(Masih) di Mojokerto
(Kali ini) tertanggal 2 Desember 2009
Sebuah Rabu
Dengan perasaan begitu hampa tanpa tahu harus berbuat apa…
18:45
Adzan Isya’ terdengar membumbung di hatiku yang Islami. Sejenak aku seakan merasa bagai malam bulan Ramadhan yang tahun ini telah terlalui. Rasanya sedikit mendamaikan nadi. Aura religi masih melambai hasta undang para raga tunaikan kewajiban insani. Tapi sayangnya kali ini aku masih belum suci. Jadi tak mungkin aku membelai air wudlu lalu tunaikan sholat malam ini…
Dan aku masih saja menatap waktu di depan tivi. Masih juga dengan rasa bosan yang terasa begitu berarti. Namun aku tak punya pilihan untuk menghindari. Karena aku hanya sendiri. Dan hatikupun sedang merasa tak punya rencana, apalagi mimpi. Benarnya hanya satu yang kuingini. Tak ada yang lain lagi. Yaitu segera lepas dari keterpurukan menuju masa yang lebih damai. Masa yang sajikan keramaian hati. Masa yang tak lagi menyiksaku dengan kesepian hati dan kesendirian nadi. Aku mau ditemani. Aku mau tak sendiri. Dan aku mau selalu bahagia dalam berbagi…
Jarum jam masih saja berdetak. Lahirkan masa yang hanya bisa merangkak menuju kotak-kotak kehidupanku yang sejak beberapa lama lalu sudah meretak. Meski nyatanya jantungku masih normal berdetak. Meski nyatanya jiwaku terus berteriak. Berteriak agar bisa lepas dari masa yang kali ini hanya berupa bosan dan riak-riak…
Tolong lepaskan aku dari semua beban. Biarkan aku melesatkan nyawa bersama indahnya kenyataan. Biarkan aku terbang sambil bergenggaman tangan bersama keindahan. Biarkan aku menjemputnya untuk bersama-sama rasakan senyuman kehidupan. Tolong hadiahkan sebuah kesempatan untuk merasakan. Jangan biarkan aku terperangkap dalam hampa dan tak berasa karena bosan…
Mauku tak mengeluh. Mauku berhenti berkeluh. Mauku terima apa yang tersuguh. Mauku terus tersenyum meski sambil menahan perih. Mauku terus nyaman meski dalam lautan peluh. Mauku tak pernah berairmata sedih. Dan aku sudah berusaha keras untuk itu semua, namun sayangnya mataku tak lagi sanggup menahan pedih…
Airmataku begitu bening hingga benar tak terlihat. Hanya aku yang bisa merasakannya terserap pori-pori kulit. Sedangkan nyawa-nyawa lain tetap menganggapku manusia kuat. Semua masih saja menilaiku hebat. Mereka tak pernah tahu apa yang sedang benar-benar terjadi karena warna hati memang tak pernah bisa pasti terlihat. Maka biarkan aku menahan semua dan menganggapnya nikmat. Agar semua masih akan tetap memanggilku Si Hebat…
Apa karena aku kurang bersyukur?
Apa karena aku lupa mengukur bahagia?
Benarnya aku lelah mengeluh…
Airmata jiwakupun telah begitu lelah meleleh…
Hatiku sungguh ingin mencerah…
Aku mau segera berlari menuju sebuah entah…
Ya Allah…
Maafkan hambaMu yang sedang lupa ini…
Aku akan selalu kembali padamu lewat sujud ibadah…
Lingkupi jiwaku dengan kabut imani…
Amin…
Telah banyak yang terluap tapi hati masih saja tak melega…
Apalagi yang masih salah?
19:14
Wednesday, December 2, 2009
Monday, November 30, 2009
Jodoh dadakan...
