Thursday, April 2, 2009

Malam bergerimis...


Mojokerto
Di tengah gerimis yang enggan meringkas diri…
25 Pebruari 2009
Pada sebuah Rabu malam
22:17



Rasaku melega. Hari rasanya berlalu dengan kecepatan sedikit meninggi. Begitu cepat aku bertemu dengan pertengahan minggu yang akan segera mempertemukanku dengan akhir pekan yang selalu mengesankan. Tak banyak yang sudah aku kerjakan. Meski demikian aku merasa bisa melalui waktu secara cepat. Bagiku setiap hari berasa sama, tanpa pertanda. Setiap hari mempunyai rasa sinar mentari yang sama. Gerimis juga selalu setia padanya. Bahkan anginpun kadang datang dengan aroma hembusan yang cenderung sama. Arak- arakan warna langit juga masih sama juga; cepat berubah. Kadang begitu putih lalu tiba- tiba karena desakan musim akan segera berganti cat menjadi kelabu atau bahkan gelap. Jika bisa aku sedikit berkuasa maka semua hari akan kuberi nama sama. Karena bagiku semua sama. Tak ada beda. Bahkan sedikitpun tak berbeda.

Aku rindu nada persinggungan jemari dengan lantai notebook ini. Nada yang begitu nyaman tertangkap telinga. Nada yang begitu menjanjikan kebebasan rasa. Nada yang selalu memberi lega atas hatiku yang enggan mengembang. Nada yang ungkapkan romantisme benda mati yang mampu hidupkan nyawa suri. Entah apa yang benar terasa indah dari persinggungan jemari dan keyboard ini. yang jelas bagiku nada yang dilahirkan mampu sedikit sedekahkan ketentraman bagi jiwa. Dan malam ini aku sedang merinduinya.

Gerimis masih enggan undur diri. Mungkin dia mau lebih lama jadi bagian nyawa manusia. Ikut serta dalam hiruk pikuk kehidupan dan berharap bisa beri irama basah. Gerimis sedang asyik berpadu dengan malam sambil menimang- nimang keramaian hingga terlelap bersama sepi. Gerimis benar- benar mampu menyulap sore menjadi begitu senyap serupa dini hari yang masih dingin, sepi dan berembun. Kehidupan manusia seakan terbujuk untuk sejenak terhenti lalu merubah wujud manusia melalui lelap. Semua menjadi begitu nyaman bertegur sapa dengan mimpi. Tapi aku masih enggan menutup hari ini. Aku masih berharap bisa lukiskan kesenyapan malam ini. Agar suatu masa nanti senyap ini bisa kembali hidup dalam ingatan.

Angin muda tiba- tiba menyelinap masuk melewati pori- pori dinding dan lembut menyapa korden putih kamar luas ini. Mereka mungkin bercinta, mengingat hari sudah begitu sunyi sehingga indah bila bercinta. Biarlah mereka bersama- sama membakar birahi. Aku hanya mau hirup asapnya saja. Asap birahi benda mati yang sedang bercinta itu bisa jadi adalah penyedap rasa sunyi malam ini. Menciptakan aroma baru tanpa nama tapi begitu lezat jika dirasa.

Oh malam….

Malam selalu begitu aman bagiku. Ada banyak keindahan yang tersaji. Bisa dinikmati tanpa merasa tak aman. Mungkin karena keremangannya. Aku pecinta malam apalagi malam bergerimis seperti sekarang ini. Aku benar mencintainya. Dan tak pernah sedikitpun merasa harus jenuh oleh rasa cinta itu. Jika ditimbang mungkin akan terlihat jelas berapa karat rasa cintaku padanya dan karat itu takkan mengalami perubahan kuantitas pun kualitas. Takkan menambah pun tak kuijinkan berkurang. Akan selalu sama persis jumlahnya.

