(Masih) di Mojokerto
(Kali ini) tertanggal 2 Desember 2009
Sebuah Rabu
Dengan perasaan begitu hampa tanpa tahu harus berbuat apa…
18:45
Adzan Isya’ terdengar membumbung di hatiku yang Islami. Sejenak aku seakan merasa bagai malam bulan Ramadhan yang tahun ini telah terlalui. Rasanya sedikit mendamaikan nadi. Aura religi masih melambai hasta undang para raga tunaikan kewajiban insani. Tapi sayangnya kali ini aku masih belum suci. Jadi tak mungkin aku membelai air wudlu lalu tunaikan sholat malam ini…
Dan aku masih saja menatap waktu di depan tivi. Masih juga dengan rasa bosan yang terasa begitu berarti. Namun aku tak punya pilihan untuk menghindari. Karena aku hanya sendiri. Dan hatikupun sedang merasa tak punya rencana, apalagi mimpi. Benarnya hanya satu yang kuingini. Tak ada yang lain lagi. Yaitu segera lepas dari keterpurukan menuju masa yang lebih damai. Masa yang sajikan keramaian hati. Masa yang tak lagi menyiksaku dengan kesepian hati dan kesendirian nadi. Aku mau ditemani. Aku mau tak sendiri. Dan aku mau selalu bahagia dalam berbagi…
Jarum jam masih saja berdetak. Lahirkan masa yang hanya bisa merangkak menuju kotak-kotak kehidupanku yang sejak beberapa lama lalu sudah meretak. Meski nyatanya jantungku masih normal berdetak. Meski nyatanya jiwaku terus berteriak. Berteriak agar bisa lepas dari masa yang kali ini hanya berupa bosan dan riak-riak…
Tolong lepaskan aku dari semua beban. Biarkan aku melesatkan nyawa bersama indahnya kenyataan. Biarkan aku terbang sambil bergenggaman tangan bersama keindahan. Biarkan aku menjemputnya untuk bersama-sama rasakan senyuman kehidupan. Tolong hadiahkan sebuah kesempatan untuk merasakan. Jangan biarkan aku terperangkap dalam hampa dan tak berasa karena bosan…
Mauku tak mengeluh. Mauku berhenti berkeluh. Mauku terima apa yang tersuguh. Mauku terus tersenyum meski sambil menahan perih. Mauku terus nyaman meski dalam lautan peluh. Mauku tak pernah berairmata sedih. Dan aku sudah berusaha keras untuk itu semua, namun sayangnya mataku tak lagi sanggup menahan pedih…
Airmataku begitu bening hingga benar tak terlihat. Hanya aku yang bisa merasakannya terserap pori-pori kulit. Sedangkan nyawa-nyawa lain tetap menganggapku manusia kuat. Semua masih saja menilaiku hebat. Mereka tak pernah tahu apa yang sedang benar-benar terjadi karena warna hati memang tak pernah bisa pasti terlihat. Maka biarkan aku menahan semua dan menganggapnya nikmat. Agar semua masih akan tetap memanggilku Si Hebat…
Apa karena aku kurang bersyukur?
Apa karena aku lupa mengukur bahagia?
Benarnya aku lelah mengeluh…
Airmata jiwakupun telah begitu lelah meleleh…
Hatiku sungguh ingin mencerah…
Aku mau segera berlari menuju sebuah entah…
Ya Allah…
Maafkan hambaMu yang sedang lupa ini…
Aku akan selalu kembali padamu lewat sujud ibadah…
Lingkupi jiwaku dengan kabut imani…
Amin…
Telah banyak yang terluap tapi hati masih saja tak melega…
Apalagi yang masih salah?
19:14
Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts
Wednesday, December 2, 2009
Monday, November 30, 2009
Jawaban doa...
Mojokerto yang sedang dirundung mendung…
Tertanggal 28 November 2009 yang selipkan debur kecewa dihati…
16:01 yang sedang mensugesti tentang kuncup indah yang sedang sedikit mengembang…
“Cuma 2 orang ya? Maaf, Ai. Kamu juga ga lolos.”
Singkat, mengecewakan sekaligus memberi kesan “aku tak sendiri”. Sudah kuduga akan begitu akhirnya. Namun setengah jiwaku berharap penuh akan keajaiban yang datang melalui jawaban doa-doaku….
Tapi nyatanya aku (kembali) kecewa. Kecewa ini begitu berbeda. Aku merasa bagian doaku telah terjawab. Karena aku selalu mendoa agar diberikan kelapangan hati dan ketenangan jiwa atas apapun yang menimpaku. Kecewa itu tak begitu terasa. Meski bisa aku pastikan keberadaannya begitu nyata. Hatiku sedikit menangis…
“Aku kecewa karena kalah oleh properti…..bukan ability! Suck!”
Kalimat itu tiba-tiba mewakili segala yang kurasa. Secara otomatis tertulis di layar chat Yahoo Messager-ku dengan Ratri siang tadi…
Kemudian…
“Teman Enci yang kerja di Di*na* pemk** Pro******** bilang kalau nama-nama yang lulus sudah ada sejak lama. Harganya tujuh puluh juta.”
Tak ada rasa saat kubaca pernyataan itu. Karena aku memang sudah menduga. Dugaanku sejak lama. Sudah melewati pengamatan terhadap segala aspek yang perlu dipertimbangkan. Dan aku tak menyesali apapun. Tak ada pengandaian apapun dihati….
Wewww….aku menstruasi…tiba-tiba saja…
Baiklah aku lanjutkan lagi…
Jika aku orang lain bisa jadi aku banyak berandai…
Seandainya aku punya jumlah itu…
Seandainya tak ada hukum haram jika menyuap…
Tak ada pengandaian seperti itu…
Tak ada pengandaian ini itu, sama sekali…
Sebenarnya penguatku hanya satu. Yaitu keyakinan bahwa aku kalah oleh properti. Dan bagiku kemenangan oleh properti bukan hal yang patut diingini. Tak perlu di-dengki-i...
Aku yakin hidup adalah sebuah misteri yang besar….
Pasti ada yang sedang menungguku disisi waktu yang lain…
Apapun itu…
Semoga aku masih punya kekuatan untuk bersabar…
Apapun itu…
Semoga aku masih punya tangan untuk selalu kugenggam…
Apapun itu…
Semoga aku masih bisa bangkit untuk perbaiki yang masih tak baik…
Amin…
Masih dengan rasa kecewa yang gamang…
Tak tahu harus merasa apa…
Terimakasih atas kekuatan ini…
Aku begitu merasakan kekuatan doa-doa…
Mungkin Allah SWT mengabulkan doaku dalam bentuk ketenangan hati ini…
Alhamdulillah…
16:27
Tertanggal 28 November 2009 yang selipkan debur kecewa dihati…
16:01 yang sedang mensugesti tentang kuncup indah yang sedang sedikit mengembang…
“Cuma 2 orang ya? Maaf, Ai. Kamu juga ga lolos.”
Singkat, mengecewakan sekaligus memberi kesan “aku tak sendiri”. Sudah kuduga akan begitu akhirnya. Namun setengah jiwaku berharap penuh akan keajaiban yang datang melalui jawaban doa-doaku….
Tapi nyatanya aku (kembali) kecewa. Kecewa ini begitu berbeda. Aku merasa bagian doaku telah terjawab. Karena aku selalu mendoa agar diberikan kelapangan hati dan ketenangan jiwa atas apapun yang menimpaku. Kecewa itu tak begitu terasa. Meski bisa aku pastikan keberadaannya begitu nyata. Hatiku sedikit menangis…
“Aku kecewa karena kalah oleh properti…..bukan ability! Suck!”
Kalimat itu tiba-tiba mewakili segala yang kurasa. Secara otomatis tertulis di layar chat Yahoo Messager-ku dengan Ratri siang tadi…
Kemudian…
“Teman Enci yang kerja di Di*na* pemk** Pro******** bilang kalau nama-nama yang lulus sudah ada sejak lama. Harganya tujuh puluh juta.”
Tak ada rasa saat kubaca pernyataan itu. Karena aku memang sudah menduga. Dugaanku sejak lama. Sudah melewati pengamatan terhadap segala aspek yang perlu dipertimbangkan. Dan aku tak menyesali apapun. Tak ada pengandaian apapun dihati….
Wewww….aku menstruasi…tiba-tiba saja…
Baiklah aku lanjutkan lagi…
Jika aku orang lain bisa jadi aku banyak berandai…
Seandainya aku punya jumlah itu…
Seandainya tak ada hukum haram jika menyuap…
Tak ada pengandaian seperti itu…
Tak ada pengandaian ini itu, sama sekali…
Sebenarnya penguatku hanya satu. Yaitu keyakinan bahwa aku kalah oleh properti. Dan bagiku kemenangan oleh properti bukan hal yang patut diingini. Tak perlu di-dengki-i...
Aku yakin hidup adalah sebuah misteri yang besar….
Pasti ada yang sedang menungguku disisi waktu yang lain…
Apapun itu…
Semoga aku masih punya kekuatan untuk bersabar…
Apapun itu…
Semoga aku masih punya tangan untuk selalu kugenggam…
Apapun itu…
Semoga aku masih bisa bangkit untuk perbaiki yang masih tak baik…
Amin…
Masih dengan rasa kecewa yang gamang…
Tak tahu harus merasa apa…
Terimakasih atas kekuatan ini…
Aku begitu merasakan kekuatan doa-doa…
Mungkin Allah SWT mengabulkan doaku dalam bentuk ketenangan hati ini…
Alhamdulillah…
16:27
Tuesday, November 10, 2009
Catatan pagi ini
Mojokerto
Pada sebuah Senin
Tertanggal 9 November 2009
Mimpi tadi sedikit menggelisahkan…
Hari ini kumulai sejak dini. Meski lalu aku kembali mengatup mata, menjemput lelap yang sedari tadi masih menyelinap di kelopak. Dan aku kembali terlelap. Tak sendiri. karena hari ini masih umum dikata Minggu. Kembali menjemput lelap tanpa pelukan. Hanya bersama saja…
Bunga lelap lalu menggelitik hati pejamku. Tetap memaksa untuk ikut memberi kesan meski hidup belum sepenuhnya kuhirup. Kubiarkan dia. Bukan karena hatiku terlalu baik untuk menolak. Tapi karena alam sadarku sedang tak sadar hingga tak ada pikiran untuk katakan “tidak”. Lalu cerita-cerita tanpa logika total mulai tertera. Membawaku kembali ke masa lalu. Dengan setting yang sama dengan dulu. Saat aku masih mengabdi diri pada ILP Kediri….
Mimpi tadi sedikit menggelikan meski tak sepenuhnya beralur tak masuk akal. Ada beberapa bagian yang benar. Pun ada beberapa yang kunilai aneh setelah kesadaranku pulih. Menggelikan. Menyebalkan. Lucu juga. Tapi biarlah, karena itu hanya bunga lelap…
Jam 9:48…
Lelaki itu masih enggan melepas pelukannya terhadap lelap. “Masih mengantuk”, katanya. Maka kubiarkan dia bereratan dengan lelapnya. Dan aku merangkai ingatan berbentuk kata disini. Karena aku harus mengalihkan perhatian. Jika tidak, akupun aku turut larut dalam lelap bersamanya….