Mojokerto
29 November 2009
Di sebuah Minggu dengan nada-nada gerimis…
16:36
Yang aku tahu adalah bahwa dia sudah dilamar. Entah kapan. Dan dia bilang sekarang dia dan keluarganya sedang melakukan acara lamaran balasan yang begitu dadakan…
Jodoh memang benar tak pernah bisa diterka. Bahkan direncanakanpun juga tak bisa. Jalannya tak bisa dipetakan. Kadang begitu rumit, panjang dan tak teratur lalu diakhiri dengan tangisan perpisahan. Ada juga yang diawali dengan ketidak sengajaan yang berlanjut jadi rajutan rasa yang makin lama makin dalam dan tak bisa dimengerti lalu diakhiri dengan ucapan “Selamat menempuh hidup baru”. Pun ada juga yang begitu estafet seperti apa yang dialami wanita paruh baya itu. Aku memanggilnya “dia”…
Dia yang kini sedang mendadak bahagia…
Dia yang sekarang sedang menyeka tawa bersama pasangannya…
Pasangan yang bahkan bayangannya saja tak pernah tertangkap mata…
Pasangan yang semoga seorang kesejatian baginya…
Dan mereka bertemu secara estafet…
Semua pernah begitu ruwet…
Tapi tulisan takdir tetap kuat megikat…
Semoga mereka benar bahagia hingga bumi melarut…
Mereka hanya perlu “pertama kali”…
Untuk putuskan saling menikahi…
Seperti yang mereka maui…
Menyatu nyawa diusia yang tak lagi dini…
Satu lagi bukti misteri jodoh. Dia dan pasangannya. Dulu maya lalu kini mendadak nyata sebagai calon pengantin. Sekali lagi begitu sulit dipercaya. Agak susah dimengerti. Betapa kehidupan selamanya hanya ditentukan dari pertemuan pertama saja. Huuufff. Apa bisa?
Tidak bagiku…
Kalau aku…
Dulu aku perlu ribuan pertemuan untuk memastikan hati. Dulu aku perlu ribuan petuah orang tua sebelum bertanya “Will you marry me?”. Dulu aku perlu ribuan tatapan mata untuk rasakan keteguhan cintanya padaku. Dulu aku butuh ribuan masalah untuk pahami jalan pikirannya…
Tapi dia dan pasangannya?
Mereka hanya butuh sekali untuk selamanya. Sekali pertemuan untuk memastikan hati. Sekali tatapan mata untuk saling berkata “Mari kita menikah”. Sekali jabatan tangan untuk rasakan detak hati. Hanya sekali saja…
Aku benar-benar tak habis pikir. Apa semua itu karena usia? Karena mereka tak lagi remaja? Karena mereka sudah terlalu dewasa?...
Hhhhmmmmm…..
Semua nyawa memang terlahir dengan membawa jodohnya sendiri. Meski butuh waktu untuk menemukan kembali pasangan jiwa itu, tapi akhirnya masih akan tetap telah tertulis rapi secara pasti. Hanya saja nyawa biasa kitalah yang tak pernah bisa membaca tulisan Sang Maha itu…
Aku perlu waktu dua puluh empat tahun untuk menemukan belahan nyawaku. Dan aku masih butuh dua setengah tahun untuk belajar membaca tulisan Sang Maha tentang wanitaku kala itu. Siapa tahu dia hanya rambu jalan menuju wanita sejatiku. Aku yakinkan hati untuk coba meraba huruf lalu mengeja kata hingga sedikit membaca kalimat jodoh itu. Dan akhirnya aku yakin dia yang dulu kubawa saat lahir….
13 Desember 2007…
Pada sebuah Kamis…
Ba’da Isya…
Kami resmi menata nyawa bersama…
Kapan mereka menyusul kami?
Sepertinya akan lebih segera dari sekedar segera…
Semoga karena ketetapan hati…
Bukan hanya karena sadar usia…
Amin untuk doa mereka…
17:08
Masih dengan begitu banyak tanya…
Masih dengan begitu banyak mengapa untuk mereka…
29 November 2009
Di sebuah Minggu dengan nada-nada gerimis…
16:36
Yang aku tahu adalah bahwa dia sudah dilamar. Entah kapan. Dan dia bilang sekarang dia dan keluarganya sedang melakukan acara lamaran balasan yang begitu dadakan…
Jodoh memang benar tak pernah bisa diterka. Bahkan direncanakanpun juga tak bisa. Jalannya tak bisa dipetakan. Kadang begitu rumit, panjang dan tak teratur lalu diakhiri dengan tangisan perpisahan. Ada juga yang diawali dengan ketidak sengajaan yang berlanjut jadi rajutan rasa yang makin lama makin dalam dan tak bisa dimengerti lalu diakhiri dengan ucapan “Selamat menempuh hidup baru”. Pun ada juga yang begitu estafet seperti apa yang dialami wanita paruh baya itu. Aku memanggilnya “dia”…
Dia yang kini sedang mendadak bahagia…
Dia yang sekarang sedang menyeka tawa bersama pasangannya…
Pasangan yang bahkan bayangannya saja tak pernah tertangkap mata…
Pasangan yang semoga seorang kesejatian baginya…
Dan mereka bertemu secara estafet…
Semua pernah begitu ruwet…
Tapi tulisan takdir tetap kuat megikat…
Semoga mereka benar bahagia hingga bumi melarut…
Mereka hanya perlu “pertama kali”…
Untuk putuskan saling menikahi…
Seperti yang mereka maui…
Menyatu nyawa diusia yang tak lagi dini…
Satu lagi bukti misteri jodoh. Dia dan pasangannya. Dulu maya lalu kini mendadak nyata sebagai calon pengantin. Sekali lagi begitu sulit dipercaya. Agak susah dimengerti. Betapa kehidupan selamanya hanya ditentukan dari pertemuan pertama saja. Huuufff. Apa bisa?
