Apa karena semakin malam dia semakin melankolis dan romantis hingga semua yang ada tampak dan terdengar indah? Atau karena dengkuran itu adalah properti wanita bumi yang dicintainya? Lelaki itu langsung menjawab “Dua duanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau bercerita sedikit tentang lelaki itu…&lt;br /&gt;Dia terlahir sebagai putra pertama dari tiga saudaranya yang lain. Kulit terang dan hidung mancungnya membuat dia selalu menganggumi diri sendiri. Dulu dia tergolong kurus. Tapi sejak dia bersama dengan wanitanya itu, berat badannya bertambah sekitar sepuluh kilogram. Tinggi badannya cukup; tak pendek juga tak terlalu jangkung. Kesan pertama tentangnya adalah cowok lumayan enak dilihat. Gayanya asal. Cuek meski tak seperti bebek…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu menguap panjang. Tapi bukanlah mendung tak selalu berarti hujan? Maka menguap tak selalu berarti mau tidur. Dan dia masih tetap sendiri cumbui dengkuran indah wanitanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menguap lagi. Sama panjangnya dengan yang tadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dia benar merasa tersiksa oleh waktu. Tak tahu lagi harus bagaimana…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringatnya semakin mengucur. Dia semakin gugup. Dia khawatir malam akan terganggu olehnya yang masih saja terjaga. Dia takut malam akan menyalahkannya karena kehilangan misterinya. Dia tak mau disalahkan. Kali ini dia benar- benar mau menjadi sama persis dengan raga- raga lainnya yang sudah mengatupkan nyawa. Dia tak mau terjaga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia tak tahu cara pejamkan mata…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit sekali baginya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan menit lagi esok akan berganti nama jadi hari ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh menit lagi sekarang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia semakin gugup...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini bernama Senin…&lt;br /&gt;00:07&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3376424704570398948?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3376424704570398948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3376424704570398948&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3376424704570398948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3376424704570398948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/lelaki-insomnia.html' title='Lelaki Insomnia....'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SvyBNWiozeI/AAAAAAAAAO4/OiiGtWIGT8M/s72-c/DSC00030.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-9085693320039191343</id><published>2009-04-26T13:46:00.002+07:00</published><updated>2009-04-26T20:51:09.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><title type='text'>Deviasi pola rasa...</title><content type='html'>&lt;em&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;April 2009&lt;br /&gt;Berpijak pada sebuah Jum’at yang begitu biasa&lt;br /&gt;17:52&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja tuntas tunaikan sembahyang petang. Memenuhi kewajiban yang juga adalah sebuah kebutuhan bagi jiwa manusiawiku. Lalu kini aku bertengger di depan dua layar pada saat bersamaan. TV dan &lt;em&gt;laptop hp&lt;/em&gt; ini. Aku berniat mengukir kata tentang apapun yang teringat dan terlintas di hatiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang sekarang…&lt;br /&gt;Aku sedang menanti kedatangan lelakiku yang bilang akan ada di saat mentari mulai undur diri. Dia bilang akan datang menyapaku disini. Bisa jadi karena rasa rindu yang sudah tersemai sejak sekitar sepuluh hari. Mungkin dia mengira semaian rindu itu sudah bersemi menjadi pucuk- pucuk kehidupan. &lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; aku juga mengira yang sama dengannya. Meski tak jarang rasa rindu itu harus merana karena saat kami bersama semua terasa begitu biasa saja. Hambar lalu diakhiri dengan pengharapan bahwa semua akan segera berlalu. Bahwa kami akan berpisah lagi sambil menyemai rindu jenis lain. Rindu yang kami harap akan berpucuk, berkuncup dan berbunga lebih indah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu masih belum menampakkan nyawanya untukku disini. Aku masih menantinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam mengelam aku merasa ada yang tak begitu benar dengan ragaku. Aku merasa begitu melemah. Aku merasa ada sebentuk kekuatan penyokong raga yang hilang menjemput mentari yang sore tadi sudah undur diri. Sebagai manusia biasa, aku tak begitu memahami makna kelemahan ragawi ini. Aku hanya tak mau terlalu mendramatisir keadaan. Aku tak mau lakukan apapun karena semua ketidaknyamana ragawi ini masih sanggup aku atasi. Meski jika benar dirasa aku sedikit tersiksa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu baru saja mengirim pesan singkat. Hanya dua kalimat padat. Begini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Maaf aku masih dikantor. Ini baru mau berangkat.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekarang dia mengirim kabar akan berangkat, itu artinya dia akan berada disini sekitar satu setengah jam dari sekarang. Aku harus bersabar. Bulir- bulir rindu ini akan tersemai beberapa masa lebih lama. Biarlah. Siapa tahu pucuk- pucuknya akan semakin banyak tertumbuh. Somoga saja. Meski aku tak pernah begitu meyakini semua akan persis sama dengan apa yang aku maui sekaligus apa yang ada di pengharapanku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah berkeputusan untuk merapati hidup dengan lelaki itu. Dia mengucap ikrar bersama selamanya dalam suka dan duka saat hari bernama Kamis dan tertanggal tiga belas Desember dua ribu tujuh. Saat usiaku masih tapaki angka dua puluh empat sedang usianya cumbui dua puluh enam. Kata orang itu adalah sebuah perpaduan ideal. Well, sampai sekarang aku masih tak melihat makna kata ideal itu. Kurasa tak ada makna. Hanya sekedar ucapan penghiburan saja. Sekedar untuk kepentingan formalitas saja kupikir…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa lelaki itu mengalami deviasi pola rasa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa suka lelaki itu padaku sudah sedikit memudar oleh kebersamaan. Genggaman cintanya untukku juga tak begitu mampu kurasa. Tetes- tetes perhatianpun tak lagi memelukku erat seperti kala itu. Riak kasih dan sayangnya juga agak menghilang oleh arus kehidupan. Dia sedikit demi sedikit mengubah pola hatinya. Mungkin dia mulai merasa ada yang salah dengan diriku. Mungkin dia merasa semua tak sama dengan apa yang dia impikan. Mungkin dia mulai menyadari keindahan bunga dunia lainnya. Mungkin dia mulai sedikit menyesali pengikrarannya denganku kala itu. Aku rindu dia yang dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan aku yang mengingini pengikraran hati kami kala itu…&lt;br /&gt;Aku hanya setuju…&lt;br /&gt;Karenanya aku tak mau dia menjadi seperti ini…&lt;br /&gt;Aku mau dapati semua yang dulu dia sembahkan untukku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;By the way,&lt;/em&gt; aku begitu ingin memotong beberapa milimeter rambutku. Berganti model. Tapi tetap mempertahankan panjangnya. Karena aku sudah berjuang untuknya. Tapi kadang bosan juga aku padanya. Mungkin rasa itu sama persis dengan yang lelaki itu rasa untukku. Bosan namun tak mungkin saling melepaskan genggaman tangan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun tak begitu merasa mencintainya…&lt;br /&gt;Mungkin hanya sebentuk rasa keterbiasaan…&lt;br /&gt;Karena aku sudah terbiasa dicinta olehnya…&lt;br /&gt;Hatiku sudah terlanjur kecanduan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cukup sekian saja buat hari ini…&lt;br /&gt;Maafkan aku, lelakiku…&lt;br /&gt;18:21&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-9085693320039191343?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/9085693320039191343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=9085693320039191343&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/9085693320039191343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/9085693320039191343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/deviasi-pola-rasa.html' title='Deviasi pola rasa...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-8749236387960015265</id><published>2009-04-26T09:39:00.004+07:00</published><updated>2009-04-26T20:47:12.586+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><title type='text'>Candu hati...</title><content type='html'>&lt;em&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;April 2009&lt;br /&gt;Di sebuah Kamis pagi &lt;br /&gt;Dengan semangat hidup yang tergerai indah&lt;br /&gt;11:09&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya begitu ranum oleh semangat hidup yang tergerai lepas menghampar di sebuah kesekarangan hidup. Setelah beberapa masa yang dulu dia terhempas dalam sebuah kesepian dan kekecewaan yang begitu menjurang dalam. Lalu dia sedikit teteskan airmata sia- sia hanya demi dapati secercah kelegaan hati. Wanita itu sempat juga meragu semua yang ada. Baginya semua hanyalah properti hidup yang bisa dengan mudah dipermainankan oleh orang lain dan mempermainkan dirinya. Itulah yang kemudian membuatnya semakin berat menyeret langkah. Dia sempat berhenti beberapa jenak masa sambil mencari- cari penguat jiwa. Dia jarang menangisi. Tapi dia menangis begitu miris kala itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sebenar- benarnya adalah seorang &lt;em&gt;Belva Purnama&lt;/em&gt;…&lt;br /&gt;Meski dia sempat menyulap diri hingga tersaji sebagai&lt;em&gt; Vaska Alteria&lt;/em&gt;…&lt;br /&gt;Itu karena dia tak lagi tahan pada tekanan hidup pribadinya…&lt;br /&gt;Tapi kini dia sadar bagaimanapun dia harus kembali pada yang sebenarnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini kesadarannya kembali. Petualangan hati yang sempat jadi candunya kini akan segera dia sembuhkan. Tanpa paksaan. Dia sudah kembali pada sebuah kesadaran bahwa bersembunyi hanyalah sebuah kesia- siaan yang nantinya akan berujung pada bentuk kecewa lain. Dan dia sudah jera merasa kecewa. Lalu dia berkeputusan untuk sembuhkan diri dari candunya pada arena penjajalan hati dan rasa… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu sempat menyatakan beberapa lelaki maya. Dengan mereka kemudian dia menjajal keteguhan hatinya. Dia merasa begitu yakin bahwa rasanya akan selamanya berkiblat hanya pada seorang lelaki. Yaitu seorang &lt;em&gt;Delvin Teman&lt;/em&gt;. Dia selalu punya cara tak lazim dalam mencinta lelaki nyata itu hingga lelaki itu sering merasa tak dicinta. Namun sampai sekarangpun mereka tetap bersama. Mungkin bedanya hanya terletak pada kekhusyukannya dalam berbagi cinta, hati, kata dan rasa. Tapi dia tetap yakin bahwa hatinya hanya selalu termiliki oleh &lt;em&gt;Delvin Teman&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati mudanya sempat melamar rasa pada sebuah hati berpanggilan &lt;em&gt;Fabian Rahman&lt;/em&gt; yang bermukim begitu dekat dengan tempat orang tuanya tinggal. Rasa cintanya kala itu masih begitu tak berpengalaman. Orang bilang cinta monyet. Tak ada pengharapan. Dia hanya ingin terus mengagumi lelaki yang enam tahun lebih dewasa darinya itu. Dia tak pernah berani bertatap hati dengan &lt;em&gt;Fabian&lt;/em&gt;. Mereka sama sekali tak pernah bersentuhan rasa karena ternyata lelaki itu hanya menganggapnya sebagai bocah. Namun dia mampu menjaga hatinya hanya untuk lelaki dewasa itu. Lama sekali dia mengkiblat pada&lt;em&gt; Fabian&lt;/em&gt;. Berhari- hari. Bahkan ribuan hari…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian merasa ada yang beda dari dirinya. Hati dewasanya mulai memudarkan bayangan rasanya untuk &lt;em&gt;Fabian&lt;/em&gt;. Rasa itu tiba- tiba menyamar. Terganti oleh seorang &lt;em&gt;Abira Bashay&lt;/em&gt; yang juga enam tahun lebih dewasa darinya kala itu. Sebuah pertautan hati tanpa sekalipun dia mengucap cinta ke lelaki itu. Karena dia dulu adalah jenis manusia yang pantang berkata cinta. Mereka menggenggam rasa yang sama meski tak begitu lama. Tak lebih dari dari empat bulan saja. Lalu lelaki itu berlalu pergi begitu jauh sambil membawa serta hati &lt;em&gt;Belva&lt;/em&gt;. Lalu dia terpaksa harus menghirup hidup tanpa cinta.  Hatinya terlanjur mencandu &lt;em&gt;Abira&lt;/em&gt; hingga dia kemudian secara sukarela menunggu tanpa pasti. Dia menanti sambil terus mengutuki cinta. Tiga tahun kemudian penantiannya terhenti paksa. Bukan karena dia sudah terlalu letih dan kecewa. Tapi dia hanya mau menghargai wanita entah yang telah dipilih &lt;em&gt;Abira&lt;/em&gt; untuk jadi belahan jiwanya. &lt;em&gt;Abira&lt;/em&gt; menikah! Lalu Belva sempat begitu kecewa dan lebih mengutuki cinta. Meski dia tak pernah mengiyakan saat &lt;em&gt;Abira&lt;/em&gt; memintanya menunggu tapi sebenarnya hatinyalah yang berjanji teguh. &lt;em&gt;Abira&lt;/em&gt; tak pernah tahu tentang penantiannya itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sayap cinta &lt;em&gt;Belva&lt;/em&gt; mengepak pada seorang &lt;em&gt;Qasim Revaza&lt;/em&gt;. Lelaki yang mencintanya dengan beberapa keping kesabaran dan beberapa kuntum kesetiaan yang indah. Namun, jarak terlalu susah untuk dimengerti. Meski bahasa dan budaya sempat mengendala, tapi mereka masih mantap saling tapaki rasa. Namun, Belva akhirnya menyerah pada ketidakpastian. Dia menghapus diri dari nyawa lelaki setia itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu melanjutkan langkah ke sekatan hidup yang lain. Kemudian tanpa sengaja bertemu rasa dengan seorang &lt;em&gt;Delvin Teman&lt;/em&gt; yang kini telah menjadi kiblat sejatinya. Sejak dua ribu empat lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun &lt;em&gt;Belva&lt;/em&gt; tak pernah puas menjajal hati. Dia terlalu yakin atas kekuatan rasanya. Lalu dia sempat bermain rasa dengan &lt;em&gt;Jahfal Firdaus Imantika, Omar Randu, Muhammad Safri…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini dia sedang merasa begitu ingin memandu hati kearah &lt;em&gt;Yovano&lt;/em&gt;. Sebentuk maya yang selalu hadir disisi lemah wanita itu. Yang selalu mamagut kepedihan dan airmatanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum semua kembali mencandu, dia mau lebih khusyu’ pada lelaki belahan jiwanya. Dia mau kembali menghamba hati hanya untuk &lt;em&gt;Delvin Teman&lt;/em&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memohon maaf begitu besar pada semua nama itu…&lt;br /&gt;Terimakasih atas semua rasa yang sempat ada…&lt;br /&gt;Kini dia merasa begitu merindu lelakinya yang sejati…&lt;br /&gt;Dia mau kembali setiakan hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;12:13&lt;br /&gt;Dia mau sembuhkan candu hatinya...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-8749236387960015265?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/8749236387960015265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=8749236387960015265&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8749236387960015265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8749236387960015265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/candu-hati.html' title='Candu hati...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-988248352829937924</id><published>2009-04-19T22:33:00.004+07:00</published><updated>2009-04-26T20:28:13.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Untuk Suara Bijaksana itu...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;19 April 2009&lt;br /&gt;Minggu malam dengan rintik gerimis romantis&lt;br /&gt;21:21&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis mulai menitik sejak beberapa detik yang lalu. Aroma segar mulai menyibak tirai malam. Rintihan atap oleh tangis gerimis seakan menambah romantisme Minggu malam ini. Bumi seakan secara sukarela menyerahkan diri untuk disakiti tajamnya rinai. Begitu indah bagi hatiku yang saat ini sedang tersenyum…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini terasa begitu dekat dengan sempurna. Hatiku begitu berbinar. Pikirku terasa begitu bebas melanglang. Ragaku merasa begitu lega dan jauh dari rintihan. Semua sedang menyatu dengan kesempurnaan hari laksana udara yang begitu erat menyatu dengan semesta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang sekarang untuk sebuah suara…&lt;br /&gt;Sebuah suara yang bijaksana…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah suara bijaksana itu…&lt;br /&gt;Yang datang bertandang tadi malam…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih untuknya yang telah mengabdi diri secara tulus kepadaku. Yang telah berikan beberapa gelintir kalimat penguat bagi jiwaku yang malam tadi terasa begitu merapuh. Merapuh oleh ketidakberdayaanku sendiri. Tidak berdaya mengubah pikir demi nyamankan sebuah jiwa pribadiku. Lalu jiwaku terdominasi tangis yang tanpa ampun menggilas kelopak mata lelahku. Aku tertunduk dalam sebuah nyata yang kuharap hanya sebuah mimpi buruk. Bahwa aku bisa kapan saja terbangun dan kembali pada nyata. Tapi sayangnya jiwaku sedang secara nyata melemah. Terlanjur terapuh oleh pikiran yang datang bersama beberapa sugesti akan kegagalan- kegagalan yang selalu sabar menanti aku berjalan mendekati. Semalam aku terlalu lelah tangisi diri yang masih hanya bisa begini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang aku tahu tentang dia…&lt;br /&gt;Tapi dia selalu ada untukku…&lt;br /&gt;Sebagai suara…&lt;br /&gt;Lalu kunamai dia&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Suara Bijaksana…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu berterimakasih aku padanya. Aku selalu merasa begitu nyaman oleh hadirnya. Aku cinta jadi pendengarnya. Aku rela mengabdi waktu padanya. Pun aku tak keberatan membagi nyawa dengannya. Meski hanya lewat pendengaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jangan berfikiran negatif. Positive thinking saja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yakinlah kamu bisa maka kamu bisa. Aku yakin kamu bisa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjuanglah jauh lebih keras sekarang maka kamu akan dapati apa yang kamu maui”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baca lagi Sang Alkemis. Resapi semua kalimat dan pahami maknanya lalu implemetasikan dalam hidupmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kamu tahu masalahnya dan kamu juga sudah tahu cara mengatasinya maka lakukan sesuatu untuk mengatasi semuanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Aku begitu tertolong oleh kalimat- kalimat itu. Beberapa deret yang datang berbungkus sihir karena nyatanya aku merasa bisa dapati semangat juangku kembali. Aku merasa bisa kembali menatap hidup dengan lebih berani. Tak lagi tertunduk oleh ketidakberdayaan. Tak lagi tertindas oleh ketakutan. Tak lagi terkurung oleh prasangka- prasangka buruk. Tak lagi mau berhenti di titik rendah ini. Kalimat- kalimat itu seakan datang bersama beberapa nyawa baru yang kemudian merasuki nyawa pribadiku yang sedang lunglai oleh kekecewaan, ketakutan, kesendirian, kesia- siaan sekaligus ketidakberdayaan. Kini aku punya nyawa baru. Nyawa baru yang lebih hidup!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf karena aku tak bisa menyebut namanya. Aku hanya berhak memanggilnya sebagai sebentuk suara. Maka aku mau berterimakasih dengan segenap hati, pikir dan nyawa baruku. Berterimakasih kepada suara itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara bijaksana…&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Teruslah iringi nyawaku yang mungkin akan merapuh lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Bijaksana,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maaf, atas semua yang kutuang disini…&lt;br /&gt;Karena mungkin kamu merasa tak berkenan…&lt;br /&gt;Aku hanya merasa dapati kembali yang dulu sempat kulepaskan…&lt;br /&gt;Dan kamulah yang membawanya kembali…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanvas kata ini terkesan begitu berlebihan. Tapi aku tak mau berkawan dengan kebohongan. Benar inilah yang kurasa. Karena hati memang tak pernah punya sistem pengukur hingga dia selalu gagal mengukur rasa. Alhasil kadang terkesan berlebihan. Tapi itulah yang benar dirasa olehnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gerimis diluar sana masih saja begitu romantis…&lt;br /&gt;Mungkin karena aku yang sedang terlalu dramatis…&lt;br /&gt;22:12&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-988248352829937924?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/988248352829937924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=988248352829937924&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/988248352829937924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/988248352829937924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/untuk-suara-bijaksana-itu.html' title='Untuk Suara Bijaksana itu...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-388528625210992243</id><published>2009-04-18T16:25:00.004+07:00</published><updated>2009-07-12T23:42:58.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sadness'/><title type='text'>Foto seorang perempuan....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SloSBN-CXHI/AAAAAAAAAHo/E3WYh9CmI64/s1600-h/DSCN2090.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SloSBN-CXHI/AAAAAAAAAHo/E3WYh9CmI64/s200/DSCN2090.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357614518849657970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;17 April 2009&lt;br /&gt;Jum’at sore dengan sedikit mendung menggelayut&lt;br /&gt;15:52&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku terasa begitu sakit hingga muncul sebuah keinginan kecil nan tajam untuk membunuh waktu. Mengulitnya saat ia masih setengah mati. Lalu menguburnya dalam- dalam di timbunan tanah merah basah. Juga saat ia masih setengah mati. Tapi lalu moralitasku terbangun kaget oleh pikiran kejam itu. Dia mengguruiku. Membisikkan beberapa jenis pertimbangan yang bisa dipegang. Dia bilang aku tak perlu membunuh waktu. Dia bilang itu terlalu kejam. Terlalu beresiko juga. Dan aku terus dengarkan saran moral. Terus aku mengutip gerak bibirnya. Lalu kutangkap sebuah ide baru yang masih dalam lingkar bermoral. Bahwa aku tak harus membunuh waktu. Rugi sekali jika aku harus berbuat sekeji itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Buang waktu itu!!!”&lt;/span&gt;. Begitulah gerak bibir sang moralitas. Setidaknya itulah yang berhasil kubaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bagaimana caranya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Banyak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Banyak sekali, bahkan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja?”&lt;/span&gt;, kutanya dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pejamkan mata. Kalau matamu menolak maka paksakan mereka. “&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertukar kata dan suara dengan siapa saja mengenai apa saja. Atau melamun. Atau membuka lipatan masa lalu yang terlanjur terekam dalam sebuah kenangan.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ide bagus. Aku pilih membuka lipatan masa lalu. Melalui beberapa kotak foto tentang siapa saja.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku merasa begitu tertarik menikmati kembali lingkaran masa lalu yang kebetulan telah tersimpan dalam bentuk kotak- kotak foto. Ada begitu banyak ekspresi yang berhasil didapati. Dalam berbagai suasana hati. Juga di berbagai lokasi. Lalu pandanganku tertarik pada sebuah yang bagiku menarik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Foto seorang perempuan…&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dia terlihat begitu menikmati hidup. Dia begitu bahagia dengan apa yang ada kala itu. Dia tersenyum lepas sambil menebar kebebasan. Gulungan air pantai seakan menariknya lebih dalam lagi dalam bumi kebebasan. Udara laut yang asin membawanya pada sebentuk kecil dunia yang diciptakan hanya untuknya. Semua sudah lebih dari cukup untuknya hingga dia tak pernah berharap kesempurnaan laut oleh burung- burung camar. Baginya alam kala itu sama persis dengan kesempurnaan hidupnya. Seorang perempuan dengan kehidupan yang bahkan lebih membahagiakan dari sebuah mimpi manis sekalipun. Membagi nafas dengan seorang lelaki yang telah begitu memahami dirinya. “Aku akan menjadi kertas yang membungkusmu karena kamu adalah batu keras yang takkan bisa dipecahkan oleh apapun. Maka aku akan menjadi kertas bagimu”, begitu kata lelakinya kala itu untuk meyakinkan cintanya pada perempuan itu. Dan perempuan itu merasa begitu teryakinkan lalu setuju untuk dinikahi saat berusia dua puluh empat tahun. Dan mereka berdua mulai menjalani hidup sambil terus tersenyum bahagia. Hingga foto itu terbuat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus melingkar lebar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini perempuan itu harus keluar dari frame foto. Kembali tertunduk oleh kekuatan dunia nyata yang kadang begitu halus menggiring manusia pada sebuah kepahitan. Perempuan itu jarang menangis. Karena dia selalu punya cara menahan airmata. Dia kecewa tapi dia tak pernah menyesali apapun. Perempuan itu juga tak pernah berpengharapan untuk kembali ada sebagai foto. Bukan karena dia tahu hal itu begitu tak mungkin. Melainkan karena dia sudah terlalu jera untuk kembali berpengharapan… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kasihan sekali perempuan itu…&lt;br /&gt;16:10&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-388528625210992243?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/388528625210992243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=388528625210992243&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/388528625210992243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/388528625210992243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/foto-seorang-perempuan.html' title='Foto seorang perempuan....'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SloSBN-CXHI/AAAAAAAAAHo/E3WYh9CmI64/s72-c/DSCN2090.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-321361995795240130</id><published>2009-04-18T16:22:00.003+07:00</published><updated>2009-04-26T20:43:39.286+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='life'/><title type='text'>Hari hitam putih....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SemgJiyNH-I/AAAAAAAAAEI/LN5Z8U4yY1Q/s1600-h/hitam+putih.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 224px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SemgJiyNH-I/AAAAAAAAAEI/LN5Z8U4yY1Q/s320/hitam+putih.