Mataku mulai mengingatkanku untuk segera menutup hari. Mereka sudah cukup lelah. Tapi aku masih merasa bahwa goresan ingatan ini masih terlalu sedikit untuk disudahi. Aku masih mau mengungkit beberapa hal lagi. Tapi entah apalagi. Mungkin aku masih butuh waktu sedikit lagi. Perlu beberapa waktu berjeda. Agar otak bisa lahirkan kandungan bayinya. Lalu kutuliskan disini. Lalu kulukiskan wajah bayi itu. Bayi sang ingatan.

Ah…sudahlah. Tak ada lagi yang kunanti. Baiknya aku menutup hari. Sudah saatnya memberi kesempatan diri untuk rehat. Rehat untuk kemudian hidup kembali pada masa dengan nama berbeda. Merangkak dan menyentuh Kamis. Melepaskan Rabu kembali ke udara lalu menghilang ditelan ketinggian.

Disini masih gerimis. Aku masih mendengarnya dengan jelas.

Aku mau mengatup lagi seperti malam sebelumnya. Sendiri juga. Berteman irama gerimis yang lagi merana lelah karena tak kunjung mereda.

Selamat beristirahat.
Selamat menutup hari.


22:59
Lelah….

Merekam malam tanpa seni...

Kediri
Pada awal bulan Desember 2008
Di sebuah hari bernama Senin yang (pasti) tidak akan berulang…
22.04



Malam sudah semakin melarut namun aku masih setia pada dunia luar. Aku merasa lebih bebas berada diluar karena udara bersih ini begitu erat pengaruhi hatiku.

Aku baru saja menitipkan bagian hidupku di sebuah tempat bernama Juice 22. Bersama seorang lelaki yang sampai saat ini masih rela membagi hidup dengan seorang manusia sepertiku. Meski sedang bersama, rasanya nyawa kami sedang menatap dunia yang beda. Aku sedang menyenggamai layar berisi kata ini sedangkan dia sedang bermesraan dengan layar lain dengan tombol kecil bernama handphone. Gelas juice apokat kami masih hampir penuh karena kami baru saja mengisi daftar hadir disini.

Lalu aku merasa ada yang masih perlu ditunggu kehadirannya. Sedikit hal yang masih kurang. Biasanya aku berteman beberapa batang rokok yang selalu mengajak serta asap dan api kecil yang artistik itu. Sekarang rasanya tidak begitu mungkin. Aku tidak sedang berada di ruang pribadiku dan aku tentu saja tidak mau dianggap murah dengan membiarkan putung rokok menyentuh bibirku.

Aku dan dia sedang bersama- sama singgungi bumi di larut ini. tetap saja kami memutuskan untuk menikmati malam dengan cara masing- masing. Aku tetap dengan otak dan isinya, sedangkan dia dengan sebatang rokok A Mild dan Mirc-nya. Aku tidak keberatan dengan semua yang ada sekarang.

Beberapa lelaki malam masih berusaha nikmati heningnya malam. Beberapa diantaranya membentuk koloni lalu memperbincangkan topik ringan meski aku yakin sepenuhnya bahwa otak besarnya tidak hanya berisi hal- hal ringan yang kali ini sedang tersaji dalam meja koloni mereka. Ada juga koloni lelaki malam yang sengaja menghabisi malam bersama beberapa teguk minuman haram. Tidak ada perasaan resah apalagi takut meski mereka beradius sangat dekat denganku. Bisa jadi jiwa pengecutku sedang menciut hingga aku dengan santainya berlayar dalam kapal malam yang sama dengan mereka semua.

Sebenarnya jiwaku tidak sedang goyah atau bahkan bersedih hingga sangat sulit bagiku untuk menikahkan deretan huruf- huruf ini menjadi kata- kata indah penggugah nyawa. Alasanku hadir disini hanya karena aku mau merekam masa ini, sebuah masa yang pasti takkan berulang (untuk alasan apapun) hingga membuatku merasa siap terus melangkah maju karena merasa punya media untuk kembali merindui lalu sedikit cicipi masa sekarang. Suatu saat dimasa depan nanti pasti aku akan kembali rindui semua yang sedang aku rasai malam ini.

