Thursday, April 2, 2009

Rasaku terganggu waktu...


Pada sebuah pagi di Kediri
23 Maret 2009
Pada sebuah Senin dengan yang tawarkan nada perpisahan….



Pagi ini aku terbangun dan mengintip hari di kota ini. Aku masih merasa belum waktunya kembali ke dunia nyata meski hari ini sebagian besar manusia bumi lain sudah melemparkan diri secara entah paksa atau sukarela pada rutinitas harian. Akhir pekan sudah berlalu dari waktu. Senyuman kebebasan sudah lenyap terserap angin. Kebebasan jiwa sudah kembali terpasung rutinitas. Beban- beban pekerjaan kembali menempati pundak- pundak segar. Menambah berat badan hingga membatasi ruang gerak. Tak lagi banyak pilihan untuk dipilih. Yang paling utama adalah kembali menempatkan pikiran untuk segera menyelesaikan semua secepat mungkin.

Lalu aku masih juga ada disini dengan perasaan yang terganggu waktu. Aku merasa tiba- tiba ada yang salah. Ada sesuatu yang terlewat hingga kemudian perasaan ini tak segar seperti hari biasanya. Aku kembali merasa kesepian dan begitu tidak pasti. Semua yang sedang ada di hadapanku terlihat buram dan tak jelas. Arus waktu begitu deras sedang aku sedang bertambatan pada ranting kesenangan dan terhenti oleh batu kekecewaan. Aku tak mampu mendefinisi secara pasti apa yang sebenarnya kurasa. Yang jelas aku merasa ada yang terlewatkan dan membuat semua kemudian bernilai salah.

Kelopakku sebenarnya masih ingin mengatup kembali untuk beberapa saat. Kantuk masih juga bergelayutan di terjalnya retina. Menambah beban. Lalu cenderung mengatupkan kelopak. Tapi jiwaku terganggu. Jiwaku mengerang begitu lirih hingga aku tak punya mampu untuk mencuri dengar apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu apapun, hanya bisa merasa ada yang tak biasa. Dan itu benar mengganggu.

Kala ini aku sedang sendiri. Mencoba sekuat ingatan, hati dan organ penggerak tubuh untuk meresapi embun- embun hari ini. Embun- embun yang menempel pekat pada kaca hidupku. Lalu aku secara setengah sadar menghisainya dengan tulisan jari. Setelah kubaca kembali ternyata yang ada hanya kata :”Kecewa”. Entah pada siap kutujukan hiasan embun itu. Mungkin pada diriku sendiri yang masih belum mampu temui bahagia. Mungkin juga pada lelakiku yang masih belum berhasil menghapus hiasan embun itu. Padahal aku menulisnya dengan kekuatan lemah. Kupikir akan mudah terhapus. Atau setidaknya tertindas hiaa lain. Ternyata aku salah.

Aku ada di sebuah Senin. Pada sebuah hari yang dulu seringkali kucacimaki. Sebuah hari yang tak pernah beruntung karena selalu diharap untuk segera berganti nama. Bahkan aku sempat juga meneriaki konvensi untuk menghilangkan hari berpanggilan Senin. Namun gagal. Nyatanya sampai sekarang hari ini masih juga dipakai. Sudahlah…

Sampai sekarangpun aku masih mencari cari apa yang sesungguhnya aku maui. Hatiku masih enggan setia pada satu mimpi. Ada banyak lorong kebebasan yang menggodaku. Menawarkan sejumlah kesenangan penyejuk bathin. Beberapa waktu yang lalu aku sempat selalu merasa bahagia dan tersenyum sukarela dengan apa yang sedang aku tapaki. Semua terasa begitu menyamankanku. Tak ada keharusan membuatku merasa berhak atas kehidupanku sendiri. Lalu aku mulai menyusun daftar keharusan buatku sendiri. Meski tak jarang daftar itu kuhapus untuk alasan tak terlalu jelas.

Sekarang aku mendekati dua pilihan. Pertama, berhenti mencari kepuasan sendiri dan hidup dengan pola yang sama dengan manusia lain pada umumnya. Kedua, mencari cari pembenaran atas apa yang aku putuskan untuk kulakukan. Lalu aku bisa terus melenggang pada jalur yang sama dengan sekarang. Mungkin bedanya adalah pada titik keyakinannya. Bukankah setelah ada pembenaran kita akan merasa benar? Nyatanya aku belum memilih. Tapi aku sudah berencana untuk memilih salah satunya. Aku yakin pada salah satunya meski belum secara formal memilih.