Dua menit kemudian…
Semua masih tetap sama persis. Tak ada beda meski sedikit. Huuuhhhhhhhfffffffff…
Dua menit (lagi) kemudian…
Sebenarnya hidup belakangan ini tak terlalu berwarna. Tak ada yang benar-benar pasti. Kebanyakan hanya berupa siluet tak jelas yang pada saat tertentu akan dengan sendirinya memperjelas diri. Semoga semua sama seperti apa yang kudoa. Semoga semua tak lagi kecewa oleh situasi. Dan semoga semua bisa menerima kemungkinan terburuk dengan hati terlapang. Semoga semua menuai sukses. Amin…
Hampir jam sepuluh pagi…
Sudah cukup aku berbincang (tak jelas) pagi ini.
Sekian…
Winamp ini terus terdengar meski tak sepenuhnya untuk dinikmati…
Sekedar agar tak sepi saja…
Pada sebuah Senin
Tertanggal 9 November 2009
Mimpi tadi sedikit menggelisahkan…
Hari ini kumulai sejak dini. Meski lalu aku kembali mengatup mata, menjemput lelap yang sedari tadi masih menyelinap di kelopak. Dan aku kembali terlelap. Tak sendiri. karena hari ini masih umum dikata Minggu. Kembali menjemput lelap tanpa pelukan. Hanya bersama saja…
Bunga lelap lalu menggelitik hati pejamku. Tetap memaksa untuk ikut memberi kesan meski hidup belum sepenuhnya kuhirup. Kubiarkan dia. Bukan karena hatiku terlalu baik untuk menolak. Tapi karena alam sadarku sedang tak sadar hingga tak ada pikiran untuk katakan “tidak”. Lalu cerita-cerita tanpa logika total mulai tertera. Membawaku kembali ke masa lalu. Dengan setting yang sama dengan dulu. Saat aku masih mengabdi diri pada ILP Kediri….
Mimpi tadi sedikit menggelikan meski tak sepenuhnya beralur tak masuk akal. Ada beberapa bagian yang benar. Pun ada beberapa yang kunilai aneh setelah kesadaranku pulih. Menggelikan. Menyebalkan. Lucu juga. Tapi biarlah, karena itu hanya bunga lelap…
Jam 9:48…
Lelaki itu masih enggan melepas pelukannya terhadap lelap. “Masih mengantuk”, katanya. Maka kubiarkan dia bereratan dengan lelapnya. Dan aku merangkai ingatan berbentuk kata disini. Karena aku harus mengalihkan perhatian. Jika tidak, akupun aku turut larut dalam lelap bersamanya….
Dua menit kemudian…
Semua masih tetap sama persis. Tak ada beda meski sedikit. Huuuhhhhhhhfffffffff…
Dua menit (lagi) kemudian…
Sebenarnya hidup belakangan ini tak terlalu berwarna. Tak ada yang benar-benar pasti. Kebanyakan hanya berupa siluet tak jelas yang pada saat tertentu akan dengan sendirinya memperjelas diri. Semoga semua sama seperti apa yang kudoa. Semoga semua tak lagi kecewa oleh situasi. Dan semoga semua bisa menerima kemungkinan terburuk dengan hati terlapang. Semoga semua menuai sukses. Amin…
Hampir jam sepuluh pagi…
Sudah cukup aku berbincang (tak jelas) pagi ini.
Sekian…
Winamp ini terus terdengar meski tak sepenuhnya untuk dinikmati…
Sekedar agar tak sepi saja…
Friday, October 23, 2009
Hampa...
Mojokerto, 22 Oktober 2009
Di sebuah Kamis tanpa desis gerimis…
Hanya miris yang terus mengiris…
18:10
Hari ini begitu membosankan. Rasa hati yang tak berbentuk membuatku merasa tak ada yang bisa dilakukan. Memandang layar televisipun sama sekali tak membantu. Hiburan-hiburan itu hanya ternilai sebagai gerak tanpa arti. Sama sekali tak beri guna. Tapi karena tak ada pilihan lain, maka kupaksa mata terus menatap layar. Hati masih tetap hampa…
Lalu aku merasa mendapat cara lewatkan hari. Betapa waktu terasa begitu perlahan berlalu. Betapa jarum jam terasa begitu lambat merambat. Meski hati sadar kalau hari ini takkan terulang lagi tapi aku sungguh rela segera bertemu sapa dengan esok. Lalu aku terlelap. Begitu lama hingga raga terasa begitu tak ada daya pun guna. Berganti dari tempat satu ke tempat lain. Hanya demi sebuah kenyamanan dalam lelap. Karena aku bahagia kala terlelap. Karena aku tak mau terjerat dalam lambatnya rambatan waktu…
Berkali-kali aku telusuri hati demi dapati apa yang sebenarnya hati ini maui. Tapi tak juga kudapati sebuah jawaban pasti. Yang aku tahu hanyalah bahwa hatiku menangis halus. Meratapi kehidupan yang baginya semakin tak menentu. Menyesali jalan yang dulu telah terlalui. Hingga akhirnya aku terdampar pada sisi kehidupan yang ini…
Cinta tak banyak membantu. Sahabat sedang berada pada kebahagiaan hingga tangis bisuku tak mungkin terasa olehnya. Teman-teman juga sedang berhamburan menjemput mimpi. Dan aku hanya disini bersama harap agar waktu segera berlalu. Meski aku sendiri tak pernah tahu apa yang sedang kuingini. Terlalu lelah mengharap, bermimpi lalu kecewa oleh kenyataan. Aku tak mau lagi kecewa. Tapi hidup tanpa ingin seperti ini juga tak begitu menyamankan…
Dulu banyak yang menyita hati. Bahkan rinai lembut gerimis mampu membangkitkan romantisme. Lelehan air hujan di kaca jendela adalah pemandangan menentramkan. Bising suara angkot adalah musik pertanda kehidupan. Begitu menghibur meski kadang datang tanpa bisa terhentikan…
Entah apa yang sekarang sedang salah. Akukah yang sedang kehilangan rasa dan kepekaan akan indahnya dunia? Ataukah waktu memang sedang menguji ketahanan jiwaku? Apa aku sedang merasa berlebihan dan tak sedikitpun bisa bersyukur? Kemana semua sahabat? Kemana semua teman? Kemana semua pewarna kehidupan? Kemana mereka semua? Apa yang salah denganku hingga akhirnya aku merasa ditelantarkan sendiri bersama sepi seperti ini? Katakan apa yang salah. Dan mungkin aku akan memperbaiki semuanya. Hanya agar semua kembali kepadaku. Hanya agar aku bisa lebih menikmati detakan jarum jam. Hanya agar aku tak menghamba pada kebosanan. Dan hanya agar aku merasa sebagai manusia yang juga bisa tersenyum dan tersentuh bahagia…
Mungkin aku hanya sedang kelelahan. Butuh istirahat. Butuh sedikit waktu hanya bersama diri, bukan bersama bosan…
Kata-kata ini semakin tanpa arti. Semakin tak mengarah kemanapun. Hampir sama dengan hidupku kala ini. Karena aku juga merasa tanpa arah. Tanpa tujuan. Hingga lalu merasa tak punya rambu untuk dipatuhi. Juga mimpi untuk ditepati. Dan aku benar tersiksa oleh rasa ini. Berharap bisa segera beranjak dari hidup yang hanya hitam putih ini. Mencari kembali pewarna lalu susuri hidup sambil tersenyum dan sesekali tertawa lepas…
Hanya seorang diri di kamar ini…
Terasa begitu membosankan…
18:55
Di sebuah Kamis tanpa desis gerimis…
Hanya miris yang terus mengiris…
18:10
Hari ini begitu membosankan. Rasa hati yang tak berbentuk membuatku merasa tak ada yang bisa dilakukan. Memandang layar televisipun sama sekali tak membantu. Hiburan-hiburan itu hanya ternilai sebagai gerak tanpa arti. Sama sekali tak beri guna. Tapi karena tak ada pilihan lain, maka kupaksa mata terus menatap layar. Hati masih tetap hampa…
Lalu aku merasa mendapat cara lewatkan hari. Betapa waktu terasa begitu perlahan berlalu. Betapa jarum jam terasa begitu lambat merambat. Meski hati sadar kalau hari ini takkan terulang lagi tapi aku sungguh rela segera bertemu sapa dengan esok. Lalu aku terlelap. Begitu lama hingga raga terasa begitu tak ada daya pun guna. Berganti dari tempat satu ke tempat lain. Hanya demi sebuah kenyamanan dalam lelap. Karena aku bahagia kala terlelap. Karena aku tak mau terjerat dalam lambatnya rambatan waktu…
Berkali-kali aku telusuri hati demi dapati apa yang sebenarnya hati ini maui. Tapi tak juga kudapati sebuah jawaban pasti. Yang aku tahu hanyalah bahwa hatiku menangis halus. Meratapi kehidupan yang baginya semakin tak menentu. Menyesali jalan yang dulu telah terlalui. Hingga akhirnya aku terdampar pada sisi kehidupan yang ini…
Cinta tak banyak membantu. Sahabat sedang berada pada kebahagiaan hingga tangis bisuku tak mungkin terasa olehnya. Teman-teman juga sedang berhamburan menjemput mimpi. Dan aku hanya disini bersama harap agar waktu segera berlalu. Meski aku sendiri tak pernah tahu apa yang sedang kuingini. Terlalu lelah mengharap, bermimpi lalu kecewa oleh kenyataan. Aku tak mau lagi kecewa. Tapi hidup tanpa ingin seperti ini juga tak begitu menyamankan…
Dulu banyak yang menyita hati. Bahkan rinai lembut gerimis mampu membangkitkan romantisme. Lelehan air hujan di kaca jendela adalah pemandangan menentramkan. Bising suara angkot adalah musik pertanda kehidupan. Begitu menghibur meski kadang datang tanpa bisa terhentikan…
Entah apa yang sekarang sedang salah. Akukah yang sedang kehilangan rasa dan kepekaan akan indahnya dunia? Ataukah waktu memang sedang menguji ketahanan jiwaku? Apa aku sedang merasa berlebihan dan tak sedikitpun bisa bersyukur? Kemana semua sahabat? Kemana semua teman? Kemana semua pewarna kehidupan? Kemana mereka semua? Apa yang salah denganku hingga akhirnya aku merasa ditelantarkan sendiri bersama sepi seperti ini? Katakan apa yang salah. Dan mungkin aku akan memperbaiki semuanya. Hanya agar semua kembali kepadaku. Hanya agar aku bisa lebih menikmati detakan jarum jam. Hanya agar aku tak menghamba pada kebosanan. Dan hanya agar aku merasa sebagai manusia yang juga bisa tersenyum dan tersentuh bahagia…
Mungkin aku hanya sedang kelelahan. Butuh istirahat. Butuh sedikit waktu hanya bersama diri, bukan bersama bosan…
Kata-kata ini semakin tanpa arti. Semakin tak mengarah kemanapun. Hampir sama dengan hidupku kala ini. Karena aku juga merasa tanpa arah. Tanpa tujuan. Hingga lalu merasa tak punya rambu untuk dipatuhi. Juga mimpi untuk ditepati. Dan aku benar tersiksa oleh rasa ini. Berharap bisa segera beranjak dari hidup yang hanya hitam putih ini. Mencari kembali pewarna lalu susuri hidup sambil tersenyum dan sesekali tertawa lepas…
Hanya seorang diri di kamar ini…
Terasa begitu membosankan…
18:55
Thursday, October 8, 2009
Selamat tinggal dunia maya...