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325964120158969826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;17 April 2009&lt;br /&gt;Pada sebuah Jum’at siang yang terjajah gerah…&lt;br /&gt;14:05&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahi telah lelah menghindari peluh yang sejak awal siang tadi menyentuh raga. Mungkin dia pikir perjuangan akan jadi sebuah kesia- siaan karena nyatanya siang begitu pro terhadap gerah. Dan aku masih disini. Di sebuah kamar yang entah karena apa menjadi lebih gerah rasanya daripada ruangan lain dirumah hijau ini. Bisa jadi karena konstruksi bangunan kamar ini terlampau toleran terhadap gerah. Atau karena suhu udara sedang begitu memuncak. Bisa juga karena pengaruh beban hidup yang kian jauh dari kata remeh. Apapun alasannya, yang jelas aku masih mengabdi rasa disini bersama sebuah kipas angin kecil oleh- oleh masa lalu. Juga dengan nada- nada masa kini yang kudengar dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;SE W550i&lt;/span&gt; ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini terasa begitu tidak menyenangkan. Semua bentuk kesenangan dan kelegaan rasa mungkin sedang mnegabdi rasa pada nyawa lain. Aku harus berbagi dengan nyawa- nyawa, memang. Dan sekarang mereka sedang bukan untukku. Meski aku sudah berusaha menikmati semuanya secara maksimal, tapi tetap saja aku merasa gagal. Lalu ragaku terasa kurang sehat. Mungkin gejala masuk angin. Parahnya aku tak punya cara sembuhkan diri. Karena aku tak begitu mahir tentang cara penyembuhan. Suntuk kemudian menekan hati. Alhasil semua yang ada terasa tak berasa karena hati yang adalah organ perasa kini sedang terdesak suntuk. Bahkan Vaska Alteria tak mampu memberi sedikit kesenangan untukku. Va juga terasa begitu tawar dan tak berguna…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin datang perlahan dan lupa membawa Selasa bersamanya. Lalu terpaksa aku mencari- cari hari Selasa di sekujur lipatan masa. Kubongkar kembali masa dulu. Hanya agar bisa dapati kembali Selasa. Masalah belum juga usai. Rabu tiba- tiba menghilang saat kalender membutuhkannya. Bisa kudengar jeritan lirih kalender memanggil- manggil Rabu. Karena dia tak mau malu kehilangan Rabu. Lalu Rabu datang dengan tergesa sambil tanpa henti ucapkan maaf. Nafasnya kembang kempis. Kamis dan Jum’at datang berduaan karena mereka tak mau mendengar jeritan lirih kalender lagi. Tak mau bernasib sama dengan Selasa. Bisa jadi mereka ingin membuktikan pengabdiaannya terhadap waktu. Meski mereka tak bawa masalah, tapi tetap ada yang kurang. Mereka datang tergesa. Takut terlambat hingga akhirnya melupakan beberapa warna rasa yang harusnya mereka bawa serta. Alhasil Kamis dan Jum’at lalu menjadi gambaran klise hitam putih. Terlihat dan terasa begitu membosankan. Lalu kupesan pada mereka agar lebih teliti di kemudian hari. Mereka mengangguk lemah sambil terus merasa bersalah. Ya sudahlah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang masih Jum’at. Tanpa warna. Hanya hitam putih. Membosankan. Tak bisa terlalu dinikmati. Sedangkan kipas angin kecil itu masih kupaksa terus menghadap pada satu arah. Yaitu kearahku. Karena aku benar tak tahan gerah. Peluh tertahan di bagian dalam organ tubuh. Namun gerah masih begitu kuat lindungi diri dari cumbuaan angin buatan ini. Gerah tanpa peluh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah konsekuensi dari sebentuk kehidupan tanpa mimpi. Dari sebuah nyawa bernafas tanpa keberanian untuk bermimpi. Tanpa sesuatu yang dinanti. Juga tanpa harapan yang bisa jadi penguat. Semua yang ada terasa begitu sia- sia. Semua yang ditunjukkan alam hanya sebagai sebuah keharusan saja. Bukan sebagai petunjuk untuk dapati mimpi. Tapi aku masih begitu kecewa dengan yang dulu. Aku masih perlu masa lebih lama untuk menyembuhkan luka hati karena kehidupan yang dulu begitu keras menempaku. Hingga aku terjatuh. Lecet sedikit. Tapi lalu aku lupa. Lupa menyentuhkan obat hingga lecet itu memburuk. Begitu sakit dirasa. Dan jera yang kini tertinggal. Jera untuk kembali melaju diatas rel hidup. Aku masih bertengger di sebuah stasiun hidup. Berhenti sampai dapati kembali nyali untuk berlari mengejar ketertinggalan. Doakan aku bisa segera sembuh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terdengar sekarang adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Detik (untuk dikenang)&lt;/span&gt; oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Video…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melalui Winamp laptop…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sudahlah sayangku jangan pernah sesali yang terjadi&lt;br /&gt;Kini kita bertemu hanya tuk melepaskan rindu&lt;br /&gt;Nikmati detik indah yang mungkin takkan pernah terulang&lt;br /&gt;Semoga bagimu kan menjadi satu yang indah tuk dikenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan cinta kita dulu yang kan membuka luka lama&lt;br /&gt;Anggap saja tak pernah ada cerita cinta  berdua&lt;br /&gt;Kupun tak pernan meminta tuk kembali hati ini bersama&lt;br /&gt;Kutahu dilubuk hatimu lentara takkan padam&lt;br /&gt;Karna ku yang terbaik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal mendengarnya, aku langsung jatuh hati pada lirik dan nadanya yang terdengar begitu acuh. Sebuah permintaan untuk melupakan semua yang dulu pernah terjalin indah. Tak ada keinginan untuk merasai kembali indahnya masa lalu. Karena adanya sebuah kesadaran bahwa yang dulu hanya ada untuk dikenang, bukan untuk dirasai kembali. I do love this song!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Video&lt;/span&gt;. Kini aku mau beralih ke Lost in Love yang kemarin petang kutonton di layar SCTV. Pukul enam sampai delapan lebih malam. Entah diperankan oleh siapa. Kebanyakan pemainnya adalah pendatang baru dunia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perfilm&lt;/span&gt;-an. Ceritanya begitu biasa. Terkesan begitu anak- anak, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;malahan&lt;/span&gt;. Begitu dongeng. Tapi lumayan untuk dijadikan hiburan di hidupku yang sedang mengklise ini. Aku sempat terhanyut di bagian agak akhir cerita. Dimana Adit yang adalah laki- laki kaku kemudian mau berubah begitu romantis hanya demi sebuah penggambaran cintanya untuk Tita. Romantis. Lalu aku sempat berfikir memperbaiki hubungannya dengan lelakiku. Aku yang sifatnya hampir seperti Adit. Ternyata aku juga mengingini romantisme. Aku mau dengan lelakiku itu. Aku mau kembali mewarna hari dengan kuas kebahagiaan dan warna keromantisan dengannya.&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Lost in Love does give me a sense of romantismn!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;OST&lt;/span&gt;-nya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;O Teganya&lt;/span&gt; oleh Tangga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;…&lt;br /&gt;Kini aku disini&lt;br /&gt;Cuma sendiri&lt;br /&gt;Tiada yang mencari&lt;br /&gt;Sampai hati&lt;br /&gt;Sampai begini&lt;br /&gt;Kau tak perduli&lt;br /&gt;Oh teganya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa benar memahami lirik itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adzan Ashar sedang mengkumandang di kampung sebelah…&lt;br /&gt;14:53&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-321361995795240130?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/321361995795240130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=321361995795240130&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/321361995795240130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/321361995795240130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/hari-hitam-putih.html' title='Hari hitam putih....'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SemgJiyNH-I/AAAAAAAAAEI/LN5Z8U4yY1Q/s72-c/hitam+putih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6067048775771239520</id><published>2009-04-18T16:20:00.002+07:00</published><updated>2009-04-18T16:48:18.080+07:00</updated><title type='text'>Langit sore, Adri, Kereta Api dan Sembahyang....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SemhqGXoobI/AAAAAAAAAEQ/ivDyAxBNLno/s1600-h/kereta+api(1).jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 156px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SemhqGXoobI/AAAAAAAAAEQ/ivDyAxBNLno/s200/kereta+api(1).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325965778978644402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;14 April 2009&lt;br /&gt;Di Selasa sore yang rupawan&lt;br /&gt;Tepat saat adzan Maghrib berdengung di udara….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari sudah merapat pada bulan dan bintang yang akan segera gantikan dirinya. Langit yang siang tadi begitu membiru kini tercampur beberapa jengkal mega putih dan guratan merah sisa mentari. Para kita akan segera bertegur rupa dengan malam. Sama seperti di hari- hari sebelumnya. Pun sama dengan hari- hari mendatang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau menumpahkan nyawa sejenak sebelum melebur dalam sembahyang. Membagi beberapa tumpuk beban dengan tulang belulang kehidupan. Meski aku tak punya banyak masa tapi aku bersikeras menelurkan beberapa hentak guratan disini. Dan seperti biasanya juga; aku tak pernah tahu buat siapa aku menggurat kata disini. Tapi biarlah. Aku cuma mau melegakan rasa saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi aku sempat bertegur suara dengan Adri. Bercerita tentang kondisi diri, perasaan hati, rencana yang akan kami lewati nanti, berita kawan karib masa dulu juga semua bentuk idelisme yang kami kira masih kukuh bertengger disini. Kami tertawa untuk beberapa lelucon kecil tadi. Entah benar- benar berniat tertawa atau cuma basa- basi percakapan. Hampir enam puluh menit mengurai kusutnya nyawa kami. Suara TV dan Ratri turut serta perindah percakapan kami. Akhirnya kami berpisah di pukul hampir setengah lima sore. Saat kita memang harus berhenti dan kembali pada nyawa masing- masing. Aku sedikit terhibur. Dan semoga Adri juga begitu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit kini memuram. Kelam hinggapi pelatarannya. Tak ada lagi mega putih. Merah sisa mentari juga telah undur diri. Entah kemana mereka semua. Mungkin sedang mengabdi pada belahan bumi dan waktu yang lain. Semua memang sudah punya masa sendiri- sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulir peluh lelehi bagian tubuh. Gerah hanya mengintip sedikit. Angin berhembus malu- malu kucing. Sedangkan lampu- lampu mulai mencerah. Karena kala ini disebut petang. Mentari tak selebar tadi siang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyamuk- nyamuk berkeruyuk. Datang darimana mereka sebenarnya. Apa mereka dilahirkan petang? Apa mereka ditelurkan oleh bintang? Karena mereka ada saat mentari tak lagi ada. Apa mereka datang untuk alasan bertandang? Hanya untuk sekedar mencumbui para tuan rumah yang malah tak pernah ramah untuknya. Kasihan mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tanganku meraba rambut. Membelai dan menikmatinya. Terasa panjang. Sudah beberapa masa aku sengaja membuatnya bebas menjuntai sambil kian memanjang. Mungkin sebagai bukti kekecewaan. Karena aku berjanji takkan memotong barang sehelaipun sampai aku benar- benar dapati kebahagiaan. Semakin panjang, semakin lama kekecewaanku tersemai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah. Aku bisa sayup- sayup memegang suara kereta api itu. Tak bisa dikatakan dekat meski suaranya masih mampu menjangkau teras kamar ini. Kereta jurusan Surabaya. Kelas ekonomi sepertinya karena berwarna kuning agak orange. Sebentar saja terdengar. Karena dia merambat cepat. Begitulah caranya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, lelaki maya itu baru saja kirimkan kabar bahwa dia akan kembali pulang di malam hari. Banyak yang harus dikerjakan, katanya. Ya sudah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana angin sayup yang tadi berkelebat disini? Apa mungkin dia juga sedang mengabdi di sisi bumi lainnya? Kini gerah kembali merakit peluh. Karena ini memang masanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, ibukota negara merah putih ini, sedang mengumandangkan adzan Maghrib. Dan aku belum sembahyang juga. Tapi aku akan segera tunaikan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Permisi…&lt;br /&gt;17:58&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6067048775771239520?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6067048775771239520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6067048775771239520&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6067048775771239520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6067048775771239520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/langit-sore-adri-kereta-api-dan.html' title='Langit sore, Adri, Kereta Api dan Sembahyang....'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SemhqGXoobI/AAAAAAAAAEQ/ivDyAxBNLno/s72-c/kereta+api(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-4622820027769648903</id><published>2009-04-18T16:13:00.002+07:00</published><updated>2009-04-18T17:04:18.140+07:00</updated><title type='text'>Acara pagi ini...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Semk5Vyg70I/AAAAAAAAAEY/hQ8dzfbfhcQ/s1600-h/mentari.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Semk5Vyg70I/AAAAAAAAAEY/hQ8dzfbfhcQ/s200/mentari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325969339350839106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;15 April 2009&lt;br /&gt;Rabu pagi yang melegakan&lt;br /&gt;Bertepatan dengan ulang tahun ke dua puluh enam Arie Mardiana…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyawaku terbangun kala hari masih begitu muda. Beberapa jam aku menghimpitkan kelopak mata ini. Mengistirahatkan seluruh organ kecuali jantung yang kuminta untuk terus berdetak. Kemudian berjalan menuju mimpi. Sebuah mimpi tanpa arti. Skenario mimpi memang tak selalu berlogika. Saat aku terbangun, yang kuingat adalah sebagian kecilnya saja. Bahwa di mimpi aku bertemu Mugi Brillianto. Entah darimana datangnya ide cerita mimpiku pagi ini. Datang begitu saja. Dibintangi manusia Asunaro baru itu. Sudahlah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngantuk adalah benar sebuah bentuk mabuk. Mataku terpaksa membuka diri dengan rentetan rasa kantuk yang masih menggantung di kelopak. Kupaksa mereka untuk membuka meski dengan begitu sipit. Tak tahan dengan cahaya mentari yang datangnya lebih dulu. Kulihat jam salah satu handphone, terbaca pukul sembilan lebih beberapa menit. Lalu kusapu headset dan kusenggamakan dengan SE W550i ku, kunikmati &lt;span style="font-style:italic;"&gt;G&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ood Morning Hardrock&lt;/span&gt; pagi ini. Tertidur kembali sejenak dengan headset terpaku di telinga. Tak lama memejam mata. Lalu terbangun kembali. Kulihat kembali jam di handphone. Terbaca pukul tujuh lewat beberapa menit. Itu artinya ada kesalahan pembacaan jam karena aku sedang mabuk berat oleh pengaruh kantuk. Ternyata hari masih begitu pagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tidur itu sedang berwarna hijau muda juga. Cukup untuk dua orang. Dan aku hanya menempati di salah satu sisinya saja. Pinggir. Tak pernah yang bersentuhan dengan dinding. Alasannya karena aku tak suka dinginnya dinding. Tempat tidur itu diselimuti kain sprei hijau muda berhias bunga tulip merah muda. Dua bantal tidur, sebuah guling, sebuah bantal sofa hijau, selimut tebal warna padu hijau kuning muda juga sebuah bantal bentuk cinta warna merah muda hadiah lelakiku beberapa tahun dulu. Terasa begitu nyaman meski bukan spring bed…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara beberapa lelaki itu tertangkap telinga. Lalu kuputuskan untuk beranjak dari tempat tidur berbalut hijau muda ini. Berjalan malas menuju jendela depan untuk menyibakkan tirai putihnya. Lalu kumatikan kipas angin kecil yang sejak tadi malam memutar oleh perintahku. Biarlah dia beristirahat dulu sepanjang pagi siang dan sore nanti. Lalu kuarahkan kaki kembali ke samping timur tempat tidur. Ada jendela besar disitu. Jendela kayu jati yang mengarah ke tempat cucian. Kuraih tirainya yang juga putih. Kusibakkan. Kamar ini lalu begitu benderang. Terakhir kurapikan sisa- sisa mimpiku di tempat tidur dan kubuka pintu jati itu. Kemudian duduk sejenak di balkon depan kamar. Berusaha mencari- cari kelebat angin pagi. Tapi tak banyak yang kutemu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hardrock FM &lt;/span&gt;masih terus mendengung merdu. Temaniku yang sedang membasuh diri di kamar mandi yang juga berwarna hijau muda ini. Beberapa menit disana sambil nikmati pagutan suara air dan radio pagi. Begitu nyaman terasa. Baiklah…aku selesai mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik kembali ke kamar. Meraih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jeans Wrangler&lt;/span&gt; dan jaket orange kebangsaanku yang sejak beberapa hari yang lalu kusiksa di gantungan. Lalu kupoles wajah dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;make-up&lt;/span&gt; seminimal mungkin. Mengoles &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lip gloss&lt;/span&gt; sedikit. Sengaja kulewatkan ritual bersisir. Sedang malas mengurus rambut. Toh, dia masih rapi- rapi saja meski hanya dilibas jemari. Tak masalah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eits&lt;/span&gt;, ransel warna gelap cepat kuraih untuk kumasuki amplop coklat besar, tempat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handphone&lt;/span&gt; yang sekaligus berperan sebagai dompet, kotak kacamata lalu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;headset Sony Erricson W550i&lt;/span&gt;. Itu saja. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fleksi&lt;/span&gt; sengaja kutinggal di meja balkon depan kamar. Maka ransel itu jauh dari berat….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku sudah terduduk diatas jok motor. Menyalakan mesin sambil menjangkau helm biru tuaku. Mencari- cari sandal jepit coklat. Bergaya berandal kali ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Feel so damn free!!&lt;/span&gt; Lalu menuju kantor pos yang hanya berjarak kurang dari lima menit dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam. Tentu saja untuk mengirimkan amplop coklat besar tadi. Di sebuah alamat di Kalimantan Selatan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di kantor pos…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parkir di sisi paling kiri. Membuka pintu kaca kantor pos. Meletakkan amplop coklat di atas meja pengiriman. Kutumpuk dengan amplop coklat orang lain. Biarkan amplop itu antri untuk dirinya sendiri. Antri untuk dilayani. Lalu dimana aku? Aku sedang di teras kantor pos. Apa yang kulakukan disana? Membaca beberapa pengumuman lowongan pekerjaan yang dipampang disana. Hanya untuk iseng karena kuyakin tak ada yang kuminati. Tak lama disana. Kurang dari lima menit saja. Lalu kembali kedalam. Duduk hanya sejenak dan mendengar namaku dipanggil. Aku dilayani. Amplop itu dikirim dengan biaya enam ribu rupiah. Sampai dalam waktu tiga sampai empat hari kata pegawai kantor orange itu. Selesai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku kembali pulang dengan beberapa pertimbangan sederhana. Pertama, bensin motor sudah hampir kosong melompong. Mungkin yang tersisa hanya beberapa tetes saja. Kedua, memang aku tak punya tujuan lain. Mungkin yang terpikir hanyalah ke warung internet. Lalu ketiga, jika benar ke warung itu maka akan ada dua kemungkinan yaitu habis bensin di tengah jalan dan uang minimal tiga ribu rupiah akan melayang terbang dari dompet tipisku. Dan aku tidak mau satupun ketakutan itu terjadi. Maka disinilah aku sekarang. Kembali di rumah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku sedang bersenggama dengan televisi sambil membaca pesan balasan dari Arie yang pagi ini tepat berumur dua puluh enam tahun dan sedang hamil enam bulan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah acaraku pagi ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Masih belum begitu siang…&lt;br /&gt; 12:07&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-4622820027769648903?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/4622820027769648903/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=4622820027769648903&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/4622820027769648903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/4622820027769648903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/acara-pagi-ini.html' title='Acara pagi ini...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Semk5Vyg70I/AAAAAAAAAEY/hQ8dzfbfhcQ/s72-c/mentari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5356607021963052942</id><published>2009-04-13T12:48:00.005+07:00</published><updated>2009-04-26T13:58:03.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='persahabatan...'/><title type='text'>Ratri yang muram...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;13 April 2009&lt;br /&gt;(Masih) di sebuah Senin&lt;br /&gt;Kali ini hari menghampiri tanpa gerah…&lt;br /&gt;Syukurlah…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kehilangan seorang sahabat yang dulu begitu erat berjabat hati. Dia sedang kecewa. Dia sedang merasa begitu gagal. Dia juga sedang merasa tertolak oleh dunia. Mungkin dia juga merasa aku akan segera melesat pergi jauh darinya. Ratri kini telah merubah diri menjadi beda. Entah apa yang benar- benar jadi alasannya. Yang jelas Ratri merasa jauh tertinggal dari semuanya. Bisa jadi bathinnya sedang menangis lembut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah lama merasa ini. Mungkin karena hatiku masih sedang erat menjabat hatinya. Namun sayang, Ratri tak lagi mampu merasakan jabatan erat itu. Hatinya sudah terlalu cadas oleh tempaan kegagalan. Hatinya sedang begitu muram. Tertutup kanopi kehidupan yang memang akan terus mementalkan jiwa- jiwa lemah. Dia menangis didampingi lelakinya. Mereka sedang mengasingkan diri dari dunia. Biarkan dululah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu dia tak pernah mau terlihat sedang berair mata. Namun dia tak pernah sanggup menyeka luluhan airmata itu. Pun dia masih belum mampu mengganti tangis jadi senyum manis. Aku bisa merasa apa yang sedang dia rasa. Karena benarnya aku juga sedang begitu. Aku sedang sama dengan dia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di hari inilah aku kemudian membuka kata untuk memastikan semua yang sedang kurasa tentangnya. Aku mau memastikan kebenaran suara hatiku ini. Lalu kurangkai beberapa helai kata sebagai wakilan suara. Kepada Ratri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I feel that you’ve changed a lot these days. Why? Is it because you don’t wanna be disturbed? Is it because of your heavy life burden? I lost my Ratri…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit aku tak mendapati jawaban. Dalam bentuk apapun. Aku masih menantinya meski aku tak begitu yakin akan dapati sebuah kepastian alasan. Mungkin karena sebenarnya aku sudah punya jawaban sendiri. Aku tidak baru mengenal Ratri di sore kemarin. Aku sedikit banyak tahu tentang dia. Aku bisa menebak sedang merasa apa dia sekarang. Aku juga sudah sedikit banyak bisa menyanyikan ulang nada nafasnya. Aku juga bisa mendendangkan cerita cintanya kala itu. Aku bisa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu handphone ini terdering sebentar oleh sebuah pesan masuk. Dari Ratri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sorry, Ai. Yang balas sms aku. Ya, sedikit banyak kegagalan- kegagalan kemarin membuat adek berubah. Dia sekarang sudah enggan berhubungan dengan dunia luar. Bahkan untuk melamar- melamar lagi juga sudah malas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bahasa hati Ratri yang kebetulan dilukiskan oleh lelakinya, Adri. Maka sekarang aku sudah mendapati kepastian hati Ratri. Aku memperkirakan. Lalu dia melalui jemari lelakinya memastikan semua. Kemudian aku lebih mengerti cuaca hatinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratri dan aku sekarang sedang sama. Kami sedang membenci waktu yang berjalan melambat hingga semua muram begitu nyata terasa. Hanya ada beberapa beda. Ratri menyerah pada muram dan terus lindungi diri dari pasir kesenangan. Sedangkan aku tidak begitu. Aku terus berjuang menggenggam pasir kesenangan meski kadang pasir- pasir itu meluncur keluar. Lalu aku terpaksa muram karena merasa tidak berhasil. Tapi, aku terus mengulangi genggaman yang sama. Berusaha terus membahagiakan hati meski kelam sedang asyik selimuti diri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebenarnya berubah. Apa benar Ratri yang sedang berubah? Atau mungkin malah aku yang sebenarnya berubah? Bisa jadi kenyataanlah yang sudah lama mengganti beberapa bagian dirinya hingga terbitlah perubahan- perubahan ini. Siapa pun apapun yang berubah aku hanya sedikit perduli. Aku hanya akan terus mendoa agar hatiku terus bahagia dalam kondisi seperti apapun…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratri, kuanjurkan kamu mendoa yang sama denganku. Setidaknya agar hatimu merasa sedikit melega meski dunia terus menjauhimu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dear&lt;/span&gt; Ratri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang bisa jadi kebutuhanmu. Kamu butuh pengingat. Bisa dalam bentuk siapa pun apa. Kamu perlu mengingat kembali bahwa tak ada yang sia- sia. Bahkan masa sekarang akan jadi sejarah hidupmu. Bahwa kamu juga ternyata pernah menangis begitu lirih. Tangisan yang hanya bisa dirasa, bukan didengar. Maka bangkitlah kembali sekarang. Carilah mimpi- mimpi baru. Lalu hiduplah untuk mimpi itu. Jangan biarkan mata hatimu terus menangis. Bisa sembab nanti hatimu itu. Rasakan jabatan erat hati kita. Tersenyumlah kembali, Ratri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku pernah meninggalkanmu sendiri di Malang. Kala itu tertanggal 24 September 2005. pada sebuah Sabtu siang. Kamu pernah menangis karena sendiri. Dan kini aku kembali. Takkan kubiarkan kamu sendiri lagi. Meski kamu sudah menjalin hidup dengan lelakimu. Tetap aku akan selalu ada untuk kalian berdua. Bukan cuma buat Ratri. Bukan juga cuma buat Adri. Melainkan buat Ratri dan Adri….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Mari tersenyum bersama&lt;br /&gt;12:06&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5356607021963052942?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/5356607021963052942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=5356607021963052942&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5356607021963052942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5356607021963052942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/ratri-yang-muram_12.html' title='Ratri yang muram...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5953292791224361560</id><published>2009-04-13T12:45:00.001+07:00</published><updated>2009-04-13T14:07:42.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='senang- senang'/><title type='text'>Liburan akhir pekan yang terlalu panjang...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;Sebuah Senin pagi&lt;br /&gt;13 April 2009&lt;br /&gt;08:49&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang angka tiga belas membawa sial. Benarkah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kumulai dengan cara yang terkesan kurang sopan. Bagaimana tidak, aku membuka mata dengan bosan yang dominan. Mungkin sisa- sisa hari kemarin. Memang benar, apapun yang terlalu berlebih tidak akan bisa memberikan akibat baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan akhir pekan kemarin terlalu panjang. Dimulai sejak Kamis. Dalam rangka Pemilihan Umum 2009 (untuk calon legislatif). Lalu dilanjutkan oleh perayaan Paskah yang tentu saja merupakan hari libur nasional. Dan Sabtu kemudian dianggap sebagai hari&lt;span style="font-style:italic;"&gt; kecepit&lt;/span&gt; nasional. Beberapa orang memang benar libur di hari itu. Kemudian Minggu yang memang sejak dahulu kala dianugerahi panggilan sebagai hari libur atau hari merah. Jadi setelah dihitung- hitung liburan kali ini mencapai nilai empat hari. Dan itu artinya setiap orang perlu tenaga dan pikiran ekstra untuk memikirkan acara akhir pekan panjang itu. Beberapa orang berhasil. Pun beberapa tidak berhasil. Dan aku masuk kategori yang terakhir….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa- sisa kebosanan hari kemarin masih bisa aku rasa sampai pagi ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak pernah berhenti berjuang dapati kemerdekaan atas rasa bosan ini. Aku melakukan beberapa hal. Aku melayarkan diri pada kesibukan rumah tangga. Menyapu, membersihkan tempat tidur, mengelap kaca jendela. Lalu aku berencana melanjutkan pelayaran pada dermaga setrika baju. Cuma delapan potong pakaian. Namun aku memutuskan untuk membuka diri pada kanvas kata ini. Aku merasa butuh bantuan. Setidaknya, seperti biasa, melegakan rasa. Dan sepertinya aku agak berhasil. Karena bantuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ivan Arbani&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Meity Piris&lt;/span&gt; yang datang lewat udara bersama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Good Morning Hardrock FM…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku merasa begitu tertolong oleh kehadiran dua begundal ini. Aku begitu berterimakasih kepada mereka. Benar- benar terimakasih dengan sebesar- besar dan seikhlas- ikhlasnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;09:14&lt;br /&gt;Lega…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5953292791224361560?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/5953292791224361560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=5953292791224361560&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5953292791224361560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5953292791224361560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/liburan-akhir-pekan-yang-terlalu.html' title='Liburan akhir pekan yang terlalu panjang...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-998182296015221415</id><published>2009-04-13T12:38:00.000+07:00</published><updated>2009-04-13T12:45:06.386+07:00</updated><title type='text'>The power of words...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Masih) Mojokerto&lt;br /&gt;12 April 2009&lt;br /&gt;Minggu malam yang legam…&lt;br /&gt;19:02&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kata&lt;/span&gt;. Hanya berupa deretan huruf yang tertata rapi berjajar dengan lainnya hingga punya mampu untuk terbaca lalu beri makna. Terkesan begitu sederhana. Namun kini aku yakin, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kata&lt;/span&gt; bukanlah berperan sebagai bagian sederhana dalam kehidupan para manusia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang bisa berubah hanya oleh pengaruh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kata&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati bisa begitu kuat terikat dan mengikat hanya dengan beberapa patah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kata&lt;/span&gt;. Bukankah manusia selalu kehausan kata sayang dan cinta dari lawan jenisnya (beberapa bahkan dari yang sejenis)? Lalu manusia melalui kata bisa mengubah perasaan cinta jadi biasa, bahkan bisa juga jadi benci. Atau bisa jadi sebaliknya. Maka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kata&lt;/span&gt; bukankah hanya sekedar deretan huruf yang beri makna….