Sampai sekarang aku masih belum tahu pasti jumlah kesenangan dan kebebasan di bumi ini. Aku lalu takut pada suatu masa dimana semua bentuk kesenangan dan kebebasan itu tak lagi mampu menyenangkan dan membebaskanku lagi? Bagaimana jika umurku jauh lebih panjang dibandingkan dengan persediaan kesenangan dan kebebasan itu? Bagaimana? Aku takut bertemu dengan masa itu. Aku takut tak bisa lagi disenangkan. Aku takut jiwaku tak lagi merasa bebas meski sedang bebas. Bukankah kata orang, hidup adalah perubahan. Dan salah satu bentuk perubahan adalah perubahan rasa. Jadi, bagaimana bila rasaku kemudian berubah menjadi tak bisa dengan mudahnya disenang dan dibebaskan? Apa aku akan semakin tak bahagia?

Temanku pernah berkata bahwa sebenarnya bahagia itu selalu berada pada pola pikir kita. Berada pada definisi kita masing- masing. Dengan kata lain, jika kita mendefinisikan bahagia sebagai senyuman maka itulah bahagia yang sebenarnya. Maka carilah itu. Bukan yang lainnya. Maka marilah kita berlomba- lomba mencari dan menetapkan definisi kebahagiaan buat kita sendiri. Lalu apa kita bisa memakai definisi yang sama atas kata bahagia? Bagaimana jika definisi yang kita mau sudah dipakai manusia lain? Bahkan sudah dipatenkan olehnya? Dan parahnya, yang bersangkutan sudah meninggal dunia hingga kita tak mungkin bisa menemuinya sekedar untuk minta ijin memakai definisi yang sama. Terus memakainya tanpa ijinpun akan membawa kita pada penjara bathin yang begitu menyiksa jiwa. Bagaimana jika demikian?

Maaf jika aku terlalu banyak bertanya. Terlalu banyak berkomentar dan menyanggah. Yang pasti aku sedang merasa begitu enggan kembali ke dunia nyata. Namun aku tak punya pilihan lagi. Mau tak mau harus mau…

Aku akan segera kembali…
Tunggu saja aku di suatu masa…
Gerah sudah datang kembali…
Mungkin memang sudah tugasnya memberi peluh pada kita….


Berhenti sejenak untuk membasuh tubuh sekalian jiwa sepiku…
10:03

Saat hasil SPMB 2008 diumumkan...

1 Agustus 2008
Di suatu hari Jum’at
Tengah hari…
Saat hasil SPMB tahun ini diumumkan…



Tiba- tiba ingatanku kembali menghilang….
Menguap pada masa 7 tahun yang lalu…
Rasanya aku mau melayang menuju masa yang telah hilang…
Suatu masa yang mengantarku pada semua kenangan terbaikku…

Tujuh tahun lalu…
2001…
Aku sedang sangat beku…
Merasa hal yang tak tergambarkan…

Kini, kenangan itu sedang dimiliki manusia lain…
Manusia lain yang sedang akan menapaki bahagia…
Juga indahnya petualangan…
Dan mungkin akan jadi bagian terindah nyawanya…

Dulu terasa begitu nyata ….
Terasa benar terulang kembali…
Saat aku memulai skenarioku dengan setting tempat yang berbeda…
Juga dipenuhi dengan harapan meraih terangnya masa depan manusiawi…

Sungguh beruntung siapapun yang sedang rasaiku masa 7 tahunku ini…
Senang takkan mampu terkendalikan…
Ragu dan takut juga dengan ramahnya ikuti…
Yang pasti hidup harus terus berjalan…

Rinduku selalu saja datang…
Mungkin memang yang lalu terlalu indah…
Mungkin juga karena aku belum jadi manusia matang…
Atau bisa jadi aku memang sedang gundah…

Otakku begitu rapat mengunci semua kenangan…
Sama sekali tak biarkan itu melesat pergi…
Bahkan untuk sedikit mengintip keluar saja tak mungkin…
Apalagi terus pergi dan menguap dari diri…

Sebenarnya dulu juga sempat ada tangisan…
Ada juga keluhan…
Ada kekecewaan…
Juga ada keputusasaan…

Tapi benar…
Kenangan memang terlalu indah untuk diuapkan….
Memang tidak jarang hatiku tak bersinar…
Karena merasa sedang tidak beruntung jalani kehidupan…