Mojokerto, 8 Oktober 2009
(Tetap di ) Sebuah Kamis yang kusangka Jum’at…
Selamat tinggal dunia maya…
Dia masih tetap wanita yang dulu. Masih dengan balutan raga yang tak berbeda meski kini dia telah memutuskan sesuatu. Dia memutuskan untuk melepaskan kesempurnaan dunia maya yang selama ini jadi dewa penolong bagi kekecewaannya...
Kenapa?
Karena dia sudah puas dengan dunia nyatanya.
Karena kini dia bisa sepenuhnya tersenyum dan berpuas hati dengan apa yang telah secara nyata termiliki.
Juga karena dia kecewa atas dunia mayanya. Karena ternyata dia tak lagi mampu mengendalikan dunia maya itu. Hingga akhirnya dia terkhianati…lalu menangisi dunia mayanya itu. Tangisannya begitu nyata karena hatinya terluka. Oleh seorang yang secara maya dicintainya. Oleh sebuah nama, Radithya Javas Nararya...
Radithya Javas Nararya telah menyadarkannya dengan cara yang tak dia sangka. Perubahan rasa Radith dia anggap sebagai sebuah pengkhiatan tak terduga…
“Aku hanya manusia biasa yang tak pernah tahu kapan rasa itu pergi dan beralih ke siapa”, begitu kata Radith.
Dan dia tertegun dengan pernyataan itu. Hatinya lalu meradang dan emosinya sedikit meluap lewati batas normal. Sebenarnya sudah sejak agak lama dia menyadari permainan Radith dengan wanita barunya. Tapi dia diam saja. Karena baginya ini hanya sebuah permainan yang tak terlalu perlu dipusingkan. Karena dia bukanlah yang selama ini dia katakan pada Radith. Karena dia memang mencintai Radith pada saat yang tak tepat. Karena dia sadar sudah “terlambat bertemu” Radith. Dan karena dia tak punya alasan tepat memaksa Radith tetap menautkan hati padanya. Ada begitu banyak karena yang tak mudah dimengerti selain olehnya sendiri...
Dia terlanjur menautkan hati pada sebuah legalitas sakral dengan lelakinya. Dua tahun yang lalu. Dan delapan bulan yang lalu dia menggagumi Radith. Lalu tak lama setelah itu, dia merasa “sangat terlambat bertemu Radith". Dia bingung harus merasa apa. Jika dia memutuskan untuk menyesali keterlambatannya bertemu, tak mungkin. Karena dia akan sangat merasa bersalah pada lelakinya. Dia tak pernah tega menyakiti hati lelaki yang begitu menjaga hati untuknya itu. Lelaki yang dua tahun yang lalu mengikrarkan diri sebagai pendampingnya...
Lalu...
Kini dia mendoa untuk kebahagiaan Radith dengan wanita lain itu. Karena dia akan berusaha untuk terus bahagia dengan lelakinya sendiri. Dan melupakan teori “terlambat bertemu”nya…
Dia takkan meminta maaf…
Selamat berbahagia, Radith…
Selamat tinggak dunia maya…
13:42
(Tetap di ) Sebuah Kamis yang kusangka Jum’at…
Selamat tinggal dunia maya…
Dia masih tetap wanita yang dulu. Masih dengan balutan raga yang tak berbeda meski kini dia telah memutuskan sesuatu. Dia memutuskan untuk melepaskan kesempurnaan dunia maya yang selama ini jadi dewa penolong bagi kekecewaannya...
Kenapa?
Karena dia sudah puas dengan dunia nyatanya.
Karena kini dia bisa sepenuhnya tersenyum dan berpuas hati dengan apa yang telah secara nyata termiliki.
Juga karena dia kecewa atas dunia mayanya. Karena ternyata dia tak lagi mampu mengendalikan dunia maya itu. Hingga akhirnya dia terkhianati…lalu menangisi dunia mayanya itu. Tangisannya begitu nyata karena hatinya terluka. Oleh seorang yang secara maya dicintainya. Oleh sebuah nama, Radithya Javas Nararya...
Radithya Javas Nararya telah menyadarkannya dengan cara yang tak dia sangka. Perubahan rasa Radith dia anggap sebagai sebuah pengkhiatan tak terduga…
“Aku hanya manusia biasa yang tak pernah tahu kapan rasa itu pergi dan beralih ke siapa”, begitu kata Radith.
Dan dia tertegun dengan pernyataan itu. Hatinya lalu meradang dan emosinya sedikit meluap lewati batas normal. Sebenarnya sudah sejak agak lama dia menyadari permainan Radith dengan wanita barunya. Tapi dia diam saja. Karena baginya ini hanya sebuah permainan yang tak terlalu perlu dipusingkan. Karena dia bukanlah yang selama ini dia katakan pada Radith. Karena dia memang mencintai Radith pada saat yang tak tepat. Karena dia sadar sudah “terlambat bertemu” Radith. Dan karena dia tak punya alasan tepat memaksa Radith tetap menautkan hati padanya. Ada begitu banyak karena yang tak mudah dimengerti selain olehnya sendiri...
Dia terlanjur menautkan hati pada sebuah legalitas sakral dengan lelakinya. Dua tahun yang lalu. Dan delapan bulan yang lalu dia menggagumi Radith. Lalu tak lama setelah itu, dia merasa “sangat terlambat bertemu Radith". Dia bingung harus merasa apa. Jika dia memutuskan untuk menyesali keterlambatannya bertemu, tak mungkin. Karena dia akan sangat merasa bersalah pada lelakinya. Dia tak pernah tega menyakiti hati lelaki yang begitu menjaga hati untuknya itu. Lelaki yang dua tahun yang lalu mengikrarkan diri sebagai pendampingnya...
Lalu...
Kini dia mendoa untuk kebahagiaan Radith dengan wanita lain itu. Karena dia akan berusaha untuk terus bahagia dengan lelakinya sendiri. Dan melupakan teori “terlambat bertemu”nya…
Dia takkan meminta maaf…
Selamat berbahagia, Radith…
Selamat tinggak dunia maya…
13:42
Friday, July 31, 2009
Jika aku mati...

Mojokerto
31 Juli 2009
Jum’at terakhir bulan ini….
12:33
Badanku sedang tak mau kompromi hingga kemudian flu dan demam datang bertandang. Akibat kecapekan, mungkin. Lalu terbersit tentang kematian…
Kehidupan hanya persinggahan sementara. Kata orang, kehidupan adalah sebuah wahana penentuan akan berada dimana kita nantinya. Untuk memutuskan tempat sejati bagi kita. Akankan surga yang kenikmatannya takkan mampu terbayang oleh kita? Ataukah neraka yang bahkan bayangannyapun enggan kita bayangkan? Itulah sedikit hakekat kehidupan yang sanggup kudefinisi…
Lalu aku membayangkan bagaimana jika aku mati. Bukan surga dan neraka yang kubayangkan. Karena itu diluar jangkauanku. Bukan pula cara dan kapan aku mati. Karena itu akan membuatku malah tak nyaman jalani hidup. Aku membayangkan tentang reaksi orang- orang disekitar. Apa meraka akan menangis? Tangisan apa itu? Tangisan sedih, tangisan bahagia atau tangisan kelegaan karena akhirnya aku tak lama- lama menderita di dunia ini? Yang mana? Apa mereka akan merasa kehilangan? Sebesar apa kehilangan itu? Apa yang tak lagi mereka temui jika aku mati? Lalu berapa lama waktu yang meraka perlukan untuk kembali ke kehidupan normal mereka? Kehidupan yang tanpa ingatan bahwa aku sudah mati. Kehidupan yang telah tanpa aku. Aku benar ingin tahu semuanya. Tapi tak mungkin sekarang. Meski demikian, aku pun tak yakin akan ada kesempatan buat mengetahui semua jawaban itu. Karena aku harus mati dulu agar semua tanya itu bertemu muka dengan jawab. Lalu disaat aku mati, aku tak yakin masih punya bentuk pikiran seperti itu. Kemungkinan aku sudah sibuk dengan para malaikat…
Apa kamu akan bersedih jika aku mati?
Berapa lama sedihmu itu?
12:44
Semoga aku segera sembuh…
Amin…
Sunday, July 19, 2009
Happy go lucky

Mojokerto
19 Juli 2009
Sebuah Minggu siang…
12:49
Lelaki itu akhirnya melabuhkan nyawanya pada ketenangan. Sejenak menaruh kesadaran. Beristirahat dalam katupan mata. Begitu tentram dalam lelap. Pulas dan senyap tanpa senada dengkurpun. Tubuhnya terlihat begitu nyaman…
Tak demikian dengan jiwanya. Hatinya sedang sedikit teriris oleh sakit. Oleh kegagalannya menikmati hati bersama wanitanya. Oleh tuduhan wanitanya yang begitu semena- mena. Yang kemudian berhasil disanggahnya dengan bukti tak terbantahkan. Namun, wanita itu begitu kerasa hati. Tak mau sedikitpun perduli pada pembuktian apapun. Wanita itu sudah terlanjur mengerak dalam rasa jengkel. Dan memutuskan untuk tidak memenuhi ajakan lelaki itu untuk melayari hari bersama…
Kasihan sekali lelaki itu…
Lalu dia mengambil sebulat Oskadon yang hanya tinggal satu- satunya di meja balkon kamar si wanita. Obat itu juga adalah sisa dari si wanita. Dia tak perduli. Mungkin aliran kemarahan yang tersumbat membuat isi kepalanya kontraksi. Dia pasti merasa begitu tak nyaman. Diminumnya Oskadon satu- satunya itu. Lalu dia melangkah menuju tempat tidur berbalut sprei hijau itu. Yang juga properti si wanita…
Sedang wanitanya sedang berusaha keras menguapkan rasa bersalahnya pada lelaki pula situ. Sebenarnya dia tak tega menyakiti. Tapi egonya terlanjur luka. Dan dia tak lagi mau perduli perasaan siapapun. Tapi wanita itu sebenar- benarnya begitu tersiksa. Tersiksa oleh egonya sendiri. Tersiksa oleh ketidakperduliannya sendiri. Tersiksa oleh ketegaanya sendiri. Tapi dia diam saja. Dia membiarkan egonya berkuasa. Dan dia biarkan lelaki itu meringkuk pulas. Sedangkan dia disini. Sedang merangkai kata demi melucuti rasa bersalahnya pada lelaki itu…
Lalu…
Wanita itu memutuskan untuk memperbaiki keadaan. Memperbaiki perasaannya, juga perasaan lelaki itu. Dia memutuskan untuk tidak menyia- nyiakan hari Minggunya dengan bersenggama bersama rasa bersalah. Dia mau selalu menikmati hidup. Dia mau jadi Happy Go Lucky!!!!!!
13:09
Friday, July 17, 2009
Message in the bottle
Manusia oh manusia. Begitu kompleks dengan semua keunikannya. Mimpi- mimpi yang kemudian berbenturan dengan realita membuat mereka kemudian mengutuki kehidupannya dan membuat beberapa daftar tindakan yang disesali lengkap dengan beberapa tindakan yang tidak sempat dilakukannya hingga kini muntahkan penyesalan. Lalu keserakahan membuatnya merasa terus harus mendongak keatas dan merasa tertinggal dari lainnya…
Baris pertama…
Hingga siang ini, dia sudah menerima dua pesan singkat via handphone dari dua kawan karibnya. Keduanya mengusung pertanyaan yang sama, “Ada apa denganmu? Kenapa begitu marah? Kenapa kamu merasa gundah lagi?”….