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai belajar menerka apa yang membuat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kata&lt;/span&gt; begitu kuat. Aku mulai bertanya pada semua pertanda, apa yang merasuki kata hingga tak jarang mampu tenggelamkan logika. Bahkan bisa jadi kata membuat manusia berani kehilangan nyawa. Mungkin karena merasa begitu kecewa. Mungkin juga karena menyadari bahwa kehidupannya sudah tak lagi mampu beri guna bagi lainnya. Bisa jadi karena &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kata- kata&lt;/span&gt; itu memberinya kekuatan untuk menghadapi kematian sedikit lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Yang jelas semuanya karena &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kata&lt;/span&gt;. Pernyataan itu bisa jadi terbaca begitu aneh bagi semua (termasuk kalian). Tapi itulah yang pernah kualami. Dimana kata bisa beri kekuatan yang begitu hebat sekaligus lemparkan manusia jauh dari logika…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang kunamai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Power of Words&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekian&lt;br /&gt;Dan terimakasih…&lt;br /&gt;19:14&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-998182296015221415?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/998182296015221415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=998182296015221415&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/998182296015221415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/998182296015221415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/power-of-words.html' title='The power of words...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-8030923154088869718</id><published>2009-04-12T13:14:00.000+07:00</published><updated>2009-04-12T13:24:06.613+07:00</updated><title type='text'>Gerah...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;Pada sebuah Sabtu gerah&lt;br /&gt;11 April 2009&lt;br /&gt;16:39&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerah rasanya telah berhasil jajah bumi ini. Lalu semua sudah terdominasi olehnya. Bahkan semua makhluk bernyawapun harus tetap setia terima semua yang ada. Bulir- bulir peluh kemudian dianggap sebagai sebuah bentuk kewajaran. Bisa jadi hal itu dinobatkan sebagai bukti masa kekuasaan bumi oleh gerah. Yang ada hanya kebijakan- kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan gerah. Dan perempuan itu adalah bagian dari nyawa yang harus mau tak mau mengikuti semua kebijakan itu. Termasuk kerelaan untuk terus berpeluh dan mengeluh atas penguasa bumi yang baru ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, perempuan itu mungkin terlalu mendramatisir keadaan. Tapi perempuan itu benar begitu terganggu oleh gerah ini. Rambutnya juga merasa begitu terkungkung karena tak mungkin bisa menggerai panjang. Benar- benar tak mungkin. Perempuan itu sudah mengatakan padanya untuk terus menggulung diri. Lalu baju pilihan dirumah hanyalah daster. Waktu hanya berisi pergantian pengabdian daster satu dengan lainnya. Tubuhnya terasa begitu keberatan jika dia mengatakan akan beranjak dari rumah untuk tujuan tertentu. Bukan karena tubuhnya adalah seonggok pemalas. Karena dia lalu harus tersiksa dengan balutan pakaian lain. Yang dimaui hanyalah daster. Dan tidak akan pernah yang lainnya. Jeans plus jaket kemudian menjadi hantu menyeramkan bagi tubuhnya yang kegerahan itu. Sayang sekali, perempuan itu tak bisa berjuang demi tubuhnya yang sedang tertindas kebutuhan dan keadaan itu. Maafkan perempuan itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerah bahkan telah memaksanya rela tidur terpisah dengan lelakinya. Malam tadi dia terlelap di tempat tidur. Hanya berteman gerah yang datang tanpa tahu malu. Sedangkan lelakinya memutuskan untuk terlelap diatas lantai tanpa alas apapun. Lelaki itu bilang benar- benar tak tahan oleh gerah ini. Perempuan itu bukannya tidak lagi setia pada lelakinya. Perempuan itu juga sebenar- benarnya tak pernah tahan dengan jajahan sang gerah. Sebenarnya, perempuan itu juga sedang berkubang dalam peluh. Peluh oleh gerah yang bercampur dengan peluh sisa- sisa persenggamaannya dengan lelakinya beberapa waktu yang lalu. Tapi dia tak pernah bisa tahan tidur diatas lantai, apalagi tanpa alas apapun. Bisa- bisa dia masuk angin esok paginya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tak pernah tahu pasti berapa suhu udara belakangan ini. Papi salah seorang sahabatnya pernah mengatakan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Huihh…panasnya seperti di emperan neraka&lt;/span&gt;”. Lalu perempuan itu mulai membayangkan bahwa neraka berbentuk deretan panjang toko- toko yang emperannya selalu panas akibat atap seng yang dipakainya. Lelucon yang cukup lucu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perempuan itu biasa mengatakan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya ampun panas sekali. Belum lagi di neraka ya…&lt;/span&gt;!!!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerah begitu menyebalkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saat sekarangpun perempuan itu sedang berusaha mengalihkan perhatian dari tetesan peluh yang aliri tubuhnya. Dia mau melupakan bulir- bulir itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, tak ada gunanya mengeluh lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu lalu pergi menuju entah mana lagi. Mungkin pada akhirnya dia akan menganggap gerah sebagai bagian dari takdirnya. Takdir yang tak bisa diubahnya, persis sama seperti lelaki itu baginya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar. Sebelum perempuan itu menutup kata, dia sempat bertanya padaku; “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa kamu juga merasa begitu tersiksa oleh gerah sepertiku?&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya iyalah…sama sepertimu. Sama persis, bahkan. Dan aku juga melakukan hal yang benar- benar sama dengan apa yang kamu lakukan. Sama persis. Benar- benar tak ada bedanya. Sedikitpun tak ada.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tak ada yang benar- benar sama persis di dunia ini selain hal itu sendiri.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oh ya???&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup…&lt;br /&gt;17:13&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-8030923154088869718?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/8030923154088869718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=8030923154088869718&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8030923154088869718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8030923154088869718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/gerah.html' title='Gerah...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6551151599862835455</id><published>2009-04-08T19:46:00.005+07:00</published><updated>2009-11-13T04:21:24.323+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='love'/><title type='text'>Sumpah I Love You...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;8 April 2008&lt;br /&gt;Pada sebuah Rabu yang gulita&lt;br /&gt;Malam menjelang Pemilu Legislatif 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi sudah gulita. Lampu- lampu sudah dipanggil menggantikan mentari yang beberapa jam yang lalu sudah menutup mata. Lalu bumi sedikit merasa benderang. Meski hanya di beberapa belahan sisinya saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menyapu waktu di salah satu ruang rumah dengan televisi beberapa inchi ini, yang menyala gempita. Stasiun TV berebut menarik hati. Lalu kuputuskan memilih salah satu diantaranya. Sebuah acara musik malam di sebuah stasiun bernama Trans 7. On the Spot hadirkan Mahadewi dengan Sumpah I Love You…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mataku telah buta&lt;br /&gt;Tak dapat melihat wajah yang rupawan lagi&lt;br /&gt;Selain dirimu…&lt;br /&gt;Hatiku sudah mati&lt;br /&gt;Tak dapat merasa kerinduan yang lain&lt;br /&gt;Selain dirimu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah I love you&lt;br /&gt;I miss you&lt;br /&gt;I need you&lt;br /&gt;Aku tak bisa musnahkan&lt;br /&gt;Kamu dari otakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Lalu otakku mulai bereaksi bagai larutan yang teroksidasi udara. Menggeliat pelan. Mencoba memaknai deretan lirik berbalut nada itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lelakiku itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh berharap untuk bisa rasai lirik itu. Untuk benar- benar mendapati perasaan yang persis sama dengan deretan panjang kata- kata dalam lagu itu. Aku mau mataku menjadi buta dan tak lagi mampu melihat wajah yang rupawan lagi selain kamu. Pun aku begitu mau hatiku mati rasa lalu tak lagi mampu merasai kerinduan untuk yang lain. Aku begitu ingin semua bagian pada diriku hanya mengkiblat pada kamu. Aku sungguh punyai harap agar bisa mengarahkan hati pikirku padanya. Begitu ingin aku hidup seperti apa yang dikata Mahadewi itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar katamu. Bahwa aku tidak bisa setia hati dan laku hanya padamu. Bahwa aku tak pernah bisa menjaga perasaanmu. Bahwa aku selalu membuatmu merasa ketar- ketir dan cemburu. Tapi harap kamu tahu satu hal. Bahwa aku hanya mau mengalihkan beban hidup. Bahwa aku tak pernah punya sedikitpun niatan untuk melangkah sendiri atau dengan lelaki bersebutan lain. Percayalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelakiku…&lt;br /&gt;Aku sadar kekuatan hatiku. Hanya aku yang sepenuhnya memahami kadar hatiku ini. Karena sebenarnya sampai saat inipun hatiku tidak pernah benar- benar mengingini siapapun. Karena memiliki adalah kesiapan untuk tersakiti. Dan dimiliki adalah kesiapan untuk kehilangan bulir- bulir kebebasan. Dan aku tak mau itu. Jika pada akhirnya aku berakhir dengan kamu maka kuanggap itu sebagai sebuah takdir yang bahkan aku sendiripun tak pernah punya daya untuk merubah. Dengan siapapun aku sekarang, aku tak pernah berhenti melangkah puaskan diri mengukur kekuatan hati. Karena aku begitu yakin bahwa aku tak akan pernah mengingini untuk memiliki pun dimiliki oleh siapapun. Bahkan aku tak pernah berfikir untuk memiliki sekaligus dimiliki lelaki. Aku hanya mau bebas merasai apapun yang aku ingini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelakiku…&lt;br /&gt;Maafkan aku…&lt;br /&gt;Maaf karena aku tak pernah punya cara benar mencintaimu…&lt;br /&gt;Maaf karena aku selalu gagal menjaga perasaanmu…&lt;br /&gt;Maaf karena aku tak pernah rela kehilangan kebebasanku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelakiku…&lt;br /&gt;Aku tahu begitu menderita bersama manusia sepertiku. Karena semua yang aku rasa tak pernah sama dengan yang seharusnya. Karena aku selau punya cara sendiri untuk nikmati semuanya. Dan karena itulah aku tak pernah sanggup berikan kebahagiaan mutlak bagimu. Maafkan aku. Maaf karena tak pernah mau dan bisa menjadi sama dengan wanita- wanita lain…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku mau kamu percaya penuh padaku. Percaya karena aku tak akan pernah menjauh darimu. Dengan siapapun aku menjajal hati, namun aku terlanjur menganggapmu sebagai sebuah takdir. Dan kamu adalah takdirku yang tak bisa dirubah. Maka aku akan selalu ada untukmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;19:34&lt;br /&gt;Para nyamuk sedang asyik melenggang...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6551151599862835455?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6551151599862835455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6551151599862835455&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6551151599862835455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6551151599862835455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/sumpah-i-love-you.html' title='Sumpah I Love You...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5481061547688073080</id><published>2009-04-07T20:33:00.000+07:00</published><updated>2009-04-07T20:34:57.256+07:00</updated><title type='text'>Berita dari Ratri...</title><content type='html'>Mojokerto&lt;br /&gt;Tertanggal 6 April 2009&lt;br /&gt;Masih di sebuah Senin&lt;br /&gt;14:20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu cepat hati berubah rasa. Pagi tadi aku masih nyaman dengan semua yang aku punyai. Sekaligus dengan semua yang masih belum kumiliki. Lalu aku bisa dengan perasaan lenggang mengukir kata tentang televisi. Aku merasa begitu bebas dan punya kuasa atas diriku sendiri. Aku bahagia dengan apa yang aku miliki. Pun aku tidak pernah keberatan karena tidak memiliki apa yang sudah dimiliki orang- orang lain. Aku merasa begitu baik- baik saja dengan apa yang ada. Dan yang paling penting adalah aku bisa merasa begitu bahagia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hari tetap berlari hingga kemudian aku bertatap muka dengan siang yang muntahkan aku pada kesadaran tentang keegoisan serta idealisme seorang aku. Dan aku mulai merasa begitu tertinggal dari yang lain. Aku merasa tak mampu beri bahagia dan bangga bagi semua yang ada disekitarku. Dan aku merasa begitu bodoh karena punya tingkat egois dan idealisme terlampau tinggi. Dan aku mulai mempermasalahkan apa yang belum aku punya. Kemudian aku merasa sungguh gagal…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun kini hari sudah semakin rapat dengan sore. Sebuah pesan pendek kuterima dari seorang sahabat, Ratri. Beberapa baris kalimat tertera disitu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bad news, Ai. Aku dah ga punya teman kerja lagi. Dah dipecat seminggu yang lalu. Nganggur lagi. Cobaan lagi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beberapa rasa terasa berkumpul. Yang paling awal terasa adalah terkejut. Kupikir Adri dan Ratri sedang hidup dalam lingkaran kenyamanan. Kupikir mereka sedang asyik memadu hidup bersama senyuman. Ternyata tidak!!!Kemudian aku merasa sedikit melega. Kenapa? Karena aku merasa tidak sendiri. Aku merasa sedang tertinggal di suatu titik dengan beberapa sahabat yang begitu setia. Lalu aku mempertanyakan; Apa kesetiaan persahabatan harus dibuktikan dengan cara seperti ini? Apa harus? Aku, Ratri, Adri dan Naen sedang berada pada titik yang sama. Kami sebenarnya sedang menangis bersama- sama. Kami sedang saling menggenggam tangan dan enggan ditinggalkan. Lalu jalan terbaik adalah salah satu diantara kami harus berdiri lalu kembali berlari meraih mimpi sambil menarik tangan kami. Mungkin dengan cara itulah kami bisa lepas dari titik kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, aku begitu bosan harus terus menuliskan keremangan seperti ini. Aku begitu lelah terus merasai lelah ini. Aku begitu ingin mengganti tema Asunaro. Mengganti keremangan ini menjadi kehangatan bahagia. Kapan waktunya? Semoga segera…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang begini…&lt;br /&gt;Yang kutahu Adri dan Ratri sedang mendung…&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Naen?&lt;br /&gt;Apa dia juga sedang meremang?&lt;br /&gt;Ataukah dia sedang bergelimang senang?&lt;br /&gt;Aku yakin kami sama…&lt;br /&gt;Karena kami adalah sahabat setia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari benar mendung&lt;br /&gt;14:55&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5481061547688073080?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/5481061547688073080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=5481061547688073080&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5481061547688073080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5481061547688073080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/berita-dari-ratri.html' title='Berita dari Ratri...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-299482299612027119</id><published>2009-04-07T20:23:00.000+07:00</published><updated>2009-04-08T20:12:40.817+07:00</updated><title type='text'>Televisi....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sdyh8_khOuI/AAAAAAAAADw/YFN6NqNxxac/s1600-h/televisi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sdyh8_khOuI/AAAAAAAAADw/YFN6NqNxxac/s200/televisi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322306928873913058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;Pada sebuah Senin muda&lt;br /&gt;Tertanggal 6 April 2009&lt;br /&gt;10:44&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huuhh…Akhirnya aku bertemu kembali dengan hari ini. Sebuah Senin. Sebuah kesendirian lagi. Lelaki itu sudah melebur bersama udara pagi tadi. Apalagi kedua orang tuaku yang menjemput pagi di halte terawal. Akulah yang sendiri disini. Bersama beberapa helai harapan kosong karena nyatanya aku masih begitu enggan berharap lagi. Well, sebenarnya aku tidak begitu sendirian. TV masih nyaman menjadi temanku pagi ini. Lampu putih ruang tengah inipun sengaja kuminta menggantikan kehadiran matahari yang tertutup dinding. Aku segera menghela nafas dalam. Tak tahu juga untuk tujuan apa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RCTI sedang menampilkan tayangan rating tingginya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dahsyat&lt;/span&gt;, yang bernyawakan Olga Syahputra, Raffi Ahmad juga Luna Maya yang adalah wanita sempurna bagi lelaki mayaku kala itu. Omar Randu begitu menyanjung tinggi Luna Maya. Lalu aku mulai tidak menyukai Luna. Maafkan aku, Luna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Global TV sedang menghiburku melalui telenovelanya,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Marichuy&lt;/span&gt;. Sedikit melawan arus hiburan masa kini yang sedang begitu didominasi oleh program musik pop Indonesia yang sekarang jadi penguasa di negerinya sendiri. Meski demikian, telenovela sempat juga menjadi ratu di jagad hiburan negeri merah putih ini. Hampir semua stasiun TV gandrung menayangkan telenovela, mulai dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maria Marcedes, Maria Cinta yang Hilang, Kassandra, Rosalinda&lt;/span&gt; dan entah apalagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Trans 7 sedang asyik menyajikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;60 Minutes&lt;/span&gt;-nya. Sebuah acara musik yang dipadukan dengan beberapa tantangan untuk beberapa remaja ibukota yang sengaja dicari pembawa acara di beberapa tempat. Kali ini tantangannya bernama&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Tantangan Suit Istimewa&lt;/span&gt;. Beberapa remaja itu diadu suit dengan sesamanya. Yang kalah harus makan telur, mentega atau susu coklat yang sudah tersedia rapi diatas meja taruhan. Dan pemenangnya mendapat tunai Rp.350.000. Taruhan selesai. Sekarang waktunya D’Masiv datang dengan Cinta Sampai Disini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengganti channel TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sedang terhenti di Trans TV yang sedang nyaman mengumpulkan Rupiah melalui penayangan iklan- iklan seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Molto Ultra, Shower to Shower, Rexona, Sprite Zero&lt;/span&gt; (aku masih belum sempat mencoba rasa baru ini. Mungkin kapan- kapan saja), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Citra&lt;/span&gt; sabun cair, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sunlight&lt;/span&gt; dengan agen 1000 nya. Selesai. Sekarang sedang ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Insert&lt;/span&gt;. Program gosip unggulan halte TV ini. Berita pernikahan Nirini dan Ernest. Baiklah, semoga mereka berbahagia. Selamanya. Amin. Tapi sayangnya aku tidak terlalu tertarik pada pernikahan bintang itu. Sama sekali tidak terlalu ingin tahu. Artinya, aku masih bersedia menonton meski tak terlalu memasang telinga dan mata untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, aku ingat beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih dicatat mahasiswa Sastra Inggris Universitas Brawijaya Malang angkatan tahun 2001. Kala itu aku menobatkan diri sebagai Manusia Bebas Asap TV. Bukan asap rokok lho! Mmmmm…kala itu aku dengan pertimbangan khusus mencanangkan batas maksimal jam nonton TV. Cuma 2 jam sehari semalam. Jadi aku masih harus mencari- cari kegiatan lain untuk dilakukan dalam 22 jam sisanya. Tidur, ibadah, membaca, belajar, mencari uang saku tambahan dan bersenang- senang masuk dalam daftar kegiatan yang harus dilakukan setiap hari. Dan aku berhasil!!! Hingga sekarangpun aku tidak terlalu hobby nonton TV. Bahkan bagiku sekarang TV lebih berperan sebagai teman yang menambah gempita rumah. Bukan sebagai sarana hiburan wajib tonton. Meski demikian aku hampir tidak pernah menjadikan TV sebagai nada nina bobo mengantarku menjemput mimpi. Bagiku, begitu tidak pantas membiarkan TV menyala sedang kita sendiri sedang tidak menyala. Gunakan energi sesuai dengan kebutuhan. Aku tergolong bawel dalam hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali menghela nafas panjang. Juga dalam. Terasa sedikit lega rasanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kini aku beralih ke SCTV yang kebetulan sedang merubah diri jadi wahana iklan. Beberapa iklan bergantian tampil di layar. Tak perlu aku sebutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar, aku perlu ke kamar mandi dulu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nescafe original 3 in 1 &lt;/span&gt;tadi pagi rupanya sudah menunjukkan taringnya. Aku jadi lebih sering pipis.  Ups, maaf…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin makan. Sebenarnya. Alasannya bukan karena lapar. Tapi karena menunya yang begitu menggugah lidahku untuk kembali merasai. Menu sederhana. Namun pengaruhnya begitu kuat mengikat lidahku. Sambal tomat pedas ditambah lalap kacang panjang muda dipadukan ikan bandeng, pindang dan tempe. Wiueeehhh, benar- benar menyayat lidah. Tapi aku akan menahan diri. Menunda diri untuk tidak makan barang beberapa lama lagi. Jarak makan pagiku masih terlalu pendek. Cuma 3 jam. Kupikir waktunya harus diperpanjang dulu. Setidaknya sampai 4,5 atau 5 jam. Baiklah, aku harus berhenti membahas menu. Bukan lambung yang marah, melainkan lidah yang mungkin akan semakin ngambek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela nafas panjang lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi yang harus kutuangkan ya?!!&lt;br /&gt;Belum ada ide lagi tuh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, aku tidak lagi tahan mendengar rengekan lidahku. Aku makan sekarang. Demi lidah. Bukan demi kepentingan lambung….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makan dulu ya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;11:47&lt;br /&gt;Diakhiri dengan ritual mengisi perut…&lt;br /&gt;Manusiawi sekali…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-299482299612027119?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/299482299612027119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=299482299612027119&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/299482299612027119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/299482299612027119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/televisi.html' title='Televisi....'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sdyh8_khOuI/AAAAAAAAADw/YFN6NqNxxac/s72-c/televisi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-1637644882606292618</id><published>2009-04-04T17:38:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T18:16:54.400+07:00</updated><title type='text'>Disaat apa yang ada terasa begitu tak berasa...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddBmiZ1EXI/AAAAAAAAACY/YFN1uGYezds/s1600-h/mitha.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddBmiZ1EXI/AAAAAAAAACY/YFN1uGYezds/s320/mitha.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320793615087505778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Sayangnya aku masih juga di) Kediri&lt;br /&gt;Sehari setelah pernikahan Adri dan Ratri…&lt;br /&gt;Pada sebuah malam yang terasa begitu senyap meski semua masih belum terlelap…&lt;br /&gt;21.43&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa sedang terhempas begitu jauh dari yang dinamakan kenyamanan hidup meski dengan sekuat rasa aku berusaha tetap berada di tengah hingar- bingar dunia malam. Nyatanya aku merasa ada saja bagian yang hampa. Tawa- tawa yang terdengar bukanlah dariku. Aku hanya membisu sendiri dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notebook &lt;/span&gt;ini. Berusaha menikmati dunia lewat sebuah layar 14” yang bisa dengan sabarnya membawaku pada apa yang kuingini. Pada sebuah malam temaram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak yang sedang kutahan rapat karena aku tidak yakin dengan kemampuanku dalam mengkonversikannya dalam bentuk kata bernyawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kuhirup aroma bunga itu. Empat batang bunga Sedap Malam yang memang kukagumi karena aroma sedapnya di malam hari. Menghela nafas sambil merapikan beberapa helai rambut yang menjuntai tak sedap dipandang. Meski aku sedang hanya berteman entah, tetap saja aku merapikannya, dengan alasan kenyamanan menangkap rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;OST. Cayman Island by Kings of Convenience&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahkan denting senyaman inipun masih saja gagal ubah tema hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku rasa adalah kehilangan semua yang ingin kurasai. Kehilangan entah apa, yang jelas aku merasa sangat kehilangan. Rasanya tidak ada lagi yang bisa dirasai. Dan, percayalah ini rasanya begitu menganggu. Disaat apa yang ada terasa begitu tak berasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainanku dengan lelaki mayaku itu juga sudah tidak lagi bisa menyalakan jiwa padamku. Yang sedang aku lakukan bersamanya hanyalah berusaha mempertahankan posisi agar aku tidak jadi pecundang dalam permainan hati ini. Hanya itu saja. Aku baru bisa keluar dari arena saat dia benar- benar yakin aku terlalu berharga untuk begitu saja dilepaskan bahkan dilupakan. Itu saja tujuan akhirku. Bukanlah semua pasti mau jadi pemenang dalam setiap permainan? Begitu manusiawi karena memang aku hanyalah manusia bernyawa biasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku- buku itu bukan lagi teman yang baik. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;A Mil&lt;/span&gt;d ataupun &lt;span style="font-style:italic;"&gt;LA Light&lt;/span&gt; juga tidak terlalu setia padaku lagi. Bahkan dering &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handphone &lt;/span&gt;pun tidak terlalu menarik perhatianku lagi, kecuali deretan nomor lelaki mayaku itu yang tampil dilayar. Itupun hanya dengan obsesi menjadi pemenang. Intensitasku bersinggungan dengan nada kata juga sudah semakin menurun. Aku sedikit meragukan kemampuanku menulis kata hati. Para kolega nyata juga sedang nyaman dengan kehidupannya sendiri sehingga sangat tidak mungkin aku kemudian datang terlalu sering hanya untuk berbagi jeritan. Mereka tidak akan bisa mendengarnya karena terlalu lirih, mungkin. Lalu aku mau kemana sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba- tiba aku merasa ada yang akan menyembuhkanku. Menghambakan waktu sejenak pada film! Baiklah, aku akan segera mengawalinya sekarang. Kalaupun tidak sekarang, setidaknya aku akan segera melakukannya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Really soon!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku pamit sekarang…&lt;br /&gt;22.12&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-1637644882606292618?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/1637644882606292618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=1637644882606292618&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1637644882606292618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1637644882606292618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/disaat-apa-yang-ada-terasa-begitu-tak.html' title='Disaat apa yang ada terasa begitu tak berasa...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddBmiZ1EXI/AAAAAAAAACY/YFN1uGYezds/s72-c/mitha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-1618839092754986865</id><published>2009-04-04T17:35:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T17:38:01.937+07:00</updated><title type='text'>Indahnya sebuah kehampiran....</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Masih) bersetting Kediri&lt;br /&gt;10:14&lt;br /&gt;10 November 2008, di suatu Senin pagi….&lt;br /&gt;Indahnya sebuah kehampiran…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara masih juga bersahabat. Langitpun masih memilih warna kelabu untuk membuka hari ini. Hari ini tidak bisa dikatakan cerah tapi karenanya hatiku menjadi tenang karena merasa tidak sedang diburu mentari yang kadang datang bawa gerah. Aku merasa nyaman…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Cuaca seperti inilah yang selalu aku cinta. Dan kini kudapati di Kediri. Aku baru sadar kalau ternyata Kediri juga mempunyai deposit cuaca seperti ini. Atau mungkin dulu aku masih terlalu tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kediri adalah setting hidupku jadi semuanya terasa jauh dari kata indah. Meski sekarangpun aku masih merasa biasa- biasa saja terhadap kota tahu ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, ini kedua kalinya aku menulis dengan hati yang tak sedang teriris miris. Aku sedang nikmati pagi dengan nyamannya. Serasa tidak ada beban apapun yang sedang bertengger di pundakku. Rasanya begitu ringan. Menurut perkiraanku, hal ini merupakan efek kehampiran yang sedang aku alami. Hampir beralih ke tahap dan (mungkin) &lt;span style="font-style:italic;"&gt;setting &lt;/span&gt;kehidupan lainnya. Selanjutnya masih berupa misteri jalan tak bercahaya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya sesuatu yang akan ditinggalkan akan tiba-tiba melahirkan keindahan hingga makhluk fana sepertiku akan merasa berat melangkah ke jalan lain. Namun entah karena apa, hal itu tidak terjadi padaku. Aku hanya merasa ringan. Tidak terlalu terjebak dalam dilema keindahan masa yang hampir disebut sebagai masa lalu ini. Semuanya tampak biasa saja sehingga aku merasa “ya sudahlah, mungkin memang masaku di Kediri sudah habis dan aku memang sedang ingin merasai setting kehidupan lainnya”. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;That’s all&lt;/span&gt;! Terkesan begitu sederhana meski aku tidak berusaha menyederhanakannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha memanggil kembali ingatanku tentang kota ini beserta semua komponen di dalamnya. Memang aku bisa memanggilnya kembali tapi semuanya terasa biasa. Semuanya terasa tidak perlu terlalu ditangisi. Bukannya tidak berkesan tapi terkesan biasa saja. Entah apa penyebabnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah “kehampiran” memang adalah puncak keindahan. Semua terasa begitu patut dinikmati. Kini aku mulai berharap untuk selalu berada dalam fase kehampiran seperti ini. Hampir meninggalkan masa sekarang dan hampir tapaki jalan gelap lainnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OST. Malaikat Juga Tahu oleh Dewi Lestari. &lt;br /&gt;“Namun tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan…”&lt;br /&gt;Sampai detik ini aku masih juga menggagumi Lukman Sardi. Hebat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I do love the almostness…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan waktu terus berlalu agar aku beralih pada kehampiran yang lainnya…&lt;br /&gt;Semoga hari ini benar indah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa serangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I hate Monday syndrome…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;10:38&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-1618839092754986865?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/1618839092754986865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=1618839092754986865&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1618839092754986865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1618839092754986865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/indahnya-sebuah-kehampiran.html' title='Indahnya sebuah kehampiran....'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3409574572982136267</id><published>2009-04-04T17:31:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T17:32:01.879+07:00</updated><title type='text'>Tertanggal 5 Februari 2009...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;5 Februari 2008&lt;br /&gt;Pada sebuah Kamis siang dengan angin membumbung….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sekarang suka melamun. Merasa bosan dengan kealpaan harapan dan selalu datangnya beban- beban. Bahkan menuangkan perasaan dalam catatanpun bukan pilihan terhebat untuk singkirkan muramnya perasaan. Harus ada cara lain usir kesepian. Lalu aku putuskan untuk melamar lamun menjadi teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pucuk harapan yang dulu berdiam dalam jiwa insaniku kini lenyap teriris gerimis hari kemarin. Kini tak ada apapun. Pucuk- pucuk itu tak lagi mampu tepati janji untuk selalu nyamankan perasaan. Ini bukan yang dia harapkan, aku yakin. Pengingkarannya, mungkin, karena musim ini bernama penghujan. Perjuangannya harus berakhir dengan kekalahan lalu harus terima untuk dihilangkan. Setelah pucuk- pucuk harapan itu tak lagi berpengharapan, aku harus terus hidup bersama ketidaknyamanan. Tapi aku harus terus terlihat nyaman agar terhindar dari pertanyaan- pertanyaan “mengapa” dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Aku menyerah. Aku tak mau lagi bersikukuh. Aku sudah sedikit lelah dengan beberapa tingkat lemah. Tak lagi mampu bermimpi terlalu tinggi dan pongah. Takut kembali ditinggalkan harapan yang kala itu masih hanya sebagai pucuk- pucuk kecil tanpa rasa serakah. Lalu kemana lagi aku mau melangkah? Biarkan aku sedikit waktu untuk berbenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah aku menghela nafas? Sebentar saja agar aku sedikit merasa bebas meski hidup menghimpitku dengan begitu keras. Wajahku sudah tampak begitu memelas hanya untuk menipu hidup agar hidup tak lagi bertindak terlampau keras padaku yang kini sudah melas. Sebentar lagi airmata pasti akan melangkah deras. Tapi aku akan membujuknya datang di teras wajah orang lain saja; hanya karena satu alasan lugas. Aku tak mau dianggap kalah dan tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya perlu rehat sebentar. Hanya sekedar untuk melepaskan semua indra dari tuntutan peran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3409574572982136267?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3409574572982136267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3409574572982136267&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3409574572982136267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3409574572982136267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/tertanggal-5-februari-2009.html' title='Tertanggal 5 Februari 2009...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-8684395432765739801</id><published>2009-04-02T11:55:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T11:57:24.317+07:00</updated><title type='text'>Dengan perasaan tak berguna...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kediri&lt;br /&gt;2 Desember 2008&lt;br /&gt;Pada sebuah Selasa siang yang (seperti biasa) terasa begitu gerah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari keduaku pada status baru ini. Terasa begitu membosankan. Tidak ada lagi yang bernama rutinitas karena semua bisa dilakukan kapan saja tanpa jadwal pasti. Aku sebenarnya tidak keberatan dengan status dan hilangnya rutinitas itu. Aku hanya merasa miris kala mengingat betapa tidak bergunanya aku sekarang ini. Tidak melakukan apapun demi orang lain. Batinku begitu sakit menyadari keberadaanku disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya bukan karena aku merasa ingin dan seharusnya kembali ketempat semula. Sungguh bukan itu! Kalaupun aku kembali ditanya tentang kemauanku, aku tidak akan menjawab aku mau kembali kesana. Aku tidak terlalu berminat kembali pada sesuatu yang dulu pernah kurasai. Ada banyak kecewa disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah perasaan tidak berguna ini. Itu saja. Terus berada dirumah sama halnya dengan memperkuat kenyataan bahwa tidak ada seorangpun membutuhkanku hingga aku akhirnya terpaksa memilih untuk tetap tinggal. Penghiburanku sekarang adalah melewatkan malam berada entah dimana, yang jelas diluar rumah. Dengan begitu aku merasa biasa. Aku merasa tidak ada yang berbeda karena disaat aku masih punya rutinitas dulu aku juga meluangkan waktu untuk bersenang- senang di malam hari. Terasa tidak ada yang beda meski sebenarnya semua tidak lagi sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku khawatir otakku berhenti bekerja maksimal karena terlalu lama tinggali kenyamanannya tanpa harus dipaksa untuk menjadi lebih produktif lagi. Aku juga tidak mau ragaku terus menjadi lunglai karena merasa tidak perlu harus melakukan sesuatu. Bathinku sudah jelas merasa malu. Ditambah lagi dengan dugaan bahwa kolegaku akan perlahan namun pasti segera menghapus aku dari ingatannya karena tertimbun oleh ingatan lainnya. Tetap saja aku tidak mau kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku adalah manekin bumi yang lengkap dengan kostum idealis dan aksesoris keras kepala. Merasa selalu yakin akan dikagumi untuk kemudian dibeli dan dinikmati pembeli. Beberapa penggal nafasku memang begitu keras. Aku masih merasa begitu yakin untuk bisa segera dapati kebahagiaan jenis lain. Semua pasti ada saatnya. Lalu kini aku mendoa agar aku segera dipertemukan dengan saat itu agar aku tidak lagi merasa tersingkir dari percaturan bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih juga disini melukiskan apa yang dilukiskan hatiku. Jemariku semakin lincah berdendang diatas keyboard karena hanya ini yang aku harapkan bisa jadikan aku sedikit lebih berguna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang mempertanyakan keberanianku (atau bisa juga disebut kenekatanku) untuk memutuskan keluar dari zona aman. Sebuah keputusan yang mungkin jarang terlintas dibenak para fana lain. Butuh keberanian super untuk memutuskan menapaki jalan gelap lagi setelah selama beberapa penggal waktu berada di jalur bebas hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali menjadi begitu lemah. Terus saja merasa ingin ungkapkan rasa lewat airmata. Aku takut terjebak dalam idealismeku sendiri. Takut kalau aku tidak lagi mampu bangkit membangun istana bahagia. Aku kuatir kalau aku tidak lagi punya keberanian untuk menjalani resiko dan membuka jalan bagi cahaya bahagiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya aku sedang mempunyai banyak sekali pilihan yang masing- masing diantaranya akan membawaku pada akhir yang berbeda. Entah menjadi lebih baik, lebih buruk dulu untuk kemudian mata awasku merasa perlu harus bekerja lebih keras lagi untuk capai baik, atau selamanya berada dalam tidak baik. Terlalu banyak pilihan itulah yang membuatku melemah, sisi Geminiku mendominasi hingga aku kehilangan keberanian untuk yakin pada satu jalan untuk kemudian terus melaju sampai dapati akhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga dan hatiku melemah dan merasa sangat perlu dihibur sesuatu. Seingatku aku belum pernah merasa selemah ini. Meski dulu aku pernah jalan terseok tapi keyakinanku capai titik puncak. Tapi kini rasanya keyakinan dan jiwaku sedang sama- sama melemah. Takut menarik keputusan lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana? Aku tidak mau lemah. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan siapapun. Mulai sekarang aku akan tentukan arah lagi. Aku tidak lagi mau perduli terhadap arah angin yang mungkin akan mengganggu langkah kakiku. Sekuat apapun angin membawaku kembali, aku masih tetap bisa melangkah maju. Bedanya hanya pada jarak tiap langkah kaki ini, tidak akan terlalu jauh, namun tetap saja namanya adalah melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau merasai semua yang memang aku maui. Bukan atas dasar ilmu yang kugenggami karena kutahu hal itu tidak terlalu nyaman. Aku harus mendobrak pintu untuk bisa keluar dari konvensi dan pikiran orang lain. Aku tidak lagi mau perduli. Biarlah aku dianggap remeh. Aku hanya mau merasai bahagia versiku sendiri. Itu saja. Aku sudah memutuskan untuk lebih kuat. Hari ini aku menunaikan niat. Belum juga tahu kapan jadikan niat itu sebagai nyata. Aku tidak mau lagi merasa tidak berguna. Aku harus segera bergerak tembus konvensi. Cari bahagia dan bebaskan jiwa. Aku sudah memutuskan keluar secara baik- baik dari dunia formalitas. Aku harus konsisten. Tidak ada lagi penyesalan pun keinginan untuk kembali. Harus membuat jalan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau undur diri dari rasa sepi. Berpamitan baik- baik dari rasa tidak berguna. Aku mau segera masuki dunia tanpa nama yang bisa sajikan bahagia untuk seorang fana sepertiku. Kini aku siap. Segera mulai rasai nyawa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya aku masih juga merasa tak berguna…&lt;br /&gt;Karena aku masih disini sambil berusaha mencari cara luapkan rasa…&lt;br /&gt;Harusnya aku lakukan sesuatu untuk orang lain…&lt;br /&gt;Agar jiwa dan ragaku merasa dibutuhkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa lega hanya saat terlelap meski tidak mudah untuk mengatupkan mata saat otak sedang berontak. Aku mau terus pulas agar semuanya terasa baik- baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kipas angin itu terus berusaha menghiburku…&lt;br /&gt;Aroma sedap malam ini memang kukagumi…&lt;br /&gt;Sekian untuk saat ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;16.11&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-8684395432765739801?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/8684395432765739801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=8684395432765739801&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8684395432765739801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8684395432765739801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/dengan-perasaan-tak-berguna.html' title='Dengan perasaan tak berguna...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6197966530757461705</id><published>2009-04-02T11:54:00.001+07:00</published><updated>2009-04-04T18:28:55.177+07:00</updated><title type='text'>Malam bergerimis...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddEYwfXMYI/AAAAAAAAACo/PL7Out3X3nE/s1600-h/payung.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddEYwfXMYI/AAAAAAAAACo/PL7Out3X3nE/s200/payung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320796676885524866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;Di tengah gerimis yang enggan meringkas diri…&lt;br /&gt;25 Pebruari 2009&lt;br /&gt;Pada sebuah Rabu malam&lt;br /&gt;22:17&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasaku melega. Hari rasanya berlalu dengan kecepatan sedikit meninggi. Begitu cepat aku bertemu dengan pertengahan minggu yang akan segera mempertemukanku dengan akhir pekan yang selalu mengesankan. Tak banyak yang sudah aku kerjakan. Meski demikian aku merasa bisa melalui waktu secara cepat. Bagiku setiap hari berasa sama, tanpa pertanda. Setiap hari mempunyai rasa sinar mentari yang sama. Gerimis juga selalu setia padanya. Bahkan anginpun kadang datang dengan aroma hembusan yang cenderung sama. Arak- arakan warna langit juga masih sama juga; cepat berubah. Kadang begitu putih lalu tiba- tiba karena desakan musim akan segera berganti cat menjadi kelabu atau bahkan gelap. Jika bisa aku sedikit berkuasa maka semua hari akan kuberi nama sama. Karena bagiku semua sama. Tak ada beda. Bahkan sedikitpun tak berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu nada persinggungan jemari dengan lantai notebook ini. Nada yang begitu nyaman tertangkap telinga. Nada yang begitu menjanjikan kebebasan rasa. Nada yang selalu memberi lega atas hatiku yang enggan mengembang. Nada yang ungkapkan romantisme benda mati yang mampu hidupkan nyawa suri. Entah apa yang benar terasa indah dari persinggungan jemari dan keyboard ini. yang jelas bagiku nada yang dilahirkan mampu sedikit sedekahkan ketentraman bagi jiwa. Dan malam ini aku sedang merinduinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis masih enggan undur diri. Mungkin dia mau lebih lama jadi bagian nyawa manusia. Ikut serta dalam hiruk pikuk kehidupan dan berharap bisa beri irama basah. Gerimis sedang asyik berpadu dengan malam sambil menimang- nimang keramaian hingga terlelap bersama sepi. Gerimis benar- benar mampu menyulap sore menjadi begitu senyap serupa dini hari yang masih dingin, sepi dan berembun. Kehidupan manusia seakan terbujuk untuk sejenak terhenti lalu merubah wujud manusia melalui lelap. Semua menjadi begitu nyaman bertegur sapa dengan mimpi. Tapi aku masih enggan menutup hari ini. Aku masih berharap bisa lukiskan kesenyapan malam ini. Agar suatu masa nanti senyap ini bisa kembali hidup dalam ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin muda tiba- tiba menyelinap masuk melewati pori- pori dinding dan lembut menyapa korden putih kamar luas ini. Mereka mungkin bercinta, mengingat hari sudah begitu sunyi sehingga indah bila bercinta. Biarlah mereka bersama- sama membakar birahi. Aku hanya mau hirup asapnya saja. Asap birahi benda mati yang sedang bercinta itu bisa jadi adalah penyedap rasa sunyi malam ini. Menciptakan aroma baru tanpa nama tapi begitu lezat jika dirasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh malam….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam selalu begitu aman bagiku. Ada banyak keindahan yang tersaji. Bisa dinikmati tanpa merasa tak aman. Mungkin karena keremangannya. Aku pecinta malam apalagi malam bergerimis seperti sekarang ini. Aku benar mencintainya. Dan tak pernah sedikitpun merasa harus jenuh oleh rasa cinta itu. Jika ditimbang mungkin akan terlihat jelas berapa karat rasa cintaku padanya dan karat itu takkan mengalami perubahan kuantitas pun kualitas. Takkan menambah pun tak kuijinkan berkurang. Akan selalu sama persis jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku mulai mengingatkanku untuk segera menutup hari. Mereka sudah cukup lelah. Tapi aku masih merasa bahwa goresan ingatan ini masih terlalu sedikit untuk disudahi. Aku masih mau mengungkit beberapa hal lagi. Tapi entah apalagi. Mungkin aku masih butuh waktu sedikit lagi. Perlu beberapa waktu berjeda. Agar otak bisa lahirkan kandungan bayinya. Lalu kutuliskan disini. Lalu kulukiskan wajah bayi itu. Bayi sang ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah…sudahlah. Tak ada lagi yang kunanti. Baiknya aku menutup hari. Sudah saatnya memberi kesempatan diri untuk rehat. Rehat untuk kemudian hidup kembali pada masa dengan nama berbeda. Merangkak dan menyentuh Kamis. Melepaskan Rabu kembali ke udara lalu menghilang ditelan ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini masih gerimis. Aku masih mendengarnya dengan jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau mengatup lagi seperti malam sebelumnya. Sendiri juga. Berteman irama gerimis yang lagi merana lelah karena tak kunjung mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat beristirahat.&lt;br /&gt;Selamat menutup hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;22:59&lt;br /&gt;Lelah….&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6197966530757461705?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6197966530757461705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6197966530757461705&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6197966530757461705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6197966530757461705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/malam-bergerimis.html' title='Malam bergerimis...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddEYwfXMYI/AAAAAAAAACo/PL7Out3X3nE/s72-c/payung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3886421807293239351</id><published>2009-04-02T11:50:00.001+07:00</published><updated>2009-04-02T11:51:58.237+07:00</updated><title type='text'>Merekam malam tanpa seni...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kediri&lt;br /&gt;Pada awal bulan Desember 2008&lt;br /&gt;Di sebuah hari bernama Senin yang (pasti) tidak akan berulang…&lt;br /&gt;22.04&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sudah semakin melarut namun aku masih setia pada dunia luar. Aku merasa lebih bebas berada diluar karena udara bersih ini begitu erat pengaruhi hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja menitipkan bagian hidupku di sebuah tempat bernama Juice 22. Bersama seorang lelaki yang sampai saat ini masih rela membagi hidup dengan seorang manusia sepertiku. Meski sedang bersama, rasanya nyawa kami sedang menatap dunia yang beda. Aku sedang menyenggamai layar berisi kata ini sedangkan dia sedang bermesraan dengan layar lain dengan tombol kecil bernama handphone. Gelas juice apokat kami masih hampir penuh karena kami baru saja mengisi daftar hadir disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku merasa ada yang masih perlu ditunggu kehadirannya. Sedikit hal yang masih kurang. Biasanya aku berteman beberapa batang rokok yang selalu mengajak serta asap dan api kecil yang artistik itu. Sekarang rasanya tidak begitu mungkin. Aku tidak sedang berada di ruang pribadiku dan aku tentu saja tidak mau dianggap murah dengan membiarkan putung rokok menyentuh bibirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan dia sedang bersama- sama singgungi bumi di larut ini. tetap saja kami memutuskan untuk menikmati malam dengan cara masing- masing. Aku tetap dengan otak dan isinya, sedangkan dia dengan sebatang rokok A Mild dan Mirc-nya. Aku tidak keberatan dengan semua yang ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lelaki malam masih berusaha nikmati heningnya malam. Beberapa diantaranya membentuk koloni lalu memperbincangkan topik ringan meski aku yakin sepenuhnya bahwa otak besarnya tidak hanya berisi hal- hal ringan yang kali ini sedang tersaji dalam meja koloni mereka. Ada juga koloni lelaki malam yang sengaja menghabisi malam bersama beberapa teguk minuman haram. Tidak ada perasaan resah apalagi takut meski mereka beradius sangat dekat denganku. Bisa jadi jiwa pengecutku sedang menciut hingga aku dengan santainya berlayar dalam kapal malam yang sama dengan mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jiwaku tidak sedang goyah atau bahkan bersedih hingga sangat sulit bagiku untuk menikahkan deretan huruf- huruf ini menjadi kata- kata indah penggugah nyawa. Alasanku hadir disini hanya karena aku mau merekam masa ini, sebuah masa yang pasti takkan berulang (untuk alasan apapun) hingga membuatku merasa siap terus melangkah maju karena merasa punya media untuk kembali merindui lalu sedikit cicipi masa sekarang. Suatu saat dimasa depan nanti pasti aku akan kembali rindui semua yang sedang aku rasai malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski malam sudah melarut, lebih larut dari sebelumnya, tapi dingin masih juga enggan rapati ragaku. Masih saja aku merasa nyaman dengan semua yang ada.  Aku masih tidak keberatan merekam hari disini meski seharusnya aku berada di ruang pribadiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah para lelaki pencumbu malam itu tidak tertangkap jelas karena memang malam begitu erat memandu kelam bersamanya. Yang aku pastikan adalah mereka juga sedang mencari cara mengucapkan selamat datang pasti hari berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus segera berakhir karena layar ini tidak mengijinkan aku menyenggamai malam dengan intensitas lebih tinggi lagi. Maka baiklah aku akan undur diri lalu meningkatkan konsentrasi pada juice apokat yang masih beberapa senti berkurang ini. Aku masih belum ahli membagi konsentrasi hingga semua hal harus dilakukan satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin merekam hari meski tak ada kata yang terdorong keluar dari ingatan…&lt;br /&gt;Aku kembali mencintai malam…&lt;br /&gt;Bahkan belakangan ini aku jadi jauh lebih mencintainya…&lt;br /&gt;Mungkin karena hatiku sedang kurang berasa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;22.35&lt;br /&gt;Terhenti oleh sebuah kondisi &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3886421807293239351?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3886421807293239351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3886421807293239351&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3886421807293239351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3886421807293239351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/merekam-malam-tanpa-seni.html' title='Merekam malam tanpa seni...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-6901446661991763342</id><published>2009-04-02T11:48:00.000+07:00</published><updated>2009-04-08T13:23:20.506+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang hati...'/><title type='text'>Pada sebuah malam yang telah diliputi lelah...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SdxCVfZf2ZI/AAAAAAAAADg/PDjfmOZshl8/s1600-h/aku-lelah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 188px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SdxCVfZf2ZI/AAAAAAAAADg/PDjfmOZshl8/s200/aku-lelah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322201796618213778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pada sebuah malam yang telah diselimuti lelah…&lt;br /&gt;Masih juga bersetting Kediri&lt;br /&gt;Pada sebuah Rabu tertanggal 26 November 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku tiba- tiba melemah. Merasa tidak yakin akan bisa kembali dapati sebuah tempat lagi. Bathinku merasa enggan lepaskan hari ini. Aku mulai mendapati apa yang sebenarnya sedang aku cari dari sebuah kehampiran. Kali ini aku tidak sedang melebih- lebihkan rasa. Ini memang benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan yang telah tertapaki sekian lama kini harus dilepas untuk kemudian digantikan dengan sebuah kebebasan mutlak atas kehidupanku. Tidak akan ada lagi keluhan tentang kelas- kelas menyebalkan. Jenuh atas rutinitas juga telah terhapuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah apakah aku bisa tetap hidup dengan ketiadaan rutinitas. Lalu apa yang akan aku lakukan? Akan bahagiakah aku? Dimana aku akan berada? Dan yang terpenting adalah apakah namaku akan terus ada dalam benak semua yang sedang akan aku tinggalkan? Apa aku akan dirindui? Atau bahkan akan segera terhapus oleh penuhnya memori otak para kolegaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau terus hidup dalam hati semua fana yang sempat jadi bagian hidupku. Aku mau nyawa- nyawa lain terus menyimpanku. Memang terasa sangat tidak adil bagi mereka karena mereka akan hidup dalam sebuah kenangan akan aku. Aku yang biasa duduk disitu. Aku yang sering membuat keributan. Aku yang terkadang tidak bisa mengendalikan emosi. Aku yang selalu saja berpahit lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan akan menguburku dalam- dalam. Para kolega itu akan segera meniadakanku. Karena hidup akan terus tergantikan. Bagian diriku akan terserap oleh masa, lalu menguap bersama embun dan benar- benar hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa kehilangan sesuatu. Aku sedang merasa tidak mau dilupakan dan sangat takut dilupakan. Tapi akupun tidak berniat mengulang hari. Mengganti keputusan juga terasa sangat tidak mungkin. Akhirnya aku kembali pada “Hidup adalah keberanian dalam rasai resiko. Semakin kita bernyali tantang resiko, semakin hebat kita nantinya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu saja takut kehilangan. Dan sekarang aku sedang sangat ketakutan. Rasanya ingin hentikan semua jarum jam agar tidak lagi berdetak. Agar waktu terhenti pada detik ini karena aku masih takut hilang, dihilangkan lalu kemudian kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok &lt;span style="font-style:italic;"&gt;farewell party&lt;/span&gt; buatku. Jika kemarin aku mendoa agar waktu segera bergulung, maka kini aku merasa seharusnya aku bisa lebih menikmati perjalanan waktu. Seharusnya aku merasai semuanya dengan puas dulu. Sebuah pesta perpisahan. Pesta bernama perpisahan itulah yang menampar aku keras seakan mengingatkanku akan sebuah akhir. Akhir dari semua yang selama ini aku lakukan. Mungkin aku akan bersedih untuk beberapa waktu. Kini aku mendoa agar segera temukan kebiasaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau semua merasa kehilangan aku…&lt;br /&gt;Apa mungkin?&lt;br /&gt;Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini…&lt;br /&gt;Yang membedakannya hanyalah kuantitas kemungkinannya…&lt;br /&gt;Dan kali ini, aku yakin sangat kecil…&lt;br /&gt;(sekali lagi kukatakan) Kesibukan akan menelanku mentah- mentah…&lt;br /&gt;Aku akan segera jadi hilang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sekarang aku benar- benar merasa sedih. Banyak sekali yang terpaksa harus kulepas bersamaan dengan pergantian status sosialku. Dengan kata lain aku akan kehilangan begitu banyak hal, beberapa diantaranya sebenarnya masih ingin aku nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan segera berjalan terseok lagi. Berjuang dapati sandaran untuk kembali berteduh. Beberapa saat saja, lalu (mungkin) kembali terseok mencari selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam menua…&lt;br /&gt;Aku ingin akhiri ini…&lt;br /&gt;Merapat pada maya…&lt;br /&gt;Tak lagi merasa sedih dan sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;11.09&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-6901446661991763342?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/6901446661991763342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=6901446661991763342&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6901446661991763342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/6901446661991763342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/pada-sebuah-malam-yang-telah-diliputi.html' title='Pada sebuah malam yang telah diliputi lelah...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SdxCVfZf2ZI/AAAAAAAAADg/PDjfmOZshl8/s72-c/aku-lelah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-895478853291102526</id><published>2009-04-02T11:43:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T18:38:18.535+07:00</updated><title type='text'>Rasaku terganggu waktu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddGlK0dv2I/AAAAAAAAADA/7FepfQp_HhU/s1600-h/nebula+jam+pasir.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddGlK0dv2I/AAAAAAAAADA/7FepfQp_HhU/s200/nebula+jam+pasir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320799089135042402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pada sebuah pagi di Kediri&lt;br /&gt;23 Maret 2009&lt;br /&gt;Pada sebuah Senin dengan yang tawarkan nada perpisahan….