Bahkan sekarangpun aku tak bisa tidak sedih…
Karena aku yakin…
Bahwa kenangan memang ada hanya untuk terbitkan pedih…
Bahkan sangat yakin…

Masa lalu bagaikan sebuah jalan setapak…
Kanan kirinya rapi ditumbuhi flora warna warni…
Dengan udara jernih yang terkotak kotak…
Juga dengan aroma teduh bumi…
Tak lupa manusia hidup dengan layak…
Dan hanya mengenal kata bahagia dan santai…

Teriak…
Aku benar ingin teriak…
Ingin meronta dapati yang sudah pernah aku dapat dan kini hanya ada di otak…
Tapi nyatanya aku tak punya daya untuk berontak…

Tidak ada yang mau aku perbaiki…
Masa itu sudah tersaji dengan sangat menawan…
Sekarang aku mau coba lebih mensyukuri…
Agar tidak malah merasa tertawan oleh kehidupan…


Masih di Kediri….
Dengan kondisi tak mungkin kembali ke masa lalu…
12:28

Sarang Han Da Myun...

Terbangun dengan perasaan sangat rindui masa lalu
OST. Sarang Han Da Myun (dari serial Sad Love Story)
8.48




Pagi ini aku dibangunkan oleh rasa rindu yang begitu mengganggu. Rindu akan masa lalu. OST itu benar- benar menarikku begitu kuat pada bayangan semua masa lalu yang memang masih saja tersimpan rapi dalam hard disk manusiawiku. Lalu aku merasa ingin menangis karena hatiku merasa begitu merindu. Mungkin saja aku merasa tersentuh oleh kesedihan yang dibawa nada itu (meski aku tidak pernah tahu apa maknanya). Tapi kesedihan terasa begitu kuat mengikat hingga secara otomatis mengalir padaku yang memang sedang mencintai itu.

Kilatan bayangan tentang Malang dan semua yang ada didalamnya menghampiriku kembali. Mengajakku berbagi hati. Berbagai macam perjuangan masa muda yang sempat aku lakukan bersama semua yang dulu masih diri. Saat aku masih normal bersebutan Belva, bukan lainnya. Lalu aku harus berjuang untuk terus hidup layak dalam kondisi hati yang patah oleh seorang Faisal Basay. Sebuah penantian yang kulakukan dengan sukarela untuk sebuah kabar bahwa dia akan segera menikah dengan bukan aku. Sedikit hura- hura dengan kawan sebaya. Tertawa dan tersenyum bersama hadapi dunia muda juga bertahan dengan dinginnya Malang kala itu. Semua kenangan itu seakan mendorong dirinya dengan sangat kuat, mencoba untuk keluar. Namun karena tidak berhasil maka dia hanya menggangguku lewat rasa rindu ini.

Mataku sedang menahan tangis. Namun hatiku sudah sejak tadi basah oleh air mata. Aku kembali disadarkan tentang kuatnya kuasa waktu. Dia terus berjalan tanpa hati sambil tinggalkan sesuatu bernama kenangan. Ditambah lagi aku seorang Gemini yang menjunjung tinggi kenangan (meski sekecil apapun).

Kini aku benar- benar menangis. Raga dan bathinku kali ini sudah sinkron karenanya mereka menangis disaat bersamaan. Dan saat itu adalah sekarang. Kubiarkan saja, hanya sedikit air mata yang kuhapuskan.

Sarang Han Da Myun itu kuputar berulang- ulang. Hatiku semakin sakit memang tapi aku juga sedang begitu mencintainya.

Pengorbanan cinta apa lagi yang akan aku lakukan. Aku sudah berada pada bilik yang berbeda. Sebuah bilik bersebutan dewasa.

Genangan air mata ini mengurangi penglihatanku. Maka kuseka dia.

Dimana Malang yang dulu? Kini Malang sudah berubah menjadi kota entah bagiku. Sangat berbeda. Semua komponennya juga telah berganti. Hatiku makin menangis mengingat masa laluku yang ini tidak akan mungkin bisa dirasai lagi, apalagi dikembalikan. Aku rindu masa itu, Tuhan.

Aku benci perpisahan karena itu akan usung kenangan. Tapi aku juga membenci rutinitas yang selalu datang bersama bosan. Lalu apa yang aku maui?

