Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Wednesday, November 11, 2009

Puisi hati...
















Mojokerto
11 November 2009
12:49
Pada sebuah Rabu…


Pernahkah kau merasa terkhianati oleh hati?
Adalah disaat kau merasa begitu yakin olehnya…
Lalu dia ternyata mengubah arah haluan…
Hingga kau merasa harusnya tak memutuskan untuk mengabdi hidup pada sebuah nyawa…
Tapi kau terlanjur memutuskannya…

Dan…

Pernahkah kau menyalahkan waktu?
Adalah disaat kau menyesali keterlambatan pertemuanmu dengan sebuah hati…
Lalu ternyata kau telah terlanjur mengabdi hati pada yang lain…
Hingga lalu kau hanya bisa berkata “seandainya…”

Dan…

Pernahkah kau mengutuk alur kehidupan?
Adalah disaat kau menyadari rute hidup lainnyalah yang sebenarnya lebih membahagiakan…
Tapi, sayang kau tak melangkah kearah itu…
Hingga akhirnya kau melewatkan sebuah hati yang seharusnya adalah takdirmu…

Dan akhirnya…

Pernahkah lalu kau menerima semua kesalahan itu dengan terpaksa?
Hanya karena kau tak pernah punya daya untuk mengubah apapun…
Lalu kau memaksa diri nikmati yang telah kau punya…
Sambil menjadikan apa yang tak pernah sempat kau gapai sebagai mimpi yang tak untuk diwujudkan…

Dan aku pernah…
Aku pernah merasa terkhianati oleh hati…
Pun aku pernah menyalahkan waktu yang salah menempatkan aku dengan dirinya…
Dan akhirnya, dengan terpaksa, kuterima semua kesalahan itu…

Dan kini aku tahu betul fungsi kata “menyesal”…
Lalu aku berjanji untuk hati-hati memilih alur cerita kehidupan…
Karena siapa tahu jika dulu aku memilih belok kanan maka rute akan semakin panjang hingga aku punya daya untuk mengulur lebih banyak waktu guna bertemu denganmu…
Tapi nyatanya, kala itu aku memilih jalan lurus…

Aku terlambat bertemu dengan hatinya…
Dan aku sempat menyesal…
Lalu kini dia merapatkan hati dengan yang lain…
Apa dia sempat menyesali keterlambatan ini?
Semoga yang terbaiklah yang akan terjadi selanjutnya…



Lega…
13:06

Tuesday, August 25, 2009

Terlambat bertemu...



25 Agustus 2009
Pada sebuah Selasa di bulan Ramadhan
10:50



“Kalian terlambat bertemu!"

"Loh?"

"Iya. Jika kalian bertemu 3 atau 4 tahun yang lalu. Would it be the same? Would you be with him as you said he’s got 95 from you? Dan sekarang sudah sangat sulit, meski masih ada sedikit sekali kemungkinan karena jodoh hanya sebuah rahasia yang seringkali melewati jalan berbatu dan berbelok. Dan sekarang, dengan apa yang sudah kamu punya, apa yang kau rasa tentangnya? Tak ada rasa sedikitpun? Atau kamu berusaha melebur rasa yang ada?”


Di sebuah siang yang begitu terik, Lila mengetik barisan kata-kata itu. Melalui Yahoo Messenger. Tak terlalu kaget aku membacanya karena kenyataanya aku duluan yang menyadarinya. Beberapa entah yang lalu, aku menyadari kemungkinan itu. Kemungkinan bahwa bisa jadi aku dan Radithya terlambat bertemu. Bahkan aku pernah juga mengandaikan aku tak berada di posisi ‘pasti tak bisa memilih lagi’ seperti ini. Dan aku membayangkan apa yang akan kulakukan. Apa aku akan segera menahannya agar selamanya bersamaku? Sepertinya iya. Tapi sayang hal itu hanya sebuah pengandaian yang begitu lintas waktu.

Kunamai ‘dia’ Radithya Javas Nararya.

“Jangan mikir aneh-aneh…”

“Aku heran saja pada kalian berdua. Kenapa begitu sama. Jangan-jangan dialah sebenarnya jodohmu dan kamulah sebenarnya jodohnya. Tapi karena kamu sudah bersama dengan yang lain, dia masih menunggu jodoh yang lain hingga sekarang. Dengan usia yang terlalu matang. Dan suatu kala dia bilang kalau mencari pendamping hidup yang sevisi.”

“Jodoh itu saling melengkapi makanya tak pernah sama. Kamu bilang bahwa aku dan dia sevisi, berarti kita bukan jodoh karena itu artinya kami tak bisa saling melengkapi. Karena kami sama.”