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini aku terbangun dan mengintip hari di kota ini. Aku masih merasa belum waktunya kembali ke dunia nyata meski hari ini sebagian besar manusia bumi lain sudah melemparkan diri secara entah paksa atau sukarela pada rutinitas harian. Akhir pekan sudah berlalu dari waktu. Senyuman kebebasan sudah lenyap terserap angin. Kebebasan jiwa sudah kembali terpasung rutinitas. Beban- beban pekerjaan kembali menempati pundak- pundak segar. Menambah berat badan hingga membatasi ruang gerak. Tak lagi banyak pilihan untuk dipilih. Yang paling utama adalah kembali menempatkan pikiran untuk segera menyelesaikan semua secepat mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku masih juga ada disini dengan perasaan yang terganggu waktu. Aku merasa tiba- tiba ada yang salah. Ada sesuatu yang terlewat hingga kemudian perasaan ini tak segar seperti hari biasanya. Aku kembali merasa kesepian dan begitu tidak pasti. Semua yang sedang ada di hadapanku terlihat buram dan tak jelas. Arus waktu begitu deras sedang aku sedang bertambatan pada ranting kesenangan dan terhenti oleh batu kekecewaan. Aku tak mampu mendefinisi secara pasti apa yang sebenarnya kurasa. Yang jelas aku merasa ada yang terlewatkan dan membuat semua kemudian bernilai salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelopakku sebenarnya masih ingin mengatup kembali untuk beberapa saat. Kantuk masih juga bergelayutan di terjalnya retina. Menambah beban. Lalu cenderung mengatupkan kelopak. Tapi jiwaku terganggu. Jiwaku mengerang begitu lirih hingga aku tak punya mampu untuk mencuri dengar apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu apapun, hanya bisa merasa ada yang tak biasa. Dan itu benar mengganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala ini aku sedang sendiri. Mencoba sekuat ingatan, hati dan organ penggerak tubuh untuk meresapi embun- embun hari ini. Embun- embun yang menempel pekat pada kaca hidupku. Lalu aku secara setengah sadar menghisainya dengan tulisan jari. Setelah kubaca kembali ternyata yang ada hanya kata :”Kecewa”. Entah pada siap kutujukan hiasan embun itu. Mungkin pada diriku sendiri yang masih belum mampu temui bahagia. Mungkin juga pada lelakiku yang masih belum berhasil menghapus hiasan embun itu. Padahal aku menulisnya dengan kekuatan lemah. Kupikir akan mudah terhapus. Atau setidaknya tertindas hiaa lain. Ternyata aku salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ada di sebuah Senin. Pada sebuah hari yang dulu seringkali kucacimaki. Sebuah hari yang tak pernah beruntung karena selalu diharap untuk segera berganti nama. Bahkan aku sempat juga meneriaki konvensi untuk menghilangkan hari berpanggilan Senin. Namun gagal. Nyatanya sampai sekarang hari ini masih juga dipakai. Sudahlah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarangpun aku masih mencari cari apa yang sesungguhnya aku maui. Hatiku masih enggan setia pada satu mimpi. Ada banyak lorong kebebasan yang menggodaku. Menawarkan sejumlah kesenangan penyejuk bathin. Beberapa waktu yang lalu aku sempat selalu merasa bahagia dan tersenyum sukarela dengan apa yang sedang aku tapaki. Semua terasa begitu menyamankanku. Tak ada keharusan membuatku merasa berhak atas kehidupanku sendiri. Lalu aku mulai menyusun daftar keharusan buatku sendiri. Meski tak jarang daftar itu kuhapus untuk alasan tak terlalu jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku mendekati dua pilihan. Pertama, berhenti mencari kepuasan sendiri dan hidup dengan pola yang sama dengan manusia lain pada umumnya. Kedua, mencari cari pembenaran atas apa yang aku putuskan untuk kulakukan. Lalu aku bisa terus melenggang pada jalur yang sama dengan sekarang. Mungkin bedanya adalah pada titik keyakinannya. Bukankah setelah ada pembenaran kita akan merasa benar? Nyatanya aku belum memilih. Tapi aku sudah berencana untuk memilih salah satunya. Aku yakin pada salah satunya meski belum secara formal memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang aku masih belum tahu pasti jumlah kesenangan dan kebebasan di bumi ini. Aku lalu takut pada suatu masa dimana semua bentuk kesenangan dan kebebasan itu tak lagi mampu menyenangkan dan membebaskanku lagi? Bagaimana jika umurku jauh lebih panjang dibandingkan dengan persediaan kesenangan dan kebebasan itu? Bagaimana? Aku takut bertemu dengan masa itu. Aku takut tak bisa lagi disenangkan. Aku takut jiwaku tak lagi merasa bebas meski sedang bebas. Bukankah kata orang, hidup adalah perubahan. Dan salah satu bentuk perubahan adalah perubahan rasa. Jadi, bagaimana bila rasaku kemudian berubah menjadi tak bisa dengan mudahnya disenang dan dibebaskan? Apa aku akan semakin tak bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku pernah berkata bahwa sebenarnya bahagia itu selalu berada pada pola pikir kita. Berada pada definisi kita masing- masing. Dengan kata lain, jika kita mendefinisikan bahagia sebagai senyuman maka itulah bahagia yang sebenarnya. Maka carilah itu. Bukan yang lainnya. Maka marilah kita berlomba- lomba mencari dan menetapkan definisi kebahagiaan buat kita sendiri. Lalu apa kita bisa memakai definisi yang sama atas kata bahagia? Bagaimana jika definisi yang kita mau sudah dipakai manusia lain? Bahkan sudah dipatenkan olehnya? Dan parahnya, yang bersangkutan sudah meninggal dunia hingga kita tak mungkin bisa menemuinya sekedar untuk minta ijin memakai definisi yang sama. Terus memakainya tanpa ijinpun akan membawa kita pada penjara bathin yang begitu menyiksa jiwa. Bagaimana jika demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf jika aku terlalu banyak bertanya. Terlalu banyak berkomentar dan menyanggah. Yang pasti aku sedang merasa begitu enggan kembali ke dunia nyata. Namun aku tak punya pilihan lagi. Mau tak mau harus mau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan segera kembali…&lt;br /&gt;Tunggu saja aku di suatu masa…&lt;br /&gt;Gerah sudah datang kembali…&lt;br /&gt;Mungkin memang sudah tugasnya memberi peluh pada kita….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berhenti sejenak untuk membasuh tubuh sekalian jiwa sepiku…&lt;br /&gt;10:03&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-895478853291102526?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/895478853291102526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=895478853291102526&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/895478853291102526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/895478853291102526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/rasaku-terganggu-waktu.html' title='Rasaku terganggu waktu...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddGlK0dv2I/AAAAAAAAADA/7FepfQp_HhU/s72-c/nebula+jam+pasir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-2814912061871557578</id><published>2009-04-02T11:40:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T11:41:16.353+07:00</updated><title type='text'>Saat hasil SPMB 2008 diumumkan...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1 Agustus 2008&lt;br /&gt;Di suatu hari Jum’at&lt;br /&gt;Tengah hari…&lt;br /&gt;Saat hasil SPMB tahun ini diumumkan…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba- tiba ingatanku kembali menghilang….&lt;br /&gt;Menguap pada masa 7 tahun yang lalu…&lt;br /&gt;Rasanya aku mau melayang menuju masa yang telah hilang…&lt;br /&gt;Suatu masa yang mengantarku pada semua kenangan terbaikku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh tahun lalu…&lt;br /&gt;2001…&lt;br /&gt;Aku sedang sangat beku…&lt;br /&gt;Merasa hal yang tak tergambarkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kenangan itu sedang dimiliki manusia lain…&lt;br /&gt;Manusia lain yang sedang akan menapaki bahagia…&lt;br /&gt;Juga indahnya petualangan…&lt;br /&gt;Dan mungkin akan jadi bagian terindah nyawanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu terasa begitu nyata ….&lt;br /&gt;Terasa benar terulang kembali…&lt;br /&gt;Saat aku memulai skenarioku dengan setting tempat yang berbeda…&lt;br /&gt;Juga dipenuhi dengan harapan meraih terangnya masa depan manusiawi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung siapapun yang sedang rasaiku masa 7 tahunku ini…&lt;br /&gt;Senang takkan mampu terkendalikan…&lt;br /&gt;Ragu dan takut juga dengan ramahnya ikuti…&lt;br /&gt;Yang pasti hidup harus terus berjalan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinduku selalu saja datang…&lt;br /&gt;Mungkin memang yang lalu terlalu indah…&lt;br /&gt;Mungkin juga karena aku belum jadi manusia matang…&lt;br /&gt;Atau bisa jadi aku memang sedang gundah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku begitu rapat mengunci semua kenangan…&lt;br /&gt;Sama sekali tak biarkan itu melesat pergi…&lt;br /&gt;Bahkan untuk sedikit mengintip keluar saja tak mungkin…&lt;br /&gt;Apalagi terus pergi dan menguap dari diri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dulu juga sempat ada tangisan…&lt;br /&gt;Ada juga keluhan…&lt;br /&gt;Ada kekecewaan…&lt;br /&gt;Juga ada keputusasaan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi benar…&lt;br /&gt;Kenangan memang terlalu indah untuk diuapkan….&lt;br /&gt;Memang tidak jarang hatiku tak bersinar…&lt;br /&gt;Karena merasa sedang tidak beruntung jalani kehidupan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sekarangpun aku tak bisa tidak sedih…&lt;br /&gt;Karena aku yakin…&lt;br /&gt;Bahwa kenangan memang ada hanya untuk terbitkan pedih…&lt;br /&gt;Bahkan sangat yakin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu bagaikan sebuah jalan setapak…&lt;br /&gt;Kanan kirinya rapi ditumbuhi flora warna warni…&lt;br /&gt;Dengan udara jernih yang terkotak kotak…&lt;br /&gt;Juga dengan aroma teduh bumi…&lt;br /&gt;Tak lupa manusia hidup dengan layak…&lt;br /&gt;Dan hanya mengenal kata bahagia dan santai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriak…&lt;br /&gt;Aku benar ingin teriak…&lt;br /&gt;Ingin meronta dapati yang sudah pernah aku dapat dan kini hanya ada di otak…&lt;br /&gt;Tapi nyatanya aku tak punya daya untuk berontak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang mau aku perbaiki…&lt;br /&gt;Masa itu sudah tersaji dengan sangat menawan…&lt;br /&gt;Sekarang aku mau coba lebih mensyukuri…&lt;br /&gt;Agar tidak malah merasa tertawan oleh kehidupan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Masih di Kediri….&lt;br /&gt;Dengan kondisi tak mungkin kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;12:28&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-2814912061871557578?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/2814912061871557578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=2814912061871557578&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/2814912061871557578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/2814912061871557578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/saat-hasil-spmb-2008-diumumkan.html' title='Saat hasil SPMB 2008 diumumkan...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-7492187420824494987</id><published>2009-04-02T11:35:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T11:39:18.756+07:00</updated><title type='text'>Sarang Han Da Myun...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terbangun dengan perasaan sangat rindui masa lalu&lt;br /&gt;OST. Sarang Han Da Myun (dari serial Sad Love Story)&lt;br /&gt;8.48&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini aku dibangunkan oleh rasa rindu yang begitu mengganggu. Rindu akan masa lalu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;OST &lt;/span&gt;itu benar- benar menarikku begitu kuat pada bayangan semua masa lalu yang memang masih saja tersimpan rapi dalam hard disk manusiawiku. Lalu aku merasa ingin menangis karena hatiku merasa begitu merindu. Mungkin saja aku merasa tersentuh oleh kesedihan yang dibawa nada itu (meski aku tidak pernah tahu apa maknanya). Tapi kesedihan terasa begitu kuat mengikat hingga secara otomatis mengalir padaku yang memang sedang mencintai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilatan bayangan tentang Malang dan semua yang ada didalamnya menghampiriku kembali. Mengajakku berbagi hati. Berbagai macam perjuangan masa muda yang sempat aku lakukan bersama semua yang dulu masih diri. Saat aku masih normal bersebutan Belva, bukan lainnya. Lalu aku harus berjuang untuk terus hidup layak dalam kondisi hati yang patah oleh seorang Faisal Basay. Sebuah penantian yang kulakukan dengan sukarela untuk sebuah kabar bahwa dia akan segera menikah dengan bukan aku. Sedikit hura- hura dengan kawan sebaya. Tertawa dan tersenyum bersama hadapi dunia muda juga bertahan dengan dinginnya Malang kala itu. Semua kenangan itu seakan mendorong dirinya dengan sangat kuat, mencoba untuk keluar. Namun karena tidak berhasil maka dia hanya menggangguku lewat rasa rindu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku sedang menahan tangis. Namun hatiku sudah sejak tadi basah oleh air mata. Aku kembali disadarkan tentang kuatnya kuasa waktu. Dia terus berjalan tanpa hati sambil tinggalkan sesuatu bernama kenangan. Ditambah lagi aku seorang Gemini yang menjunjung tinggi kenangan (meski sekecil apapun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku benar- benar menangis. Raga dan bathinku kali ini sudah sinkron karenanya mereka menangis disaat bersamaan. Dan saat itu adalah sekarang. Kubiarkan saja, hanya sedikit air mata yang kuhapuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sarang Han Da Myun &lt;/span&gt;itu kuputar berulang- ulang. Hatiku semakin sakit memang tapi aku juga sedang begitu mencintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan cinta apa lagi yang akan aku lakukan. Aku sudah berada pada bilik yang berbeda. Sebuah bilik bersebutan dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genangan air mata ini mengurangi penglihatanku. Maka kuseka dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana Malang yang dulu? Kini Malang sudah berubah menjadi kota entah bagiku. Sangat berbeda. Semua komponennya juga telah berganti. Hatiku makin menangis mengingat masa laluku yang ini tidak akan mungkin bisa dirasai lagi, apalagi dikembalikan. Aku rindu masa itu, Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci perpisahan karena itu akan usung kenangan. Tapi aku juga membenci rutinitas yang selalu datang bersama bosan. Lalu apa yang aku maui?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi aku akan punya waktu berlebih untuk kembali membongkar masa lalu. Bisa dipastikan aku akan semakin sering menangis. Menangis karena rinduku tidak akan mungkin terhentikan oleh apapun. Karena rinduku tidak akan mungkin bisa dinyatakan lagi, hanya bisa selalu dirasa sambil ditangisi. Aku memang sangat lemah jika berurusan dengan kenangan. Aku menyerah karena jika memaksakan kekuatan untuk terus berjuang, aku pasti akan kalah telak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah…&lt;br /&gt;27 November 2008&lt;br /&gt;Kediri&lt;br /&gt;Mendekati akhirku disini…&lt;br /&gt;Di hari yang sama dengan perayaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;farewell party&lt;/span&gt; buatku…&lt;br /&gt;Hatiku memang sedang sangat menangis…&lt;br /&gt;Pada sebuah Kamis yang berbeda dengan Kamis lainnya…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-7492187420824494987?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/7492187420824494987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=7492187420824494987&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7492187420824494987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7492187420824494987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/04/sarang-han-da-myun.html' title='Sarang Han Da Myun...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-8868346719746940992</id><published>2009-03-29T15:13:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T18:49:47.067+07:00</updated><title type='text'>Malas melukis kata...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddJPDO-3vI/AAAAAAAAADY/_T86V6yKaDs/s1600-h/hayatuddin-di-melukis-bersama.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddJPDO-3vI/AAAAAAAAADY/_T86V6yKaDs/s200/hayatuddin-di-melukis-bersama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320802007676542706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Masih juga) di Kediri&lt;br /&gt;(Masih juga ) tertanggal 22 Maret 2009&lt;br /&gt;Kala hari (masih juga) bernama Minggu&lt;br /&gt;Mungkin hanya rasa yang mampu beri beda…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi memang selalu memberi adil bagi semua yang ada di dalamnya. Senyum akan selalu datang membawa serta tangis. Bahkan musim hujanpun merapat bersama keringnya kemarau. Oleh karena itu ada yang disebut binari oposisi. Dan sekarang aku benar mengalaminya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memulai pagi ini saat waktu masih lekat pada lima kurang lima belas menit. Lalu aku melanjut rajutan mimpi yang masih tertinggal di pelupuk mata untuk kemudian menghela hidup dikala waktu berusia delapan lebih beberapa menit. Dan aku terbangun dengan rasa begitu lezat. Aku terbangun saat bagiku kehidupan sedang melunak. Aku memulai kesadaran di kala urat nadi berbalut kulit bahagia. Mataku menikmat hari yang kurasa begitu lezat. Intinya, semua terasa (tak hanya terlihat) begitu melegakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku menjulur nyawa untuk temui situasi. Menyulur merangkai kenangan baru. Membentuk kisah klasik untuk masa depan (jika kuboleh meminjam istilah Sheila On 7). Tepati janji lagi. Bertegur sapa dengan beberapa nyawa. Memapar senyum. Menjahit kembali rangkaian kain persahabatan yang lama terseret waktu. Berharap semua akan sama membahagiakannya dengan masa kemarin. Namun nyata tak selamanya berpagutan dengan harapan. Dan kali ini mereka sedang saling menjaga jarak. Entah untuk tujuan apa. Bisa jadi untuk menyadarkan aku betapa hidup tak selalu bisa diperkirakan. Bisa jadi juga untuk membuatku jera berpengharapan. Begitu banyak mungkin di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragaku merasa sedikit lelah jalani semua bentuk kesenangan instant ini. Kupaksa bekerja menopang jiwa dengan durasi jauh lebih lama. Tanpa ucapan Terimakasih, meski cuma sekali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terserang rasa malas yang akut. Aku malas melanjutkan lukisan kata ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai berjumpa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18:45&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-8868346719746940992?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/8868346719746940992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=8868346719746940992&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8868346719746940992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8868346719746940992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/malas-melukis-kata.html' title='Malas melukis kata...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddJPDO-3vI/AAAAAAAAADY/_T86V6yKaDs/s72-c/hayatuddin-di-melukis-bersama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-1921765442646325124</id><published>2009-03-29T15:10:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T09:29:48.295+07:00</updated><title type='text'>Di Kediri dengan senyum beraroma manis...</title><content type='html'>Kediri&lt;br /&gt;Tertanggal 20 Maret 2009&lt;br /&gt;Kala hari akan begitu segera berganti nama…&lt;br /&gt;Hampir Sabtu dini hari…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali melemparkan raga dan nyawa di Kediri. Bukan untuk selamanya menjadikannya sebagai setting hidupku kembali. Aku hanya ingin sejenak menuai kenangan yang baru kutinggalkan disini. Sengaja ingin kutemui kembali semua yang dulu kulepaskan oleh paksaan keadaan. Memang adalah sebuah pilihan. Lalu aku memilih untuk meninggalkan Kediri beberapa waktu yang lalu. Kini, aku kembali rasai Kediri dengan lidah rasa yang berbeda. Nyatanya Kediri kali ini terasa begitu mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan- jalan panjang yang dulu selalu kutelusur. Warung- warung yang sempat jadi tempat tujuan untuk gembungkan lambung. Tempat- tempat belanja yang kala itu sempat jadi tempat favorit. Lalu wajah- wajah yang dulu begitu lekat dengan indraku. Bahkan udara gerah yang dulu juga tak luput dari umpatanku kini tersenyum manis menyambutku kembali disini. Kedatangan yang hanya beberapa hari saja. Karena aku telah memilih kota lain untuk kutinggali. Bukan lagi Kediri. Bukan karena kekecewaan terhadap kota ini. Hanya karena hidup adalah barisan pilihan. Lalu aku merasa harus memilih, juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit lagi hari sudah bernama Sabtu. Surga bagi semua manusia pekerja. Surga bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam hiruk pikuk kesibukan. Surga bagi siapapun yang masih punya hasrat buat sekedar melepas suntuk. Hari inilah surga ini dimulai. Mungkin akan berakhir esok malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua batang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;A-Volution &lt;/span&gt;telah tanjaki bibirku. Udara masih saja mengganas. Rasa kantuk masih enggan mengetuk kelopak mata. Map biru usang ini kupaksa usir rasa gerah. Butir- butir peluh nyata terjatuh. Begitu gerah kota ini. Pun demikian lelakiku sudah erat bersinggungan dengan mimpi. Capek mungkin. Biarlah. Suara lirih para lelaki muda masih saja berputar- putar disekitar telingaku. Mereka mengobrol entah apa. Terdengar hanya sayup. Tak begitu jelas karena mereka sadar akan etika berbicara pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Winamp&lt;/span&gt;-pun masih asyik melolongkan suara para penjual nada. Seperti biasanya, aku berteman nada maya yang terekam di sebuah ceruk ibukota entah kapan itu. Aku merasa hidup sedang begitu melunak. Hatiku bergembira oleh semua hal yang kutemui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengkuran itu semakin keras. Pertanda lelaki itu begitu terlelap. Kantukku berjingkat pelan dekati kelopak untuk kemudian mengetuk, mengharap dibukakan pintu lalu mendominasi hidup lewat katupan mata. Normalnya memang seperti itu karena sekarang sudah dini hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan yang sedari tadi berkelebat di jalan raya depan kos inipun sudah mulai tersihir oleh waktu. dini hari begitu kuat berikatan dengan lelap dan sepi kecuali oleh dengkuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit rasaku sudah terpuaskan. Lihat apa aku masih bisa merasa begitu puas seperti hari ini di esok hari. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, aku hanya mendoa agar bisa selalu bahagia pada situasi apapun. Karena manusia takkan pernah puas maka sia- sia saja jika aku memohon agar bisa merasa puas. Yang ada hanya kesia-siaan jika begitu. Maka aku merajuk oleh adanya rasa bahagia. Dan kudapati itu. Syukurlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 12:08 dini hari. &lt;br /&gt;Hari ini sudah berganti nama jadi Sabtu, seperti yang tadi kubilang.&lt;br /&gt;Kantuk sudah berhasil mengetuk kelopak dengan begitu keras dan tergesa.&lt;br /&gt;Dengkuran lelaki itu menggelitikku untuk bergabung dengannya malam ini.&lt;br /&gt;Bersama dalam lelap.&lt;br /&gt;Baiklah…&lt;br /&gt;Lelap, aku akan segera datang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kediri dengan senyum beraroma manis…&lt;br /&gt;12:10 dini hari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-1921765442646325124?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/1921765442646325124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=1921765442646325124&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1921765442646325124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1921765442646325124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/di-kediri-dengan-senyum-beraroma-manis.html' title='Di Kediri dengan senyum beraroma manis...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5759112750420610946</id><published>2009-03-29T15:07:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T09:43:17.892+07:00</updated><title type='text'>Aku begitu merindu nama itu...</title><content type='html'>Kediri &lt;br /&gt;24 Maret 2009&lt;br /&gt;Pada sebuah Selasa dengan gerah yang meredup&lt;br /&gt;Saat aku menyadari kembali betapa semua harus silih berganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih di Kediri. Dalam kondisi hampir mengakhiri kehadiranku disini. Setelah beberapa hari menumpangkan nafas untuk nikmati gempita kota tahu ini. Pada akhirnya aku harus berakhir juga. Kembali pada kotak hidupku sendiri. Tak ada yang mengiringi kepergiaanku kali ini. Hanya lelakiku itu saja yang memberikan aku sebuah pengantaran dengan alasan tak sanggup kutinggalkan sendiri. “Lebih baik kamu yang melihatku berlalu daripada aku yang harus melepasmu tertelan jarak lalu menghilang bersama jauh,” begitu katanya. Maka baiklah kuijinkan dia mengiringku meski aku sebenarnya lebih ingin sendiri nikmati sore diatas sebuah bis. Aku tak punya pikiran untuk melolaknya. Hanya bisa mengiyakan setelah sebelumnya meyakinkan dia tentang apa yang telah diputuskannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih disini. Menunggunya melebur jadi nyata yang lalu akan membawaku berlalu dari sini. Sendiri membuatku lebih bebas menerka mimpi. Aku juga merasa bebas memain- mainkan masa laluku yang tertinggal disini. Sebuah petualangan hati. Aku dan seorang lelaki lain yang hanya kumengerti lewat nama. Seorang Omar Randu yang dulu begitu mengusik nyawaku. Dia sempat terekam sebagai bagian akhir kehadiranku di kota ini. Saat aku memutuskan untuk tidak lagi menyentuhkan nafas disini. Kala itu Oktober 2008. Dia ada sebagai hiasan hidup penghias nafas letihku. Dia datang bersama sekantong titik harapan untuk rasai naik turunnya kehidupan. Dan dia berhasil. Aku tersenyum begitu bahagia oleh nama dan suaranya. Begitu membangkitkan serabut bahagia di urat jiwaku. Aku juga pernah begitu menantinya dan mengutuk waktu yang terasa begitu lambat. Waktu dia memintaku menunggu. Itu semua terjadi dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu waktu terus melaju. Dan kini kutemukan dia hilang. Lenyap dari ceruk harapan yang dulu pernah kubangunkan untuknya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku tetap jalani hidup pada sisi dunia ini. Sendiri melayar. Hanya bergandengan tangan dengan beberapa bentuk pengandaian. Lalu aku sampai juga pada sekarang. Berusaha tetap bertahan dan menikmati sisa- sisa kekuatan untuk nikmati petualangan perasaan. Saat aku memikir lebih dalam dan menerawang kembali ke masa yang dulu, aku tersentak dengan kenyataan betapa sudah sangat panjang jarak petak sekarang dengan masa aku menimang rasa dengan nama lelaki itu. Sungguh banyak yang telah berada diantara kenanganku atas nama itu dan masaku saat ini. Yang semakin menyesakkan diri adalah kesadaran atas ketidakberdayaanku untuk merasai nama itu kembali. Karena dia tak lagi mengabdikan namanya untukku. Meski aku yang awalnya mengakhiri permainan rasa dengannya, namun kini akulah yang merasa dikalahkan. Karena sekarang aku, tiba- tiba, merinduinya. Lalu aku bertanya; Apa dia masih menyisipkan namaku di entah bagian dirinya sebelah mana? Jika iya, maka akulah pemenang permainan ini. Tapi manusia takkan pernah tahu isi hati manusia lainnya. Maka aku tetap merasa kalah. Aku sungguh ingin hanya bertegur kata dengannya. Sebentar saja. Hanya sekedar ingin melegakan rasa. Tapi tak bisa. Nama itu memang tak pernah setia padaku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah berganti panggilan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah kembali pada dunia nyataku. Kembali berakrab dengan kebebasan. Bertali jiwa dengan kesepian yang selalu berusaha kuingkari. Pejamkan mata sambil nikmati gerakan lunglai sang waktu. Aku kembali melempar diri di kota kelahiranku ini. Sambil sesekali menghibur rasa lewat kata- kata. Dan mulai melupakan makna sebuah harapan. Aku terlalu lelah dan juga takut kembali terlantar oleh harapan. Aku mengubur cara untuk berharap. Aku hanya mendoa agar bisa selalu merasa bahagia dengan situasi apapun karena manusia takkan pernah merasa puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah berulang cara mencoba lupakan nama itu. Namun tak bisa sepenuhnya mampu. Jiwaku tetap berharap agar suatu masa nanti aku nikmati nama itu kembali. Cuma itu yang kumaui karena aku tak lagi sedang berada pada masa bebas memilih rasa. Aku sudah memilih untuk melayarkan jiwa raga pada sebuah lelaki nyata. Aku tahu nama itu tak akan mungkin bisa jadi Siapa. Nama itu akan selamanya menjadi Apa yang adalah sebuah benda. Bukannya sebagai Siapa. Karena waktulah yang memilihkan peran untuknya. Aku tahu itu. Maka aku hanya mendoa bisa sesekali rasai degupan kencang detak jantung jika aku memang sedang ingin merasainya kembali. Mungkin aku memang egois. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Damn, I do miss it much!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu merindu nama itu…&lt;br /&gt;Aku ingin kembali bersenggama dengannya…&lt;br /&gt;Kembali merasa menantikan sesuatu dengan begitu…&lt;br /&gt;Mengharap waktu segera hantarkan diri pada suaranya…&lt;br /&gt;Bisakah aku meminta itu terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sedang mengkhianati siapapun…&lt;br /&gt;Karena aku hanya menyimpannya sebagai sebuah rasa…&lt;br /&gt;Nama itu begitu menggodaku tanpa ampun…&lt;br /&gt;Apa nama itu masih mengingat bahwa aku memang benar ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama itu adalah Omar Randu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini hari sudah bernama Kamis&lt;br /&gt;Bertanggal 26 Maret 2009&lt;br /&gt;Dan bersetting Mojokerto&lt;br /&gt;19:06&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5759112750420610946?