Meski malam sudah melarut, lebih larut dari sebelumnya, tapi dingin masih juga enggan rapati ragaku. Masih saja aku merasa nyaman dengan semua yang ada. Aku masih tidak keberatan merekam hari disini meski seharusnya aku berada di ruang pribadiku.

Wajah para lelaki pencumbu malam itu tidak tertangkap jelas karena memang malam begitu erat memandu kelam bersamanya. Yang aku pastikan adalah mereka juga sedang mencari cara mengucapkan selamat datang pasti hari berikutnya.

Aku harus segera berakhir karena layar ini tidak mengijinkan aku menyenggamai malam dengan intensitas lebih tinggi lagi. Maka baiklah aku akan undur diri lalu meningkatkan konsentrasi pada juice apokat yang masih beberapa senti berkurang ini. Aku masih belum ahli membagi konsentrasi hingga semua hal harus dilakukan satu persatu.

Aku ingin merekam hari meski tak ada kata yang terdorong keluar dari ingatan…
Aku kembali mencintai malam…
Bahkan belakangan ini aku jadi jauh lebih mencintainya…
Mungkin karena hatiku sedang kurang berasa…


22.35
Terhenti oleh sebuah kondisi

Pada sebuah malam yang telah diliputi lelah...


Pada sebuah malam yang telah diselimuti lelah…
Masih juga bersetting Kediri
Pada sebuah Rabu tertanggal 26 November 2008



Perasaanku tiba- tiba melemah. Merasa tidak yakin akan bisa kembali dapati sebuah tempat lagi. Bathinku merasa enggan lepaskan hari ini. Aku mulai mendapati apa yang sebenarnya sedang aku cari dari sebuah kehampiran. Kali ini aku tidak sedang melebih- lebihkan rasa. Ini memang benar adanya.

Kebiasaan yang telah tertapaki sekian lama kini harus dilepas untuk kemudian digantikan dengan sebuah kebebasan mutlak atas kehidupanku. Tidak akan ada lagi keluhan tentang kelas- kelas menyebalkan. Jenuh atas rutinitas juga telah terhapuskan.

Masalahnya adalah apakah aku bisa tetap hidup dengan ketiadaan rutinitas. Lalu apa yang akan aku lakukan? Akan bahagiakah aku? Dimana aku akan berada? Dan yang terpenting adalah apakah namaku akan terus ada dalam benak semua yang sedang akan aku tinggalkan? Apa aku akan dirindui? Atau bahkan akan segera terhapus oleh penuhnya memori otak para kolegaku?

Aku mau terus hidup dalam hati semua fana yang sempat jadi bagian hidupku. Aku mau nyawa- nyawa lain terus menyimpanku. Memang terasa sangat tidak adil bagi mereka karena mereka akan hidup dalam sebuah kenangan akan aku. Aku yang biasa duduk disitu. Aku yang sering membuat keributan. Aku yang terkadang tidak bisa mengendalikan emosi. Aku yang selalu saja berpahit lidah.

Kesibukan akan menguburku dalam- dalam. Para kolega itu akan segera meniadakanku. Karena hidup akan terus tergantikan. Bagian diriku akan terserap oleh masa, lalu menguap bersama embun dan benar- benar hilang.

Aku merasa kehilangan sesuatu. Aku sedang merasa tidak mau dilupakan dan sangat takut dilupakan. Tapi akupun tidak berniat mengulang hari. Mengganti keputusan juga terasa sangat tidak mungkin. Akhirnya aku kembali pada “Hidup adalah keberanian dalam rasai resiko. Semakin kita bernyali tantang resiko, semakin hebat kita nantinya”.