Beberapa deret pertanyaan tekstual yang begitu susah dicari jawaban tepatnya. Pertama, karena dia merasa jawaban yang nanti diberikannya akan terasa begitu “seperti biasa”. Kedua, karena dia merasa tak ada siapapun yang mampu membuatnya merasa tenang dan lebih mensyukuri hidupnya. Ketiga, karena dia tak mau ditentramkan hatinya. Baginya semua memang harus berlaku seperti itu. Bahwa dia memang harus berada pada silangan hidupnya sekarang. Selanjutnya, karena dia tak tega membagi derita dengan kedua karibnya yang mungkin berada pada tingkat syukur lebih tinggi darinya. Dia tak mau diceramahi tentang bagaimana caranya mensyukuri kehidupannya. Karena dia merasa sudah cukup bersyukur meski seringkali tak mampu hadang luapan kegelisahan hidup…
Dan dia memutuskan untuk membalas pesan pendek itu dengan cara singkat pula. Bahkan sama sekali tak menjawab pertanyaan- pertanyaan karibnya itu…
“Well, perasaan memang begitu rapuh hingga mudah berubah rasa. I’m just fine here…”
Hhhuuuhhh…
Sebenarnya dia hanya merasa enggan beranjak dari masa nyamannya. Dia enggan kembali menjalani rutinitasnya yang sedikit mengganggu bathinnya. Dengan kesehariannya yang begitu sendiri….
Dan…
Pada dasarnya dia takut tak lagi mampu bersenang- senang dengan caranya sendiri. Dia khawatir kehabisan ide untuk membahagiakan dirinya sendiri. Dia cemas kalau- kalau suatu saat nanti dia memerlukan orang lain untuk dapati kebahagiaan. Dia hanya mau bahagia dengan caranya sendiri dan dengan dirinya sendiri. Karena dia yakin bahwa hanya dengan diri sendirilah manusia akan menghabiskan waktu terbanyakknya. Maka, tentu saja, dia tak mau mengandalkan kehadiran orang lain untuk bahagia. Karena jika benar demikian maka dia akan lebih sering bersedih. Karena dia yakin dia akan lebih sering sendiri…
Hatinya telah mengatup pada semua bentuk kebersamaan. Jika agamanya mengijinkan manusia terus sendiri maka bisa dipastikan dia akan terus sendiri. Takkan sekalipun menikah…
Tertanda
(Tanda tangan)
26 Mei 1999
NB: Gulung kembali kertas ini lalu biarkan ombak membawanya pada para pembaca berikutnya. Terimakasih telah membaca jiwaku…
Maka dengan hati- hati kugulung kertas putih tulang itu. Kumasukkan kembali dalam botol minuman plastik. Kulempar sejauh tenaga. Agar buih laut membawanya menuju pembacanya yang lain….
Aku hanya bisa merasa sedih untukknya. Dan lega untukku sendiri. Karena bukan hanya aku yang merasainya. Dia juga merasakan yang sama. Bisa jadi aku adalah reinkarnasinya…
Aku masih bersama lelakiku disini. Berdiri di pinggiran pantai sambil nikmati senggamaan ombak kecil. Damai begitu mendominasi meski siang terlanjur begitu keparat…
Lalu…
Kuhirup udara pantai ini dalam- dalam. Segar meski panas tak mau mengalah oleh angin yang begitu setia temani buih. Kugenggam tangan kirinya lalu kembali kukayuh kaki bersama lelakiku. Di pinggiran pantai siang ini…
17 Juli 2009
Di sebuah Jum'at
13:21
Monday, May 25, 2009
Tautan hati...
Mojokerto
25 Mei 2009
Di sebuah Senin yang setia dan begitu mengabdi diri
19:37
Meski Smart enggan tersambung dan menyatu fungsi dengan laptop, hari ini terasa begitu setia. Rasa pengabdian begitu kuat mewarna hari. Apapun dilakukan untuk buktikan kecintaan. Bersama dengan tulus melayani. Tak ada beban terasa. Bahkan bahagia atas semua bentuk pengabdian itulah yang kemudian memperkuat ketegarannya hadapi semua yang tak mudah. Kali ini dia benar mengakui dirinya sebagai seorang istri yang seharusnya mengabdi pada suami. Dan menikmati pengabdian itu…
Meski kanvas kata ini tak mudah terjamah rasa manusia lain, tapi aku tak mau berhenti begini saja. Hanya aku yang bisa penuh memahami rasa ini. Yang lain tak mungkin bisa mengerti. Tapi aku mau terus mengukir kata untuknya. Untuk wanita yang besok akan mengganti usia itu. Untuk dia yang telah dengan tulus mengabdi diri dan hati pada lelaki pendampingnya itu. Untuk semua kesabaran yang dengan lancarnya dia alirkan untuk pendampingnya itu. Terus terang aku kagum padanya. Bukan karena apa yang telah dan sedang dia lakukan. Melainkan untuk perubahan besar yang telah dia lahirkan. Dia yang dulu begitu superior. Kini rela terimami oleh seorang lelaki. Aku salut untuknya. Untuknya yang ikhlas mengganti rasa atas nama pernikahan…
Baginya hari begitu jauh dari lelah. Letihpun seakan enggan mendekatinya. Meski tenaganya terbuang lebih banyak dari biasa, namun hatinya merasa begitu sejuk. Sejuk oleh pengabdian diri yang ternyata terasa laksana embun pagi. Yang ternyata mampu memberi terang pada lintasan jalan hidupnya. Yang juga ternyata bisa rapi melapisi ingatannya dari sengatan beban hidup yang sejak awal tahun ini dia keluhkan. Dia yang dulu enggan berjalan karena merasa tak punya arah kini merasa tak perlu lagi berjalan karena telah sampai pada sebuah tujuan hidup. Lalu dia berbahagia. Bahagia dengan pengabdian tulusnya. Dia tak punya pengharapan apapun selain tetap merasa mantap untuk menjadi istri yang baik bagi lelaki itu…
Besok dia berganti usia. Tak ada yang dia ingini lagi. Karena hatinya telah dapati apa yang dinanti. Karena hatinya telah tersirami bahagia. Karena dia telah mendapati sebuah kado paling istimewa dari lelakinya, yaitu kesempatan untuk mengabdi diri pada suami. Ternyata pengabdian itulah yang selama ini hilang dari nyawanya hingga dia merasa terseok selama beberapa masa. Dan kini dia tak lagi merasa perlu beranjak dari apapun. Semua telah terdapati…
Lelakinya itu telah begitu setiakan hati untuknya hingga kemudian dia merasa terpanggil untuk membalasnya dengan kebaikan jenis apapun. Dan kini dia melakukannya. Dan dia yakin bahwa lelakinya itu pasti begitu bersyukur akhirnya dapati seorang istri yang baik. Seorang istri yang seharusnya. Seorang istri yang adalah sebenar- benarnya istri. Bukan hanya seorang wanita yang hanya punya status menikah dengannya. Hati lelaki itu tersenyum manis nikmati semua yang ada. Lalu dia merasa begitu enggan tinggalkan wanita itu. Tapi bagaimanapun dia harus segera pergi. Tinggalkan wanita itu sendiri lagi. Mungkin kali ini hanya berteman dengan pengharapan untuk kembali mengabdikan diri untuknya. Lelaki itu benar harus segera menghapus hadirnya dari sisi wanita itu. Karena dia dan wanita itu hanya bisa bertaut hati. Tak mungkin bisa berharap lebih. Bukan karena tak mau. Melainkan karena pertautan hatilah yang paling hakiki. Hanya itulah yang terindah. Tak ada lain…
Dan…
Wanita itu mengharapnya tinggal lebih lama. Dengan alasan yang tak bisa terkata. Lalu dia hanya bisa mendoa agar lelakinya itu merasakan doanya. Agar mereka bisa bersama selamanya. Atau setidaknya sedikit lebih lama dari biasanya…
Hidup memberi mereka kesempatan untuk hanya memilih satu dari dua pilihan. Bertaut hati selamanya atau menyatu secara ragawi. Lelakinya memilih yang pertama. Sedang wanita itu masih mengalami kesulitan untuk memutuskan. Karena benarnya dia begitu mengingini kedua- duanya. Tapi putusan hanya ada satu saja. Tak boleh kedua- duanya…
Maka baiklah. Wanita itu kembali akan sendiri. Pun lelaki itu akan melayari hari sendiri juga. Tapi hati mereka saling mengikat…
Wanita itu berhenti melukis kata…
20:19
25 Mei 2009
Di sebuah Senin yang setia dan begitu mengabdi diri
19:37
Meski Smart enggan tersambung dan menyatu fungsi dengan laptop, hari ini terasa begitu setia. Rasa pengabdian begitu kuat mewarna hari. Apapun dilakukan untuk buktikan kecintaan. Bersama dengan tulus melayani. Tak ada beban terasa. Bahkan bahagia atas semua bentuk pengabdian itulah yang kemudian memperkuat ketegarannya hadapi semua yang tak mudah. Kali ini dia benar mengakui dirinya sebagai seorang istri yang seharusnya mengabdi pada suami. Dan menikmati pengabdian itu…
Meski kanvas kata ini tak mudah terjamah rasa manusia lain, tapi aku tak mau berhenti begini saja. Hanya aku yang bisa penuh memahami rasa ini. Yang lain tak mungkin bisa mengerti. Tapi aku mau terus mengukir kata untuknya. Untuk wanita yang besok akan mengganti usia itu. Untuk dia yang telah dengan tulus mengabdi diri dan hati pada lelaki pendampingnya itu. Untuk semua kesabaran yang dengan lancarnya dia alirkan untuk pendampingnya itu. Terus terang aku kagum padanya. Bukan karena apa yang telah dan sedang dia lakukan. Melainkan untuk perubahan besar yang telah dia lahirkan. Dia yang dulu begitu superior. Kini rela terimami oleh seorang lelaki. Aku salut untuknya. Untuknya yang ikhlas mengganti rasa atas nama pernikahan…
Baginya hari begitu jauh dari lelah. Letihpun seakan enggan mendekatinya. Meski tenaganya terbuang lebih banyak dari biasa, namun hatinya merasa begitu sejuk. Sejuk oleh pengabdian diri yang ternyata terasa laksana embun pagi. Yang ternyata mampu memberi terang pada lintasan jalan hidupnya. Yang juga ternyata bisa rapi melapisi ingatannya dari sengatan beban hidup yang sejak awal tahun ini dia keluhkan. Dia yang dulu enggan berjalan karena merasa tak punya arah kini merasa tak perlu lagi berjalan karena telah sampai pada sebuah tujuan hidup. Lalu dia berbahagia. Bahagia dengan pengabdian tulusnya. Dia tak punya pengharapan apapun selain tetap merasa mantap untuk menjadi istri yang baik bagi lelaki itu…
Besok dia berganti usia. Tak ada yang dia ingini lagi. Karena hatinya telah dapati apa yang dinanti. Karena hatinya telah tersirami bahagia. Karena dia telah mendapati sebuah kado paling istimewa dari lelakinya, yaitu kesempatan untuk mengabdi diri pada suami. Ternyata pengabdian itulah yang selama ini hilang dari nyawanya hingga dia merasa terseok selama beberapa masa. Dan kini dia tak lagi merasa perlu beranjak dari apapun. Semua telah terdapati…
Lelakinya itu telah begitu setiakan hati untuknya hingga kemudian dia merasa terpanggil untuk membalasnya dengan kebaikan jenis apapun. Dan kini dia melakukannya. Dan dia yakin bahwa lelakinya itu pasti begitu bersyukur akhirnya dapati seorang istri yang baik. Seorang istri yang seharusnya. Seorang istri yang adalah sebenar- benarnya istri. Bukan hanya seorang wanita yang hanya punya status menikah dengannya. Hati lelaki itu tersenyum manis nikmati semua yang ada. Lalu dia merasa begitu enggan tinggalkan wanita itu. Tapi bagaimanapun dia harus segera pergi. Tinggalkan wanita itu sendiri lagi. Mungkin kali ini hanya berteman dengan pengharapan untuk kembali mengabdikan diri untuknya. Lelaki itu benar harus segera menghapus hadirnya dari sisi wanita itu. Karena dia dan wanita itu hanya bisa bertaut hati. Tak mungkin bisa berharap lebih. Bukan karena tak mau. Melainkan karena pertautan hatilah yang paling hakiki. Hanya itulah yang terindah. Tak ada lain…
Dan…
Wanita itu mengharapnya tinggal lebih lama. Dengan alasan yang tak bisa terkata. Lalu dia hanya bisa mendoa agar lelakinya itu merasakan doanya. Agar mereka bisa bersama selamanya. Atau setidaknya sedikit lebih lama dari biasanya…
Hidup memberi mereka kesempatan untuk hanya memilih satu dari dua pilihan. Bertaut hati selamanya atau menyatu secara ragawi. Lelakinya memilih yang pertama. Sedang wanita itu masih mengalami kesulitan untuk memutuskan. Karena benarnya dia begitu mengingini kedua- duanya. Tapi putusan hanya ada satu saja. Tak boleh kedua- duanya…
Maka baiklah. Wanita itu kembali akan sendiri. Pun lelaki itu akan melayari hari sendiri juga. Tapi hati mereka saling mengikat…
Wanita itu berhenti melukis kata…
20:19
Monday, May 11, 2009
Saca dan bapaknya...