Sebentar lagi aku akan punya waktu berlebih untuk kembali membongkar masa lalu. Bisa dipastikan aku akan semakin sering menangis. Menangis karena rinduku tidak akan mungkin terhentikan oleh apapun. Karena rinduku tidak akan mungkin bisa dinyatakan lagi, hanya bisa selalu dirasa sambil ditangisi. Aku memang sangat lemah jika berurusan dengan kenangan. Aku menyerah karena jika memaksakan kekuatan untuk terus berjuang, aku pasti akan kalah telak.



Sudahlah…
27 November 2008
Kediri
Mendekati akhirku disini…
Di hari yang sama dengan perayaan farewell party buatku…
Hatiku memang sedang sangat menangis…
Pada sebuah Kamis yang berbeda dengan Kamis lainnya…

Sunday, March 29, 2009

Malas melukis kata...


(Masih juga) di Kediri
(Masih juga ) tertanggal 22 Maret 2009
Kala hari (masih juga) bernama Minggu
Mungkin hanya rasa yang mampu beri beda…


Bumi memang selalu memberi adil bagi semua yang ada di dalamnya. Senyum akan selalu datang membawa serta tangis. Bahkan musim hujanpun merapat bersama keringnya kemarau. Oleh karena itu ada yang disebut binari oposisi. Dan sekarang aku benar mengalaminya…

Aku memulai pagi ini saat waktu masih lekat pada lima kurang lima belas menit. Lalu aku melanjut rajutan mimpi yang masih tertinggal di pelupuk mata untuk kemudian menghela hidup dikala waktu berusia delapan lebih beberapa menit. Dan aku terbangun dengan rasa begitu lezat. Aku terbangun saat bagiku kehidupan sedang melunak. Aku memulai kesadaran di kala urat nadi berbalut kulit bahagia. Mataku menikmat hari yang kurasa begitu lezat. Intinya, semua terasa (tak hanya terlihat) begitu melegakan.

Lalu aku menjulur nyawa untuk temui situasi. Menyulur merangkai kenangan baru. Membentuk kisah klasik untuk masa depan (jika kuboleh meminjam istilah Sheila On 7). Tepati janji lagi. Bertegur sapa dengan beberapa nyawa. Memapar senyum. Menjahit kembali rangkaian kain persahabatan yang lama terseret waktu. Berharap semua akan sama membahagiakannya dengan masa kemarin. Namun nyata tak selamanya berpagutan dengan harapan. Dan kali ini mereka sedang saling menjaga jarak. Entah untuk tujuan apa. Bisa jadi untuk menyadarkan aku betapa hidup tak selalu bisa diperkirakan. Bisa jadi juga untuk membuatku jera berpengharapan. Begitu banyak mungkin di bumi ini.

Ragaku merasa sedikit lelah jalani semua bentuk kesenangan instant ini. Kupaksa bekerja menopang jiwa dengan durasi jauh lebih lama. Tanpa ucapan Terimakasih, meski cuma sekali saja.

Aku terserang rasa malas yang akut. Aku malas melanjutkan lukisan kata ini.

Sampai berjumpa….



18:45

Di Kediri dengan senyum beraroma manis...

Kediri
Tertanggal 20 Maret 2009
Kala hari akan begitu segera berganti nama…
Hampir Sabtu dini hari…


Aku kembali melemparkan raga dan nyawa di Kediri. Bukan untuk selamanya menjadikannya sebagai setting hidupku kembali. Aku hanya ingin sejenak menuai kenangan yang baru kutinggalkan disini. Sengaja ingin kutemui kembali semua yang dulu kulepaskan oleh paksaan keadaan. Memang adalah sebuah pilihan. Lalu aku memilih untuk meninggalkan Kediri beberapa waktu yang lalu. Kini, aku kembali rasai Kediri dengan lidah rasa yang berbeda. Nyatanya Kediri kali ini terasa begitu mengharukan.

Jalan- jalan panjang yang dulu selalu kutelusur. Warung- warung yang sempat jadi tempat tujuan untuk gembungkan lambung. Tempat- tempat belanja yang kala itu sempat jadi tempat favorit. Lalu wajah- wajah yang dulu begitu lekat dengan indraku. Bahkan udara gerah yang dulu juga tak luput dari umpatanku kini tersenyum manis menyambutku kembali disini. Kedatangan yang hanya beberapa hari saja. Karena aku telah memilih kota lain untuk kutinggali. Bukan lagi Kediri. Bukan karena kekecewaan terhadap kota ini. Hanya karena hidup adalah barisan pilihan. Lalu aku merasa harus memilih, juga.