Tidak bagiku…
Kalau aku…
Dulu aku perlu ribuan pertemuan untuk memastikan hati. Dulu aku perlu ribuan petuah orang tua sebelum bertanya “Will you marry me?”. Dulu aku perlu ribuan tatapan mata untuk rasakan keteguhan cintanya padaku. Dulu aku butuh ribuan masalah untuk pahami jalan pikirannya…
Tapi dia dan pasangannya?
Mereka hanya butuh sekali untuk selamanya. Sekali pertemuan untuk memastikan hati. Sekali tatapan mata untuk saling berkata “Mari kita menikah”. Sekali jabatan tangan untuk rasakan detak hati. Hanya sekali saja…
Aku benar-benar tak habis pikir. Apa semua itu karena usia? Karena mereka tak lagi remaja? Karena mereka sudah terlalu dewasa?...
Hhhhmmmmm…..
Semua nyawa memang terlahir dengan membawa jodohnya sendiri. Meski butuh waktu untuk menemukan kembali pasangan jiwa itu, tapi akhirnya masih akan tetap telah tertulis rapi secara pasti. Hanya saja nyawa biasa kitalah yang tak pernah bisa membaca tulisan Sang Maha itu…
Aku perlu waktu dua puluh empat tahun untuk menemukan belahan nyawaku. Dan aku masih butuh dua setengah tahun untuk belajar membaca tulisan Sang Maha tentang wanitaku kala itu. Siapa tahu dia hanya rambu jalan menuju wanita sejatiku. Aku yakinkan hati untuk coba meraba huruf lalu mengeja kata hingga sedikit membaca kalimat jodoh itu. Dan akhirnya aku yakin dia yang dulu kubawa saat lahir….
13 Desember 2007…
Pada sebuah Kamis…
Ba’da Isya…
Kami resmi menata nyawa bersama…
Kapan mereka menyusul kami?
Sepertinya akan lebih segera dari sekedar segera…
Semoga karena ketetapan hati…
Bukan hanya karena sadar usia…
Amin untuk doa mereka…
17:08
Masih dengan begitu banyak tanya…
Masih dengan begitu banyak mengapa untuk mereka…
Jawaban doa...
Mojokerto yang sedang dirundung mendung…
Tertanggal 28 November 2009 yang selipkan debur kecewa dihati…
16:01 yang sedang mensugesti tentang kuncup indah yang sedang sedikit mengembang…
“Cuma 2 orang ya? Maaf, Ai. Kamu juga ga lolos.”
Singkat, mengecewakan sekaligus memberi kesan “aku tak sendiri”. Sudah kuduga akan begitu akhirnya. Namun setengah jiwaku berharap penuh akan keajaiban yang datang melalui jawaban doa-doaku….
Tapi nyatanya aku (kembali) kecewa. Kecewa ini begitu berbeda. Aku merasa bagian doaku telah terjawab. Karena aku selalu mendoa agar diberikan kelapangan hati dan ketenangan jiwa atas apapun yang menimpaku. Kecewa itu tak begitu terasa. Meski bisa aku pastikan keberadaannya begitu nyata. Hatiku sedikit menangis…
“Aku kecewa karena kalah oleh properti…..bukan ability! Suck!”
Kalimat itu tiba-tiba mewakili segala yang kurasa. Secara otomatis tertulis di layar chat Yahoo Messager-ku dengan Ratri siang tadi…
Kemudian…
“Teman Enci yang kerja di Di*na* pemk** Pro******** bilang kalau nama-nama yang lulus sudah ada sejak lama. Harganya tujuh puluh juta.”