Aku selalu saja takut kehilangan. Dan sekarang aku sedang sangat ketakutan. Rasanya ingin hentikan semua jarum jam agar tidak lagi berdetak. Agar waktu terhenti pada detik ini karena aku masih takut hilang, dihilangkan lalu kemudian kehilangan.

Besok farewell party buatku. Jika kemarin aku mendoa agar waktu segera bergulung, maka kini aku merasa seharusnya aku bisa lebih menikmati perjalanan waktu. Seharusnya aku merasai semuanya dengan puas dulu. Sebuah pesta perpisahan. Pesta bernama perpisahan itulah yang menampar aku keras seakan mengingatkanku akan sebuah akhir. Akhir dari semua yang selama ini aku lakukan. Mungkin aku akan bersedih untuk beberapa waktu. Kini aku mendoa agar segera temukan kebiasaan lain.

Aku mau semua merasa kehilangan aku…
Apa mungkin?
Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini…
Yang membedakannya hanyalah kuantitas kemungkinannya…
Dan kali ini, aku yakin sangat kecil…
(sekali lagi kukatakan) Kesibukan akan menelanku mentah- mentah…
Aku akan segera jadi hilang…

Sejak sekarang aku benar- benar merasa sedih. Banyak sekali yang terpaksa harus kulepas bersamaan dengan pergantian status sosialku. Dengan kata lain aku akan kehilangan begitu banyak hal, beberapa diantaranya sebenarnya masih ingin aku nikmati.

Aku akan segera berjalan terseok lagi. Berjuang dapati sandaran untuk kembali berteduh. Beberapa saat saja, lalu (mungkin) kembali terseok mencari selanjutnya.

Malam menua…
Aku ingin akhiri ini…
Merapat pada maya…
Tak lagi merasa sedih dan sendiri…



11.09

Rasaku terganggu waktu...


Pada sebuah pagi di Kediri
23 Maret 2009
Pada sebuah Senin dengan yang tawarkan nada perpisahan….



Pagi ini aku terbangun dan mengintip hari di kota ini. Aku masih merasa belum waktunya kembali ke dunia nyata meski hari ini sebagian besar manusia bumi lain sudah melemparkan diri secara entah paksa atau sukarela pada rutinitas harian. Akhir pekan sudah berlalu dari waktu. Senyuman kebebasan sudah lenyap terserap angin. Kebebasan jiwa sudah kembali terpasung rutinitas. Beban- beban pekerjaan kembali menempati pundak- pundak segar. Menambah berat badan hingga membatasi ruang gerak. Tak lagi banyak pilihan untuk dipilih. Yang paling utama adalah kembali menempatkan pikiran untuk segera menyelesaikan semua secepat mungkin.

Lalu aku masih juga ada disini dengan perasaan yang terganggu waktu. Aku merasa tiba- tiba ada yang salah. Ada sesuatu yang terlewat hingga kemudian perasaan ini tak segar seperti hari biasanya. Aku kembali merasa kesepian dan begitu tidak pasti. Semua yang sedang ada di hadapanku terlihat buram dan tak jelas. Arus waktu begitu deras sedang aku sedang bertambatan pada ranting kesenangan dan terhenti oleh batu kekecewaan. Aku tak mampu mendefinisi secara pasti apa yang sebenarnya kurasa. Yang jelas aku merasa ada yang terlewatkan dan membuat semua kemudian bernilai salah.

Kelopakku sebenarnya masih ingin mengatup kembali untuk beberapa saat. Kantuk masih juga bergelayutan di terjalnya retina. Menambah beban. Lalu cenderung mengatupkan kelopak. Tapi jiwaku terganggu. Jiwaku mengerang begitu lirih hingga aku tak punya mampu untuk mencuri dengar apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu apapun, hanya bisa merasa ada yang tak biasa. Dan itu benar mengganggu.

