Wednesday, March 6, 2013

Rindu yang Mengecoh....

Rindu kadangkala menjerumuskan. Membuat bayangan berkelebat dan menjadikan apapun yang dia lihat seperti Hara...

Lelaki itu sedikit banyak mirip Hara. Mulai dari cara duduk, lekuk tubuh, cara merokok, cara bicara, cara memakai sarung maupun cara besendawanya. Betapa rindu ini begitu mengecoh logikanya...

"Kurindu kamu, Hara. Kutilang pun seolah menyampaikan lirih merdu rindu ini".

masih di sela lipatan kota Jogja...
6 Maret 2013

Doa Adora ....

Yang namanya setia memang tak pernah tersapu waktu. Dan kini Adora masih menyatukan tangan sambil mendoa agar Hara datang nanti siang. Sebuah doa yang dia sendiri tau nilai mungkinnya hanya sebatas bayangan semut malam. Terlalu kecil untuk bisa diharapkan. Tapi setianya masih penuh untuk Hara....

Jogya sudah hampir terhanyut gelayut gerbong kereta. Sore nanti dia kembali melintas propinsi, melipat Jogja rapi lalu menumpuknya diantara ikatan harapan pudarnya. Adora yakin Hara tak datang. Maka dari itu pantaslah jika Adora kecewa....

Mendung menggantung sedari kemarin, sesekali menjatuhkan gerimis halus....

Separuh Februari masih menanti. Akankah Hara menapakkan langkah demi menjawab doa Adora pagi tadi?

Jogja, 6 Pebruari 2013
sebuah rabu yang meredup ...

Sunday, February 24, 2013

Adora dan hujan...

Sejak dulu Adora suka hujan. Karena baginya, hujan adalah bentuk keikhlasan Tuhan kepada alam. Matanya selalu tanpa kedip mengagumi lelehan tetes tipis gerimis di salah satu jendela kaca rumah tempatnya berteduh. Beberapa saat dia lupa pada fakta bahwa dia sedang patah hati. Harapannya untuk berbagi senja dan fajar bersama Hara pupus terjamah norma...

Berjinjit pelan dia dekati kaca basah itu, demi menyentuh dan merasakan nyamannya air yang baginya adalah berkah. Hanya dengan cara itu dia bisa bahagia secara utuh. Tak lagi mengutuk waktu yang menariknya jauh dari Hara. Cukup lama Adora menempelkan kedua telapak tangannya, membiarkannya basah oleh sisa gerimis tadi. Hatinya lalu seakan perlahan membuka kembali lipatan memorinya bersama Hara. Saat keduanya menari ceria dibawah guyuran hujan di sebuah sore, tiga tahun yang lalu. Saling menikmati indahnya rasa hujan yang kebetulan sedang gerimis. Hanya hujan yang mampu menghubungkannya kembali dengan kenangan Hara yang kini mulai meragukan cintanya...

Adora begitu cinta Hara...
Sepertinya Hara juga demikian...

Dan hujanpun akhirnya terhenti. Meski Adora sebenarnya masih ingin lebih lama menyusuri setapak rindunya untuk Hara. Rindu dari sebuah cinta yang selamanya takkan pernah bisa diceritakan pada dunia. Sebuah cinta yang terlumat usia, yang teraduk larut oleh pusaran norma, yang terpaksa terhenti sebelum secara tangguh diperjuangan.

"Biar hujan yang menyimpan kisahnya. Lalu bercerita pada dunia lewat kesejukannya. Karena aku jelas takkan punya nyali berbagi kenangan ini", bathin Adora.


Mojokerto, 24 Februari 2013
Dini hari berteman harap bertemu Hara...

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.
Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal! Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.
Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.
Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.
14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.
Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.
6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati.
Jantungku serasa mau berhenti…
23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui…
Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun.
Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.
4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.
Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.
14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil.
14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!
18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.
7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.
Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.
15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.
Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.
Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun… “Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun…”


Read more: http://sro.web.id/kisah-cinta-sejati-mengharukan.html#ixzz2COPbS0SM

Jangan lupa mengingatku, Hara...

berharap sehari saja bisa berbagi rasa denganmu...
saling berkata jujur tentang rasa...
sambil memohon pada waktu untuk sejenak melambat...
lalu berharap hati bisa kompromi pada situasi...
aku takkan pernah bersyukur atas pertemuan kita sepuluh tahun lalu...
sebuah pertemuan yang lalu menghantarkan kita pada cinta ragu yang tak tepat waktu...
lalu kita sama sama saling menutupi tangis kecewa, saling bersikap kuat...