Tak ada rasa saat kubaca pernyataan itu. Karena aku memang sudah menduga. Dugaanku sejak lama. Sudah melewati pengamatan terhadap segala aspek yang perlu dipertimbangkan. Dan aku tak menyesali apapun. Tak ada pengandaian apapun dihati….
Wewww….aku menstruasi…tiba-tiba saja…
Baiklah aku lanjutkan lagi…
Jika aku orang lain bisa jadi aku banyak berandai…
Seandainya aku punya jumlah itu…
Seandainya tak ada hukum haram jika menyuap…
Tak ada pengandaian seperti itu…
Tak ada pengandaian ini itu, sama sekali…
Sebenarnya penguatku hanya satu. Yaitu keyakinan bahwa aku kalah oleh properti. Dan bagiku kemenangan oleh properti bukan hal yang patut diingini. Tak perlu di-dengki-i...
Aku yakin hidup adalah sebuah misteri yang besar….
Pasti ada yang sedang menungguku disisi waktu yang lain…
Apapun itu…
Semoga aku masih punya kekuatan untuk bersabar…
Apapun itu…
Semoga aku masih punya tangan untuk selalu kugenggam…
Apapun itu…
Semoga aku masih bisa bangkit untuk perbaiki yang masih tak baik…
Amin…
Masih dengan rasa kecewa yang gamang…
Tak tahu harus merasa apa…
Terimakasih atas kekuatan ini…
Aku begitu merasakan kekuatan doa-doa…
Mungkin Allah SWT mengabulkan doaku dalam bentuk ketenangan hati ini…
Alhamdulillah…
16:27
Tertanggal 28 November 2009 yang selipkan debur kecewa dihati…
16:01 yang sedang mensugesti tentang kuncup indah yang sedang sedikit mengembang…
“Cuma 2 orang ya? Maaf, Ai. Kamu juga ga lolos.”
Singkat, mengecewakan sekaligus memberi kesan “aku tak sendiri”. Sudah kuduga akan begitu akhirnya. Namun setengah jiwaku berharap penuh akan keajaiban yang datang melalui jawaban doa-doaku….
Tapi nyatanya aku (kembali) kecewa. Kecewa ini begitu berbeda. Aku merasa bagian doaku telah terjawab. Karena aku selalu mendoa agar diberikan kelapangan hati dan ketenangan jiwa atas apapun yang menimpaku. Kecewa itu tak begitu terasa. Meski bisa aku pastikan keberadaannya begitu nyata. Hatiku sedikit menangis…
“Aku kecewa karena kalah oleh properti…..bukan ability! Suck!”
Kalimat itu tiba-tiba mewakili segala yang kurasa. Secara otomatis tertulis di layar chat Yahoo Messager-ku dengan Ratri siang tadi…
Kemudian…
“Teman Enci yang kerja di Di*na* pemk** Pro******** bilang kalau nama-nama yang lulus sudah ada sejak lama. Harganya tujuh puluh juta.”
Tak ada rasa saat kubaca pernyataan itu. Karena aku memang sudah menduga. Dugaanku sejak lama. Sudah melewati pengamatan terhadap segala aspek yang perlu dipertimbangkan. Dan aku tak menyesali apapun. Tak ada pengandaian apapun dihati….
Wewww….aku menstruasi…tiba-tiba saja…
Baiklah aku lanjutkan lagi…
Jika aku orang lain bisa jadi aku banyak berandai…
Seandainya aku punya jumlah itu…
Seandainya tak ada hukum haram jika menyuap…
Tak ada pengandaian seperti itu…
Tak ada pengandaian ini itu, sama sekali…
Sebenarnya penguatku hanya satu. Yaitu keyakinan bahwa aku kalah oleh properti. Dan bagiku kemenangan oleh properti bukan hal yang patut diingini. Tak perlu di-dengki-i...
Aku yakin hidup adalah sebuah misteri yang besar….
Pasti ada yang sedang menungguku disisi waktu yang lain…
Apapun itu…
Semoga aku masih punya kekuatan untuk bersabar…
Apapun itu…
Semoga aku masih punya tangan untuk selalu kugenggam…
Apapun itu…
Semoga aku masih bisa bangkit untuk perbaiki yang masih tak baik…
Amin…
Masih dengan rasa kecewa yang gamang…
Tak tahu harus merasa apa…
Terimakasih atas kekuatan ini…
Aku begitu merasakan kekuatan doa-doa…
Mungkin Allah SWT mengabulkan doaku dalam bentuk ketenangan hati ini…
Alhamdulillah…
16:27
Monday, November 16, 2009
Dua lelaki patah hati...