Mojokerto
9 Mei 2009
Sabtu dengan warna begitu kelabu
18:07
Perempuan itu sudah begitu hampir berumur dua puluh enam. Bagiku dia lebih pantas dipanggil sebagai seorang wanita. Dan aku lupa namanya. Yang masih sangat jelas kuingat adalah kerelaannya untuk selamanya tak berpanggilan “Mama”. Dia begitu yakin kalau ada yang salah, entah pada dirinya atau pada pendamping hidupnya. Tapi dia benar tak punya selembar tipis dayapun untuk memperjuangkan impiannya. Beberapa saat yang lalu dia melepaskan mimpinya itu dengan begitu rela meski diringi jerit kepedihan hatinya…
Dulu dia tak pernah perduli tentang apapun. Dia juga tak pernah punya mimpi untuk mengikatkan nyawa dan nafasnya pada hanya satu lelaki saja. Dia pernah berfikir untuk melewatkan hidup tanpa lelaki. Karena dia yakin penyatuan nyawa itu takkan bisa buatnya bahagia. Sejak dulu wanita itu hanya yakin pada dirinya sendiri. Membahagiakan ibunya adalah satu- satunya mimpinya. Tak ada mimpi lain. Sayangnya, kebahagiaan ibunya adalah pernikahannya. Maka dia berada pada sebuah dilema…
Oh ya…aku ingat nama wanita itu. Namanya panjang. Panggil saja dia Saca…
Saca begitu mencinta ibunya. Dan dia begitu membenci bapaknya. Bahkan dia selalu percaya bahwa bapaknya itulah yang paling bertanggung jawab atas pola pikirnya yang menyimpang. Pola pikirnya yang begitu menolak pernikahan. Dia tak mau menikah karena bapaknya. Dia tak mau dibuat menderita oleh lelaki manapun seperti ibunya yang sudah sejak awal pernikahan merasakan penyiksaan bathin. Ibunya yang sebenarnya masih punya bapaknya tapi serasa sendiri menghidupinya dan adiknya yang hanya satu- satunya. Ibunya yang selalu menanggalkan apapun demi kedua anaknya. Dan, tentu saja, dia begitu memuja ibunya. Dan dia begitu membenci siapapun yang menyakiti ibunya itu. Dan sudah sejak lama dia membenci bapaknya, lengkap dengan semua keluarga bapaknya. Karena mereka sudah begitu tak gentar menabuh genderang perang dengan ibunya…
Dulu…
Saca kecil pernah bercita- cita punya bapak yang membanggakan. Persis seperti bapak teman- temannya. Bapak yang selalu punya waktu untuk memperhatikannya, bapak yang selalu punya tali bathin untuk diikatkan padanya juga adiknya, bapak yang selalu melindungi keluarganya, bapak yang selalu mampu menenangkan hatinya yang mungkin sedang mengerut, bapak yang seharusnya jadi bapak.
Tapi…
Sekalipun dia tak pernah merasai apa yang pantasnya dia rasai hingga dia tak pernah merasa punya bapak. Dia merasa jauh tidak beruntung dari seorang anak yatim. Karena dia punya bapak yang tak pernah bisa jadi bapak. Hingga pada akhir masa kanak- kanaknya Saca bilang pada ibunya, “Aku tidak apa- apa kalau tidak punya bapak, bu. Aku malah senang.”
Jika bisa memilih, Saca akan memilih untuk menjadi yatim saja…
Lalu…
Waktu terus mengalir tapi rasa benci pada bapaknya tak pernah bisa terhanyut. Dia memegang erat rasa benci itu. Dan selamanya dia akan membenci bapaknya. Rasa bencinya pada bapaknya setara dengan cintanya pada ibunya. Dan dia akan melakukan apapun untuk ibunya sembari juga tak akan melakukan apapun untuk bapaknya…
Dia sudah menyebut dirinya anak yatim!!!
Sejak SMP Saca tak pernah sudi memanggil bapaknya dengan sebutan “Bapak”. Karena, sekali lagi, dia merasa dirinya anak yatim yang tak mungkin punya bapak. Jadi tak ada seorang lelakipun yang berhak dipanggilnya “Bapak”. Dia kemudian jadi begitu jarang berkata apapun pada lelaki yang sebenarnya adalah bapaknya itu. Wanita itu membangun benteng sendiri dan tak mengijinkan bapaknya masuk. Tak akan pernah!!!
Lalu kini Saca sudah bukan lagi bocah. Dia sudah mengikatkan nyawa dengan seorang lelaki. Karena cintanya pada ibunya. Dan kini dia, tentu saja, ingin segera berpanggilan “Mama”. Tapi ada yang salah dengan entah apa dan siapa. Dia belum juga hamil. Setelah begitu kian lama. Dan dia begitu terobsesi pada kehamilan. Dia ingin segera mempunyai buah hati…
Tapi, lagi- lagi, dia harus merelakan impiannya pergi. Karena bapaknya! Dan kini dia rela untuk selama hidupnya tak akan pernah dipanggil “Mama”…
Saca begitu melaknat bapaknya. Dalam doanya dia tak pernah sekalipun menyebut bapaknya itu. Dia tak pernah mendoa kebaikan untuk bapaknya. Pun masih punya nurani untuk tak mendoa keburukan untuk bapaknya itu…
Saca jelas punya janji pada dirinya…
Bahwa sampai kapanpun dia takkan pernah memperdulikan bapaknya. Bahkan saat bapaknya itu sudah menua, dia takkan pernah bersedia merawatnya dengan baik. Dia hanya akan merawatnya seadanya. Sama ketika bapaknya dulu merawatnya dengan seadanya. Karena dia terlanjur begitu sakit hati…
Kini Saca masih dengan berat hati menyesali ketidakberdayaannya…
Tapi dia tak pernah menyesali kebenciannya pada bapaknya...
18:49
9 Mei 2009
Sabtu dengan warna begitu kelabu
18:07
Perempuan itu sudah begitu hampir berumur dua puluh enam. Bagiku dia lebih pantas dipanggil sebagai seorang wanita. Dan aku lupa namanya. Yang masih sangat jelas kuingat adalah kerelaannya untuk selamanya tak berpanggilan “Mama”. Dia begitu yakin kalau ada yang salah, entah pada dirinya atau pada pendamping hidupnya. Tapi dia benar tak punya selembar tipis dayapun untuk memperjuangkan impiannya. Beberapa saat yang lalu dia melepaskan mimpinya itu dengan begitu rela meski diringi jerit kepedihan hatinya…
Dulu dia tak pernah perduli tentang apapun. Dia juga tak pernah punya mimpi untuk mengikatkan nyawa dan nafasnya pada hanya satu lelaki saja. Dia pernah berfikir untuk melewatkan hidup tanpa lelaki. Karena dia yakin penyatuan nyawa itu takkan bisa buatnya bahagia. Sejak dulu wanita itu hanya yakin pada dirinya sendiri. Membahagiakan ibunya adalah satu- satunya mimpinya. Tak ada mimpi lain. Sayangnya, kebahagiaan ibunya adalah pernikahannya. Maka dia berada pada sebuah dilema…
Oh ya…aku ingat nama wanita itu. Namanya panjang. Panggil saja dia Saca…
Saca begitu mencinta ibunya. Dan dia begitu membenci bapaknya. Bahkan dia selalu percaya bahwa bapaknya itulah yang paling bertanggung jawab atas pola pikirnya yang menyimpang. Pola pikirnya yang begitu menolak pernikahan. Dia tak mau menikah karena bapaknya. Dia tak mau dibuat menderita oleh lelaki manapun seperti ibunya yang sudah sejak awal pernikahan merasakan penyiksaan bathin. Ibunya yang sebenarnya masih punya bapaknya tapi serasa sendiri menghidupinya dan adiknya yang hanya satu- satunya. Ibunya yang selalu menanggalkan apapun demi kedua anaknya. Dan, tentu saja, dia begitu memuja ibunya. Dan dia begitu membenci siapapun yang menyakiti ibunya itu. Dan sudah sejak lama dia membenci bapaknya, lengkap dengan semua keluarga bapaknya. Karena mereka sudah begitu tak gentar menabuh genderang perang dengan ibunya…
Dulu…
Saca kecil pernah bercita- cita punya bapak yang membanggakan. Persis seperti bapak teman- temannya. Bapak yang selalu punya waktu untuk memperhatikannya, bapak yang selalu punya tali bathin untuk diikatkan padanya juga adiknya, bapak yang selalu melindungi keluarganya, bapak yang selalu mampu menenangkan hatinya yang mungkin sedang mengerut, bapak yang seharusnya jadi bapak.
Tapi…
Sekalipun dia tak pernah merasai apa yang pantasnya dia rasai hingga dia tak pernah merasa punya bapak. Dia merasa jauh tidak beruntung dari seorang anak yatim. Karena dia punya bapak yang tak pernah bisa jadi bapak. Hingga pada akhir masa kanak- kanaknya Saca bilang pada ibunya, “Aku tidak apa- apa kalau tidak punya bapak, bu. Aku malah senang.”
Jika bisa memilih, Saca akan memilih untuk menjadi yatim saja…
Lalu…
Waktu terus mengalir tapi rasa benci pada bapaknya tak pernah bisa terhanyut. Dia memegang erat rasa benci itu. Dan selamanya dia akan membenci bapaknya. Rasa bencinya pada bapaknya setara dengan cintanya pada ibunya. Dan dia akan melakukan apapun untuk ibunya sembari juga tak akan melakukan apapun untuk bapaknya…
Dia sudah menyebut dirinya anak yatim!!!