Kita ingin saling bertukar hati lewat tatapan mata besok. Berusaha mengenang kembali semua yang pernah ada lalu dengan rapi melipat kembali album kisah cinta kita dulu. Dunia kecil kita, yang tak pernah ada orang yang bisa memahaminya. Hingga kini kita harus saling mengalah untuk menjauh...

Hara, jangan pernah lupa mengingatku...
Simpan rapi dunia kecil kita yang mulai usang termakan norma...
Karena kucinta kamu dalam ragu...



Mojokerto, 24 Februari 2013
Sebuah Minggu dini hati
Bersanding dengan remahan harapan bertemu Hara...

Wednesday, December 2, 2009

Si Hebat...

(Masih) di Mojokerto
(Kali ini) tertanggal 2 Desember 2009
Sebuah Rabu
Dengan perasaan begitu hampa tanpa tahu harus berbuat apa…
18:45



Adzan Isya’ terdengar membumbung di hatiku yang Islami. Sejenak aku seakan merasa bagai malam bulan Ramadhan yang tahun ini telah terlalui. Rasanya sedikit mendamaikan nadi. Aura religi masih melambai hasta undang para raga tunaikan kewajiban insani. Tapi sayangnya kali ini aku masih belum suci. Jadi tak mungkin aku membelai air wudlu lalu tunaikan sholat malam ini…

Dan aku masih saja menatap waktu di depan tivi. Masih juga dengan rasa bosan yang terasa begitu berarti. Namun aku tak punya pilihan untuk menghindari. Karena aku hanya sendiri. Dan hatikupun sedang merasa tak punya rencana, apalagi mimpi. Benarnya hanya satu yang kuingini. Tak ada yang lain lagi. Yaitu segera lepas dari keterpurukan menuju masa yang lebih damai. Masa yang sajikan keramaian hati. Masa yang tak lagi menyiksaku dengan kesepian hati dan kesendirian nadi. Aku mau ditemani. Aku mau tak sendiri. Dan aku mau selalu bahagia dalam berbagi…

Jarum jam masih saja berdetak. Lahirkan masa yang hanya bisa merangkak menuju kotak-kotak kehidupanku yang sejak beberapa lama lalu sudah meretak. Meski nyatanya jantungku masih normal berdetak. Meski nyatanya jiwaku terus berteriak. Berteriak agar bisa lepas dari masa yang kali ini hanya berupa bosan dan riak-riak…

Tolong lepaskan aku dari semua beban. Biarkan aku melesatkan nyawa bersama indahnya kenyataan. Biarkan aku terbang sambil bergenggaman tangan bersama keindahan. Biarkan aku menjemputnya untuk bersama-sama rasakan senyuman kehidupan. Tolong hadiahkan sebuah kesempatan untuk merasakan. Jangan biarkan aku terperangkap dalam hampa dan tak berasa karena bosan…

Mauku tak mengeluh. Mauku berhenti berkeluh. Mauku terima apa yang tersuguh. Mauku terus tersenyum meski sambil menahan perih. Mauku terus nyaman meski dalam lautan peluh. Mauku tak pernah berairmata sedih. Dan aku sudah berusaha keras untuk itu semua, namun sayangnya mataku tak lagi sanggup menahan pedih…

Airmataku begitu bening hingga benar tak terlihat. Hanya aku yang bisa merasakannya terserap pori-pori kulit. Sedangkan nyawa-nyawa lain tetap menganggapku manusia kuat. Semua masih saja menilaiku hebat. Mereka tak pernah tahu apa yang sedang benar-benar terjadi karena warna hati memang tak pernah bisa pasti terlihat. Maka biarkan aku menahan semua dan menganggapnya nikmat. Agar semua masih akan tetap memanggilku Si Hebat…

Apa karena aku kurang bersyukur?
Apa karena aku lupa mengukur bahagia?