Mojokerto
16 November 2009
(Masih) di sebuah Senin petang…
Aku sungguh tak pernah benar mengerti apa yang telah terjadi. Sejak dulu kami tak pernah saling memahami. Yang kami tahu adalah bahwa hati kami sedang saling terpaut. Namun demikian kami tak pernah tahu pasti kapan maut hati akan menjemput. Karena hidup begitu penuh dengan kejutan…
Hanya doa yang mungkin bisa memberi sedikit angin segar. Hanya sedikit saja. Karena kami tak pernah tahu kapan doa itu akan didengar lalu dikabulkan…
Apa salah jika kami saling mencinta?
Apa tak boleh kami selalu saling bersama?
Apa harusnya kami terima semua kenyataan?
Apa benar harus selalu mengikuti jalan alam?
Iya?
Benarkah harus selalu seperti itu?
Hati kami terus menangis darah. Meski tak satupun suara isak ini terdengar yang lain. Bahkan gemanyapun tetap membisu. Tapi buktinya adalah bahwa kami benar menangis karena terlalu sakit. Kami menangis bersama di tempat berlainan dengan alasan yang sama. Adalah bahwa karena raga kami tak mungkin bersatu…
Apa yang salah jika kami saling menyuka?
Apa yang haram jika kami saling mencinta?
Apa yang tak layak jika kami ingin berbagi nyawa?
Katakan padaku…
Hanya padaku saja…
Lalu akan kukatakan semua padanya. Jika jawaban kalian terlalu menyakitkan maka akan selamanya kusimpan dihati. Tak perlu dia tahu. Karena dia sudah terlalu kelu hati menyandang sakit ini. Sakit yang begitu tanpa ampun. Sakit yang begitu tanpa alasan logis. Sakit yang begitu abadi…
Kemudian kami berusaha mencari tahu sendiri apa yang salah. Apa yang tak benar.Apa yang dianggap haram. Kami lalu berusaha menerka-nerka. Apa karena kami sama? Apa karena namaku Rando Titah Sembrani dan namanya Ahmad Frezaldi? Apa karena itu? Hanya karena itu? Bisa jadi…
Lalu kuputuskan untuk mengubah diri menjadi seseorang bernama Rosa Titah Sembrani. Empat tahun lagi akan kulakukan keputusanku ini. Saat aku lulus SMA. Dan biarlah dia tetap menjadi Ahmad Frezaldi. Agar kami bisa halal bersama. Agar tak ada lagi yang dianggap salah…
Kami adalah dua lelaki patah hati…
18:52
16 November 2009
(Masih) di sebuah Senin petang…
Aku sungguh tak pernah benar mengerti apa yang telah terjadi. Sejak dulu kami tak pernah saling memahami. Yang kami tahu adalah bahwa hati kami sedang saling terpaut. Namun demikian kami tak pernah tahu pasti kapan maut hati akan menjemput. Karena hidup begitu penuh dengan kejutan…
Hanya doa yang mungkin bisa memberi sedikit angin segar. Hanya sedikit saja. Karena kami tak pernah tahu kapan doa itu akan didengar lalu dikabulkan…
Apa salah jika kami saling mencinta?
Apa tak boleh kami selalu saling bersama?
Apa harusnya kami terima semua kenyataan?
Apa benar harus selalu mengikuti jalan alam?
Iya?
Benarkah harus selalu seperti itu?
Hati kami terus menangis darah. Meski tak satupun suara isak ini terdengar yang lain. Bahkan gemanyapun tetap membisu. Tapi buktinya adalah bahwa kami benar menangis karena terlalu sakit. Kami menangis bersama di tempat berlainan dengan alasan yang sama. Adalah bahwa karena raga kami tak mungkin bersatu…
Apa yang salah jika kami saling menyuka?
Apa yang haram jika kami saling mencinta?
Apa yang tak layak jika kami ingin berbagi nyawa?