Sejak SMP Saca tak pernah sudi memanggil bapaknya dengan sebutan “Bapak”. Karena, sekali lagi, dia merasa dirinya anak yatim yang tak mungkin punya bapak. Jadi tak ada seorang lelakipun yang berhak dipanggilnya “Bapak”. Dia kemudian jadi begitu jarang berkata apapun pada lelaki yang sebenarnya adalah bapaknya itu. Wanita itu membangun benteng sendiri dan tak mengijinkan bapaknya masuk. Tak akan pernah!!!
Lalu kini Saca sudah bukan lagi bocah. Dia sudah mengikatkan nyawa dengan seorang lelaki. Karena cintanya pada ibunya. Dan kini dia, tentu saja, ingin segera berpanggilan “Mama”. Tapi ada yang salah dengan entah apa dan siapa. Dia belum juga hamil. Setelah begitu kian lama. Dan dia begitu terobsesi pada kehamilan. Dia ingin segera mempunyai buah hati…
Tapi, lagi- lagi, dia harus merelakan impiannya pergi. Karena bapaknya! Dan kini dia rela untuk selama hidupnya tak akan pernah dipanggil “Mama”…
Saca begitu melaknat bapaknya. Dalam doanya dia tak pernah sekalipun menyebut bapaknya itu. Dia tak pernah mendoa kebaikan untuk bapaknya. Pun masih punya nurani untuk tak mendoa keburukan untuk bapaknya itu…
Saca jelas punya janji pada dirinya…
Bahwa sampai kapanpun dia takkan pernah memperdulikan bapaknya. Bahkan saat bapaknya itu sudah menua, dia takkan pernah bersedia merawatnya dengan baik. Dia hanya akan merawatnya seadanya. Sama ketika bapaknya dulu merawatnya dengan seadanya. Karena dia terlanjur begitu sakit hati…
Kini Saca masih dengan berat hati menyesali ketidakberdayaannya…
Tapi dia tak pernah menyesali kebenciannya pada bapaknya...
18:49
Friday, May 8, 2009
Dua puluh enam Mei...

Mojokerto
7 Mei 2009
Pada suatu Kamis malam…
21:33
Aku kembali merangkai kata dikamar ini. Dengan semburat sisa cahaya lampu teras. Aku sedang berada di pinggir keremangan malam dan balutan dinginnya rasa. Jemari tetap menari indah diatas huruf- huruf sedangkan rasa dan pikir bercakap lirih untuk hasilkan bentangan kata. Agar layar ini tak lagi kosong. Supaya lembar ini bisa terbaca oleh siapa saja di kemudian masa …
Kini rasaku mulai tenang. Karena malam telah datang bersama remang. Karena aku berhasil minggir sebentar dari permainan rasa yang sudah sejak lama asyik kumainkan. Karena hati mengalah pada ego manusiawiku. Karena aku menyublimkan rasa kecewaku. Karena aku tak gagal membujuk kekhawatiran untuk sekedar bertandang ke hati manusia lain. Karena aku sudah menerima kenyataan dengan kelapangan hati. Karena kini aku menyerahkan nyawa pada Sang Kuasa. Karena aku kini jauh lebih yakin pada-Nya…
Malam sedikit demi sedikit merambat kearah larut. Para raga akan segera membujur dan bertemu dengan ketidak- sadaran. Mengistirahatkan organ yang sudah seharian menjadi budak kepentingan dan hamba kebutuhan. Suara- suara juga sudah mulai menyayup. Beberapa cahaya lampu ditewaskan untuk kepentingan penghematan energi dan menekan keras pengeluaran rumah tangga. Maka dari empat Philips disini, yang menyala hanya setengahnya. Itupun demi menjaga mata agar tetap nyaman menatap layar ini. Lalu kipas angin tua itu masih terus menggeleng keras. Namun tak begitu berjaya dalam mengubah gerah menjadi tidak gerah. Aku masih tetap berpeluh…
Aku sedang berada pada sebuah kehampiran yang tak begitu menyejukkan hati. Hampir melepaskan tangan pada usia dua puluh lima. Lalu akan saling bergenggaman hasta dengan dua puluh enam. Dan ini jadi masa termuram dalam sejarah hidup seorang aku. Masa paling mendung. Masa paling berat karena aku harus dengan sekuat hati mencegah jatuhnya tetesan hujan. Aku tak rela hatiku basah olehnya. Aku pasti akan terus mendoa agar bahkan gerimispun takkan menetes. Agar meski mendung, hatiku masih terus kering…
Tiba- tiba ingatanku melesat pada dulu…
Dulu yang pernah sengaja dijejali oleh beberapa perayaan. Dulu yang juga sempat ditandai dengan ritual traktiran makan- makan. Dulu yang diakari oleh budaya guyur air, tumpah tepung, lempar telur sampai jabat tangan simbol turut berbahagia atas pertambahan usia. Dulu yang dimekari oleh hati sumringah, meski sedikit kuatir kalau kalau perlakuan mereka- mereka akan terlalu berlebihan. Tapi, tetap itulah bentuk sebuah perayaan pergantian usia. Sudah jadi sebuah budaya bagi jiwa para remaja. Tapi kini aku tak bisa lagi dipanggil remaja. Karena usia sudah begitu menua. Maka bisa dipastikan tak akan ada lagi ritual seperi dulu…
Tapi aku tetap mau bertanya…
Masih akan adakah kejutan- kejutan seperti saat aku baru injakkan nyawa pada usia dua puluh?
Masih akan adakah ucapan selamat ulang tahun dan doa- doa dari para karib dan manusia di sekeliling yang hanya butuh meng- amin- an?
Masih akan adakah kado manis yang sengaja terbungkus untukku?
Masih akan adakah todongan makan- makan dari para sahabat yang merasa dan mengaku dekat?
Masih akan adakah tawa riang dan jeritan histeris oleh siksaan- siksaan manis seperti dulu?
Masih akan adakah yang mengingat pergantian usia ini?
Masih akan adakah semua- semua itu?
Dulu aku begitu mendamba waktu cepat menggelinding agar segera bertemu sapa dengan setiap dua puluh enam Mei. Menanti siapapun yang berminat untuk jadi orang pertama dalam mengucap selamat ulang tahun. Tepat di jam dua belas malam, meski aku benar terlahir pada sebuah Kamis dua puluh enam Mei delapan tiga pada jam setengah enam pagi. Jadi sebenarnya tak begitu tepat mengucap selamat di jam dua belas. Tapi menjadi yang pertama bagai sebuah tropi kebanggaan pertanda sebuah kesetiaan dan perhatian. Lalu hal itu menjadi sebuah kenormalan…
Huhhhh…aku benar merindui semua perlakuan itu. Aku sungguh ingin mendapatkan sesuatu yang dinamai “kado”. Aku begitu ingin mengucap “Amin” atas semua doa yang terluncur dari mulut para sahabat. Aku begitu ingin merasai sejuknya air guyuran. Mau kembali merasa malu dengan tepung dan telur yang tumbuh bagai jamur pada tubuh basah. Aku mau kembali merasai semua bentuk perhatian itu. Aku mau kembali merasa konyol seperti kala itu. Meski aku tahu kadang mereka melakukannya bersama secuil pamrih. Demi sebuah traktiran makan- makan. Tapi, semua begitu indah. Semua begitu ingin kurasai. Persis sama seperti dulu. Aku tak mau yang berlebih. Harus sama persis…
TAK MUNGKIN BISA!!!!
Kenapa?
Karena semua sahabat sudah melayar pada pulau impiannya sendiri…
Karena aku tak lagi remaja…
Karena masa telah begitu jahat merebut paksa semua budaya itu…
Karena memang tak mungkin…
Aku tak mau menangis tapi nyatanya airmata ini sudah begitu ramah menjamah udara. Mengalir halus. Menjadi bukti hati yang sedang bersedih…
Aku lagi- lagi merindui masa lalu. Dan lagi- lagi aku tersesak oleh fakta bahwa masa lalu ada hanya untuk dikenang. Bukan untuk dirasai kembali…
Lalu…
Apa arti dua puluh enam Mei dua ribu sembilan ini?
22:15
Wednesday, April 29, 2009
Kediri hari ini serasa Malang...
Kediri
April 2009
Kala hari berpanggilan Rabu meski terasa seperti Kamis
16:39
Jalanan begitu basah oleh hujan manis yang datang bersama mendung siang. Udara sore ini kemudian mengendur dan lelehkan segar. Aroma tanah baru basah tercium, meski tak begitu jelas diindra. Para pengendara juga semakin mempercepat gerak roda. Mungkin mereka enggan rasai segarnya bumi sendirian. Mereka ingin mendekap sore bersama semua yang ada dihatinya…
Kediri sore ini begitu serupa dengan Malang. Udara ranumnya mempunyai rasa yang sama dengan Malangku kala itu. Gerimis manisnya juga sama. Kelenggangan jiwaku juga sama dengan dulu. Dimana aku sebenarnya sekarang?
Gerimis berhenti meringis. Langit kemudian lambat memutih. Menggiring mendung sedikit menjauh dari bumi Kediri. Mungkin agar aku bisa dengan pasti menjawab keberadaanku sekarang. Agar aku yakin benar bahwa aku sedang di Kediri. Bukan di Malang. Meski sore ini keduanya berasa sama…
Pelita Indah baru saja melaju ringan di jalan depan…
Malam nanti aku punya rencana. Bersama beberapa karib perjuangan disini…
Tiba- tiba aku menjadi begitu malas mengulas apapun. Aku mau berhenti saja. Meski gerimis tak lagi meringis tapi udara terasa sedikit lebih dingin sekarang…
Aku cuma mau bilang kalau nanti malam aku akan kembali bertegur mata dengan CafĂ© Minie. Bersama beberapa teman karib. Merayakan perpisahan teman dengan kota tahu ini. Temanku itu kini merasai apa yang dulu kurasai. Aku dulu juga sudah pernah mengucap salam berpisah pada Kediri. Karena aku mau melenggang pergi ke belahan tanah bumi lainnya. Kini dia yang merasainya. Dan temanku itu berpanggilan Iir…
Semoga aku bisa kembali nikmati pikuk malam…
16:54
April 2009
Kala hari berpanggilan Rabu meski terasa seperti Kamis
16:39
Jalanan begitu basah oleh hujan manis yang datang bersama mendung siang. Udara sore ini kemudian mengendur dan lelehkan segar. Aroma tanah baru basah tercium, meski tak begitu jelas diindra. Para pengendara juga semakin mempercepat gerak roda. Mungkin mereka enggan rasai segarnya bumi sendirian. Mereka ingin mendekap sore bersama semua yang ada dihatinya…
Kediri sore ini begitu serupa dengan Malang. Udara ranumnya mempunyai rasa yang sama dengan Malangku kala itu. Gerimis manisnya juga sama. Kelenggangan jiwaku juga sama dengan dulu. Dimana aku sebenarnya sekarang?
Gerimis berhenti meringis. Langit kemudian lambat memutih. Menggiring mendung sedikit menjauh dari bumi Kediri. Mungkin agar aku bisa dengan pasti menjawab keberadaanku sekarang. Agar aku yakin benar bahwa aku sedang di Kediri. Bukan di Malang. Meski sore ini keduanya berasa sama…
Pelita Indah baru saja melaju ringan di jalan depan…
Malam nanti aku punya rencana. Bersama beberapa karib perjuangan disini…
Tiba- tiba aku menjadi begitu malas mengulas apapun. Aku mau berhenti saja. Meski gerimis tak lagi meringis tapi udara terasa sedikit lebih dingin sekarang…
Aku cuma mau bilang kalau nanti malam aku akan kembali bertegur mata dengan CafĂ© Minie. Bersama beberapa teman karib. Merayakan perpisahan teman dengan kota tahu ini. Temanku itu kini merasai apa yang dulu kurasai. Aku dulu juga sudah pernah mengucap salam berpisah pada Kediri. Karena aku mau melenggang pergi ke belahan tanah bumi lainnya. Kini dia yang merasainya. Dan temanku itu berpanggilan Iir…
Semoga aku bisa kembali nikmati pikuk malam…
16:54
Lelaki Insomnia....