Lima menit lagi hari sudah bernama Sabtu. Surga bagi semua manusia pekerja. Surga bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam hiruk pikuk kesibukan. Surga bagi siapapun yang masih punya hasrat buat sekedar melepas suntuk. Hari inilah surga ini dimulai. Mungkin akan berakhir esok malam.

Dua batang A-Volution telah tanjaki bibirku. Udara masih saja mengganas. Rasa kantuk masih enggan mengetuk kelopak mata. Map biru usang ini kupaksa usir rasa gerah. Butir- butir peluh nyata terjatuh. Begitu gerah kota ini. Pun demikian lelakiku sudah erat bersinggungan dengan mimpi. Capek mungkin. Biarlah. Suara lirih para lelaki muda masih saja berputar- putar disekitar telingaku. Mereka mengobrol entah apa. Terdengar hanya sayup. Tak begitu jelas karena mereka sadar akan etika berbicara pada malam hari.

Winamp-pun masih asyik melolongkan suara para penjual nada. Seperti biasanya, aku berteman nada maya yang terekam di sebuah ceruk ibukota entah kapan itu. Aku merasa hidup sedang begitu melunak. Hatiku bergembira oleh semua hal yang kutemui.

Dengkuran itu semakin keras. Pertanda lelaki itu begitu terlelap. Kantukku berjingkat pelan dekati kelopak untuk kemudian mengetuk, mengharap dibukakan pintu lalu mendominasi hidup lewat katupan mata. Normalnya memang seperti itu karena sekarang sudah dini hari.

Kendaraan yang sedari tadi berkelebat di jalan raya depan kos inipun sudah mulai tersihir oleh waktu. dini hari begitu kuat berikatan dengan lelap dan sepi kecuali oleh dengkuran.

Sedikit demi sedikit rasaku sudah terpuaskan. Lihat apa aku masih bisa merasa begitu puas seperti hari ini di esok hari. Well, aku hanya mendoa agar bisa selalu bahagia pada situasi apapun. Karena manusia takkan pernah puas maka sia- sia saja jika aku memohon agar bisa merasa puas. Yang ada hanya kesia-siaan jika begitu. Maka aku merajuk oleh adanya rasa bahagia. Dan kudapati itu. Syukurlah.

Pukul 12:08 dini hari.
Hari ini sudah berganti nama jadi Sabtu, seperti yang tadi kubilang.
Kantuk sudah berhasil mengetuk kelopak dengan begitu keras dan tergesa.
Dengkuran lelaki itu menggelitikku untuk bergabung dengannya malam ini.
Bersama dalam lelap.
Baiklah…
Lelap, aku akan segera datang…



Di Kediri dengan senyum beraroma manis…
12:10 dini hari

Aku begitu merindu nama itu...

Kediri
24 Maret 2009
Pada sebuah Selasa dengan gerah yang meredup
Saat aku menyadari kembali betapa semua harus silih berganti


Aku masih di Kediri. Dalam kondisi hampir mengakhiri kehadiranku disini. Setelah beberapa hari menumpangkan nafas untuk nikmati gempita kota tahu ini. Pada akhirnya aku harus berakhir juga. Kembali pada kotak hidupku sendiri. Tak ada yang mengiringi kepergiaanku kali ini. Hanya lelakiku itu saja yang memberikan aku sebuah pengantaran dengan alasan tak sanggup kutinggalkan sendiri. “Lebih baik kamu yang melihatku berlalu daripada aku yang harus melepasmu tertelan jarak lalu menghilang bersama jauh,” begitu katanya. Maka baiklah kuijinkan dia mengiringku meski aku sebenarnya lebih ingin sendiri nikmati sore diatas sebuah bis. Aku tak punya pikiran untuk melolaknya. Hanya bisa mengiyakan setelah sebelumnya meyakinkan dia tentang apa yang telah diputuskannya…

Aku masih disini. Menunggunya melebur jadi nyata yang lalu akan membawaku berlalu dari sini. Sendiri membuatku lebih bebas menerka mimpi. Aku juga merasa bebas memain- mainkan masa laluku yang tertinggal disini. Sebuah petualangan hati. Aku dan seorang lelaki lain yang hanya kumengerti lewat nama. Seorang Omar Randu yang dulu begitu mengusik nyawaku. Dia sempat terekam sebagai bagian akhir kehadiranku di kota ini. Saat aku memutuskan untuk tidak lagi menyentuhkan nafas disini. Kala itu Oktober 2008. Dia ada sebagai hiasan hidup penghias nafas letihku. Dia datang bersama sekantong titik harapan untuk rasai naik turunnya kehidupan. Dan dia berhasil. Aku tersenyum begitu bahagia oleh nama dan suaranya. Begitu membangkitkan serabut bahagia di urat jiwaku. Aku juga pernah begitu menantinya dan mengutuk waktu yang terasa begitu lambat. Waktu dia memintaku menunggu. Itu semua terjadi dulu.