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/5759112750420610946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=5759112750420610946&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5759112750420610946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5759112750420610946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/aku-begitu-merindu-nama-itu.html' title='Aku begitu merindu nama itu...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-7255825862252431738</id><published>2009-03-29T15:04:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T18:20:45.539+07:00</updated><title type='text'>Saat hujan baru mereda...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddCZS9VvAI/AAAAAAAAACg/o31CrlZDAaY/s1600-h/pelangi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddCZS9VvAI/AAAAAAAAACg/o31CrlZDAaY/s200/pelangi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320794487114808322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kediri&lt;br /&gt;Bernama Jum’at&lt;br /&gt;Bertanggal 20 November 2008&lt;br /&gt;Kala hujan belum juga reda…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam masih belum terlalu tua hingga aku merasa tidak ada salahnya jika aku meregangkan sedikit nyawa untuk merekam hari lewat kata. Meski hujan belum juga mereda, gerah masih juga gigih berjuang untuk terus memaksa tapaki hari ini. Entah apa yang ada di pikiran sang gerah. Sedikitpun tidak merasa akan kalah bersaing dengan hujan yang hadir berteman dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku tahu makna perjuangan. Aku belajar banyak dari rasa gerah yang dengan begitu teguhnya melawan dingin yang jelas- jelas sudah dipromotori oleh hujan. Nyatanya, gerahlah yang menang (meski dimataku dia hanyalah sebentuk calon pecundang yang akan segera menjadi pecundang sejati). Nyatanya aku salah perhitungan. Dan kesalahan ini bukan yang pertama (dan kemungkinan besar bukan yang terakhir). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya malam ini aku ingin menuangkan seseorang dalam kata- kata. Seseorang dari dunia maya yang sampai saat ini masih juga bersinggungan dengan urat bahagiaku. Terimakasih untuknya. Namun entah kenapa tiba- tiba barisan kata yang tadinya berjubel di ingatan dan terus saling dorong untuk dituang dalam kata, kini lenyap. Aku belum tahu harus menuliskan apa untuk dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini batang rokok kedua yang hinggapi bibirku malam ini. Aku sedang dalam taraf ingin bersenang- senang tanpa dianggap tidak bermoral. Aku sedang sendiri. Merokok sambil amati deretan huruf- huruf di layar. Putung ini terpaksa kutaruh kembali. Seseorang yang sedang ingin kutuang dalam kata itu menghubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 18 menit, telepon ditutup dengan alasan hp sudah sangat panas sedangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;headset&lt;/span&gt; menyingkir entah kemana. Sisa putung itu kunyalakan kembali. Karena aku berharap tidak sendiri. Ada gulungan asap yang akan meramaikan suasana. Sudah lama sekali aku tidak mengagumi gulungan- gulungan asap serta suara gemeritik khas rokok terbakar dan terhisap. Aku suka memainkan asap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci diriku saat merokok. Aku merasa seperti perempuan murah pinggir jalan yang sedang menjajakan diri untuk dicicipi siapapun yang sedang butuh. Namun terkadang jiwa inginku lebih dominan. Lalu kuputuskan tetap melakukannya sebagai sampingan kala menulis (seperti sekarang ini, aku merokok sambil merangkai kata). Aku hanya berusaha menggabungkan hal tabu murahan dengan sedikit intelektualitas. Lalu yang terpenting adalah menghindari kaca agar bayangan diriku yang sedang murah tidak tertangkap retina mataku sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang kedua sudah habis terhisap inginku. Kini batang tenggorokanku mulai bereaksi. Berontak dengan cara melukai dirinya sendiri hingga mau tidak mau aku juga yang merasa ada yang tidak beres dengannya. Memang benar, manusia punya organ yang lengkap tapi tidak semuanya bisa dikontrol. Bahkan sebenarnya milik kita itulah yang mengontrol kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba- tiba aku merasa orang Indonesia semakin dangkal saja pola pikirnya. MISS CELEBRITY! Menjual kecantikan dengan diskon besar- besaran. Suatu bentuk pembuktian bahwa menjadi cantik adalah hal paling utama. Sedang volume otak tidak perlu diperbesar. Sepertinya kerja keras Virginia Woolf sia- sia saja. Aku jadi teringat kata- kata Ayu Utami dalam Parasit Lajang-nya; wanita adalah makhluk paling buruk rupa karenanya perlu memoles wajah dengan topeng bedak untuk tutupi kekurangan. Tidak heran jika sekarang hampir semua wanita (terutama di kota besar) mempunyai kecantikan homogen.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aldi, aku sedang benar- benar menunggumu kembali menghubungiku. Tapi aku tidak mau lagi jadi yang memulai. Saat ini aku akan berjuang keras untuk menahan diri agar tidak lagi menjadi seorang pioneer. Karena bagiku kamulah yang harusnya jadi pioneer bagiku. Sampai detik inipun tidak ada pertanda hadirnya suaramu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku sedang tidak mampu lahirkan kata- kata lagi. Lebih baik aku sudahi saja episode malam ini. Aku hendak mengistirahatkan semua organ tubuhku ini sambil terus nantikan seorang mayaku menghubungiku kembali seperti apa yang tadi sempat dia janjikan. Karena bagiku janji adalah hutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punggungku juga mulai mengajak tempat tidur bersenggama…&lt;br /&gt;Kali ini aku harus menyerah pada tingginya libido mereka…&lt;br /&gt;Mungkin karena hari ini bakal berganti nama…&lt;br /&gt;Mataku juga semakin mengatup tutupi retina…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar. Aku sedang mengingat sesuatu. Aku cuma merasa perlu menuliskan bahwa aku sedang menapaki tangga kejenuhan. Banyak kekecewaanku terhadap seorang mayaku yang kemudian memaksaku menaiki tangga itu. Terlalu sering aku menunggu untuk kemudian dijatuhkan dari harapanku yang sudah terlanjur meninggi oleh janjinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang benar adalah aku membiarkan diriku terus naiki tangga untuk kemudian berada di titik jenuh sehingga aku dengan sukarela berubah menjadi sebuah kenangan yang entah akan dikenang atau segera dileburkan dalam hiruk- pikuk kehidupan bising kota Metropolis. Apa yang sekarang aku rasakan sama persis dengan apa yang dia katakan. Dia sempat berkata bahwa aku membuatnya jenuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku banyak dikecewakan oleh kata- katanya yang ternyata tidak bisa dipegang. Mungkin sekarang aku merasa sangat perlu melakukan peninjauan ulang terhadap semua rencana. Tidak ada jaminan dia akan memenuhi apa yang terlanjur dia katakan. Aku hanya tidak berminat dikecewakan dengan cara yang lebih menyakitkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapanku adalah agar aku dan dia mencapai titik jenuh disaat yang sama sehingga kami dengan sukarela saling melepaskan kebiasaan ini. Agar tidak ada yang terlalu tersakiti. Agar tidak ada yang merasa menang karena meninggalkan dan menangis miris karena ditinggalkan saat masih merasa belum bisa merdeka dari kebiasaan selama ini. Mungkin harapan itu yang paling adil bagi aku pun baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.32&lt;br /&gt;Hujanpun (akhirnya) mereda…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-7255825862252431738?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/7255825862252431738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=7255825862252431738&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7255825862252431738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7255825862252431738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/saat-hujan-baru-mereda.html' title='Saat hujan baru mereda...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddCZS9VvAI/AAAAAAAAACg/o31CrlZDAaY/s72-c/pelangi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-4740551313993176268</id><published>2009-03-29T15:01:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T18:35:03.751+07:00</updated><title type='text'>Sebuah sore yang menentramkan...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddF3fwIs-I/AAAAAAAAAC4/zGXF1NLfxfE/s1600-h/sore+tentram.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 162px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddF3fwIs-I/AAAAAAAAAC4/zGXF1NLfxfE/s200/sore+tentram.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320798304480048098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;Bertanggal 4 Maret 2009&lt;br /&gt;Saat hari bernama Rabu…&lt;br /&gt;Bumi serasa lambat berputar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku merasa sangat tidak enak hati harus kembali kesini dengan rasa marah yang sama. Rasa marah yang berhasil kuredam dengan sekam sepi hingga marah itu merasa tidak lagi perlu luapkan diri secara berlebihan. Aku marah dengan fakta. Marah dengan sebuah kondisi yang kuciptakan sendiri. Mungkin lebih benar jika marah itu diberi nama kecewa berlebih. Dan aku tak kunjung jumpai obat sembuhi diri. Hingga aku tak lagi punya pilihan selain menyekap diri dalam sendiri sambil kembali mencari- cari keindahan sepi itu. Mungkin keindahan sepi ternyata sedang bersembunyi di balik himpitan dinding oleh almari. Atau mungkin saja keindahan itu sedang tertindih sprei yang rapi rangkuli tempat tidur. Bahkan mungkin saja sebenarnya keindahan itu ternyata sedang berusaha melepaskan diri dari beberapa pasang baju di gantungan. Maka aku akan membantunya kembali rasai nyamannya kebebasan. Lalu kita bisa bersahabat. Lalu kita bisa sama- sama merasa bahagia dalam sepi. Tanpa kata. Karena meski berdua, kami tak berbahasa sama. Maka kami akan berusaha rumuskan bahasa agar bisa saling berkata lalu memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga aku berusaha alihkan kecewa dengan cara bertandang sopan ke masa lalu. Kecewa itu sedikit menyingkir. Mungkin karena ada banyak bahagia yang menyembul hingga akhirnya kecewa merasa tak lagi perlu hinggapi nyawaku. Dan aku benar- benar merasa sedang menembus detak waktu yang salah sekaligus mencandukan. Kelanjutannya bisalah ditebak. Benar! Aku tak mau lagi lepaskan tanganku yang terlanjur erat sentuh masa lalu. Lalu ternyata aku terbangun. Aku tersadar bahwa aku sedang bermimpi nyata. Nyata menyentuh erat masa lalu dalam sebuah mimpi tanpa terlelap sejenakpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar takut. Merasa sangat terselimuti oleh ketakutan yang garang menyerang jiwaku yang memang sedang menolak ditemanki siapapun. Aku mau merasai semuanya sendiri. Jika ada sebuah nyawa ingin menemani, aku akan secara formalitas mengiyakan meski nyata- nyata aku akan sembunyi darinya. Agar aku bertemu dengan sendiri lagi. Bahkan kini aku takut bermimpi. Karena mimpi hanya akan beri aku bentuk kesengsaraan yang lain. Mungkin akan tampak sebagai senyum manis meski sebenarnya itu hanyalah topeng nyata sebuah rintihan nyeri nyawaku. Aku tak mau lagi merasa nyeri hingga harus merintih seperti sekarang ini. Aku sungguh merasa begitu lelah. Lelah rasai bosan yang tak pernah merasa bosan merajam jiwaku yang dianggap sebagai pezinah. Padahal aku seorang bukan. Aku benar bukan pezinah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larut secara ikhlas lalu tergerus masa hingga jadi cairan sejarah. Mungkin itulah cita- cita terbesarku. Karena nyawa letih sepertiku takkan bisa lagi menempuh waktu yang kian menua. Menyerah pada waktu lalu bermetamorfosa menjadi sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas sedalam- dalamnya. Sedikit lega…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun…waktu begitu renta hingga berjalan tanpa kecepatan. Detik- detik langkahnya berganti tanpa rasa. Begitu lambat hingga aku tak lagi merasa tertantang untuk berpacu mencipta kenangan setak terhitung mungkin. Sia- sia jika saja aku memaksa melukis kenangan itu. Karena akan menjadi sangat terlalu banyak. Langkah renta waktu ini kubiarkan begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi yang bisa dirintihkan? Tak ada lagi. Semua sudah pernah kurintihkan. Hatiku masih belum sanggup menantang maut dapati rintihan lain. Maka bisa dikatakan semuanya sudah lengkap terintihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon genggam hitam ini tiba- tiba dideringkan seseorang yang jauh dari penglihatanku. Belum sempat terangkat. Mati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaman sekali ternyata jika kelopak mata mengatup. Karena hari akan terasa bagai malam yang mampu sembuyikan apapun, termasuk kesepian diri. Tak lama mengatup. Tak boleh terlalu lama mengatup, memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi legam ini kuhisap sejenak lalu kulumat beberapa bagian. Nikmat. Lalu kuulang lagi. Sampai sebagian besar haus ini terlumat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah renta waktu aku menanti sesuatu yang katanya akan hadir. Aku masih menunggunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa rentang waktu aku mendapat sebentuk hiburan dari nyawa lain. Terimakasih untuknya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hatiku terasa tersihir secara sukarela oleh nyawa itu. Aku merasa sedikit tenang dan berhenti mengumpat. Dia bukan siapa- siapa tapi bisa juga memberi sedikit udara harum bagi nyawaku yang sedang meranggas kering. Nyawaku mingkin sedang bermusim kemarau hingga tanah jiwaku banyak yang retak, hutan nafasku banyak meranggas pun sungai birahiku sedang mengering dan mengerontang. Mimpi- mimpiku sedang terbakar habis oleh keringnya udara jiwa. Lalu asap- asapnya membumbung tinggi hingga kemudian menutup rapat langit manusiawiku dari dunia luar yang begitu berwarni. Angin lemas sesekali datang luapkan marahnya oleh suhu yang luar biasa panas. Retakan tanah itu semakin meluas hingga bersatu dengan sungai tanpa meninggalkan setitik perbedaan. Disinilah sungai dan tanah seumpama dua insan yang sedang melumerkan birahi. Begitu menyatu dalam semua rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairan kopi legam itu telah total terhisap habis oleh haus. Menyisakan beberapa bagian sisa serupa tanah basah. Kini cangkir besar berbahan keramik ini bisa kembali memutih. Tak lagi terdominasi warna oleh si kopi yang kepekatanannya mengalahkan semua bentuk kecerahan. Mungkin sekaranglah masa kebebasan bagi cangkir yang setia ini. Motif tulip orange cangkir itu terwarna semakin orange. Terlihat berseri. Aku turut bahagia buat cangkir merdeka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana denganku? Apa aku merdeka juga seperti sang cangkir? Hampir! Karena hari akan segera gelap. Dan gelaplah masa merdekaku. Dimana aku bisa merasa tersembuyi tanpa harus bersusah payah menyembunyikan diri. Aman terasanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri sejenak ditepi jendela. Menyadari segarnya cuaca hari ini. Embun sore seakan mencair tersulut mentari yang meski meredup namun tetap memendam kobar. Angin kanak- kanak bermain- main riang bersama pucuk dedaunan. Tertawa renyah meski masih juga luput dari pendengaranku. Dedaunan terlihat geli tergelitik angin. Tubuhnya berayun gemulai bagai pementas sandiwara diatas panggung. Setiap gerakannya adalah pusat perhatian bagi semua penikmat alam. Hijau itu tersenyum begitu manis mendengar tepukan tangan manusia yang merelakan sekejap waktunya untuk amati indahnya sore. Seperti aku yang selalu punya masa untuk mematai setiap pergantian waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tetangga terdengar begitu sibuk rampungkan tugas yang tertunda. Mungkin sebagian dari mereka memandikan si buah hati. Ada juga yang bersiap tunaikan sholat sore. Beberapa tetangga masih santai melempar kata sambil bersihkan halaman rumah. Anak- anak SD merasa sudah waktunya berangkat les atau mengaji di langgar dekat rumah. Sore rasanya begitu lunak. Nikmat bila dirasai dengan segenap rasa yang tersisa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letihku tiba- tiba mengabur entah menuju mana. Dan akupun enggan menggapainya kembali. Biarkan saja. Toh aku tak pernah memaksanya pergi. Rasaku sedang nyaman. Karena sore yang lembut. Sore yang melunak. Sore yang menentramkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau sholat sore dulu…&lt;br /&gt;Semoga aku bisa kembali membawa kata untuk dituang kedalam gerabah isi hati ini…&lt;br /&gt;Doakan aku tak lupa mendoa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kala berselang hingga kini aku punya masa untuk lukiskan sisa hari dengan kanvas kata. Sore sudah berganti nama. Kini menjadi berpanggilan petang dan dalam waktu sebentar akan bernama malam. Dan kali ini petang datang beserta hujan. Air berjingkat cepat membasuh semua selimut bumi. Langitpun seakan kedinginan hingga membujuk awan untuk jadi selimutnya. Sekarang yang terlihat adalah kekelaman payung bumi itu. Betapa kelam payung alam itu hingga tak lagi mampu lindungi bumi dari hujan musim ini. Semua kini basah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam akan segera menyulam sisa hari ini. Datang sebagai penutup yang juga bertugas mengatupkan kelopak- kelopak mata manusia. Malam bertandang sambil tiupkan pucuk- pucuk harapan tentang esok hari. Tentang bangunnya mentari pagi. Tentang hangatnya sebuah pagi. Tentang mekarnya embun harapan. Tentang mahirnya alam mencipta keindahan jiwa. Tentang cerahnya warna dunia. Tentang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku kini berseri. Mungkin kebasahan alam ini menyalurkan energi baru hingga aku kembali punya berani untuk tersenyum bahagia. Hati ini terasa begitu sejuk. Efek suara air yang berisik itupun tak berdaya mengubah susunan pola hatiku yang sedang cerah sekarang. Bahkan temaramnya hari masih saja kirimkan segenggam kobar tuk terus terangkan jiwa. Aku bahagia….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5:59&lt;br /&gt;Terimakasih Sore…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-4740551313993176268?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/4740551313993176268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=4740551313993176268&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/4740551313993176268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/4740551313993176268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/sebuah-sore-yang-menentramkan.html' title='Sebuah sore yang menentramkan...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddF3fwIs-I/AAAAAAAAAC4/zGXF1NLfxfE/s72-c/sore+tentram.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-792059450132809026</id><published>2009-03-29T14:59:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T18:05:15.380+07:00</updated><title type='text'>Sore...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sdc-xR9jffI/AAAAAAAAACA/J9OFtgUnGGQ/s1600-h/sore.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sdc-xR9jffI/AAAAAAAAACA/J9OFtgUnGGQ/s200/sore.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320790501117623794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mojokerto&lt;br /&gt;12 Februari 2009&lt;br /&gt;Berpijak pada sebuah Jum’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari sedang beranjak redup. Bersiap diri untuk mati suri dan mewakilkan diri pada bulan atau mungkin bintang yang siap bertandang di indra manusia. Malam siap dominasi hari. Memang begitulah lingkaran alam. Terus menggelinding meski dengan arena tanding yang sama dan penonton yang juga tak pernah berubah. Udara sore ini begitu jinak hingga aku lebih memilih membuka panca indra demi nikmati detik hari. Angin sore juga merasa harus pamer kemesraan dengan para flora. Saling bertautan, lahirkan gerakan lemah pada semua yang dicumbuinya. Simbol kenikmatan, mungkin. Langit sore ini tak begitu cerah. Pun tak terlalu terlihat lelah meski sudah entah sejak kapan payungi bumi. Yang jelas langit itupun enak dilihat. Mendung yang sedikit gelap datang bertandang karena mungkin merasa diundang oleh musim yang kala ini bernama penghujan. Jika aku boleh mereka dan mencoba sedikit sok tahu, mungkin mendung itu merasa punya kewajiban datang sore ini. Maka secara keseluruhan, alam sore ini terasa begitu manis, nikmat dan gurih buat dinikmati. Percayalah padaku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku sedikit kebingungan. Banyak yang bisa dilihat. Makanya gagal jatuhkan pilihan akan setia pada yang mana. Pada langitkah? Jajaran genteng tetangga yang terlihat begitu rapi (karena aku di balkon rumah)? Rak buku yang sedang aku hadapikah? Cermin lemari yang sedang pantulkan bayangankukah? Atau kardus TV yang terlokasi di sebelah lemarikah? Baiklah, aku putuskan untuk setia pada layar ini saja. Agar aku bisa terus rekam sore ini dalam kata. Supaya suatu waktu nanti aku bisa membaca kembali kemanisan, kenikmatan dan kegurihan sore ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya mentari mulai terusir waktu. Gelap porsi mini sedang datangi hari. Lalu aku berdiri sejenak demi mencari tombol lampu bantu. Agar gelap tidak merasa terlalu dominan. Agar mata tetap merasa nyaman. Agar PLN juga bisa mengirim tagihan listrik bulanan. Agar aku juga sama dengan para tetangga yang juga butuh penerangan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terasa sedikit perih. Badanku terasa terlalu banyak bercanda dengan angin yang tak pernah punya rasa letih. Hidungku mulai merintih. Salahku juga karena terlalu lama duduk di balkon ini. Aku mengantuk tapi tak mungkin bisa temui lelap karena hari sedang meranum hingga aku harus menunggu sampai hari mematangkan diri dulu. Kata orang Jawa, tak baik tidur saat menjelang Maghrib karena itulah saat setang keluar untuk berpetualang. Bisa bikin mimpi buruk, kata mereka. Dan aku percaya meraka. Bukan karena aku jenis manusia pengikut budaya kolot nenek moyang, tapi karena aku pernah suatu kali di masa lalu terbangun dengan keringat takut saat memaksa terlelap di hampir Maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan akhirnya menyapa pendengaran. Lega rasanya. Bukan karena setelah ini aku bisa langsung berlayar di negeri mimpi melainkan karena hari telah bernama malam. Dan aku suka malam. Dan aku mencintai malam. Bahkan aku mengagumi malam. Sama dengan rasa suka, cinta dan kagumku oleh hujan. Sudah sifat bawaan jika aku adalah manusia pecinta malam dan hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku malam adalah satu- satunya sahabat paling karib. Selalu memberiku sempat untuk rasai nyaman dengan kadar tinggi. Bisa sembuyikan apapun yang tidak berkenan kita bagi dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar. Aku minta waktu tunaikan wajib dulu. Sebentar aku pasti akan kembali disini. Masuk dalam dunia kata. Mengurung diri sambil nikmati malam. Rehat barang beberapa menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf. Maaf atas kealpaanku. Maaf atas ketidakmampuannku dalam penuhi kata bernama janji. Maaf karena rehat yang aku janjikan hanya beberapa menit ternyata terjalani hingga kemudian mencapai beberapa hari. Raga dan jiwaku kala itu terasa agak enggan mengulas sore itu. Bukan karena sore itu kurang indah hingga aku tak lagi mampu ungkapkannya dalam bentuk kata, tapi karena aku terlanjur merasa lelah dan merasa tak mungkin mampu mencetak rasa dalam kata. Itu saja alasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari secara otomatis bergulir nama. Aku kini bertemu dengan Senin kembali. Senin yang bertanggal 16 Februari 2009. Dan seperti biasa, aku kembali menghamba disini karena merana oleh kebosanan. Merana oleh kesenggangan yang bagiku sangat kurang menantang. Aku tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu suatu keironisan terjadi. Berada dekat denganku. Sebuah hari yang dinobatkan oleh sebagian besar manusia bumi sebagai hari kasih sayang. Sesuai dengan namanya, semua manusia merasa harus berlomba dengan sesamanya untuk merayakan dan berkasih sesayang mungkin, juga, kepada sesamanya. Coklat, merah muda, bunga, boneka I LOVE U, kue bentuk hati dan semua perlambang hari kasih sayang terasa begitu dimanja oleh manusia. Dielu- elukan. Dicari- cari untuk kemudian berakhir di tangan dan hati orang yang disayang. Bisa jadi pacar, saudara, sahabat atau hanya sekedar teman, orang tua atau siapapun yang dikasihi juga disayangi (mungkin hanya di hari itu saja). Orang bilang hari ini bumi berganti warna, jadi merah muda. Kata mereka. Tapi mungkin aku buta warna hingga tak punya daya melihat perbedaan warna bumi seperti yang mereka- mereka kata. Tapi apa mungkin ada manusia yang buta warnanya tak bisa bedakan warna merah muda? Ada! Dan itulah saya. Bagiku, hari itu berwaran hitam karena ayah baru saja meninggal dunia. Sehari setelah itu, mamanya divonis terjangkit Deman Berdarah campur tipes. Mungkin benernya adalah bahwa hari itu berwarna merah muda campur hitam yang kemudian menghasilkan warna hitam. Karena hitam begitu dominan. Saat manusia ramai bergelak tawa berkasih dan bersayang, sahabatku itu sedang bergelak tangis, berkasih dan bersayang dengan ayahnya yang kini telah almarhum. Sedihku untuknya. Dia pasti, sedikit, tidak suka hari kasih sayang dia tahun- tahun berikutnya hingga akhirnya dia jadi almarhumah juga. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasaku serasa tak sedang berada disini. Entah ada dimana dia. Yang jelas aku tak merasa punya rasa. Karenanya aku tak bisa terus cerita. Maka aku akan mencarinya. Hanya untuk satu alasan; agar aku kembali punya rasa untuk lanjutkan cerita. Selamat malam semua…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19:21&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-792059450132809026?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/792059450132809026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=792059450132809026&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/792059450132809026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/792059450132809026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/sore.html' title='Sore...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Sdc-xR9jffI/AAAAAAAAACA/J9OFtgUnGGQ/s72-c/sore.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-4025167510357236532</id><published>2009-03-23T22:29:00.004+07:00</published><updated>2009-11-13T03:16:04.853+07:00</updated><title type='text'>Vaska Alteria...</title><content type='html'>Kediri&lt;br /&gt;Minggu, 28 Desember 2008&lt;br /&gt;Hampir jam lima sore&lt;br /&gt;Sebagai Vaska…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah sebenarnya aku ini? Vaska atau Belva? Beberapa panggilan yang membawa arti berbeda. Aku memang sedang menikmati, bahkan bisa dikatakan sangat menikmati berperan sebagai Vaska. Sesosok wanita berumur masih 24 tahun dengan karir bagus, tampilan fisik yang mengecewakan jarang sekali lelaki dan yang terpenting adalah dia masih punya beberapa nyawa kebebasan untuk menikmati apa saja yang ada di harapannya pun apa saja yang ingin dia rasai karena dia punya segala yang diingini manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan aku akan melakukan peranku sebagai Vaska Alteria? Mungkin aku akan segera membunuh tokoh Va. Bukan karena tokoh ini tidak lagi digemari pemirsa melainkan karena aku harus segera kembali ke dunia nyata dan menjalani peranku sebagai seorang yang terlahir dengan nama Belva Purnama yang jelas- jelas sudah berstatus sebagai seorang istri dari Delvin Teman. Namun kenyataan yang sedang aku punya sekarang masih terasa begitu berat. Aku merasa perlu sejenak melakukan relaksasi dengan cara bersembuyi dibalik Vaska_Alteria@yahoo.com. Aku benar- benar merasa bebas nikmati nyawa. Seakan aku benar masuk dalam nyawa Va. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah tahu pasti pada siapa aku bisa berbagi lara. Semua yang kini sedang mengelilingiku masih saja nyaman pada dunia tawa mereka. Tak mungkin jika tiba- tiba aku datang dengan perasaan sembab oleh beberapa gelintir kekecewaan, sekilat kesedihan dan kekhawatiran maupun seliter air mata kesepiaan. Mereka tak mungkin bisa memahamiku karena tak sedang berada pada dunia yang sama denganku. Lalu aku memutuskan berubah menjadi khayal bernama Va.