Kediri
April 2009
Hampir tengah malam disini
23:14
Malam semakin melarut. Semua sudah nyenyak tinggali alam bawah sadar. Terlena oleh suasana malam yang memang begitu lenggang. Bisa juga karena terlanjur rapatkan kelopak karena paksaan lelah yang kian menjajah raga…
Lelaki itu berada disini dengan sebuah kesulitan…
Sebentar…
Handphone-nya berdering oleh panggilan kawan lama. Seorang Andrita yang adalah karib seperjuangannya di bangku Fakultas Ilmu Administrasi dulu.
“Apa bedanya admired by dengan admired with?”
Lalu lelaki itu menjawab singkat; “Bukannya kamu dulu pernah menanyakan itu?”
“Masa sih?”
“Iya…”
“Kalau begitu ulang lagi dong jawabannya!”
“Basically sih sama aja, cuma kalau yang lebih grammar ya Admired By karena itu pasif. Tapi dua duanya common dipakai kok. Jadi ya sama saja…”
“Oh gitu. Ya sudah. Thanks ya…”
Pembicaraannya selesai…
Tentang lelaki itu...
Lelaki itu kini kembali tapaki nyawa di udara Kediri. Sebuah kota yang dulu pernah begitu erat menggenggam jemari hidupnya. Dia sempat berbagi senyum dan tangis dengan semua yang ada disini. Dia juga pernah melaju di indahnya cinta dengan wanitanya. Banyak sekali yang pernah dia alami disini. Sampai akhirnya dia merasa harus pergi. Lalu dia undur diri di awal Januari. Tepatnya di sebuah Jum’at malam dengan hujan nakal yang terus halangi kepergiannya. Saat kalender masih setia pada sembilan Januari dua ribu sembilan. Saat cuaca menahannya dengan begitu sangat. Namun dia tetap merasa harus pergi. Lalu dia dengan sabarnya membujuk hujan untuk berhenti merinai. Dia memohon agar kepergiannya direlakan. Karena wanitanya juga telah rela melepaskannya. Lalu lelaki itu mengucap Selamat Tinggal pada wanitanya. Hujanpun akhirnya menyerah. Sebuah perpisahan tanpa tangis dan haru. Biasa saja. Karena mereka tetap menautkan rasa. Meski jarak yang kemudian akan merajai…
Lalu…
Senja tadi lelaki itu kembali. Membawa beberapa butir rindu untuk melepas penat yang selama ini nyaman tinggali jiwanya. Jiwanya yang sendiri. Jiwanya yang tanpa wanitanya. Dia datang hanya dengan satu pinta. Semoga bisa bersenang- senang…
Setengah jam lagi, hari akan berganti nama. Tanggal juga akan berganti angka. Tapi tahun masih setia…
Semua raga sudah menutup mata. Karena itulah yang sewajarnya dilakukan. Tapi tidak dengan lelaki itu. Dia masih gagah dengan mata lebarnya yang seakan masih ingin terus awasi dunia. Dia gagal temui alam bawah sadarnya. Bisa jadi inilah yang disebut insomnia…
Dia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Orang bilang lebih baik menghitung domba saja. Tapi mana mungkin bisa menghitung domba kalau seumur nyawanya di bumi ini dia tak pernah sekalipun melihat domba. Perasaannya tak begitu setuju dengan kata orang yang itu. Lalu orang yang lainnya mengatakan; lupakan semua yang kau pikirkan maka kamu akan segera terlelap. Tetap saja dia masih terjaga sambil merasa tak nyaman. Karena dia tak pernah tahu cara melupakan apa yang sedang dia pikirkan. Lalu sampai kinipun dia masih terjaga…
Dia berhenti sejenak demi mencuri dengar tanda- tanda kehidupan. Yang ada hanya suara dengkur wanitanya yang sejak tadi sudah terlelap oleh lelah berlebih. Dengkuran itu ternyata punya nada. Dan indah jika didengar. Apa karena semakin malam dia semakin melankolis dan romantis hingga semua yang ada tampak dan terdengar indah? Atau karena dengkuran itu adalah properti wanita bumi yang dicintainya? Lelaki itu langsung menjawab “Dua duanya!”
Aku mau bercerita sedikit tentang lelaki itu…
Dia terlahir sebagai putra pertama dari tiga saudaranya yang lain. Kulit terang dan hidung mancungnya membuat dia selalu menganggumi diri sendiri. Dulu dia tergolong kurus. Tapi sejak dia bersama dengan wanitanya itu, berat badannya bertambah sekitar sepuluh kilogram. Tinggi badannya cukup; tak pendek juga tak terlalu jangkung. Kesan pertama tentangnya adalah cowok lumayan enak dilihat. Gayanya asal. Cuek meski tak seperti bebek…
Lelaki itu menguap panjang. Tapi bukanlah mendung tak selalu berarti hujan? Maka menguap tak selalu berarti mau tidur. Dan dia masih tetap sendiri cumbui dengkuran indah wanitanya…
Dia menguap lagi. Sama panjangnya dengan yang tadi…
Kali ini dia benar merasa tersiksa oleh waktu. Tak tahu lagi harus bagaimana…
Keringatnya semakin mengucur. Dia semakin gugup. Dia khawatir malam akan terganggu olehnya yang masih saja terjaga. Dia takut malam akan menyalahkannya karena kehilangan misterinya. Dia tak mau disalahkan. Kali ini dia benar- benar mau menjadi sama persis dengan raga- raga lainnya yang sudah mengatupkan nyawa. Dia tak mau terjaga…
Tapi dia tak tahu cara pejamkan mata…
Sulit sekali baginya…
Delapan menit lagi esok akan berganti nama jadi hari ini…
Tujuh menit lagi sekarang…
Dia semakin gugup...
Hari ini bernama Senin…
00:07
Sunday, April 19, 2009
Untuk Suara Bijaksana itu...
Mojokerto
19 April 2009
Minggu malam dengan rintik gerimis romantis
21:21
Gerimis mulai menitik sejak beberapa detik yang lalu. Aroma segar mulai menyibak tirai malam. Rintihan atap oleh tangis gerimis seakan menambah romantisme Minggu malam ini. Bumi seakan secara sukarela menyerahkan diri untuk disakiti tajamnya rinai. Begitu indah bagi hatiku yang saat ini sedang tersenyum…
Hari ini terasa begitu dekat dengan sempurna. Hatiku begitu berbinar. Pikirku terasa begitu bebas melanglang. Ragaku merasa begitu lega dan jauh dari rintihan. Semua sedang menyatu dengan kesempurnaan hari laksana udara yang begitu erat menyatu dengan semesta…
Aku datang sekarang untuk sebuah suara…
Sebuah suara yang bijaksana…
Untuk sebuah suara bijaksana itu…
Yang datang bertandang tadi malam…
Terimakasih untuknya yang telah mengabdi diri secara tulus kepadaku. Yang telah berikan beberapa gelintir kalimat penguat bagi jiwaku yang malam tadi terasa begitu merapuh. Merapuh oleh ketidakberdayaanku sendiri. Tidak berdaya mengubah pikir demi nyamankan sebuah jiwa pribadiku. Lalu jiwaku terdominasi tangis yang tanpa ampun menggilas kelopak mata lelahku. Aku tertunduk dalam sebuah nyata yang kuharap hanya sebuah mimpi buruk. Bahwa aku bisa kapan saja terbangun dan kembali pada nyata. Tapi sayangnya jiwaku sedang secara nyata melemah. Terlanjur terapuh oleh pikiran yang datang bersama beberapa sugesti akan kegagalan- kegagalan yang selalu sabar menanti aku berjalan mendekati. Semalam aku terlalu lelah tangisi diri yang masih hanya bisa begini…
Tak banyak yang aku tahu tentang dia…
Tapi dia selalu ada untukku…
Sebagai suara…
Lalu kunamai dia Suara Bijaksana…
Begitu berterimakasih aku padanya. Aku selalu merasa begitu nyaman oleh hadirnya. Aku cinta jadi pendengarnya. Aku rela mengabdi waktu padanya. Pun aku tak keberatan membagi nyawa dengannya. Meski hanya lewat pendengaran.
“Jangan berfikiran negatif. Positive thinking saja”
“Yakinlah kamu bisa maka kamu bisa. Aku yakin kamu bisa”
“Berjuanglah jauh lebih keras sekarang maka kamu akan dapati apa yang kamu maui”
“Baca lagi Sang Alkemis. Resapi semua kalimat dan pahami maknanya lalu implemetasikan dalam hidupmu!”
“Sekarang kamu tahu masalahnya dan kamu juga sudah tahu cara mengatasinya maka lakukan sesuatu untuk mengatasi semuanya!”
Aku begitu tertolong oleh kalimat- kalimat itu. Beberapa deret yang datang berbungkus sihir karena nyatanya aku merasa bisa dapati semangat juangku kembali. Aku merasa bisa kembali menatap hidup dengan lebih berani. Tak lagi tertunduk oleh ketidakberdayaan. Tak lagi tertindas oleh ketakutan. Tak lagi terkurung oleh prasangka- prasangka buruk. Tak lagi mau berhenti di titik rendah ini. Kalimat- kalimat itu seakan datang bersama beberapa nyawa baru yang kemudian merasuki nyawa pribadiku yang sedang lunglai oleh kekecewaan, ketakutan, kesendirian, kesia- siaan sekaligus ketidakberdayaan. Kini aku punya nyawa baru. Nyawa baru yang lebih hidup!!!
Maaf karena aku tak bisa menyebut namanya. Aku hanya berhak memanggilnya sebagai sebentuk suara. Maka aku mau berterimakasih dengan segenap hati, pikir dan nyawa baruku. Berterimakasih kepada suara itu…
Suara bijaksana….