Lalu waktu terus melaju. Dan kini kutemukan dia hilang. Lenyap dari ceruk harapan yang dulu pernah kubangunkan untuknya…

Lalu aku tetap jalani hidup pada sisi dunia ini. Sendiri melayar. Hanya bergandengan tangan dengan beberapa bentuk pengandaian. Lalu aku sampai juga pada sekarang. Berusaha tetap bertahan dan menikmati sisa- sisa kekuatan untuk nikmati petualangan perasaan. Saat aku memikir lebih dalam dan menerawang kembali ke masa yang dulu, aku tersentak dengan kenyataan betapa sudah sangat panjang jarak petak sekarang dengan masa aku menimang rasa dengan nama lelaki itu. Sungguh banyak yang telah berada diantara kenanganku atas nama itu dan masaku saat ini. Yang semakin menyesakkan diri adalah kesadaran atas ketidakberdayaanku untuk merasai nama itu kembali. Karena dia tak lagi mengabdikan namanya untukku. Meski aku yang awalnya mengakhiri permainan rasa dengannya, namun kini akulah yang merasa dikalahkan. Karena sekarang aku, tiba- tiba, merinduinya. Lalu aku bertanya; Apa dia masih menyisipkan namaku di entah bagian dirinya sebelah mana? Jika iya, maka akulah pemenang permainan ini. Tapi manusia takkan pernah tahu isi hati manusia lainnya. Maka aku tetap merasa kalah. Aku sungguh ingin hanya bertegur kata dengannya. Sebentar saja. Hanya sekedar ingin melegakan rasa. Tapi tak bisa. Nama itu memang tak pernah setia padaku…

Hari sudah berganti panggilan…

Aku sudah kembali pada dunia nyataku. Kembali berakrab dengan kebebasan. Bertali jiwa dengan kesepian yang selalu berusaha kuingkari. Pejamkan mata sambil nikmati gerakan lunglai sang waktu. Aku kembali melempar diri di kota kelahiranku ini. Sambil sesekali menghibur rasa lewat kata- kata. Dan mulai melupakan makna sebuah harapan. Aku terlalu lelah dan juga takut kembali terlantar oleh harapan. Aku mengubur cara untuk berharap. Aku hanya mendoa agar bisa selalu merasa bahagia dengan situasi apapun karena manusia takkan pernah merasa puas.

Aku sudah berulang cara mencoba lupakan nama itu. Namun tak bisa sepenuhnya mampu. Jiwaku tetap berharap agar suatu masa nanti aku nikmati nama itu kembali. Cuma itu yang kumaui karena aku tak lagi sedang berada pada masa bebas memilih rasa. Aku sudah memilih untuk melayarkan jiwa raga pada sebuah lelaki nyata. Aku tahu nama itu tak akan mungkin bisa jadi Siapa. Nama itu akan selamanya menjadi Apa yang adalah sebuah benda. Bukannya sebagai Siapa. Karena waktulah yang memilihkan peran untuknya. Aku tahu itu. Maka aku hanya mendoa bisa sesekali rasai degupan kencang detak jantung jika aku memang sedang ingin merasainya kembali. Mungkin aku memang egois. Damn, I do miss it much!!!

Aku begitu merindu nama itu…
Aku ingin kembali bersenggama dengannya…
Kembali merasa menantikan sesuatu dengan begitu…
Mengharap waktu segera hantarkan diri pada suaranya…
Bisakah aku meminta itu terjadi?

Aku tidak sedang mengkhianati siapapun…
Karena aku hanya menyimpannya sebagai sebuah rasa…
Nama itu begitu menggodaku tanpa ampun…
Apa nama itu masih mengingat bahwa aku memang benar ada?

Nama itu adalah Omar Randu…


Saat ini hari sudah bernama Kamis
Bertanggal 26 Maret 2009
Dan bersetting Mojokerto
19:06