Lalu Lila berhenti mengetik sejenak. Karenanya aku lanjutkan…

“Bisa jadi demikian. Bahwa aku dan dia memang terlambat bertemu. Mungkin jika waktu tak masalah dan aku masih ‘bisa memilih’ maka aku pasti akan memilih bersamanya yang jelas-jelas telah dapati 95% kriteria dariku. Tapi aku tak yakin dan tak mau memastikan menghentikan rasa hanya padanya. Karena pada dasarnya aku tak begitu percaya yang dinama cinta dan pengabdian hati. Bagiku perasaan hanya bersifat sementara karenanya akan selalu terbarui dengan berbagai hal. Bisa jadi akan tertindas rasa-rasa baru untuk dia-dia yang lain. Well, yang jelas aku sudah pernah merasa ‘aku dan dia terlambat bertemu’ dan ‘he’s just to good to be true’ jadi yang kubisa hanya melanjutkan semua yang sudah berjalan selama ini. Melanjutkannya dengan rasa yang sama dan tanpa banyak berpengharapan.”

Lalu aku dan Lila berlanjut dengan baris-baris kata yang lain. Beberapa masih tentang aku dan Radithya Javas Nararya. Beberapa tentang rencana masa depannya. Lalu tiba-tiba kubilang…

“Be with him…He’s a good man. Make him yours.”

“Hahahaha….Aneh-aneh saja. Males banget karena dia kan ‘sisa’ darimu.”

“Sisa tapi kalau masih qualified, kenapa tidak? Lagipula dia sudah lolos tes. Dan hasilnya menakjubkan, hampir tak bercelah.”

“Well, masalahnya dia seorang SE…..”


Lalu kusimpulkan bahwa Lila sebenarnya suka pada Radithya. Setidaknya dia memperhitungkan Radithya juga meski ada tapi yang terbaca begitu tak berlogika karena hanya masalah SE...



11:13

Wednesday, July 22, 2009

Main Hati


Mojokerto
22 Juli 2009
Di sebuah Rabu pagi dengan udara dingin yang sesekali menyelinap ari…
7:29


Permainan memang membawa efek “senang”. Apapun jenis permainannya, pasti akan meninggalkan jejak langkah sang senang di hati. Bahkan tak jarang para pemain hebat akan membuat lawan mainnya terperangkap dalam sebuah candu. Terperangkap dan tak mau lepas meski logikanya jelas- jelas mengatakan bahwa permainan itu berbahaya dan hanyalah sebuah kebohongan belaka. Tapi, toh, kenikmatan yang dirasai berhasil mengaburkan suara logika. Alhasil, para pemain akan menikmati setiap jentik waktu dan tak lagi mengharapkan sebuah kebenaran. Karena semua yang ada sudah terlanjur membahagiakan…

Permainan hati…

Masih ingatkah anda dengan nama Belva Purnama? Perempuan berusia seperempat abad yang selalu mengganggap bahwa logikanya seberbahaya air hujan yang mampu mengkorosi besi. Yang hatinya sekuat liat dan mampu berubah bentuk pun warna dengan cepat. Perempuan dewasa yang oleh karenanya selalu menjajal hati dengan para lelaki. Dia tak pernah berjanji akan setia pada satu lelaki. Dia juga tak pernah mengganggap dirinya berselingkuh karena motifnya hanya pada penjajalan hati. Dia tak pernah memasukkan satu lelakipun di hatinya. Karena dia tak mau berhenti menjajal hati. Karena hatinya hanya gumpalan perasaan liat…

Berkali- kali dia bermain hati. Berkali- kali pula dia menang setelah puas bersenang- senang meski tetap berada di zona tenang…

Permainan hatinya dengan Omar masih berlanjut hingga sekarang meski mereka berdua sudah saling mengakui segala kebohongan. Meski dia telah secara perkasa mengakui bahwa dirinya tak lagi sendiri. Lalu Omar menjadi tak habis pikir. Meski Omar tahu kalau banyak sekali kebohongan diantara mereka, tapi dia tak pernah menyangka Belva berbohong sejauh itu. Belva pun tahu benar bahwa Omar tak selalu berkata jujur. Namun mereka berdua saling menikmati kebohongan itu. Mereka berdua sama- sama saling menikmati permainan hati ini. Tanpa arah pasti. Namun menjanjikan kejutan atas kebohongan selanjutnya. Dan itulah sisi candunya…

Sampai akhirnya…

Mereka berjanji untuk berteman di dunia nyata. Tanpa kebohongan yang artinya tanpa candu…

Kini mereka sedang merangkai pola permainan hati lainnya. Omar dengan perempuan lain. Dan Belva dengan lelaki lain. Saling mencari candu meski masih saling terhubung dalam sebuah janji. Janji untuk berteman di dunia nyata…

Oh..betapa permainan membawa candu…
Betapa kebohongan hanya laksana sebuah keharusan…
Betapa logika sempurna terselimuti saat hati mendominasi…
Dan, Belva akan terus menjajal hati…
Tak pernah berhenti…




Sekian
Terimakasih
8:10

Wednesday, April 8, 2009

Sumpah I Love You...