Kala ini aku sedang sendiri. Mencoba sekuat ingatan, hati dan organ penggerak tubuh untuk meresapi embun- embun hari ini. Embun- embun yang menempel pekat pada kaca hidupku. Lalu aku secara setengah sadar menghisainya dengan tulisan jari. Setelah kubaca kembali ternyata yang ada hanya kata :”Kecewa”. Entah pada siap kutujukan hiasan embun itu. Mungkin pada diriku sendiri yang masih belum mampu temui bahagia. Mungkin juga pada lelakiku yang masih belum berhasil menghapus hiasan embun itu. Padahal aku menulisnya dengan kekuatan lemah. Kupikir akan mudah terhapus. Atau setidaknya tertindas hiaa lain. Ternyata aku salah.

Aku ada di sebuah Senin. Pada sebuah hari yang dulu seringkali kucacimaki. Sebuah hari yang tak pernah beruntung karena selalu diharap untuk segera berganti nama. Bahkan aku sempat juga meneriaki konvensi untuk menghilangkan hari berpanggilan Senin. Namun gagal. Nyatanya sampai sekarang hari ini masih juga dipakai. Sudahlah…

Sampai sekarangpun aku masih mencari cari apa yang sesungguhnya aku maui. Hatiku masih enggan setia pada satu mimpi. Ada banyak lorong kebebasan yang menggodaku. Menawarkan sejumlah kesenangan penyejuk bathin. Beberapa waktu yang lalu aku sempat selalu merasa bahagia dan tersenyum sukarela dengan apa yang sedang aku tapaki. Semua terasa begitu menyamankanku. Tak ada keharusan membuatku merasa berhak atas kehidupanku sendiri. Lalu aku mulai menyusun daftar keharusan buatku sendiri. Meski tak jarang daftar itu kuhapus untuk alasan tak terlalu jelas.

Sekarang aku mendekati dua pilihan. Pertama, berhenti mencari kepuasan sendiri dan hidup dengan pola yang sama dengan manusia lain pada umumnya. Kedua, mencari cari pembenaran atas apa yang aku putuskan untuk kulakukan. Lalu aku bisa terus melenggang pada jalur yang sama dengan sekarang. Mungkin bedanya adalah pada titik keyakinannya. Bukankah setelah ada pembenaran kita akan merasa benar? Nyatanya aku belum memilih. Tapi aku sudah berencana untuk memilih salah satunya. Aku yakin pada salah satunya meski belum secara formal memilih.

Sampai sekarang aku masih belum tahu pasti jumlah kesenangan dan kebebasan di bumi ini. Aku lalu takut pada suatu masa dimana semua bentuk kesenangan dan kebebasan itu tak lagi mampu menyenangkan dan membebaskanku lagi? Bagaimana jika umurku jauh lebih panjang dibandingkan dengan persediaan kesenangan dan kebebasan itu? Bagaimana? Aku takut bertemu dengan masa itu. Aku takut tak bisa lagi disenangkan. Aku takut jiwaku tak lagi merasa bebas meski sedang bebas. Bukankah kata orang, hidup adalah perubahan. Dan salah satu bentuk perubahan adalah perubahan rasa. Jadi, bagaimana bila rasaku kemudian berubah menjadi tak bisa dengan mudahnya disenang dan dibebaskan? Apa aku akan semakin tak bahagia?

Temanku pernah berkata bahwa sebenarnya bahagia itu selalu berada pada pola pikir kita. Berada pada definisi kita masing- masing. Dengan kata lain, jika kita mendefinisikan bahagia sebagai senyuman maka itulah bahagia yang sebenarnya. Maka carilah itu. Bukan yang lainnya. Maka marilah kita berlomba- lomba mencari dan menetapkan definisi kebahagiaan buat kita sendiri. Lalu apa kita bisa memakai definisi yang sama atas kata bahagia? Bagaimana jika definisi yang kita mau sudah dipakai manusia lain? Bahkan sudah dipatenkan olehnya? Dan parahnya, yang bersangkutan sudah meninggal dunia hingga kita tak mungkin bisa menemuinya sekedar untuk minta ijin memakai definisi yang sama. Terus memakainya tanpa ijinpun akan membawa kita pada penjara bathin yang begitu menyiksa jiwa. Bagaimana jika demikian?