Benarnya aku lelah mengeluh…
Airmata jiwakupun telah begitu lelah meleleh…
Hatiku sungguh ingin mencerah…
Aku mau segera berlari menuju sebuah entah…

Ya Allah…
Maafkan hambaMu yang sedang lupa ini…
Aku akan selalu kembali padamu lewat sujud ibadah…
Lingkupi jiwaku dengan kabut imani…
Amin…




Telah banyak yang terluap tapi hati masih saja tak melega…
Apalagi yang masih salah?
19:14

Monday, November 30, 2009

Jodoh dadakan...

Mojokerto
29 November 2009
Di sebuah Minggu dengan nada-nada gerimis…
16:36




Yang aku tahu adalah bahwa dia sudah dilamar. Entah kapan. Dan dia bilang sekarang dia dan keluarganya sedang melakukan acara lamaran balasan yang begitu dadakan…

Jodoh memang benar tak pernah bisa diterka. Bahkan direncanakanpun juga tak bisa. Jalannya tak bisa dipetakan. Kadang begitu rumit, panjang dan tak teratur lalu diakhiri dengan tangisan perpisahan. Ada juga yang diawali dengan ketidak sengajaan yang berlanjut jadi rajutan rasa yang makin lama makin dalam dan tak bisa dimengerti lalu diakhiri dengan ucapan “Selamat menempuh hidup baru”. Pun ada juga yang begitu estafet seperti apa yang dialami wanita paruh baya itu. Aku memanggilnya “dia”…

Dia yang kini sedang mendadak bahagia…
Dia yang sekarang sedang menyeka tawa bersama pasangannya…
Pasangan yang bahkan bayangannya saja tak pernah tertangkap mata…
Pasangan yang semoga seorang kesejatian baginya…

Dan mereka bertemu secara estafet…
Semua pernah begitu ruwet…
Tapi tulisan takdir tetap kuat megikat…
Semoga mereka benar bahagia hingga bumi melarut…

Mereka hanya perlu “pertama kali”
Untuk putuskan saling menikahi…
Seperti yang mereka maui…
Menyatu nyawa diusia yang tak lagi dini…

Satu lagi bukti misteri jodoh. Dia dan pasangannya. Dulu maya lalu kini mendadak nyata sebagai calon pengantin. Sekali lagi begitu sulit dipercaya. Agak susah dimengerti. Betapa kehidupan selamanya hanya ditentukan dari pertemuan pertama saja. Huuufff. Apa bisa?

Tidak bagiku…
Kalau aku…

Dulu aku perlu ribuan pertemuan untuk memastikan hati. Dulu aku perlu ribuan petuah orang tua sebelum bertanya “Will you marry me?”. Dulu aku perlu ribuan tatapan mata untuk rasakan keteguhan cintanya padaku. Dulu aku butuh ribuan masalah untuk pahami jalan pikirannya…

Tapi dia dan pasangannya?

Mereka hanya butuh sekali untuk selamanya. Sekali pertemuan untuk memastikan hati. Sekali tatapan mata untuk saling berkata “Mari kita menikah”. Sekali jabatan tangan untuk rasakan detak hati. Hanya sekali saja…

Aku benar-benar tak habis pikir. Apa semua itu karena usia? Karena mereka tak lagi remaja? Karena mereka sudah terlalu dewasa?...

Hhhhmmmmm…..

Semua nyawa memang terlahir dengan membawa jodohnya sendiri. Meski butuh waktu untuk menemukan kembali pasangan jiwa itu, tapi akhirnya masih akan tetap telah tertulis rapi secara pasti. Hanya saja nyawa biasa kitalah yang tak pernah bisa membaca tulisan Sang Maha itu…

Aku perlu waktu dua puluh empat tahun untuk menemukan belahan nyawaku. Dan aku masih butuh dua setengah tahun untuk belajar membaca tulisan Sang Maha tentang wanitaku kala itu. Siapa tahu dia hanya rambu jalan menuju wanita sejatiku. Aku yakinkan hati untuk coba meraba huruf lalu mengeja kata hingga sedikit membaca kalimat jodoh itu. Dan akhirnya aku yakin dia yang dulu kubawa saat lahir….

13 Desember 2007…
Pada sebuah Kamis…
Ba’da Isya…
Kami resmi menata nyawa bersama…

Kapan mereka menyusul kami?
Sepertinya akan lebih segera dari sekedar segera…
Semoga karena ketetapan hati…
Bukan hanya karena sadar usia…
Amin untuk doa mereka…



17:08
Masih dengan begitu banyak tanya…
Masih dengan begitu banyak mengapa untuk mereka…