Mojokerto
8 April 2008
Pada sebuah Rabu yang gulita
Malam menjelang Pemilu Legislatif 2009


Bumi sudah gulita. Lampu- lampu sudah dipanggil menggantikan mentari yang beberapa jam yang lalu sudah menutup mata. Lalu bumi sedikit merasa benderang. Meski hanya di beberapa belahan sisinya saja…

Aku masih menyapu waktu di salah satu ruang rumah dengan televisi beberapa inchi ini, yang menyala gempita. Stasiun TV berebut menarik hati. Lalu kuputuskan memilih salah satu diantaranya. Sebuah acara musik malam di sebuah stasiun bernama Trans 7. On the Spot hadirkan Mahadewi dengan Sumpah I Love You…

Mataku telah buta
Tak dapat melihat wajah yang rupawan lagi
Selain dirimu…
Hatiku sudah mati
Tak dapat merasa kerinduan yang lain
Selain dirimu…

Sumpah I love you
I miss you
I need you
Aku tak bisa musnahkan
Kamu dari otakku

Lalu otakku mulai bereaksi bagai larutan yang teroksidasi udara. Menggeliat pelan. Mencoba memaknai deretan lirik berbalut nada itu.

Untuk lelakiku itu…

Aku sungguh berharap untuk bisa rasai lirik itu. Untuk benar- benar mendapati perasaan yang persis sama dengan deretan panjang kata- kata dalam lagu itu. Aku mau mataku menjadi buta dan tak lagi mampu melihat wajah yang rupawan lagi selain kamu. Pun aku begitu mau hatiku mati rasa lalu tak lagi mampu merasai kerinduan untuk yang lain. Aku begitu ingin semua bagian pada diriku hanya mengkiblat pada kamu. Aku sungguh punyai harap agar bisa mengarahkan hati pikirku padanya. Begitu ingin aku hidup seperti apa yang dikata Mahadewi itu…

Mungkin benar katamu. Bahwa aku tidak bisa setia hati dan laku hanya padamu. Bahwa aku tak pernah bisa menjaga perasaanmu. Bahwa aku selalu membuatmu merasa ketar- ketir dan cemburu. Tapi harap kamu tahu satu hal. Bahwa aku hanya mau mengalihkan beban hidup. Bahwa aku tak pernah punya sedikitpun niatan untuk melangkah sendiri atau dengan lelaki bersebutan lain. Percayalah…

Lelakiku…
Aku sadar kekuatan hatiku. Hanya aku yang sepenuhnya memahami kadar hatiku ini. Karena sebenarnya sampai saat inipun hatiku tidak pernah benar- benar mengingini siapapun. Karena memiliki adalah kesiapan untuk tersakiti. Dan dimiliki adalah kesiapan untuk kehilangan bulir- bulir kebebasan. Dan aku tak mau itu. Jika pada akhirnya aku berakhir dengan kamu maka kuanggap itu sebagai sebuah takdir yang bahkan aku sendiripun tak pernah punya daya untuk merubah. Dengan siapapun aku sekarang, aku tak pernah berhenti melangkah puaskan diri mengukur kekuatan hati. Karena aku begitu yakin bahwa aku tak akan pernah mengingini untuk memiliki pun dimiliki oleh siapapun. Bahkan aku tak pernah berfikir untuk memiliki sekaligus dimiliki lelaki. Aku hanya mau bebas merasai apapun yang aku ingini…

Lelakiku…
Maafkan aku…
Maaf karena aku tak pernah punya cara benar mencintaimu…
Maaf karena aku selalu gagal menjaga perasaanmu…
Maaf karena aku tak pernah rela kehilangan kebebasanku…

Lelakiku…
Aku tahu begitu menderita bersama manusia sepertiku. Karena semua yang aku rasa tak pernah sama dengan yang seharusnya. Karena aku selau punya cara sendiri untuk nikmati semuanya. Dan karena itulah aku tak pernah sanggup berikan kebahagiaan mutlak bagimu. Maafkan aku. Maaf karena tak pernah mau dan bisa menjadi sama dengan wanita- wanita lain…

Tapi, aku mau kamu percaya penuh padaku. Percaya karena aku tak akan pernah menjauh darimu. Dengan siapapun aku menjajal hati, namun aku terlanjur menganggapmu sebagai sebuah takdir. Dan kamu adalah takdirku yang tak bisa dirubah. Maka aku akan selalu ada untukmu…


19:34
Para nyamuk sedang asyik melenggang...