Maaf jika aku terlalu banyak bertanya. Terlalu banyak berkomentar dan menyanggah. Yang pasti aku sedang merasa begitu enggan kembali ke dunia nyata. Namun aku tak punya pilihan lagi. Mau tak mau harus mau…

Aku akan segera kembali…
Tunggu saja aku di suatu masa…
Gerah sudah datang kembali…
Mungkin memang sudah tugasnya memberi peluh pada kita….


Berhenti sejenak untuk membasuh tubuh sekalian jiwa sepiku…
10:03

Saat hasil SPMB 2008 diumumkan...

1 Agustus 2008
Di suatu hari Jum’at
Tengah hari…
Saat hasil SPMB tahun ini diumumkan…



Tiba- tiba ingatanku kembali menghilang….
Menguap pada masa 7 tahun yang lalu…
Rasanya aku mau melayang menuju masa yang telah hilang…
Suatu masa yang mengantarku pada semua kenangan terbaikku…

Tujuh tahun lalu…
2001…
Aku sedang sangat beku…
Merasa hal yang tak tergambarkan…

Kini, kenangan itu sedang dimiliki manusia lain…
Manusia lain yang sedang akan menapaki bahagia…
Juga indahnya petualangan…
Dan mungkin akan jadi bagian terindah nyawanya…

Dulu terasa begitu nyata ….
Terasa benar terulang kembali…
Saat aku memulai skenarioku dengan setting tempat yang berbeda…
Juga dipenuhi dengan harapan meraih terangnya masa depan manusiawi…

Sungguh beruntung siapapun yang sedang rasaiku masa 7 tahunku ini…
Senang takkan mampu terkendalikan…
Ragu dan takut juga dengan ramahnya ikuti…
Yang pasti hidup harus terus berjalan…

Rinduku selalu saja datang…
Mungkin memang yang lalu terlalu indah…
Mungkin juga karena aku belum jadi manusia matang…
Atau bisa jadi aku memang sedang gundah…

Otakku begitu rapat mengunci semua kenangan…
Sama sekali tak biarkan itu melesat pergi…
Bahkan untuk sedikit mengintip keluar saja tak mungkin…
Apalagi terus pergi dan menguap dari diri…

Sebenarnya dulu juga sempat ada tangisan…
Ada juga keluhan…
Ada kekecewaan…
Juga ada keputusasaan…

Tapi benar…
Kenangan memang terlalu indah untuk diuapkan….
Memang tidak jarang hatiku tak bersinar…
Karena merasa sedang tidak beruntung jalani kehidupan…

Bahkan sekarangpun aku tak bisa tidak sedih…
Karena aku yakin…
Bahwa kenangan memang ada hanya untuk terbitkan pedih…
Bahkan sangat yakin…

Masa lalu bagaikan sebuah jalan setapak…
Kanan kirinya rapi ditumbuhi flora warna warni…
Dengan udara jernih yang terkotak kotak…
Juga dengan aroma teduh bumi…
Tak lupa manusia hidup dengan layak…
Dan hanya mengenal kata bahagia dan santai…

Teriak…
Aku benar ingin teriak…
Ingin meronta dapati yang sudah pernah aku dapat dan kini hanya ada di otak…
Tapi nyatanya aku tak punya daya untuk berontak…

Tidak ada yang mau aku perbaiki…
Masa itu sudah tersaji dengan sangat menawan…
Sekarang aku mau coba lebih mensyukuri…
Agar tidak malah merasa tertawan oleh kehidupan…


Masih di Kediri….
Dengan kondisi tak mungkin kembali ke masa lalu…
12:28

Sarang Han Da Myun...