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian nuraniku berteriak lirih agar aku segera beralih tokoh, kembali menjadi Belva. Karena dia pikir aku sangat tidak adil terhadap suamiku. Namun aku sungguh masih belum sanggup untuk 100% hidup sebagai . Aku masih belum cukup kuat menahan kesepian, kesedihan, kekecewaan, kekhawatiran maupun kegagalan ini. Aku perlu beberapa saat lagi untuk kembalikan nyawa pemberaniku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak perjalanan hidup Va adalah saat lelaki mayanya benar menujunya. Va, yang sebenarnya tidak pernah ada, harus segera mengakui dirinya sebagai Belva yang datang hanya untuk menolong. Belva akan kemudian lahir dengan sendirinya. Entah apa yang akan terjadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sejenak terhenti oleh sebuah telepon dari kolega hidup; mengabarkan pernikahan teman masa lalu kami. Jika dulu aku merasa dan bereaksi biasa saja saat mendengar berita pernikahan, tapi sekarang aku merasa sangat luar biasa berbahagia. Bukan karena aku merasa ikut berbahagia bagi pasangan itu namun karena aku merasa semakin banyak orang yang hidup di dunia yang sama denganku. Aku berpengharapan agar mereka kemudian akan bisa merasakan apa yang aku rasakan. Terdengar sedikit jahat memang, tapi itulah yang memang kurasakan. Sebenarnya yang aku ingini hanyalah merasa tidak sendiri karena banyak juga yang sedang merasakan apa yang sedang aku rasakan. Hingga saat aku butuh mereka mendengarku, mereka bisa menangis bersamaku sambil bersama- sama merasakan yang aku rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini aku menyesali pernikahanku. Aku benar merasa sangat terkekang oleh status ini. Dipanggil istri lalu harus 100% bersama dengan seorang lelaki saja. Kemudian masuk pada masalah- masalah merger keluarga. Aku sama sekali tidak nyaman dengan status yang mengikatku dan merenggut paksa kebebasanku ini. Aku yakin masih ada banyak sekali petualangan yang mau aku rasai. Tapi sekarang aku harus terpaksa berhenti hingga jiwaku tak terima kebijakan ini. Aku masih ingin bersenang- senang dengan semua yang ada di luar sana. Aku masih berminat merasai berbagai macam rasa petualangan. Aku masih sangat mengharapkan kembali merasa jatuh cinta mati pada lelaki lalu aku atau dia harus patah hati karena ada sesuatu yang terjadi. Aku tidak mau merendam nyawa dirumah, keluar sesekali dengan lelaki yang sama lalu bertemu dengan keluarga besar sang suami yang sangat membuatku tak nyaman. Aku memang tak mudah masuki dunia baru dan masalahnya adalah mereka semua tak mau mengerti jadi aku merasa lebih terpaksa dan hanya beralasan formalitas dan tak ada daya menghindar. Tak ada hati sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku pernah berfikir dan hampir berkeputusan untuk tidak menambatkan hati pada satu lelaki. Itu karena aku tak yakin bisa setia padanya. Hatiku selalu ingin merasai hal baru yang masih belum sempat aku rasai karena kuyakin setiap lelaki akan berikan rasa berbeda dalam hatiku. Aku selalu saja ingin merasa up and down setiap saat. Jika rasa itu hilang aku akan kembali merasa kehausan dan mencari- cari cara kembali rasai jatuh cinta atau sekedar cicipi&lt;span style="font-style:italic;"&gt; up and down&lt;/span&gt;-nya kehidupan. Lalu kini aku menyesal menikah diusia 24 tahun. Seharusnya aku masih harus menundanya. Masih banyak yang ingin aku dapati pun rasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya bukan karena aku tidak cinta lelaki yang aku nikahi, namun aku tidak mau menyakiti siapapun karena jiwa liarku ini. Aku pasti akan menyakiti seseorang atau bahkan banyak orang jika aku masih saja menyuburkan keinginanku untuk berpetualang itu. Namun dilain pihak aku tak punya pilihan lagi karena memang petualangan itulah yang masih ingin aku rasai. Aku masih belum siap dengan semua formalitas kekeluargaan yang sekarang sedang aku hadapi. Sekali lagi bukan karena aku merasa tinggi atau apapun tapi hatiku memang masih sedang belum berarah kesitu. Dan aku bukan jenis yang suka dipaksakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya adalah aku sudah menikah sekarang. Telah setahun lebih sedikit aku memaksakan diri menyelami formalitas hidup berumah tangga. Menahan semua keinginan liar seorang lajang. Jiwa domestikku begitu resesif hingga dengan sangat mudah direpresi oleh keliaran yang sudah demikian kuat dan mendominasi. Hingga lahirlah seorang Vaska Alteria. Tokoh yang aku ciptakan untukku merasa sedikit bebas dan liar. Hanya sedikit saja karena aku berbatasan dengan dunia nyataku dan namaku yang sebenarnya Belva Purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku mulai mencari pembenaran. Apa ini yang selalu dirasakan oleh semua wanita yang sudah menikah, apalagi masih belum punya momongan yang sebenarnya adalah cuma alat pembuktian kejantanan suami, pengalihan perhatian dari kebosanan hidup dengan satu pasangan tetap, maupun media kebanggaan bagi keluarga besar? Apa benar ini yang dirasa jika wanita yang telah berumah tangga tak segera punya momongan. Jika benar maka keliaran, kebosanan dan kekecewaanku terhadap apa yang ada sekarang bisa dipastikan melemah saat aku tahu bahwa aku hamil. Tapi sebenarnya aku tak terlalu yakin. Karena aku sangat mengenal diriku sendiri. Aku benci rutinitas dan kesamaan. Aku mau selalu merasa ada yang beda dan tak mau dipaksakan. Bisa jadi aku akan menyesali dua hal; menikah diusia 24 tahun(yang bagiku masih terlalu dini) dan punya momongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya yang salah? Apa buku- buku dan novel- novel itu? Yang terus merombak konstruksi kenormalan otakku. Bisa jadi. Tapi banyak juga wanita , yang suka melahap buku dan novel feminisme dan penganut aliran bebas, yang masih tetap bisa normal dan menjalani semuanya dengan suka cita. Tapi siapa yang benar tahu isi hati mereka? Bisa jadi mereka sebenarnya juga merasa sama persis dengan apa yang aku rasa. Bisa jadi mereka juga menciptakan tokoh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;imajiner &lt;/span&gt;seperti halnya aku melahirkan Vaska dari rahim khayalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau melimitasi persinggunganku dengan dunia luar yang nyata. Aku mau terus nikmati diri sebagai Va. Sampai aku tak lagi kecewa terhadap apa yang ada saat ini. Terdengar egois tapi itulah aku. Yang pasti aku juga merasa sangat merana dengan ketidakmampuanku nikmati dunia nyata. Aku lelah harus terus lari dari nyata. Kaki- kaki khayalku terasa begitu lunglai. Tapi aku masih belum berani membuka mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa begitu gerah….&lt;br /&gt;Udara kota ini tak begitu bersahaja…&lt;br /&gt;Aku mau membasuh raga…&lt;br /&gt;Agar bisa sedikit merasa nyaman dan indah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir jam enam petang…&lt;br /&gt;Tanpa perasaan lega sedikitpun meski tlah habiskan ratusan kata guna nyamankan jiwa…&lt;br /&gt;Baiklah…&lt;br /&gt;Terimakasih pada Vaska…&lt;br /&gt;Maafkan aku, Belva…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-4025167510357236532?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/4025167510357236532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=4025167510357236532&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/4025167510357236532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/4025167510357236532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/renata-firdaus-wardhanu.html' title='Vaska Alteria...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-7128014964017006529</id><published>2009-03-23T22:24:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T10:18:23.614+07:00</updated><title type='text'>Rasa kehilangan itu akhirnya hampiri diri...</title><content type='html'>Kediri&lt;br /&gt;Pada sebuah  pagi bernama Rabu&lt;br /&gt;Bernomor punggung 26 November 2008&lt;br /&gt;4.45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku sebenarnya masih ingin terus mengatup karena hari memang baru saja terbuka. Perutku sedang meronta ingin mengunyah sesuatu hingga kuputuskan memulai hidup pagi ini. Secangkir Nescafe creme telah menunjukkan dedikasinya padaku. Terimakasih untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini telingaku sedang menjadi penikmat jamahan nada oleh suara, sedangkan retinaku sedang menatap Periskop Metro TV yang sengaja kunobatkan sebagai teman baruku pagi ini. Namun layar itu sengaja kubungkam suaranya karena aku hanya tertarik menikmati pagi sendiri. Biarlah retina lain ditempat ini mengatup rapat. Karena hari memang masih bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba- tiba nyawaku terasa lenyap sekejap. Sekembalinya, kutanya dia. Lalu dia berkata “Aku baru saja melesat mencari rasa yang selama ini kamu maui”. Belakangan ini aku memang sedang mencari nilai estetika dan melankolis dari sebuah kehampiran. Sudah agak lama aku berusaha mendapatinya. Belum juga kutemui hingga akhirnya aku menyimpulkan bahwa kali ini aku gagal membawa rasa yang harusnya ada temani kehampiran. Sempat kuputuskan untuk menerima semuanya apa adanya, tanpa terlalu memperdulikan harusnya seperti apa. Namun tiba- tiba saja rasa itu datang untuk tempati posisinya. Memang benar, jika kita menerima semua dengan hati terbuka maka hati akan memberi kita rasa yang lebih indah. Setidaknya itulah yang sekarang ini sedang aku rasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah menyangka sebuah rasa kehilangan kemudian menyapaku sepagi ini, saat beberapa bagian nyawa masih absen dan hari belum begitu dewasa. Hatiku tiba- tiba tayangkan senyuman Galih “the Jamaican boy”, celotehan Viko, Andre dan Johan, keseriusan wajah Bagos. Merekalah yang menggugah rasaku yang mungkin sedang tertidur oleh lelah. Wajah-wajah ceria yang akan segera aku ucapi selamat berpisah. Apa mereka akan merinduiku? Apa mereka akan mencariku? Apa mereka sempat merasa nyaman karena adaku? Apa mereka bahkan akan merasa lebih nyaman tanpaku? Berbagai tanya itu hanya mengharap satu jawab; “iya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusanku untuk memugar sekat hidupku ditempat ini ternyata membawa rasa kehilangan. Kehilangan wajah indah itu. Kehilangan kesempatan untuk kembali kembangkan senyum itu. Kehilangan kebersamaan dengan semua yang sempat ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku merasa kehilangan juga. Rasa inilah yang sebenarnya sedang aku cari karena memang benar ingin aku rasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;OST. Cayman Island byThe Kings of Convenience. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitu teduh saat terseduh telinga pagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari memang masih begitu tenang karena belum banyak retina terbuka, masih sedikit suara mengambang di udara pun langkah kaki masih belum sempat mengusik telinga. Semua masih terasa muda dan baik- baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski aku nyata- nyata nyaman merasa tidak berteman, namun sebuah kewajiban manusiawi memaksaku untuk membuka sepasang retina lain agar raganya siap bertegur sapa dengan Sang Khalik. Harapanku hanya agar pasangan retina itu segera mengatup lagi setelah semua tertunaikan. Hanya penuhi kewajiban manusiawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku sedang ingin sedikit melambat. Aliran kata ini terasa sedikit tersumbat. Aku mau rehat beberapa helaan nafas sembari menunggu hatiku bercerita apa yang dirasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, aku kembali tidak berteman karena hanya retinaku saja yang bekerja pagi ini. Aku masih dalam kondisi menunggu hati menjamah otak, lalu hasilkan untaian kata yang kemudian akan direkam oleh jemari diatas layar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, aku putuskan berhenti menunggu hati. Sudah cukup semua yang ingin kusebut. Hari yang tadi masih bayi kini sudah tumbuh menjadi batita. Lebih baik mengakhiri ini secara baik- baik. Aku mohon diri. Aku akan segera mengatupkan lagi sepasang retinaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.26&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-7128014964017006529?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/7128014964017006529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=7128014964017006529&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7128014964017006529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7128014964017006529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/rasa-kehilangan-itu-akhirnya-hampiri_23.html' title='Rasa kehilangan itu akhirnya hampiri diri...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-8705638122110465217</id><published>2009-03-23T22:16:00.001+07:00</published><updated>2009-04-02T11:10:22.341+07:00</updated><title type='text'>Yang aku rasa atas sebuah nama...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SceoWHj_17I/AAAAAAAAAA8/fIOO166j7QU/s1600-h/fixed.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SceoWHj_17I/AAAAAAAAAA8/fIOO166j7QU/s200/fixed.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316402983074781106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Masih) Kediri&lt;br /&gt;Saat hari bernama Kamis…&lt;br /&gt;Kalender sedang menamai diri 4 Desember 2008…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragaku kini terasa jauh lebih nyaman. Tirta itu (seperti biasa) tidak gagal merelokasi nyawa biasaku. Sunsilk soft &amp; smooth itupun serta merta berjuang tunjukkan setianya padaku. Belum puas aku bersihkan diri dari rasa biasa maka kubujuk Lux itu untuk senggamai diriku agar sejenak aku merasa berganti nyawa oleh aroma khasnya. Kemudian Nivea Oil Regulating itupun berusaha menghiburku hanya untuk dapati beberapa penggal kata terima kasih karena telah membantu. Ucapan itulah yang juga ingin didapati Pepsodent Herbal hingga akhirnya dia juga berjanji akan melakukan apapun hanya untuk sebuah “terima kasih”. Baiklah, terima kasih untuk semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian terhenti untuk beberapa penggalan masa. Berusaha membujuk rasa agar aku bisa segera menjawab panggilan janji yang sejak hari masih bayi sudah dengan sangat lantang meneriakiku. Bahkan tepat di gendang hatiku yang tingkat kepekaannya tentu masih sangat tinggi. Retinaku mengatup sejenak sambil mengetuk hati hanya untuk dapati beberapa bungkus ingatan tentang sebuah nama, Omar Randu. Hasilnya masih nihil. Maka kuputuskan untuk sejenak menyerah pada kekuatan rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang pertama hari ini kucumbui. Lentiknya gerakan udara tampak asyik menari bersama deretan asap ini. Aku tahu pasti ini tidak baik tapi aku sedang berada pada fase tidak ingin berhenti sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kurasa atas semua nama, Omar Randu.&lt;br /&gt;Belum terlalu lama aku bersinggungan dengan nama itu. Meski begitu aku bisa dengan sangat lancar menggambar siluet lelaki itu. Aku telah merelakan diri mengosongkan beberapa lembar ingatanku hanya untuk merekam semua yang sempat kutahu tentang dia meski kadang (seperti yang selalu aku bilang padanya) aku tidak bisa membedakan dia yang sedang serius pun bercanda. Biarlah semua masuk dalam rongga ingatan hingga aku kemudian punya kesempatan untuk memilah sari kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan aku merasa begitu aman dengan adanya seorang maya. Bagiku dia adalah sebentuk raga bernyawa yang memang pantas bernama lelaki karenanya nyatanya dia hidup dengan nyawa, hati, prasangka dan ingatan lelaki. Nyawa bernama Omar itu sama persis dengan gambaranku tentang bagaimana seharusnya seorang lelaki itu. Aku merasakan adanya kekuatan dan keteguhan hati dalam setiap apa yang sengaja dia sajikan untuk kudengar. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, meski tidak jarang aku terpaksa bertabrakan dengan harapanku untuk merasai manisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu lelaki itu masih sedang menikmati fasenya. Dia sedang menari indah dengan irama metropolis sambil menenggelamkan diri dalam candu nikmat duniawi. Dia, entah atas dasar apa, masih saja membungkus diri dalam kertas kado halus nan mahal bernama nikmatnya masa muda. Kecantikan dan kemolekan hawa masih merupakan candu terkuat baginya. Lelaki itu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;definetely&lt;/span&gt;, adalah seorang Don Juan yang secara sukarela menghambakan diri pada Dewi Kecantikan. Mungkin dengan cara itu dia bisa sedikit melenakan diri dari erangan hati kecilnya yang sebenarnya sedang tidak baik- baik saja. Bagiku hidupnya hanya sebuah kilatan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;blitz&lt;/span&gt; kamera yang terang mengejutkan untuk kemudian hilang terbang terusung bising. Normal kelihatannya tapi kurasa dia harus segera beranjak menapaki fase lanjutan kehidupannya. Mungkin ini akan terdengar begitu menggurui tapi aku sedang berusaha tepati sebuah janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu malam aku merasa dibangunkan oleh sisi lain seorang dia. Lalu aku terpaksa harus mereka ulang bentuk sketsaku ini. Dia, ternyata, masih punya entah berapa genggam tanggung jawab dan beberapa tetes embun mimpi akan cerahnya masa depan juga sejumlah tekad untuk sebuah masa bernama keberhasilan. Alhasil hari di hatiku mulai berganti nama, ditandai dengan terbitnya mentari kebanggaan atas semua yang sebenarnya dikandung oleh nyawa lelaki itu. Aku merasa gagal menebak dia. Sedikit melenceng dari perkiraan luguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang kedua sengaja aku senggamai siang ini. Sekedar untuk merasa tidak kesepian karena aku gagal menyatukan suaraku dengannya. Entah apa yang sedang terjadi padanya kala aku sedang merelakan diri mengukir sketsa maya ini. Aku cuma mau sekedar menghadirkannya disini melalui kata dan ingatan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu datang disaat aku sedang berusaha mencari cara menemukan jalan untuk lebih nikmati hidup. Rutinitas yang telah berhasil menculikku dari kesenangan masa muda kini sedikit meregangkan pasungannya padaku hingga aku merasa sedikit bebas bergerak, berontak lalu luapkan semua yang ada di otak. Sekarang aku jadi semakin mencintai malam, menjajaki liarnya asap rokok, menghirup udara café hanya untuk sekedar menggenggam rasa tenang sambil menarik mundur waktu lewat sisa ingatan untuk kemudian kususun kembali sebagai penyatuan kata. Dulu aku sengaja menghindari semua rasa malam itu. Karena memang masih tersenyum rasai pasungan rutinitas dan pengertian moralitas yang dangkal. Kini aku terseret arus lelaki yang sangat mengakrabi dunia malam, hura- hura dan tawa itu. Meski demikian, aku tidak berniat melangkah lebih jauh menerobos kekelaman malam. Aku hanya ingin sedikit merasai yang sudah lama lelaki itu rasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku boleh terus berkata- kata maka aku akan terus menjerit lirih agar dia mau kugenggam erat untuk bersama- sama tapaki jalan yang sama denganku. Bukan karena aku egois dan ingin diikuti tapi aku mau lelakiku itu segera dapati mimpinya. Mimpi akan seonggok keberhasilan. Sebuah mimpi yang akan bawa bangga dan senyum di hati semua yang ada dihatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah semakin meranum. Matahari sudah bergeser beberapa derajat kebarat untuk kemudian tertidur pulas dan bercinta dengan panas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku merasa harus berhenti pada titik cinta ini. Aku sungguh mengagumi lelaki itu. Mengagumi keberaniannya untuk terus terlelap dalam lekuk- lekuk indahnya hidup. Aku mulai mendoa agar dia segera terbangun untuk kemudian nyatakan semua mimpi yang sempat singgahi tidur lelapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be good, Omar…&lt;br /&gt;Be happy, beibh…&lt;br /&gt;Chase your dreams, my man…&lt;br /&gt;Semoga kamu tidak akan hapus aku dari ingatan manusiawimu…&lt;br /&gt;Selamanya simpan aku entah di bagian mana hatimu…&lt;br /&gt;16.24&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-8705638122110465217?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/8705638122110465217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=8705638122110465217&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8705638122110465217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/8705638122110465217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/yang-aku-rasa-atas-sebuah-nama.html' title='Yang aku rasa atas sebuah nama...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SceoWHj_17I/AAAAAAAAAA8/fIOO166j7QU/s72-c/fixed.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-202072901362067550</id><published>2009-03-23T22:08:00.000+07:00</published><updated>2009-04-04T18:43:10.022+07:00</updated><title type='text'>Hard Rock FM Surabaya....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddHxE7IriI/AAAAAAAAADQ/gfo1gmePbI4/s1600-h/ivan+meity.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 163px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddHxE7IriI/AAAAAAAAADQ/gfo1gmePbI4/s320/ivan+meity.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320800393222467106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah Senin &lt;br /&gt;Tertanggal 19 Januari 2009&lt;br /&gt;Saat udara masih beri nyaman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hari Senin keduaku disini. Itu artinya aku sudah bernafas kembali disini selama satu minggu. Dan syukurlah, aku masih belum juga berjumpa dengan kejemuan. Semuanya masih saja terasa baik karena aku juga tidak pernah berhenti merepresi penolakan hatiku. Alhasil, aku masih bahagia disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara masih saja bergerak- gerak penuh canda. Berusaha menghias pagi terang ini. Sepertinya dia berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih lantai dua ini. Hanya dengan satu alasan, yaitu menjumpai frekuensi radio Hard Rock FM Surabaya. Hatiku pagi ini sedang memilih untuk berteman dengar dengan Ivan Arbani dan Meity Piris. Mereka terdengar begitu menghibur. Dan inilah yang aku perlukan. Hiburan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya radio ini terdengar begitu membosankan pasca aku tinggal mandi. Mereka membahas kartu kredit BNI yang bagiku tidak berguna. Namun tetap aku menyetiakan telingaku untuk mereka berdua. Yang aku mau adalah merasa ceria oleh suara mereka berdua. Duo gila yang lihai mencari cara menikmati hidup hingga energi itu tersalur lewat suara. Hebat memang mereka itu. Sudah sekian lama tapi tetap bisa bahagia. Aku sudah mendengarkan mereka sejak sekitar 5 tahun yang lalu. Mereka dengan kualitas yang masih sangat sama meski umur mereka enggan tetap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menunggu mereka menceriakan hariku kembali seperti tadi pagi dan tahun- tahun sebelum ini. Aku mau merasa bebas melalui mereka. Aku mau menitip nyawa untuk beberapa jam saja. Untuk sekedar ikut sedikit cicipi kenyamanan dan kemudahan menjadi mereka. Dimana hidup terasa begitu hectic tapi penuh dengan energi positif. Harusnya aku berterimakasih pada mereka berdua yang dengan tanpa sengaja mengiyakan semua permintaanku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-202072901362067550?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/202072901362067550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=202072901362067550&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/202072901362067550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/202072901362067550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/hard-rock-fm-surabaya.html' title='Hard Rock FM Surabaya....'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddHxE7IriI/AAAAAAAAADQ/gfo1gmePbI4/s72-c/ivan+meity.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-1873241871921316546</id><published>2009-03-23T22:03:00.002+07:00</published><updated>2009-08-14T22:30:07.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='worshipping working'/><title type='text'>Sebuah akhir yang mengharukan...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ScenCxIvbdI/AAAAAAAAAAs/f7uub0svGFQ/s1600-h/27112008108.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ScenCxIvbdI/AAAAAAAAAAs/f7uub0svGFQ/s200/27112008108.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316401551125736914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kediri&lt;br /&gt;Saat aku merasa sangat kehilangan…&lt;br /&gt;Bernama Jum’at tertanggal 28 November 2008…&lt;br /&gt;Hari akan segera berganti nama…&lt;br /&gt;23.58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku berakhir. Aku hilang dan akan segera mundur dari ingatan semua yang sempat ada sebagai bagianku. Hatiku rasanya ingin sekali berontak. Mengutuk perubahan yang akan segera datang. Kali ini aku lemah lagi. Merasa sedang dikuasai perasaan sakit karena akan segera hidup sebagai sebuah entah dan tidak lagi bertemu dengan rutinitas yang baru saja aku ucapi selamat berpisah. Air mata ini rasanya begitu kuat membujuk retinaku agar dia bisa bebas cicipi udara fana. Dia berhasil. Aku sedang menangis tanpa suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah sebuah akhir yang mengharukan. Tiba- tiba saja aku harus berjabat tangan dengan beberapa orang sambil mengucap “Terimakasih banyak dan maaf atas semuanya. Selamat jalan. Good luck!”. Hatiku terasa begitu sakit mendengarnya. Jabatan tangan yang mungkin akan jadi yang terakhir. Aku bisa merasakan hangat dan eratnya persenggamaan itu. Yang terpenting aku bisa merasakan adanya perpisahan diantara kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, aku harus rehat sejenak demi sebuah janji dan panggilan hati untuk puaskan diri dengan kehadiran seorang maya yang datang bersama bahagia. Berbincang sambil dengan sekuat tenaga menahan hati terdengar lemah dan tidak tegar. Tetap saja, suara dan helaan nafaslah yang jauh lebih jujur dan bisa dipercaya. Dia pasti menilaiku lemah dan aku tidak rela siapapun tahu manusia seperti apa aku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40 menit berlalu dengan tinggalkan cahaya terang dihatiku. Beban dan rasa kehilanganku mendadak hilang terseka suara itu. Sekali lagi aku merasai kekuatan hati yang bisa seenaknya mengubah diri dari sedih menjadi cerah. Dia begitu kuat menarikku keluar dari kelamnya hati. Terimakasih untuk seorang Omar Randu.&lt;br /&gt;Aku masih berteman asap dan gemeritik api menghabisi batang ini. Batang kedua hari ini. Alasannya hanya karena aku tidak mau merasa sendiri meski sebenarnya aku sedang butuh menyendiri dan melukiskan panorama hatiku yang sekarang ini bisa dikatakan sedang berwarna kelabu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Only Human- nya One Litre Of Tears, Winter Sonata dan Sarang Han Da Myun sengaja kuundang malam ini. Mereka menghiburku dengan cara menyajikan aroma pedih sebagai menu utamanya hingga membuatku merasa sedikit berteman. Kuminta mereka menghiburku berulang- ulang sampai aku merasa kuat menggulung waktu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku tiba- tiba terbangun dari kenyamanannya. Asap yang terhirup mungkin telah membangunkannya dari segenggam kenyamanan. Berontak dengan cara mengubah posisi komposisi raganya sendiri yang tentu saja berpengaruh pada kondisi anatomiku. Tenang saja, aku bisa bertahan setidaknya sampai kemudian aku memutuskan untuk mencumbui batang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang hatiku sedikit nyaman, mataku tidak lagi bertirta dan ingatanku tentang apa yang tadi sengaja terjadi sudah sedikit meluntur oleh bilasan waktu dan gumpalan asap itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah berganti nama pun berganti nomor punggung. Semoga hari ini semua bisa baik- baik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai sekarang aku harus jalani kebiasaan baru…&lt;br /&gt;Tidak mudah bagiku tapi aku sudah tidak bisa lagi melangkah mundur…&lt;br /&gt;Saat detak jarum jam saja yang hinggapi indra manusiaku…&lt;br /&gt;01.48&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-1873241871921316546?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/1873241871921316546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=1873241871921316546&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1873241871921316546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/1873241871921316546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/sebuah-akhir-yang-mengharukan.html' title='Sebuah akhir yang mengharukan...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/ScenCxIvbdI/AAAAAAAAAAs/f7uub0svGFQ/s72-c/27112008108.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-3159539089212963161</id><published>2009-03-23T21:58:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T10:28:02.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='remang malam'/><title type='text'>Menghisap malam di Cafe Minie...</title><content type='html'>Kediri&lt;br /&gt;Pada sebuah hari bernama Rabu&lt;br /&gt;17 Desember 2008&lt;br /&gt;21.17&lt;br /&gt;Bedanya kali ini aku sedang menghisap malam di Café Minie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah malam yang masih saja sama seperti biasa, dimana aku tidak merasa harus melakukan sesuatu karena suatu kewajiban atau memang aku adalah hamba dari sebuah rutinitas. Semua berjalan berdasarkan apa yang aku maui. Faktanya aku adalah seorang manusia yang berstatus biasa sehingga, untuk kesekian kalinya, aku merasa tidak bisa terima keadaan. Kembali merindui keterpaksaan yang sekarang sudah melayar jauh dari pelabuhan hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin aku mencintai malam...