Katakan padaku…
Hanya padaku saja…
Lalu akan kukatakan semua padanya. Jika jawaban kalian terlalu menyakitkan maka akan selamanya kusimpan dihati. Tak perlu dia tahu. Karena dia sudah terlalu kelu hati menyandang sakit ini. Sakit yang begitu tanpa ampun. Sakit yang begitu tanpa alasan logis. Sakit yang begitu abadi…
Kemudian kami berusaha mencari tahu sendiri apa yang salah. Apa yang tak benar.Apa yang dianggap haram. Kami lalu berusaha menerka-nerka. Apa karena kami sama? Apa karena namaku Rando Titah Sembrani dan namanya Ahmad Frezaldi? Apa karena itu? Hanya karena itu? Bisa jadi…
Lalu kuputuskan untuk mengubah diri menjadi seseorang bernama Rosa Titah Sembrani. Empat tahun lagi akan kulakukan keputusanku ini. Saat aku lulus SMA. Dan biarlah dia tetap menjadi Ahmad Frezaldi. Agar kami bisa halal bersama. Agar tak ada lagi yang dianggap salah…
Kami adalah dua lelaki patah hati…
18:52
Gerimis tadi siang...
Mojokerto
Tertanggal 16 November 2009
Pada sebuah Senin yang basah…
5:00
Tadi siang hujan datang bertandang. Mengguyur tanah yang sekian masa telah kerontang. Kotaku kini tak lagi mengering. Penantian memang akan selalu lahirkan senyum yang terkembang. Pun sama dengan tanahku yang kini menguncup senyum oleh hadirnya sang hujan siang…
Gerimis romantis mengiris…
Angin-angin ikut berlalu lalang…
Sedang udara mulai meringis…
Biarkan peluh melesat terbang lalu sebentar menghilang…
Aku diam…
Udara yang tadi begitu beringas, kini perlahan terkikis hujan siang ini. Hujan yang turun untuk pertama kalinya sejak awal musim ini. Hujan yang kuyakin banyak dinanti. Hujan yang kupastikan banyak dirindui. Dirindui para raga manusiawi…
Aneh…
Ragaku masih saja kegerahan. Namun hatiku terasa begitu nyaman menatap lelehan air hujan itu di kaca jendela depan. Mengucur tanpa irama namun indah untuk pandangan. Terasa begitu damai dan mendamaikan…
Ya Tuhan….
Begitu indah siang ini. Meski, seperti biasa, aku harus merasainya sendiri. Begitu damai hujan ini. Langit menangis begitu manis. Teteskan air-air, rintik-rintik, leleh-leleh, gerimis-gerimis. Lalu aku iseng bertanya tanpa mengharap balas. Apa langit sedang merintih karena miris? Mengapa ia menangis? Begitu deras hingga logikanya ia sedang begitu teriris. Ataukah ia sengaja bersedih agar bisa menangis gerimis hanya untuk melihat kami tersenyum damai manis? Iyakah? Maka terimakasih, langit…
Siang tadi aku tak sempat mencuri lihat pada sang langit. Karena aku terlalu memaku oleh gerimis yang kuharap tak terjadi singkat. Aku masih begitu merindu para gerimis yang dulu-dulu sempat membuat hatiku terpikat. Dan sampai sekarangpun aku masih terpikat. Hingga bagiku semua gerimis selalu manis dan semua hujan selalu patut dirasa nikmat. Maafkan aku, langit…
Aku tak butuh lagi pelangi. Tetes-tetes itu sudah begitu rapi menghias rohani. Gerimis tadi benar indah dirasa hati…
Aku masih sangat mencinta hujan…
Aku masih akan selalu mendamba gerimis...
Kini…
Gerimis telah undur hati…
Hujan juga sudah menguapkan diri…
5:31
Hatiku damai…
Nyawaku bersenandung ramai…
Karena gerimis siang tadi…
Karena tetes-tetes air tadi…
Tertanggal 16 November 2009
Pada sebuah Senin yang basah…
5:00
Tadi siang hujan datang bertandang. Mengguyur tanah yang sekian masa telah kerontang. Kotaku kini tak lagi mengering. Penantian memang akan selalu lahirkan senyum yang terkembang. Pun sama dengan tanahku yang kini menguncup senyum oleh hadirnya sang hujan siang…
Gerimis romantis mengiris…
Angin-angin ikut berlalu lalang…
Sedang udara mulai meringis…
Biarkan peluh melesat terbang lalu sebentar menghilang…
Aku diam…
Udara yang tadi begitu beringas, kini perlahan terkikis hujan siang ini. Hujan yang turun untuk pertama kalinya sejak awal musim ini. Hujan yang kuyakin banyak dinanti. Hujan yang kupastikan banyak dirindui. Dirindui para raga manusiawi…
Aneh…
Ragaku masih saja kegerahan. Namun hatiku terasa begitu nyaman menatap lelehan air hujan itu di kaca jendela depan. Mengucur tanpa irama namun indah untuk pandangan. Terasa begitu damai dan mendamaikan…
Ya Tuhan….