Terbangun dengan perasaan sangat rindui masa lalu
OST. Sarang Han Da Myun (dari serial Sad Love Story)
8.48




Pagi ini aku dibangunkan oleh rasa rindu yang begitu mengganggu. Rindu akan masa lalu. OST itu benar- benar menarikku begitu kuat pada bayangan semua masa lalu yang memang masih saja tersimpan rapi dalam hard disk manusiawiku. Lalu aku merasa ingin menangis karena hatiku merasa begitu merindu. Mungkin saja aku merasa tersentuh oleh kesedihan yang dibawa nada itu (meski aku tidak pernah tahu apa maknanya). Tapi kesedihan terasa begitu kuat mengikat hingga secara otomatis mengalir padaku yang memang sedang mencintai itu.

Kilatan bayangan tentang Malang dan semua yang ada didalamnya menghampiriku kembali. Mengajakku berbagi hati. Berbagai macam perjuangan masa muda yang sempat aku lakukan bersama semua yang dulu masih diri. Saat aku masih normal bersebutan Belva, bukan lainnya. Lalu aku harus berjuang untuk terus hidup layak dalam kondisi hati yang patah oleh seorang Faisal Basay. Sebuah penantian yang kulakukan dengan sukarela untuk sebuah kabar bahwa dia akan segera menikah dengan bukan aku. Sedikit hura- hura dengan kawan sebaya. Tertawa dan tersenyum bersama hadapi dunia muda juga bertahan dengan dinginnya Malang kala itu. Semua kenangan itu seakan mendorong dirinya dengan sangat kuat, mencoba untuk keluar. Namun karena tidak berhasil maka dia hanya menggangguku lewat rasa rindu ini.

Mataku sedang menahan tangis. Namun hatiku sudah sejak tadi basah oleh air mata. Aku kembali disadarkan tentang kuatnya kuasa waktu. Dia terus berjalan tanpa hati sambil tinggalkan sesuatu bernama kenangan. Ditambah lagi aku seorang Gemini yang menjunjung tinggi kenangan (meski sekecil apapun).

Kini aku benar- benar menangis. Raga dan bathinku kali ini sudah sinkron karenanya mereka menangis disaat bersamaan. Dan saat itu adalah sekarang. Kubiarkan saja, hanya sedikit air mata yang kuhapuskan.

Sarang Han Da Myun itu kuputar berulang- ulang. Hatiku semakin sakit memang tapi aku juga sedang begitu mencintainya.

Pengorbanan cinta apa lagi yang akan aku lakukan. Aku sudah berada pada bilik yang berbeda. Sebuah bilik bersebutan dewasa.

Genangan air mata ini mengurangi penglihatanku. Maka kuseka dia.

Dimana Malang yang dulu? Kini Malang sudah berubah menjadi kota entah bagiku. Sangat berbeda. Semua komponennya juga telah berganti. Hatiku makin menangis mengingat masa laluku yang ini tidak akan mungkin bisa dirasai lagi, apalagi dikembalikan. Aku rindu masa itu, Tuhan.

Aku benci perpisahan karena itu akan usung kenangan. Tapi aku juga membenci rutinitas yang selalu datang bersama bosan. Lalu apa yang aku maui?

Sebentar lagi aku akan punya waktu berlebih untuk kembali membongkar masa lalu. Bisa dipastikan aku akan semakin sering menangis. Menangis karena rinduku tidak akan mungkin terhentikan oleh apapun. Karena rinduku tidak akan mungkin bisa dinyatakan lagi, hanya bisa selalu dirasa sambil ditangisi. Aku memang sangat lemah jika berurusan dengan kenangan. Aku menyerah karena jika memaksakan kekuatan untuk terus berjuang, aku pasti akan kalah telak.



Sudahlah…
27 November 2008
Kediri
Mendekati akhirku disini…
Di hari yang sama dengan perayaan farewell party buatku…
Hatiku memang sedang sangat menangis…
Pada sebuah Kamis yang berbeda dengan Kamis lainnya…