&lt;br /&gt;Malam serasa menjadi sebuah masa dimana aku bisa lebih menikmati nyawa kehidupan. Sebuah masa aku bisa bebas berlalu lalang dalam remang dan merasa begitu aman karena terlindung oleh kelam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak terhenti oleh sebuah kematian rasa alirkan kata untuk kureka kembali dalam layar. Apalagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cappucino hot&lt;/span&gt; itupun sudah tidak lagi hot. Kuantitasnya juga sudah sangat berkurang. Hampir punah, bahkan. Tetap saja aku merasa sudah pernah menuliskan apapun yang aku rasa hingga kali ini aku merasa sangat puas dengan tulisan. Tak ada lagi yang tersisa untuk bisa dilarutkan dalam lautan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lelaki masih tampak begitu menikmati malam, sama persis sepertiku. Bedanya adalah perasaan hati mereka. Aku berani bertaruh mereka sedang tidak punya terlalu banyak beban hingga punya waktu lebih untuk bersenang- senang di tempat remang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;OST. Lonely by Akon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terasa sangat representatif untuk rasaku belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyawaku sedang nikmati lampu- lampu itu. Indah berkerdip seakan- akan tahu kapan harus menyala untuk kemudian digantikan oleh koleganya. Begitu bergantian hingga pukul sebelas malam. Saat beristirahat untuk kembali dimanfaatkan esok hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangku- bangku kayu nampak elegan karena cahaya masih meremang. Gagah bertengger lindungi sebuah meja kayu dengan bagian tengah kaca. Begitu serasi dan menanti siapapun untuk kemudiuan mengabdi, sekali lagi, sampai jam sebelas malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hendak beranjak tapi malam masih begitu muda. Kuurungkan niatku. Lebih bagus tetap berada pada keremangan untuk tetap rasai aman dan tak terganggu. Melihat sisi lain waktu. Tetap saja semua terasa sungguh biasa saja, tak berikan sebuah kesan apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat orang remaja juga menyibukkan diri dengan obrolan entah apa. Antar sesamanya. Mungkin tentang perempuan. Mungkin juga tentang rencana masa depan. Bahkan, mungkin, sedang saling mencari topik untuk diperbincangkan. Jadi mereka ngobrol tentang topik apa yang pantas diobrolkan. Bahasa biasanya adalah bermusyawarah untuk dapatkan mufakat berupa topik obrolan malam ini. Wajah salah satunya tidak terlalu cerah. Bisa jadi karena sedikit tertutup oleh aroma remang ini. Atau baru putus cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua remaja gabungkan diri. Duduki bangku kayu yang tadi kubilang sedang gagah menanti untuk menghambakan diri. Jemarinya mengapit rokok. Sama- sama berwajah ceria seperti kala hari masih bersebutan pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan aku?&lt;br /&gt;Berada disini dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;magic screen&lt;/span&gt; ini. Terus berusaha tuangkan apa yang bersedia dituang disini. Secangkir Cappucino yang tadinya bernama hot sudah terlelap dalam tidur abadinya. Terserap raga manusiawiku. Meski sebenarnya yang aku maui adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cappucino cold&lt;/span&gt;, tetap saja aku menghargai kesalahan ini. Tidak terlalu buruk juga sebenarnya. Karena intinya adalah bagaimana kita menikmati apa. Kesalahanpun bisa jadi kenikmatan saat kita tahu bagaimana cara melupakan bahwa ini adalah sebuah kesalahan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Just enjoy it and it’ll be so damn enjoyable!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali masuki dunia imaji ini setelah selama beberapa hitungan detik melipat tangan di depan dada sambil membiarkan hati dan otak bernegoisasi. Lalu apa hasilnya? Entahlah. Mereka masih belum melapor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;MTV Room Raider…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa aku nikmati. Ini satu- satunya hiburan yang tersaji ditempat mini yang karena keminiannya ini sengaja dinamai Café Minie. Dibubui huruf e mungkin hanya untuk keperluan estetika saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini saatnya aku berhenti. Tak lagi memaksakan hati dan otak berkoordinasi hasilkan beberapa deretan kata bermakna entah. Sekian saja untuk malam remang kali ini. Besok aku janji akan datang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau kembali merenggut kebebasan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mozilla&lt;/span&gt; untuk kusebut sebagai hambaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih buat semua yang sempat jadi sumber inspirasiku hari ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.49&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-3159539089212963161?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/3159539089212963161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=3159539089212963161&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3159539089212963161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/3159539089212963161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/menghisap-malam-di-cafe-minie.html' title='Menghisap malam di Cafe Minie...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-7653507347347674877</id><published>2009-03-23T21:50:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T10:22:24.374+07:00</updated><title type='text'>Dhoho Plaza...</title><content type='html'>Kediri yang gerah&lt;br /&gt;Bersetting di Dhoho Plaza Kediri&lt;br /&gt;13:13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini benarnya tak terlalu nyaman untuk disenggamai. Udara di dalamnya terasa begitu gerah akibat sirkulasi udara yang pas- pasan. Ditambah lagi dengan atap gedung lantai dua yang bagiku sangat kurang memadai karena terlalu pendek. Terkesan begitu sempit dan mau runtuh dengan beberapa hentakan kaki raksasa. Hiperbolis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh, gerah sekali siang ini. Tempat yang dipanggil plaza ini kurang memenuhi kriteria sebagai sebuah plaza. Bahkan alat pendingin saja kuyakin dipasang dengan jumlah terlampau minim. Tempat ini sepi manusia tapi suara erangan musik terasa begitu kental bercampur gerah siang. Benda elektronik itu mungkin ditujukan untuk menggantikan kehadiran manusia. Sejenis kamuflase. Lalu beberapa pegawai warung yang berseragam kaos warna oranye juga terlihat mengibaskan daftar menu yang lazimnya mereka suguhkan pada pendatang foodcourt ini. Tak banyak pendatang ditambah siang begitu gerah sama dengan daftar menu makanan jadi kipas bagi para pelayan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glenn Fredly numpang ngamen di televisi 21 inchi yang terpasang di atap sebelah kananku. Sayang sekali suara riuh musik warung sebelah mengganggu Glenn dalam bernyanyi. Yang ada kini hanyalah klip musik Terserah ala Glenn Fredly dengan suara Saint Loco. Unik jadinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di meja empat orang dibelakang kananku diisi oleh sekeluarga yang tampak baik- baik saja dengan komposisi ayah, ibu dan anak perempuan yang kuperkirakana masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. Mereka menyantap nasi goreng. Aku sama sekali tak tergoda. Well, ada beberapa kemungkinan memang. Yang pertama adalah, aku dan lelakiku baru saja mendapati sarapan berpadu makan siang. Kedua, aku yakin yang paling penting disini bukanlah masalah rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku, Lifa, sudah datang. Aku berakhir dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13:31&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-7653507347347674877?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/7653507347347674877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=7653507347347674877&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7653507347347674877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/7653507347347674877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/dhoho-plaza.html' title='Dhoho Plaza...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-2955284426279874167</id><published>2009-03-23T21:38:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T10:35:19.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='worshipping friendship'/><title type='text'>Tentang manusia Asunaro yang baru...</title><content type='html'>Kediri&lt;br /&gt;Tertanggal 22 Maret 2009&lt;br /&gt;Di sebuah Minggu muda dengan rasa cinta untuk kota ini….&lt;br /&gt;10:09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu ada banyak kata untuk tuangkan rasa secara verbal. Banyak sekali nama untuk gambarkan perasaan hati. Senang yang berlawanan arah dengan Sedih. Lalu ada juga Bahagia yang punya makna sama dengan kata Senang. Puas yang berbalikan dengan Tidak Puas. Lega yang berbipolar oposisi dengan Belum Lega. Kagum yang bisa disanding lawankan dengan Biasa Saja. Cinta yang pastinya bermusuhan kata dengan Benci. Nyaman yang bersingkuran dengan Tidak Nyaman. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, ada begitu banyak lagi. Sayangnya aku tidak terlalu mampu berdefinisi dan mencari oposisinya. Yang pasti, ada begitu banyak bahasa verbal buat ungkapkan rasa. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemini kembali mendominasi. Aku kembali merasai peledakan emosi dan rasa. Semua serba mendadak, bercampur dengan hampir sempurna hingga aku mengalami kesulitan untuk memilih kata guna gambarkan perasaan hati. Ada banyak kata yang mungkin akan kupakai. Senang. Kagum. Lega. Nyaman. Kuputuskan untuk hanya memakai empat kata rasa itu. Berlebihan jika kucari semua ungkapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;So far&lt;/span&gt;, semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana serta angan- angan. Meskipun ada sedikit ketidaksesuaian tapi segera tertutupi oleh kenyamanan lain yang terlalu meninggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca tak meluluhkan lahar hangat kami untuk menelan malam bersama. Berlima rasai malam di Café Minie Kediri. Hujan sempat datang dengan gagahnya. Bersama senjata petir dan kilat. Namun jiwa kami memang sedang ingin tepati janji. Semua kemudian hinggapi tempat ini dengan berbagai perasaan yang kuyakin saling mengikat. Kami mungkin sedang ingin saling melempar rasa lewat kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anto datang dengan label &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro Hakusho&lt;/span&gt; di dada. Dia adalah seorang Mugi Brillianto yang mencariku lewat dunia maya. Dia yang merasa perlu mencari jejak hidup &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro Hakusho&lt;/span&gt; yang nyata- nyata hanya sebagai kisah rekaan. Lalu dia menemukanku secara nyata. Lalu aku mempertemukannya dengan pecahan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro &lt;/span&gt;lain. Meski tak benar lengkap, kuyakin dia sudah bisa menebak rangkaian gambar hidup &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro&lt;/span&gt; ini. Dia datang sebagai manusia baru dalam tubuh sekarat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro&lt;/span&gt;. Gagapnya bibir Asunaro serasa tersambung kembali dengan lidah manusia baru itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terasa begitu menikmati. Ratri yang datang bersama lelakinya juga ternyata secara damai meletakkan beban jiwanya. Menyandarkannya di sisi belakang kursi kayu besar itu. Sedang lelaki itu juga secara terang benderang mengungkap sisi terang manusia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro&lt;/span&gt; baru itu. Lalu aku tak henti- hentinya menikmati setiap detik pernafasanku disana. Berharap agar waktu bisa berikan lebih banyak lingkaran umur buat kami. Lelakiku terlihat nyaman mencipta dunia baru diantara para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro&lt;/span&gt;. Semua tampak menikmati malam kemarin. Kuharap semua benar senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediri kali ini bagai sebuah kota maya yang tawarkan banyak sekali bahagia yang tak terlalu banyak ditawarkan dunia nyata. Semua yang ada disini bagaikan nampan yang membawa menu beragam dengan satu aroma, yaitu bahagia. Dengan satu kelezatan, yaitu tawa sumrigah. Dengan beberapa mangkuk dan piring hidangan. Bahkan tudung saji yang terpakaipun berhiaskan renda kebebasan rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua nyawa yang sempat jadi bagian masa duluku mungkin merasa punya wajib bahagiakan aku. Dan sekarang aku merasa enggan kembali ke dunia nyata meski sebenarnya apa yang kupunya sekarang adalah sebuah nyata. Sebuah nyata yang salahi konvensi karena hanya sajikan satu macam menu kehidupan. Sebuah nyata yang terlalu homogen karena hanya ditumbuhi lumut kebahagiaan. Aku enggan kembali. Pun aku harus kembali. Segera…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuputuskan untuk punyai dua rencana baru. Rencana untuk selalu mengingati dan merindui masa ini. Merindui karena indahnya. Merindui karena harum aromanya. Merindui karena rinai tawanya yang terlampau segar. Merindui karena rasaku sengaja kutinggalkan disini. Merindui karena aku terlanjur berjanji lirih pada mereka semua. Merindui karena memang patut dirindui. Atau juga merindui karena masa kemudianku tak lagi sama seperti sekarang. Jiwaku tersenyum begitu renyah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerah mulai menimang siang. Peluh mulai rambati sulur ragawi. Benderang sudah lama menabuh genderang perang. Panas bumi terasa bagaikan sengatan lebah paling berpengaruh. Betapa siang tergambar begitu sempurna dengan kelengkapannya. Lalu, seperti biasa, aku mendoa agar bisa tetap bahagia di semua situasi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhenti sejenak oleh obrolan dengan lelakiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segelas air mineral jernih terhisap olehku. Maaf untuknya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang mencari- cari kelebat ide yang hilang entah kearah mata angin mana. Aku sudah kelelahan mencarinya. Maka kuputuskan untuk berhenti. Kembali menyapa dunia nyata yang sedang serupa dengan dunia impian maya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tengah hari&lt;br /&gt;11:34&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-2955284426279874167?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/2955284426279874167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=2955284426279874167&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/2955284426279874167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/2955284426279874167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/tentang-manusia-asunaro-yang-baru.html' title='Tentang manusia Asunaro yang baru...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760081299017503678.post-5491230165067002295</id><published>2009-03-23T21:15:00.001+07:00</published><updated>2009-04-04T18:30:12.062+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='worshipping the friendship'/><title type='text'>Memunguti Sisa-Sisa Api...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddErNSbuEI/AAAAAAAAACw/T4sgpK56pOQ/s1600-h/friendship__by_spadaj.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 148px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddErNSbuEI/AAAAAAAAACw/T4sgpK56pOQ/s200/friendship__by_spadaj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320796993853569090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCHAT%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Palatino Linotype"; 	panose-1:2 4 5 2 5 5 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-536870009 1073741843 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mojokerto&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;23 Februari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pada sebuah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Senin sore yang basah dan remang…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Hari ini kami semua harus kembali pada realita. Semua harus kembali jalani hidup sendiri- sendiri. Mungkin itu bisa juga diartikan bahwa semua harus kembali meratapi apa yang kita punya. Sekaligus merintih atas apa yang belum kami miliki. Asunaro sedang meremang. Lilin nafas masing- masing anggotanya sedang tertiup angin yang datang bersama penghujan. Terusik hembusan dan hampir mati olehnya. &lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Kemarin dunia terasa begitu indah. Bukan karena kami sedang jatuh cinta. Bukan juga karena kami sedang merayakan hari jadi diri. Bukan karena hembusan berita bahagia. Yang pasti bukan karena cuaca yang bersahabat. Dunia mengindah karena kami merasa tidak sendiri. Kami merasa sama- sama sedang meremang oleh keadaan. Kami biasa terpisah dan merasai sakit secara pribadi. Namun kemarin kami merasa bisa saling berbagi kisah hingga sedih itupun terasa biasa dan tidak terlalu menyiksa rasa. Berbagi lewat tatapan hati dan resahnya suara kami yang sedang berusaha biasa dalam berbagi cerita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Asunaro sedang memunguti kembali sisa- sisa nyala api yang hampir padam oleh tiupan angin musim penghujan. Kami sedang merasa kesusahan mengumpulkan kembali api yang terlanjur menguap entah kearah mana itu. Meski kami tahu takkan mudah dapati kembali api itu, tapi kami tak punya pilihan lain lagi. Pilihan kami hanyalah menghibur diri sambil meyakini api itu akan bisa dikumpulkan kembali. Api yang dulu memagari lingkaran hidup muda kami. Saat kami masih bisa hidup sambil tertawa lepas dan rasai nyamannya bermimpi. Saat kami masih bisa terus bergenggaman tangan sambil saling bersedekah kebahagiaan. Saat kami bisa berjalan tepat arah sambil memejamkan mata karena kami masih punya tali hati yang menuntun kaki. Saat kami masih belum begitu dewasa untuk temui fakta bahwa dunia ini tak hanya tertawa, bahagia, nyaman juga berjalan tepat arah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Kami sekarang sedang bersahabat dengan alam yang ternyata malah mengkhianati kami dengan badai ini. Lalu kami terseret arus yang dulu pernah kami percayai untuk membawa arah hidup kami kemanapun. Dulu kami sempat menyerahkan hidup pada aliran air. Ternyata sekarang air itu tergoda arus dan angin hingga kemudian mengganti nama jadi badai hanya agar kami tetap mempercayainya. Nyatanya kami percaya hingga akhirnya kini terdampar di bagian dunia bernama kecewa. Intinya kami tertipu keadaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Aku, Ratri, Adri dan Naen masih sedang memunguti beberapa pecahan harapan. Kami sedang berjuang keras dapati kembali harapan dan keberanian untuk kembali bermimpi. Kesekarangan begitu menakutkan hingga kami merasa sedikit takut jika pintu selanjutnya akan terasa begitu mengecewakan. Lalu kami merasa saling punya wajib untuk saling mengirimkan kekuatan hati. Kami bergantian merasakan hati masing- masing dari kami. Ratri sempat juga kuminta merasakan hatiku yang sedang menjejali otak dengan idealisme. Dia juga memberiku ijin untuk sekedar melihat- lihat rongga hatinya yang sedang bahagia namun tersendat formalitas. Adri dan Naen juga saling melempar rasa hanya agar keduanya merasa bertukar raga juga hati. Akhirnya malam kemarin kami merasa bisa kembali bersama meskipun kami masih belum juga pasti apa sudah dapatkan kembali apa yang masih sedang hilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Pertemuan yang begitu mendewasakan. Tawa yang sempat terlempar mungkin hanya konpensasi rasa sakit yang lama mengendap. Genggaman jemari itu mungkin juga hanya upaya kami menghibur diri dan ungkapan pengganti kata “Tolong temani aku ya?!” agar tidak merasa sendiri. Lelucon yang kemarin turut serta hanya bagian dari formalitas sebuah pertemuan. Juga untuk menghindari dominasi kesedihan yang sama- sama sedang menggantung di kelopak nyawa kami. Hanya satu yang sedang sama- sama kami cari kemarin itu. Yaitu perasaan tertemani dan tidak sendiri. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sekilat rasa lega saat tahu ternyata tidak hanya aku yang merasa sakit. Ternyata tidak hanya aku yang merasa begitu rindui masa dulu. Ternyata bukan hanya aku yang merasa bahwa keburuntungan adalah sebuah kebutuhan primer untuk bahagia. Ternyata tidak hanya aku yang harinya sedang meremang. Mereka juga sama. Dan kami merasa bersatu kembali. Dan kami merasa begitu ingin mematikan waktu agar hari masih tetap bernama Minggu. Dan kami dalam hati mengumpat adanya kalender yang selalu saja mau dirobek dengan alasan waktu tak bisa berhenti. Yang terakhir kami masih sempat bersyukur masih saling memiliki hingga saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kami harus segera bangun dari mimpi yang memabukkan ini. Kami harus kembali meletakkan hidup kami pada tempat yang tepat. Aku disini. Mereka disekatan bumi yang lain. Yang sama, mungkin, hanya perasaan kami saja. Perasaan yang sedang meremang. Yang sama, mungkin, hanya apa yang kami lakukan saja; yaitu memunguti sisa nyala api sambil mencari cara nikmati hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Sekarang hari sudah punya nama lain. Bukan lagi Minggu. Bukan lagi disebut hari ini. Panggilannya adalah kemarin. Dan kini hujan turun lagi. Begitu menakutkan bagi kami yang sedang mencari- cari sisa api. Hujan dan angin begitu menyulitkan kami. Menjadikan kami merasa agak tidak mungkin temukan kembali api. Tapi kami harus tetap mencari. Demi sebuah kehangatan bagi jiwa kami yang menggigil. Hati kami masih tetap saling bergenggaman erat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Beberapa deret waktu yang lalu aku pernah bertanya; apa mereka semua sedang bahagia? Apa mereka semua sedang merindukan Asunaro? Apa mereka baik- baik saja? Apa mereka juga sedang menangis sepertiku disini? Apa yang mereka lakukan untuk nikmati hidup? Lama aku baru dapati jawaban dari semua tanya itu. Ternyata mereka juga sedang menangis meski aku tak pernah mampu merasakan sedalam apa rintihan tangis mereka. Bukan karena aku tak perduli tapi karena telingaku sudah terisi penuh oleh suara tangisanku sendiri. Kemudian aku juga tahu bahwa mereka juga masih sedang mencari cari cara menikmati hidupnya yang hanya bagai sekotak klise foto. Tak berwarna meski masih bisa sedikit dimengerti oleh sesama Asunaro. Ternyata, kami saling merindukan. Kami rindu genggaman tawa masa muda. Saat hidup masih begitu mudah hingga kita punya banyak waktu untuk tertawa dan iseng bikin masalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Tatapan mata kami masih begitu tajam demi lebih teliti mencari apa yang sedang kami cari. Tapi itu saja masih belum cukup. Nyatanya kami masih saja menunggu entah apa yang bisa jadi adalah sebuah bantuan untuk dapati bahagia. Dulu kami pikir bisa lebih lengkapi hidup dengan seorang belahan jiwa, namun itu tak sepenuhnya benar. Rasa lengkap itu masih perlu diperlengkap lagi. Kelengkapan itu hanya untuk beberapa helaan nafas saja. Lalu kami putuskan untuk kembali berjalan, merangkai petunjuk- petunjuk alam demi rasai bentuk kebahagiaan lain. Ironisnya kami tak pernah tahu apa sebenarnya yang bisa jadi kebahagian sejati kami. Kami terus berjalan dengan cekatan agar hujan tak bisa padamkan api kecil yang menyala setengah enggan ini. Kami menolak berhenti hanya agar segera dapati sesuatu yang kami sendiri tak mampu mendefinisi. Bisakah kami temukan sesuatu yang kami sendiri tak pernah yakin apa itu? Bisakah kami dapati sesuatu hanya dengan bekal sebuah entah? Tanpa definisi. Tanpa petunjuk lengkap juga. Lalu tiba- tiba hati kami ingin menangis bersama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Jika saja kami mau sama- sama jujur, aku yakin kami takkan pernah berhenti merintih. Hati kami begitu sakit. Parahnya kami tak pernah tahu sakit apa yang sebenarnya kami rasa. Yang kami tahu hanyalah, kami merasa sedikit sehat setelah merintih dan menangis. Hanya itu penyembuhnya. Tapi terkadang kami tak punya waktu untuk bersama, hingga tak bisa menangis bersama. Lalu hasilnya kami semua masih saja merasa begitu sakit. Terpisah namun bersama- sama rasai sakit yang hampir sama rasanya dan sama persis obat penyembuhnya. Kemarin, hati kami meronta bersama- sama. Kami berpisah setelah saling mengucap terimakasih atas rasa lega yang sedikit ada karena kami bersama lagi. Ucapan lirih yang begitu tulus dari hati yang sedang merintih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Semua organ tubuh dan rasaku benar- benar bekerja maksimal kemarin. Aku tidak rela melepaskan setitik petunjuk alam yang mungkin teranugrah melalui Adri, Ratri dan Naen. Hatiku tak pernah lelah membagi rasa untuk mereka semua. Mereka yang juga sedang merintih lirih oleh rasa sakit dan kecewa. Ya Tuhan, aku benar- benar merasa sedikit sembuh. Terimakasih atas kebersamaan sejenak ini. Meski api itu masih belum menyala sempurna tapi hati kami sudah begitu hangat hanya dengan cara saling menatap. Apa sebenarnya sisa- sisa api itu berada di mata kami sendiri? Lalu bagaimana mungkin kami bisa dapati sisa- sisa api itu karena kami tak mungkin bisa menatap mata diri sendiri. Pantas saja kami terus mencari dan belum juga mendapati. Karena ternyata sisa- sisa api yang kami cari itu ada dimana kami tak akan mampu jangkaui. Lalu kami harus bagaimana? Mungkin jalan yang baik adalah terus bersama dan saling menatap hanya untuk dapati pantulan mata sendiri. Lalu segera memungut sisa- sisa api. Secepat mungkin. Sebelum kami terganggu oleh kedipan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Kami mau bahagia kembali. Sama seperti masa muda kami. Semoga bisa…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku baru saja mendengar kata hebat; Persahabatan ada bukan karena diciptakan, bukan juga karena kesengajaan. Persahabatan dilahirkan dan ditempa oleh waktu. Maka aku baru saja menyadari bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro&lt;/span&gt; juga lahir oleh waktu. Maka sekarang, untuk pertama kalinya, aku sungguh berterimakasih banyak pada adanya waktu yang akhirnya melahirkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asunaro&lt;/span&gt; buat kami. Terimakasih banyak…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku mau menyudahi rentetan kata ini tapi sayangnya aku masih sangat menikmati guratan ini. Aku masih butuh merintih dan mungkin saja ini adalah salah satu cara nikmati hidupku yang sewarna klise foto ini. Bingung mau menumpahkan apalagi. Alunan nada dunia sedang menggema karena hari memang masih belum terlalu menua. Tanah dan aspal masih saja becek oleh hujan lebat sore tadi. Dingin sedikit mengintip namun gerah segera menutup pintu cuaca. Jam tujuh malam kali ini hampir serupa dengan jam sepuluh malam di sebuah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kecil yang masih pekat dengan aroma Islami. Sepi dan hanya ditutup kelambu Adzan serta pujian bagi Sang Kuasa. Begitu sedap suasana malam ini hingga aku sejenak melupakan semua rintihan yang semula ingin kumuntahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Kulitku terasa kering. Mungkin akibat sisa- sisa sabun mandi yang melekat hebat disana. Maka aku berdiri demi menjangkau lemari berwarna coklat muda yang hanya berjarak sekitar enam puluh senti di sebelah kananku. Berhasil. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nivea Body &lt;/span&gt;menormalkan cuaca kulitku. Sekarang aku sudah merasa sangat nyaman. Berada disini sendiri. Dengan daftar lagu di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Winamp &lt;/span&gt;lengkap dengan&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Mini Lyrics&lt;/span&gt;-nya. Dengan perasaan nyaman oleh cuaca. Selimut empuk warna cerah ini juga tidak lupa hangatkan kakiku. Rambutku kali ini aku biarkan tergerai agar dia juga bisa bebas rasai sedapnya malam ini. Aku mau berlaku adil buat semuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Aku sudah puas. Sekarang aku mau mengalihkan pikir dan indra manusiawiku ke bentuk hiburan lain. Bukan karena aku bosan meneteskan embun pikiran tapi karena aku mau mempertahankan perasaan dan menghindari kebosanan. Lain kali aku pasti akan datang lagi. Karena aku sudah kecanduan suara lentik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;keybord&lt;/span&gt; laptop saat jemari menari mengunci kata didalam layar elektronik ini. Aku kecanduan merdu suara itu. Karenanya aku pasti akan kembali dengan hati. Bukan dengan formalitas ataupun bentuk- bentuk toleransi. Percayalah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Semoga….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;19:28&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;Hujan sore ini sangat menakutkan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760081299017503678-5491230165067002295?l=kanvaskata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kanvaskata.blogspot.com/feeds/5491230165067002295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760081299017503678&amp;postID=5491230165067002295&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5491230165067002295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760081299017503678/posts/default/5491230165067002295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kanvaskata.blogspot.com/2009/03/memunguti-sisa-sisa-api.html' title='Memunguti Sisa-Sisa Api...'/><author><name>Aishiteru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07145492134082736906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/Svxq6NP98oI/AAAAAAAAAOQ/Nc4nGYcE0uE/S220/tidur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIzNPHM2mdY/SddErNSbuEI/AAAAAAAAACw/T4sgpK56pOQ/s72-c/friendship__by_spadaj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