Begitu indah siang ini. Meski, seperti biasa, aku harus merasainya sendiri. Begitu damai hujan ini. Langit menangis begitu manis. Teteskan air-air, rintik-rintik, leleh-leleh, gerimis-gerimis. Lalu aku iseng bertanya tanpa mengharap balas. Apa langit sedang merintih karena miris? Mengapa ia menangis? Begitu deras hingga logikanya ia sedang begitu teriris. Ataukah ia sengaja bersedih agar bisa menangis gerimis hanya untuk melihat kami tersenyum damai manis? Iyakah? Maka terimakasih, langit…
Siang tadi aku tak sempat mencuri lihat pada sang langit. Karena aku terlalu memaku oleh gerimis yang kuharap tak terjadi singkat. Aku masih begitu merindu para gerimis yang dulu-dulu sempat membuat hatiku terpikat. Dan sampai sekarangpun aku masih terpikat. Hingga bagiku semua gerimis selalu manis dan semua hujan selalu patut dirasa nikmat. Maafkan aku, langit…
Aku tak butuh lagi pelangi. Tetes-tetes itu sudah begitu rapi menghias rohani. Gerimis tadi benar indah dirasa hati…
Aku masih sangat mencinta hujan…
Aku masih akan selalu mendamba gerimis...
Kini…
Gerimis telah undur hati…
Hujan juga sudah menguapkan diri…
5:31
Hatiku damai…
Nyawaku bersenandung ramai…
Karena gerimis siang tadi…
Karena tetes-tetes air tadi…
Wednesday, November 11, 2009
Puisi hati...

Mojokerto
11 November 2009
12:49
Pada sebuah Rabu…
Pernahkah kau merasa terkhianati oleh hati?
Adalah disaat kau merasa begitu yakin olehnya…
Lalu dia ternyata mengubah arah haluan…
Hingga kau merasa harusnya tak memutuskan untuk mengabdi hidup pada sebuah nyawa…
Tapi kau terlanjur memutuskannya…
Dan…
Pernahkah kau menyalahkan waktu?
Adalah disaat kau menyesali keterlambatan pertemuanmu dengan sebuah hati…
Lalu ternyata kau telah terlanjur mengabdi hati pada yang lain…
Hingga lalu kau hanya bisa berkata “seandainya…”
Dan…
Pernahkah kau mengutuk alur kehidupan?
Adalah disaat kau menyadari rute hidup lainnyalah yang sebenarnya lebih membahagiakan…
Tapi, sayang kau tak melangkah kearah itu…
Hingga akhirnya kau melewatkan sebuah hati yang seharusnya adalah takdirmu…
Dan akhirnya…
Pernahkah lalu kau menerima semua kesalahan itu dengan terpaksa?
Hanya karena kau tak pernah punya daya untuk mengubah apapun…
Lalu kau memaksa diri nikmati yang telah kau punya…
Sambil menjadikan apa yang tak pernah sempat kau gapai sebagai mimpi yang tak untuk diwujudkan…
Dan aku pernah…
Aku pernah merasa terkhianati oleh hati…
Pun aku pernah menyalahkan waktu yang salah menempatkan aku dengan dirinya…
Dan akhirnya, dengan terpaksa, kuterima semua kesalahan itu…
Dan kini aku tahu betul fungsi kata “menyesal”…
Lalu aku berjanji untuk hati-hati memilih alur cerita kehidupan…
Karena siapa tahu jika dulu aku memilih belok kanan maka rute akan semakin panjang hingga aku punya daya untuk mengulur lebih banyak waktu guna bertemu denganmu…
Tapi nyatanya, kala itu aku memilih jalan lurus…
Aku terlambat bertemu dengan hatinya…
Dan aku sempat menyesal…
Lalu kini dia merapatkan hati dengan yang lain…
Apa dia sempat menyesali keterlambatan ini?
Semoga yang terbaiklah yang akan terjadi selanjutnya…
Lega…
13:06
Subscribe to:
Posts (Atom)