Teruslah iringi nyawaku yang mungkin akan merapuh lagi…
Suara Bijaksana,
Maaf, atas semua yang kutuang disini…
Karena mungkin kamu merasa tak berkenan…
Aku hanya merasa dapati kembali yang dulu sempat kulepaskan…
Dan kamulah yang membawanya kembali…
Kanvas kata ini terkesan begitu berlebihan. Tapi aku tak mau berkawan dengan kebohongan. Benar inilah yang kurasa. Karena hati memang tak pernah punya sistem pengukur hingga dia selalu gagal mengukur rasa. Alhasil kadang terkesan berlebihan. Tapi itulah yang benar dirasa olehnya…
Gerimis diluar sana masih saja begitu romantis…
Mungkin karena aku yang sedang terlalu dramatis…
22:12
19 April 2009
Minggu malam dengan rintik gerimis romantis
21:21
Gerimis mulai menitik sejak beberapa detik yang lalu. Aroma segar mulai menyibak tirai malam. Rintihan atap oleh tangis gerimis seakan menambah romantisme Minggu malam ini. Bumi seakan secara sukarela menyerahkan diri untuk disakiti tajamnya rinai. Begitu indah bagi hatiku yang saat ini sedang tersenyum…
Hari ini terasa begitu dekat dengan sempurna. Hatiku begitu berbinar. Pikirku terasa begitu bebas melanglang. Ragaku merasa begitu lega dan jauh dari rintihan. Semua sedang menyatu dengan kesempurnaan hari laksana udara yang begitu erat menyatu dengan semesta…
Aku datang sekarang untuk sebuah suara…
Sebuah suara yang bijaksana…
Untuk sebuah suara bijaksana itu…
Yang datang bertandang tadi malam…
Terimakasih untuknya yang telah mengabdi diri secara tulus kepadaku. Yang telah berikan beberapa gelintir kalimat penguat bagi jiwaku yang malam tadi terasa begitu merapuh. Merapuh oleh ketidakberdayaanku sendiri. Tidak berdaya mengubah pikir demi nyamankan sebuah jiwa pribadiku. Lalu jiwaku terdominasi tangis yang tanpa ampun menggilas kelopak mata lelahku. Aku tertunduk dalam sebuah nyata yang kuharap hanya sebuah mimpi buruk. Bahwa aku bisa kapan saja terbangun dan kembali pada nyata. Tapi sayangnya jiwaku sedang secara nyata melemah. Terlanjur terapuh oleh pikiran yang datang bersama beberapa sugesti akan kegagalan- kegagalan yang selalu sabar menanti aku berjalan mendekati. Semalam aku terlalu lelah tangisi diri yang masih hanya bisa begini…
Tak banyak yang aku tahu tentang dia…
Tapi dia selalu ada untukku…
Sebagai suara…
Lalu kunamai dia Suara Bijaksana…
Begitu berterimakasih aku padanya. Aku selalu merasa begitu nyaman oleh hadirnya. Aku cinta jadi pendengarnya. Aku rela mengabdi waktu padanya. Pun aku tak keberatan membagi nyawa dengannya. Meski hanya lewat pendengaran.
“Jangan berfikiran negatif. Positive thinking saja”
“Yakinlah kamu bisa maka kamu bisa. Aku yakin kamu bisa”
“Berjuanglah jauh lebih keras sekarang maka kamu akan dapati apa yang kamu maui”
“Baca lagi Sang Alkemis. Resapi semua kalimat dan pahami maknanya lalu implemetasikan dalam hidupmu!”
“Sekarang kamu tahu masalahnya dan kamu juga sudah tahu cara mengatasinya maka lakukan sesuatu untuk mengatasi semuanya!”
Aku begitu tertolong oleh kalimat- kalimat itu. Beberapa deret yang datang berbungkus sihir karena nyatanya aku merasa bisa dapati semangat juangku kembali. Aku merasa bisa kembali menatap hidup dengan lebih berani. Tak lagi tertunduk oleh ketidakberdayaan. Tak lagi tertindas oleh ketakutan. Tak lagi terkurung oleh prasangka- prasangka buruk. Tak lagi mau berhenti di titik rendah ini. Kalimat- kalimat itu seakan datang bersama beberapa nyawa baru yang kemudian merasuki nyawa pribadiku yang sedang lunglai oleh kekecewaan, ketakutan, kesendirian, kesia- siaan sekaligus ketidakberdayaan. Kini aku punya nyawa baru. Nyawa baru yang lebih hidup!!!
Maaf karena aku tak bisa menyebut namanya. Aku hanya berhak memanggilnya sebagai sebentuk suara. Maka aku mau berterimakasih dengan segenap hati, pikir dan nyawa baruku. Berterimakasih kepada suara itu…
Suara bijaksana….
Teruslah iringi nyawaku yang mungkin akan merapuh lagi…
Suara Bijaksana,
Maaf, atas semua yang kutuang disini…
Karena mungkin kamu merasa tak berkenan…
Aku hanya merasa dapati kembali yang dulu sempat kulepaskan…
Dan kamulah yang membawanya kembali…
Kanvas kata ini terkesan begitu berlebihan. Tapi aku tak mau berkawan dengan kebohongan. Benar inilah yang kurasa. Karena hati memang tak pernah punya sistem pengukur hingga dia selalu gagal mengukur rasa. Alhasil kadang terkesan berlebihan. Tapi itulah yang benar dirasa olehnya…
Gerimis diluar sana masih saja begitu romantis…
Mungkin karena aku yang sedang terlalu dramatis…
22:12
Saturday, April 18, 2009
Hari hitam putih....

Mojokerto
17 April 2009
Pada sebuah Jum’at siang yang terjajah gerah…
14:05
Dahi telah lelah menghindari peluh yang sejak awal siang tadi menyentuh raga. Mungkin dia pikir perjuangan akan jadi sebuah kesia- siaan karena nyatanya siang begitu pro terhadap gerah. Dan aku masih disini. Di sebuah kamar yang entah karena apa menjadi lebih gerah rasanya daripada ruangan lain dirumah hijau ini. Bisa jadi karena konstruksi bangunan kamar ini terlampau toleran terhadap gerah. Atau karena suhu udara sedang begitu memuncak. Bisa juga karena pengaruh beban hidup yang kian jauh dari kata remeh. Apapun alasannya, yang jelas aku masih mengabdi rasa disini bersama sebuah kipas angin kecil oleh- oleh masa lalu. Juga dengan nada- nada masa kini yang kudengar dari SE W550i ini…
Beberapa hari ini terasa begitu tidak menyenangkan. Semua bentuk kesenangan dan kelegaan rasa mungkin sedang mnegabdi rasa pada nyawa lain. Aku harus berbagi dengan nyawa- nyawa, memang. Dan sekarang mereka sedang bukan untukku. Meski aku sudah berusaha menikmati semuanya secara maksimal, tapi tetap saja aku merasa gagal. Lalu ragaku terasa kurang sehat. Mungkin gejala masuk angin. Parahnya aku tak punya cara sembuhkan diri. Karena aku tak begitu mahir tentang cara penyembuhan. Suntuk kemudian menekan hati. Alhasil semua yang ada terasa tak berasa karena hati yang adalah organ perasa kini sedang terdesak suntuk. Bahkan Vaska Alteria tak mampu memberi sedikit kesenangan untukku. Va juga terasa begitu tawar dan tak berguna…
Senin datang perlahan dan lupa membawa Selasa bersamanya. Lalu terpaksa aku mencari- cari hari Selasa di sekujur lipatan masa. Kubongkar kembali masa dulu. Hanya agar bisa dapati kembali Selasa. Masalah belum juga usai. Rabu tiba- tiba menghilang saat kalender membutuhkannya. Bisa kudengar jeritan lirih kalender memanggil- manggil Rabu. Karena dia tak mau malu kehilangan Rabu. Lalu Rabu datang dengan tergesa sambil tanpa henti ucapkan maaf. Nafasnya kembang kempis. Kamis dan Jum’at datang berduaan karena mereka tak mau mendengar jeritan lirih kalender lagi. Tak mau bernasib sama dengan Selasa. Bisa jadi mereka ingin membuktikan pengabdiaannya terhadap waktu. Meski mereka tak bawa masalah, tapi tetap ada yang kurang. Mereka datang tergesa. Takut terlambat hingga akhirnya melupakan beberapa warna rasa yang harusnya mereka bawa serta. Alhasil Kamis dan Jum’at lalu menjadi gambaran klise hitam putih. Terlihat dan terasa begitu membosankan. Lalu kupesan pada mereka agar lebih teliti di kemudian hari. Mereka mengangguk lemah sambil terus merasa bersalah. Ya sudahlah…
Sekarang masih Jum’at. Tanpa warna. Hanya hitam putih. Membosankan. Tak bisa terlalu dinikmati. Sedangkan kipas angin kecil itu masih kupaksa terus menghadap pada satu arah. Yaitu kearahku. Karena aku benar tak tahan gerah. Peluh tertahan di bagian dalam organ tubuh. Namun gerah masih begitu kuat lindungi diri dari cumbuaan angin buatan ini. Gerah tanpa peluh…
Mungkin inilah konsekuensi dari sebentuk kehidupan tanpa mimpi. Dari sebuah nyawa bernafas tanpa keberanian untuk bermimpi. Tanpa sesuatu yang dinanti. Juga tanpa harapan yang bisa jadi penguat. Semua yang ada terasa begitu sia- sia. Semua yang ditunjukkan alam hanya sebagai sebuah keharusan saja. Bukan sebagai petunjuk untuk dapati mimpi. Tapi aku masih begitu kecewa dengan yang dulu. Aku masih perlu masa lebih lama untuk menyembuhkan luka hati karena kehidupan yang dulu begitu keras menempaku. Hingga aku terjatuh. Lecet sedikit. Tapi lalu aku lupa. Lupa menyentuhkan obat hingga lecet itu memburuk. Begitu sakit dirasa. Dan jera yang kini tertinggal. Jera untuk kembali melaju diatas rel hidup. Aku masih bertengger di sebuah stasiun hidup. Berhenti sampai dapati kembali nyali untuk berlari mengejar ketertinggalan. Doakan aku bisa segera sembuh…
Yang terdengar sekarang adalah Detik (untuk dikenang) oleh The Video…
Melalui Winamp laptop…
….
Sudahlah sayangku jangan pernah sesali yang terjadi
Kini kita bertemu hanya tuk melepaskan rindu
Nikmati detik indah yang mungkin takkan pernah terulang
Semoga bagimu kan menjadi satu yang indah tuk dikenang
Lupakan cinta kita dulu yang kan membuka luka lama
Anggap saja tak pernah ada cerita cinta berdua
Kupun tak pernan meminta tuk kembali hati ini bersama
Kutahu dilubuk hatimu lentara takkan padam
Karna ku yang terbaik
…
Sejak awal mendengarnya, aku langsung jatuh hati pada lirik dan nadanya yang terdengar begitu acuh. Sebuah permintaan untuk melupakan semua yang dulu pernah terjalin indah. Tak ada keinginan untuk merasai kembali indahnya masa lalu. Karena adanya sebuah kesadaran bahwa yang dulu hanya ada untuk dikenang, bukan untuk dirasai kembali. I do love this song!!!
Cukup tentang The Video. Kini aku mau beralih ke Lost in Love yang kemarin petang kutonton di layar SCTV. Pukul enam sampai delapan lebih malam. Entah diperankan oleh siapa. Kebanyakan pemainnya adalah pendatang baru dunia perfilm-an. Ceritanya begitu biasa. Terkesan begitu anak- anak, malahan. Begitu dongeng. Tapi lumayan untuk dijadikan hiburan di hidupku yang sedang mengklise ini. Aku sempat terhanyut di bagian agak akhir cerita. Dimana Adit yang adalah laki- laki kaku kemudian mau berubah begitu romantis hanya demi sebuah penggambaran cintanya untuk Tita. Romantis. Lalu aku sempat berfikir memperbaiki hubungannya dengan lelakiku. Aku yang sifatnya hampir seperti Adit. Ternyata aku juga mengingini romantisme. Aku mau dengan lelakiku itu. Aku mau kembali mewarna hari dengan kuas kebahagiaan dan warna keromantisan dengannya. Lost in Love does give me a sense of romantismn!!!
Inilah salah satu OST-nya, O Teganya oleh Tangga…
…
Kini aku disini
Cuma sendiri
Tiada yang mencari
Sampai hati
Sampai begini
Kau tak perduli
Oh teganya
…
Aku merasa benar memahami lirik itu…
Adzan Ashar sedang mengkumandang di kampung sebelah…
14:53
Subscribe to:
Posts (Atom)